Saya merasa tersesat dalam lautan sastra--untuk menyebut yang lain sesuai dengan passion dan jurusannya, mengikuti gelaran simposium bulan bahasa. Di acara simposium, (30/10) yang digelar di hall kampus 2 tersebut sangat menarik sekali, banyak peserta simposium yang hadir, mulai dari anak sastra maupun kalangan umum. Hal tersebut sangat terasa saat peserta berjubel dan antrian desak-desakan, melakukan registrasi ulang. Melihat banyaknya yang datangnya, panitia sibuk untuk menambah jumlah tempat duduk yang berada di bagian belakang.
Simposium menurut KBBI online adalah 1. Pertemuan dengan beberapa pembicara yang mengemukakan pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang beberapa aspek dari topik yang sama; 2. Kumpulan pendapat tentang sesuatu, terutama yang dihimpun dan diterbitkan; 3. Kumpulan konsep yang diajukan oleh beberapa orang atas permintaan suatu panitia.
“Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang “Memilik” Bahasa dan Sastranya” kata pak Subardi Agan. Coba kita bayangkan ketika Bangsa hadir tanpa ada bahasa apa yang terjadi? Apa yang kita lakukan? Semua akan masa ‘bodo’ tak tahu apa itu dan ini. Ketika manusia tidak melakukan tidur, ia sedang memproduksi bahasa dalam otak dan pikirannya. Sehingga bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bangsanya sendiri, coba kita lahir tanpa bahasa? Kita tidak bisa berkomunikasi. Kita tidak bisa jauh dari bahasa, selain sebagai alat komunikasi bahasa adalah alat untuk mengembangkan sastranya dan alat untuk mempertahankan diri. Bahasa sebagai sumber kreatifitas. Karena melalui bahasa, kita berfikir untuk bertindak konkrit menjadi manusia yang produktif, serta sumber kreativitas.
Tonggak awal tercatatnya proyek pener-jemahan pada masa Raja Darmawangsa Teguh pada tahun 996 di kraton Raja Darmawangsa Teguh di di Madiun Jawa Timur. Sebagai salah satu peninggalan yang di tulis pujangga-pujangga, dan waktu Kerajaan Kediri; Empu Sedah-Empu Panuluh (Bharatayuda), Empu Tan-akung (Banawa Sekar), Empu Dharmaja (Smaradahana), hingga sampai pujangga terakhir kerajaan/ kraton Surakarta: R. Ng Ranggawarsita (1802-1873). Hingga jepang yang usia menjarah negara ini tidak genap empat tahun sudah mampu mendirikan komisi bahasa.
Terus sekarang sikap kita sebagai anak bangsa yang seharusnya menghargai bahasa dan sastra bagaimana? Banyak anak muda yang alay, dengan membelokkan kata yang sudah dibakukan. Kritis terhadap bahasa sendiri di negara sendiri. Sungguh ironis kawan !!! kita sebagai generasi muda sedang mengalami keterpurukan budaya, budaya instan, budaya hedonis, yang sudahnya menuruti nafsu sesaat saja, ketimbang berfikir bagaimana caranya nafsu itu kita alihkan ke hal yang positif. Kita produktif dengan cara kita sendiri dan menghasilkan karya kita sendiri, matrealistik, semua di ukur dengan materi sehingga bisa di katakan tuhan itu adalah uang. Uang adalah segalanya. Sehingga di indonesia adalah negara yang konsumtatif, pragmatis, tidak bisa keluar dari ketergantunagn dari bangsa lain.
Simposium menurut KBBI online adalah 1. Pertemuan dengan beberapa pembicara yang mengemukakan pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang beberapa aspek dari topik yang sama; 2. Kumpulan pendapat tentang sesuatu, terutama yang dihimpun dan diterbitkan; 3. Kumpulan konsep yang diajukan oleh beberapa orang atas permintaan suatu panitia.
“Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang “Memilik” Bahasa dan Sastranya” kata pak Subardi Agan. Coba kita bayangkan ketika Bangsa hadir tanpa ada bahasa apa yang terjadi? Apa yang kita lakukan? Semua akan masa ‘bodo’ tak tahu apa itu dan ini. Ketika manusia tidak melakukan tidur, ia sedang memproduksi bahasa dalam otak dan pikirannya. Sehingga bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bangsanya sendiri, coba kita lahir tanpa bahasa? Kita tidak bisa berkomunikasi. Kita tidak bisa jauh dari bahasa, selain sebagai alat komunikasi bahasa adalah alat untuk mengembangkan sastranya dan alat untuk mempertahankan diri. Bahasa sebagai sumber kreatifitas. Karena melalui bahasa, kita berfikir untuk bertindak konkrit menjadi manusia yang produktif, serta sumber kreativitas.
Tonggak awal tercatatnya proyek pener-jemahan pada masa Raja Darmawangsa Teguh pada tahun 996 di kraton Raja Darmawangsa Teguh di di Madiun Jawa Timur. Sebagai salah satu peninggalan yang di tulis pujangga-pujangga, dan waktu Kerajaan Kediri; Empu Sedah-Empu Panuluh (Bharatayuda), Empu Tan-akung (Banawa Sekar), Empu Dharmaja (Smaradahana), hingga sampai pujangga terakhir kerajaan/ kraton Surakarta: R. Ng Ranggawarsita (1802-1873). Hingga jepang yang usia menjarah negara ini tidak genap empat tahun sudah mampu mendirikan komisi bahasa.
Terus sekarang sikap kita sebagai anak bangsa yang seharusnya menghargai bahasa dan sastra bagaimana? Banyak anak muda yang alay, dengan membelokkan kata yang sudah dibakukan. Kritis terhadap bahasa sendiri di negara sendiri. Sungguh ironis kawan !!! kita sebagai generasi muda sedang mengalami keterpurukan budaya, budaya instan, budaya hedonis, yang sudahnya menuruti nafsu sesaat saja, ketimbang berfikir bagaimana caranya nafsu itu kita alihkan ke hal yang positif. Kita produktif dengan cara kita sendiri dan menghasilkan karya kita sendiri, matrealistik, semua di ukur dengan materi sehingga bisa di katakan tuhan itu adalah uang. Uang adalah segalanya. Sehingga di indonesia adalah negara yang konsumtatif, pragmatis, tidak bisa keluar dari ketergantunagn dari bangsa lain.
إرسال تعليق