Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, demikian Bung Karno berkata. Atas jasa para pahlawan terdahulu, kita bisa nikmati bahkan bebas berekspresi seperti sekarang ini. Untuk itu, kita diabadikan ke jasa yang telah dicapai. tidak lantas kita melupakan harumnya darah mereka, perkasanya keyakinan mereka.
Namun tidak banyak yang mengetahui dengan sosok pahlawan satu ini. Bisa dibilang, ia dilupakan para pemuda generasi bangsa. Namanya, Ki Sarmidi Mangunsarkoro lebih banyak digunakan untuk nama jalan. Terutama di pulau Jawa, nama Ki Sarmidi Mangunsarkoro lebih terkenal dengan nama sebuah jalan, di antaranya: di daerah Yogjakarta, Surakarta, Bandung, Cianjur, Semarang dan di kota-kota besar di Indonesia. Serta Kabupaten-Kabupaten kecil di Jawa pun juga memakai nama jalan Ki Sarmidi Mangunsarkoro. Misalnya saja saya sendiri yang tinggal dan besar di Trenggalek dan Tulungagung, di daerah Kabupaten Pesisir Selatan juga menjumpai nama dominan di jalanan.
Nama Ki Sarmidi Mangunsarkoro juga diabadikan nama jalan saja namun juga nama perguruan tinggi. Ki Sarmidi Mangunsarkoro juga lekat dengan nama institut pendidikan tinggi. Institut Pendidikan Tinggi yang pernah digunakan adalah Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP) PGRI Mangunsarkoro. IKIP PGRI Mangunsarkoro ketika itu berdiri 20 Mei 1971 (kini berganti nama Universitas PGRI Adibuana, Surabaya).
Dalam bidang pendidikan kita lebih mengenal sosok Ki Hajar Dewantara. Sosok Ki Sarmidi Mangunsarkoro tidak banyak yang mengetahui. Sosok yang dikenal Guru Patriot ini adalah salah satu pendiri bangsa dan pendiri Tamansiswa. Pada tanggal 13 Agustus 1930, Ki Sarmidi Mangunsarkoro bersama-sama Ki Sadikin, Ki S. Djojoprajitno, Ki Puger, Ki Kadiroen, dan Ki Safioedin Soerjopoetra menantangani Keterangan Penerimaan Penyerahan Piagam Persatuan Perjanjian Pendirian dari para pendiri Tamansiswa. Para pendiri ini diwakili oleh Ki Hajar Dewantara yang dilaksanakan di Yogyakarta.
Kita tahu bersama, waktu zaman kolonial Belanda, sekolah adalah sebagai upaya pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga pribumi yang diberi upah rendahan. Dengan upaya seperti pemerintah kolonial tidak perlu pusing dan mengeluarkan biaya yang besar guna menjalankan dan menjaga perkebunan pemerintah milik Gubernur Jenderal van den Bosch. Akan tetapi Sarmidi malah berpikiran berbeda dengan pemerintah kolonial. Sarmidi tidak mau sekalipun mengabdi pada pemerintah kolonial. Alih-alih menjadi "pegawai negeri" (binnenland bestuur—BB) kelak Sarmidi malah tidak kenal kompromi dengan pemerintah kolonial.
Tanda-tanda awal pergolakannya terhadap kehidupan sosialnya tumbuh sejak masing usia dini. Ketika itu Sarmidi menyaksikan sendiri kesenjangan sosial yang terjadi di depannya. Ki Sarmidi Mangunsarkoro sejak kecil dilahirkan lebih memihak dibanding dengan teman-temannya. Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah nama dari beberapa kali pemberian. Nama Mangunsarkoro sendiri adalah nama pemberian dari Keraton Surakarta atau Mangkunegaran. Nama Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki beberapa kali asal kata (esimologi). Nama mangun memiliki arti orang yang mengelola dan membangun, dan Sarkoro sendiri adalah gula. Jadi, Mangunsarkoro memiliki arti orang yang mengelola dan membangun wilayah penghasilan gula. Wilayah berpenghasilan gula ketika itu adalah Colomadu dan Tasikmadu.
Karena hidup di lingkungan priyayi kecil, Ki Sarmidi lebih beruntung dibanding dengan anak-anak semasanya dari golongan (kawula) rakyat kecil. Secara sosial, ia tercukupi. Sandang, pangan dan papan terpenuhi tak sebaik golongan priyayi tinggi, misal, para keluarga dan kerabat raja, bangsawan, dan pejabat tinggi. Hidup di lingkungan priyayi kecil tak membuatnya berbesar hati dan turut menikmati fasilitas yang serba mudah, Ki Sarmidi malah tambah gelisah terhadap kenyataan sosial yang mencolok. Ia juga risau dengan adanya jurang pembeda antara kemakmuran dan kesejahteraan yang besar antara golongan kawula alit dengan golongan priyayi dan bangsawan termasuk para menir-menir kolonial Belanda.
Daya kritis Ki Sarmidi Mangunsarkoro ketika ia masuk bangku sekolah. Di lembaga pendidikan Sekolah Dasar Angka Loro. Di Sekolah Dasar Angka Loro ini Ki Sarmidi menumpuh pengajaran dan pendidikan beserta masyarakat bumiputera yang lain. Karena sebagai anak priyayi kecil Ki Sarmidi tidak bisa menikmati pendidikan sekolah Bumiputera kelas satu (Eerste Klass Inlandsche Scholen), Sekolah Bumiputera Kelas Satu diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan masyarakat kelas atas, yaitu para pemuka masyarakat, priyayi tinggi, bangsawan, dan raja-raja. Selama tiga tahun Ki Sarmidi menyelesaikan studinya dan melanjutkan belajar di Sekolah Teknik Prinses Juliana School. Dari sekolah (ST-PJS) (kini menjadi Sekolah Teknik Menengah Jetis Yogyakarta dan kemudian SMK Negeri 2 Yogyakarta) ini Ki Sarmidi banyak mengenyam atau makan asam pergerakan. Ia terlibat dalam Kelompok Studi Islam (Islam Studie Club) bahkan Sarmidi masuk sebagai anggota Trikoro Dharma, yang kemudian berubah menjadi Jong Java.
Meskipun bidang ilmu yang dipelajari Sarmidi adalah teknik, tepatnya teknik bangunan air, namun minat belajar dan pengetahuannya tidak terpaku pada bidang itu saja tetapi juga berkembang pada masalah-masalah pendidikan dan psikologi. Karena minatnya di bidang ilmu psikologi dan pendidikan,tahun 1926 Sarmidi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru Arjuna di Jakarta. Saya menjadi siswa di Sekolah Guru Arjuna, semangat kebangsaan Sarmidi semakin menyala. Ia pun semakin intens terlibat dalam kegiatan pergerakan kebangsaan, yaitu pemuda Jong Java, bahkan ia juga memimpin majalah yang bernama Soeara Afdeling Djogja.
Karena kecintaannya terhadap ilmu pendidikan dan psikologi Ki Sarmidi pun kembali setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Arjuna Jakarta. Kemudian ia mengajar di Taman Muda Perguruan Tamansiswa. Akan tetapi tidak banyak dokumen yang mengungkapkan tentang pendidikan yang ditempuh Ki Sarmidi Mangunsarkoro di tingkat perguruan tinggi hanya saja pernah disebutkan Sarmidi pernah mengikuti kuliah sosiologi di Fakultas Hukum, Jakarta. Dan hanya berlangsung kira-kira tiga tahun Ki Sarmidi mengajar sebagai guru di Taman Muda Perguruan Tamansiswa. Kepergiannya ke Jakarta juga tidak jauh dari pendidikan. Di Jakarta menjadi kepala sekolah HIS Budi Utomo dan kemudian menjadi kepala Marsudi Rukun. Penggabungan sekolah tersebut atas permintaan penduduk Kemayoran dan restu Ki Hajar Dewantara. Dan jadilah tanggal 14 Juni 1929 Ki Sarmidi Mangunsarkoro memimpin Perguruan Tamansiswa cabang Jakarta.
Namun yang unik dari sosok Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah tidak terdeteksinya ia sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP & K). Buku yang ditulis oleh RH. Widada ini salah satu cara untuk mengentaskan katak dalam tempurung sejarah. Sejarah memang pantas untuk dimunculkan kembali para anak muda yang memiliki visioner yang luar biasa.
Sosok Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah pengkisah sejarah dari panggung pergerakan di lingkungan Pemuda dan pendidikan. Ia semasa pemerintahan orde baru pernah menjabat Menteri PP & K di era Presiden Soekarno dan Hatta tahun 1949, secara resmi pada 4 Agustus 1949. Pada saat menjabat sebagai menteri, Ki Mangunsarkoro banyak mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin. Ia menggratiskan biaya sekolah dasar agar semua anak usia SD yang tidak mampu secara ekonomi tetap bisa sekolah. Ki Mangunsarkoro juga membentuk "Pendidikan Masyarakat" (sekarang disebut Pendidikan Luar Sekolah) sebagai suatu sistem pendidikan informal agar pengetahuan dan keterampilan masyarakat bertambah terutama untuk mewujudkan masyarakat bebas buta huruf. Bahkan Ki Sarmidi memiliki andil sebagai pembicara dalam Kongres Pemuda pada 1928 yang melahirkan kesempatan monumental, yaitu Sumpah Pemuda. Ki Sarmidi juga memiliki andil yang besar dalam sejarah Zaman Pergerakan dan berjasa dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Maka sudah selayaknya ia menerima gelar pahlawan dan guru patriot.[]
Judul Buku : Guru Patriot: Biografi Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Penulis : RH. Widada
Penerbit : AR-RUZZ MEDIA, Yogyakarta
Terbit : I, 2013
ISBN : 978-602-7874-29-9
Namun tidak banyak yang mengetahui dengan sosok pahlawan satu ini. Bisa dibilang, ia dilupakan para pemuda generasi bangsa. Namanya, Ki Sarmidi Mangunsarkoro lebih banyak digunakan untuk nama jalan. Terutama di pulau Jawa, nama Ki Sarmidi Mangunsarkoro lebih terkenal dengan nama sebuah jalan, di antaranya: di daerah Yogjakarta, Surakarta, Bandung, Cianjur, Semarang dan di kota-kota besar di Indonesia. Serta Kabupaten-Kabupaten kecil di Jawa pun juga memakai nama jalan Ki Sarmidi Mangunsarkoro. Misalnya saja saya sendiri yang tinggal dan besar di Trenggalek dan Tulungagung, di daerah Kabupaten Pesisir Selatan juga menjumpai nama dominan di jalanan.
Nama Ki Sarmidi Mangunsarkoro juga diabadikan nama jalan saja namun juga nama perguruan tinggi. Ki Sarmidi Mangunsarkoro juga lekat dengan nama institut pendidikan tinggi. Institut Pendidikan Tinggi yang pernah digunakan adalah Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP) PGRI Mangunsarkoro. IKIP PGRI Mangunsarkoro ketika itu berdiri 20 Mei 1971 (kini berganti nama Universitas PGRI Adibuana, Surabaya).
Dalam bidang pendidikan kita lebih mengenal sosok Ki Hajar Dewantara. Sosok Ki Sarmidi Mangunsarkoro tidak banyak yang mengetahui. Sosok yang dikenal Guru Patriot ini adalah salah satu pendiri bangsa dan pendiri Tamansiswa. Pada tanggal 13 Agustus 1930, Ki Sarmidi Mangunsarkoro bersama-sama Ki Sadikin, Ki S. Djojoprajitno, Ki Puger, Ki Kadiroen, dan Ki Safioedin Soerjopoetra menantangani Keterangan Penerimaan Penyerahan Piagam Persatuan Perjanjian Pendirian dari para pendiri Tamansiswa. Para pendiri ini diwakili oleh Ki Hajar Dewantara yang dilaksanakan di Yogyakarta.
Kita tahu bersama, waktu zaman kolonial Belanda, sekolah adalah sebagai upaya pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga pribumi yang diberi upah rendahan. Dengan upaya seperti pemerintah kolonial tidak perlu pusing dan mengeluarkan biaya yang besar guna menjalankan dan menjaga perkebunan pemerintah milik Gubernur Jenderal van den Bosch. Akan tetapi Sarmidi malah berpikiran berbeda dengan pemerintah kolonial. Sarmidi tidak mau sekalipun mengabdi pada pemerintah kolonial. Alih-alih menjadi "pegawai negeri" (binnenland bestuur—BB) kelak Sarmidi malah tidak kenal kompromi dengan pemerintah kolonial.
Tanda-tanda awal pergolakannya terhadap kehidupan sosialnya tumbuh sejak masing usia dini. Ketika itu Sarmidi menyaksikan sendiri kesenjangan sosial yang terjadi di depannya. Ki Sarmidi Mangunsarkoro sejak kecil dilahirkan lebih memihak dibanding dengan teman-temannya. Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah nama dari beberapa kali pemberian. Nama Mangunsarkoro sendiri adalah nama pemberian dari Keraton Surakarta atau Mangkunegaran. Nama Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki beberapa kali asal kata (esimologi). Nama mangun memiliki arti orang yang mengelola dan membangun, dan Sarkoro sendiri adalah gula. Jadi, Mangunsarkoro memiliki arti orang yang mengelola dan membangun wilayah penghasilan gula. Wilayah berpenghasilan gula ketika itu adalah Colomadu dan Tasikmadu.
Karena hidup di lingkungan priyayi kecil, Ki Sarmidi lebih beruntung dibanding dengan anak-anak semasanya dari golongan (kawula) rakyat kecil. Secara sosial, ia tercukupi. Sandang, pangan dan papan terpenuhi tak sebaik golongan priyayi tinggi, misal, para keluarga dan kerabat raja, bangsawan, dan pejabat tinggi. Hidup di lingkungan priyayi kecil tak membuatnya berbesar hati dan turut menikmati fasilitas yang serba mudah, Ki Sarmidi malah tambah gelisah terhadap kenyataan sosial yang mencolok. Ia juga risau dengan adanya jurang pembeda antara kemakmuran dan kesejahteraan yang besar antara golongan kawula alit dengan golongan priyayi dan bangsawan termasuk para menir-menir kolonial Belanda.
Daya kritis Ki Sarmidi Mangunsarkoro ketika ia masuk bangku sekolah. Di lembaga pendidikan Sekolah Dasar Angka Loro. Di Sekolah Dasar Angka Loro ini Ki Sarmidi menumpuh pengajaran dan pendidikan beserta masyarakat bumiputera yang lain. Karena sebagai anak priyayi kecil Ki Sarmidi tidak bisa menikmati pendidikan sekolah Bumiputera kelas satu (Eerste Klass Inlandsche Scholen), Sekolah Bumiputera Kelas Satu diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan masyarakat kelas atas, yaitu para pemuka masyarakat, priyayi tinggi, bangsawan, dan raja-raja. Selama tiga tahun Ki Sarmidi menyelesaikan studinya dan melanjutkan belajar di Sekolah Teknik Prinses Juliana School. Dari sekolah (ST-PJS) (kini menjadi Sekolah Teknik Menengah Jetis Yogyakarta dan kemudian SMK Negeri 2 Yogyakarta) ini Ki Sarmidi banyak mengenyam atau makan asam pergerakan. Ia terlibat dalam Kelompok Studi Islam (Islam Studie Club) bahkan Sarmidi masuk sebagai anggota Trikoro Dharma, yang kemudian berubah menjadi Jong Java.
Meskipun bidang ilmu yang dipelajari Sarmidi adalah teknik, tepatnya teknik bangunan air, namun minat belajar dan pengetahuannya tidak terpaku pada bidang itu saja tetapi juga berkembang pada masalah-masalah pendidikan dan psikologi. Karena minatnya di bidang ilmu psikologi dan pendidikan,tahun 1926 Sarmidi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru Arjuna di Jakarta. Saya menjadi siswa di Sekolah Guru Arjuna, semangat kebangsaan Sarmidi semakin menyala. Ia pun semakin intens terlibat dalam kegiatan pergerakan kebangsaan, yaitu pemuda Jong Java, bahkan ia juga memimpin majalah yang bernama Soeara Afdeling Djogja.
Karena kecintaannya terhadap ilmu pendidikan dan psikologi Ki Sarmidi pun kembali setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Arjuna Jakarta. Kemudian ia mengajar di Taman Muda Perguruan Tamansiswa. Akan tetapi tidak banyak dokumen yang mengungkapkan tentang pendidikan yang ditempuh Ki Sarmidi Mangunsarkoro di tingkat perguruan tinggi hanya saja pernah disebutkan Sarmidi pernah mengikuti kuliah sosiologi di Fakultas Hukum, Jakarta. Dan hanya berlangsung kira-kira tiga tahun Ki Sarmidi mengajar sebagai guru di Taman Muda Perguruan Tamansiswa. Kepergiannya ke Jakarta juga tidak jauh dari pendidikan. Di Jakarta menjadi kepala sekolah HIS Budi Utomo dan kemudian menjadi kepala Marsudi Rukun. Penggabungan sekolah tersebut atas permintaan penduduk Kemayoran dan restu Ki Hajar Dewantara. Dan jadilah tanggal 14 Juni 1929 Ki Sarmidi Mangunsarkoro memimpin Perguruan Tamansiswa cabang Jakarta.
Namun yang unik dari sosok Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah tidak terdeteksinya ia sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP & K). Buku yang ditulis oleh RH. Widada ini salah satu cara untuk mengentaskan katak dalam tempurung sejarah. Sejarah memang pantas untuk dimunculkan kembali para anak muda yang memiliki visioner yang luar biasa.
Sosok Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah pengkisah sejarah dari panggung pergerakan di lingkungan Pemuda dan pendidikan. Ia semasa pemerintahan orde baru pernah menjabat Menteri PP & K di era Presiden Soekarno dan Hatta tahun 1949, secara resmi pada 4 Agustus 1949. Pada saat menjabat sebagai menteri, Ki Mangunsarkoro banyak mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin. Ia menggratiskan biaya sekolah dasar agar semua anak usia SD yang tidak mampu secara ekonomi tetap bisa sekolah. Ki Mangunsarkoro juga membentuk "Pendidikan Masyarakat" (sekarang disebut Pendidikan Luar Sekolah) sebagai suatu sistem pendidikan informal agar pengetahuan dan keterampilan masyarakat bertambah terutama untuk mewujudkan masyarakat bebas buta huruf. Bahkan Ki Sarmidi memiliki andil sebagai pembicara dalam Kongres Pemuda pada 1928 yang melahirkan kesempatan monumental, yaitu Sumpah Pemuda. Ki Sarmidi juga memiliki andil yang besar dalam sejarah Zaman Pergerakan dan berjasa dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Maka sudah selayaknya ia menerima gelar pahlawan dan guru patriot.[]
Judul Buku : Guru Patriot: Biografi Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Penulis : RH. Widada
Penerbit : AR-RUZZ MEDIA, Yogyakarta
Terbit : I, 2013
ISBN : 978-602-7874-29-9
Rh Widada itu temenku lho, yuk aku kenalin
ردحذفAyuuuk bun... Mau... kapan nih ada waktu ya??? Hihihi
ردحذفإرسال تعليق