Setiap daerah atau kota selalu memiliki sebuah monumen atau landmark untuk diperkenalkan kepada wisatawan atau pengunjung. Monumen atau landmark itu banyak sekali macamnya. Mulai dari taman, bangunan berupa tugu, patung yang menjulang tinggi dan yang terbaru dan paling nge-hits adalah bangunan yang ditandai dengan tulisan yang terbuat dari bahan acliric.
Entah siapa yang mulai penggunaan acliric ini jadi sebuah model dalam memperkenalkan suatu daerah atau lokasi wisata. Di Pantai Prigi misalnya, di Panggung 360 menggunakan acliric. Namun bagi orang pesisir Prigi, setiap bangunan baru harus lewat "uji kualitas dan daya tahannya" oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Jadi ya gitu, bangunan baru itu diganggu, dirusak hingga bangunan itu keindahannya hilang dan kalau perlu diganti dengan yang baru.
Namun dari beberapa bangunan di pesisir Prigi, ada satu ikon yang keberadaannya terabaikan. Ikon itu adalah Patung Ikan. Patung Ikan tersebut berbentuk bundar di dasarnya dan bagian tengah seperti jangkar. Di atasnya patung seorang nelayan yang mengenakan baju singlet atau kaos tanpa lengan dan bercelana yang dilipat tidak sama antara satu kaki dengan kaki yang lain. Nelayan itu mengangkat ikan jenis tuna besar dengan kedua tangan menengadah ke atas dan memakai topi.
Sejatinya bangunan ini memiliki sisi history yang panjang. Patung Ikan merepresentasikan keberadaan laut Prigi mampu mengangkat perekonomian nelayan dan warga sekitar dari sektor perikanan. Jadi Patung Ikan ini menjadi salah satu ikon penting bagi masyarakat pesisir Prigi.
Lokasi Patung Ikan ini berada di bunderan antara jalan menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan jalur wisata Pantai Prigi. Tepatnya di Desa Tasikmadu, selatan Hotel Prigi, Kecamatan Watulimo, Trenggalek. Keberadaan Patung Ikan tersebut menandakan bahwa Pantai Prigi merupakan kawasan perikanan dan berpenghasil ikan terbesar di Kabupaten Trenggalek. Patung itu membentuk imajinasi kanak-kanak kami.
Kini penasaran itu bertambah. Suatu saat yang lalu. saya menyempatkan diri memanjat dan memutari badan patung itu. Namun dari dulu hingga sekarang, saya belum mengetahui atau menjumpai prasasti yang menandakan pertama kali dibangun? Di mana masa pemerintahan siapa Patung Ikan tersebut didirikan.
Selain memiliki tujuan penciptaan patung adalah sebagai keindahan dari karya seni, seonggok patung untuk menceritakan bahwa juga sebagai penanda bahwa kawasan tersebut merupakan berpenghasil dari apa yang ditampilkan oleh patung tersebut
Sayangnya, kondisinya semakin hari semakin tidak tidak dipedulikan. Tidak ada perawatan yang berkala, baik dari pemerintah desa, kecamatan maupun dari pemerintah kabupaten. Dari masyarakat sendiri tidak ada kepedulian terhadap bangunan tua itu. Tidak ada pembersihan atau ngecat-an untuk memperindah patung tersebut.
Sebagai seorang yang lahir di pesisir Prigi, melihat keberadaan ikon Patung Ikan tidak terawat tentu geram. Saya dan teman-teman pemuda peduli lingkungan di tahun 2016 pernah melakukan aksi bersih pantai dan membersihkan di sekitar patung tersebut. Bahkan aksi kami juga pernah dimuat di koran Radar Trenggalek.
Dulu di medio 2000-an di pertigaan di depan balai desa Tasikmadu, dibangun Patung Duyung. Namun eksistensinya tidak lama. Entah selang berapa lama dari proses pembangunan, patung tersebut sudah turun "kasta" atau dibongkar.
Patung Ikan di Pantai Prigi sangat penting. Di beberapa tempat ada patung dan ada tempelan ikan. Hal tersebut menandakan bahwa ikan adalah penting bagi masyarakat Prigi dan sekitarnya.
Entah, pendirian Patung Ikan ini ada kaitannya dengan tradisi Larung Semboyo atau tidak, saya kurang informasi. Di Pantai Prigi. di bulan Selo, kalender Jawa, para nelayan di pantai ini menggelar upacara tradisional Larung Sembonyo, yang merupakan upacara tahunan sebagai bentuk ucap syukur kepada Tuhan akan hasil laut yang melimpah.
Selain sebagai upacara ucap syukur, penduduk lokal juga percaya bahwa ritual Larung Sembonyo diadakan sebagai bentuk peringatan pernikahan dalam sejarah Raden Tumenggung Yudha Negara, yaitu seorang kepala prajurit Kerajaan Mataram yang berhasil membuka wilayah Prigi dengan jaminan bersedia menikahi Putri Gambar Inten.
Namun keberadaannya sungguh mengkhawatirkan. Acapkali warna dan beberapa kerangka di dasarnya tidak dipedulikan oleh siapa pun juga. Bahkan setiap sore, di bawah patung ini dijadikan tempat jual-beli warga sekitar atau pendatang yang mengadukan nasibnya di bawah patung itu dengan berjual jagung bakal atau jualan pakaian.
Semoga icon Prigi ini tetap lestari dan tidak diabaikan baik dari masyarakat sendiri maupun pemerintah yang di atas.
Entah siapa yang mulai penggunaan acliric ini jadi sebuah model dalam memperkenalkan suatu daerah atau lokasi wisata. Di Pantai Prigi misalnya, di Panggung 360 menggunakan acliric. Namun bagi orang pesisir Prigi, setiap bangunan baru harus lewat "uji kualitas dan daya tahannya" oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Jadi ya gitu, bangunan baru itu diganggu, dirusak hingga bangunan itu keindahannya hilang dan kalau perlu diganti dengan yang baru.
Namun dari beberapa bangunan di pesisir Prigi, ada satu ikon yang keberadaannya terabaikan. Ikon itu adalah Patung Ikan. Patung Ikan tersebut berbentuk bundar di dasarnya dan bagian tengah seperti jangkar. Di atasnya patung seorang nelayan yang mengenakan baju singlet atau kaos tanpa lengan dan bercelana yang dilipat tidak sama antara satu kaki dengan kaki yang lain. Nelayan itu mengangkat ikan jenis tuna besar dengan kedua tangan menengadah ke atas dan memakai topi.
Sejatinya bangunan ini memiliki sisi history yang panjang. Patung Ikan merepresentasikan keberadaan laut Prigi mampu mengangkat perekonomian nelayan dan warga sekitar dari sektor perikanan. Jadi Patung Ikan ini menjadi salah satu ikon penting bagi masyarakat pesisir Prigi.
Lokasi Patung Ikan ini berada di bunderan antara jalan menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan jalur wisata Pantai Prigi. Tepatnya di Desa Tasikmadu, selatan Hotel Prigi, Kecamatan Watulimo, Trenggalek. Keberadaan Patung Ikan tersebut menandakan bahwa Pantai Prigi merupakan kawasan perikanan dan berpenghasil ikan terbesar di Kabupaten Trenggalek. Patung itu membentuk imajinasi kanak-kanak kami.
Kini penasaran itu bertambah. Suatu saat yang lalu. saya menyempatkan diri memanjat dan memutari badan patung itu. Namun dari dulu hingga sekarang, saya belum mengetahui atau menjumpai prasasti yang menandakan pertama kali dibangun? Di mana masa pemerintahan siapa Patung Ikan tersebut didirikan.
Selain memiliki tujuan penciptaan patung adalah sebagai keindahan dari karya seni, seonggok patung untuk menceritakan bahwa juga sebagai penanda bahwa kawasan tersebut merupakan berpenghasil dari apa yang ditampilkan oleh patung tersebut
Sayangnya, kondisinya semakin hari semakin tidak tidak dipedulikan. Tidak ada perawatan yang berkala, baik dari pemerintah desa, kecamatan maupun dari pemerintah kabupaten. Dari masyarakat sendiri tidak ada kepedulian terhadap bangunan tua itu. Tidak ada pembersihan atau ngecat-an untuk memperindah patung tersebut.
Sebagai seorang yang lahir di pesisir Prigi, melihat keberadaan ikon Patung Ikan tidak terawat tentu geram. Saya dan teman-teman pemuda peduli lingkungan di tahun 2016 pernah melakukan aksi bersih pantai dan membersihkan di sekitar patung tersebut. Bahkan aksi kami juga pernah dimuat di koran Radar Trenggalek.
Dulu di medio 2000-an di pertigaan di depan balai desa Tasikmadu, dibangun Patung Duyung. Namun eksistensinya tidak lama. Entah selang berapa lama dari proses pembangunan, patung tersebut sudah turun "kasta" atau dibongkar.
Patung Ikan di Pantai Prigi sangat penting. Di beberapa tempat ada patung dan ada tempelan ikan. Hal tersebut menandakan bahwa ikan adalah penting bagi masyarakat Prigi dan sekitarnya.
Entah, pendirian Patung Ikan ini ada kaitannya dengan tradisi Larung Semboyo atau tidak, saya kurang informasi. Di Pantai Prigi. di bulan Selo, kalender Jawa, para nelayan di pantai ini menggelar upacara tradisional Larung Sembonyo, yang merupakan upacara tahunan sebagai bentuk ucap syukur kepada Tuhan akan hasil laut yang melimpah.
Selain sebagai upacara ucap syukur, penduduk lokal juga percaya bahwa ritual Larung Sembonyo diadakan sebagai bentuk peringatan pernikahan dalam sejarah Raden Tumenggung Yudha Negara, yaitu seorang kepala prajurit Kerajaan Mataram yang berhasil membuka wilayah Prigi dengan jaminan bersedia menikahi Putri Gambar Inten.
Namun keberadaannya sungguh mengkhawatirkan. Acapkali warna dan beberapa kerangka di dasarnya tidak dipedulikan oleh siapa pun juga. Bahkan setiap sore, di bawah patung ini dijadikan tempat jual-beli warga sekitar atau pendatang yang mengadukan nasibnya di bawah patung itu dengan berjual jagung bakal atau jualan pakaian.
Semoga icon Prigi ini tetap lestari dan tidak diabaikan baik dari masyarakat sendiri maupun pemerintah yang di atas.
إرسال تعليق