Pantai Genjor merupakan salah satu pantai yang layak dikunjungi bagi mereka yang ingin menikmati pantai dengan suasana baru. Kenapa saya bilang baru? Karena pantai ini terbilang sebagai pantai pendatang baru, tetapi belum dibuka. Pantai ini sangat alami, asri dan belum dijamah oleh tangan-tangan jail. Hanya orang-orang tertentu yang bisa sampai di pantai ini. Misalnya saja petani yang memiliki lahan pertanian di sekitar Genjor. Orang yang memiliki jiwa petualang dan suka touring di alam bebas seperti adventure trail serta orang-orang yang kerjaanya trutusan di pereng-pereng atau bebatuan untuk mancing ikan.
Berkat mereka wisata-wisata baru seperti pantai-pantai ditemukan, dikenalkan hingga dikunjungi masyarakat lalu dibuka untuk umum. Hal tersebut yang membuat pantai-pantai baru itu bisa dinikmati hingga sekarang dan masyarakat luar tergiur untuk datang. Berkat mereka membuka jalan sepetak dan menjelajahi alam, wisata baru ini lalu dikunjungi oleh orang luar.
Pantai Genjor memiliki sedikit kemiripan dengan Pantai Pasir Putih. Selain pasirnya yang putih dan ombaknya yang tenang, pantai ini juga sangat bersih, serta memiliki kontur yang sama dengan pantai sebelah timur Pantai Prigi itu. Yang membedakan antara kedua pantai itu adalah luas dan panjang bibir pantainya. Jika Pantai Pasir Putih panjang bibirnya kurang lebih 700 meter. Panjang bibirnya ditentukan oleh lokasi bebatuan atau bukit dari barat ke timur atau timur ke barat dengan membentuk huruf U dengan huruf yang datar memanjang, Pantai Genjor ini lebih membentang dengan lingkungan pepohonan lebat dan hijau.
Sementara suasana pantai sangat hening. Tak ada aktivitas manusia di pantai ini. Kalau pun ada aktivitas manusia, itu hanya orang yang sedang bekerja di hutan di sekitar pantai itu. Sehingga sangat sunyi dan sejuk. Pantai ini sangat cocok jadi tempat relaksasi dari kepenatan sehari-hari. Udaranya segar. Angin yang menggerakkan nyiur sangat sepoi-sepoi. Sedangkan pepohonan juga masih rindang dan masuk kategori liar.
Sebagian besar tumbuhan yang tumbuh adalah pohon waru dan varietas pohon yang lain, yang biasanya hidup di bibir pantai seperti pohon kelapa dan pohon lainnya. Sehingga panas khas pantai itu terhalang oleh rindangnya pepohonan yang tumbuh. Seandainya Anda datang ke sana, mata Anda akan dibuat tertidur di atas pasir dan menatap langit yang biru dan semilirnya angin serta iringan nada ombak yang khas dengan gerak ritmisnya yang datang dan kembali itu.
Perjalanan Pakai Motor Modifikasi Trail
Pantai ini belum familier di telinga masyarakat luar. Pantai ini juga masih belum siap untuk dikunjungi oleh masyarakat dengan jumlah yang banyak. Selain akses ke pantai yang belum ada, kalau pun ada hanya sepetak. Itu pun jalur dari para petani yang menggarap ladang di sana. Dan jalur yang menghubungkan ladang sat dengan ladang yang lain.
Selain itu lebar jalannya juga cukup dibuat papasan satu sepeda motor. Kalau pun ada yang papasan salah satu sepeda motor harus rela menepi dan mendahulukan kendaraan yang lain. Apalagi saat kita papasan dengan petani dengan momotan (barang bawaan) ramban (pakan kambing), maka mau tak mau motor yang satu harus menepi dan mempersilakan motor satu lewat duluan.
Saya ke sana waktu itu bersama teman-teman dari rombongan komunitas motor trail yang biasa menjelajahi alam bebas. Saya tidak sedang menggeber motor dengan mesin kapasitas besar itu. Yang saya geber bersama teman-teman adalah motor bebek yang dimodif motor trail, kendaraan yang biasa digunakan oleh petani di hutan itu. Paham kan? Tetapi untuk urusan sampai di pantai tidak kalah cekatan.
Sebenarnya kami (Remas Sabilil Muttaqin) bersama komunitas Prigi Motor X-Trail (PMX) ini tidak sedang bertamasya atau piknik di pantai ini. Tetapi kami sedang menjalankan misi membuka jalan, membersihkan rute serta memotongi kayu dan tumbuhan liar yang menjalar. Dengan jalur setapak dengan kontur kemiringan tidak rata, serta jalan rabat dan makadam di kanan kiri jurang membuat kami harus berhati-hati, fokus dengan yang ada di depan. Selain itu jalan naik turun membuat saya harus tetap fokus akan setir yang saya pegang.
Karena rutenya yang mentang ini kami yang memiliki jiwa penasaran dan status lakinya menggelora, maka jalan penuh lubang, tidak rata serta naik turun jadi sensasi sendiri untuk ditaklukkan. Tidak itu saja, lebar jalannya setengah meter-an. Sebagian besar semua motor yang kita pakai adalah motor dengan ban pul. Sehingga perlu keahlian khusus untuk mengimbangi motor dengan kontur tidak rata dan naik turun.
Dengan mengandalkan motor bebek yang dimodifikasi mirip trail yang di-obo, jadi tantangan tersendiri bagi para pemuda itu. Meski begitu karena sebagian besar di antara kami boncengan, maka pada waktu melewati tanjakan selalu ringkih dan kecepatannya menurun. Hanya besar di suara dari balik knalpot.
Bermula melewati hutan atau bukit Wonosalam yang lokasinya berada tepat di atas Pantai Pasir Putih tembus ke jalur Jalur Pantai Selatan atau dikenal dengan JLS hingga masuk di hutan di seberang Pantai Kuteng, terus melipir di hutan milik masyarakat hingga sampai di jalur menuju di Pantai Genjor. Jalur menuju pantai adalah jalur Jalur Lintas Selatan (JLS). Jalur ini menghubungkan kabupaten di selatan Jawa. Seperti Kabupaten Tulungagung yang bersebelahan dengan Kabupaten Trenggalek dan kabupaten-kabupaten lain yang berada di Jalur Pantai Selatan Jawa ini.
Selain itu, pantai ini bisa dibilang berbatasan dengan Pantai Sidem dan Pantai Popoh. Karena kontur tanahnya (bibir lautnya) tidak memanjang, maka jika dilihat dari darat tidak akan ketemu pertemuannya. Berbeda lagi saat dilihat dari atas bukit, Pantai Genjor bersebelahan langsung dengan pantai di kawan Kabupaten Tulungagung.
Terbayar Lunas Pantai Bersih
Karena yang saya tumpangi motor bebek dengan gaya setengah-tengah modifnya dan rem depan tak berfungsi, maka kami tertingggal dari rombongan yang ada di depan. Kalau tidak salah tiga orang (saya, Fadli dan satu lupa) tercecer di belakang. Saat kami kehilangan jejak mereka, kami hanya bisa teriak-teriak memanggil orang-orang yang sudah hilang oleh rimbuunnya tanaman yang ditanam oleh para petani dari atas bukit tempat kami kehilangan rombongan itu.
Jalur menuju Pantai Genjor terbilang banyak. Karena jalur yang kami akses adalah jalur milik petani, yang menghubungkan ladang petani dengan ladang petani lain. Dari atas goplan itu (hutan yang digarap dan ditanami) itu saya dan Fadli dan satu teman hanya bisa memandang Pantai Genjor sangat indah dan bersih. Sambil menunggu teman, melacak kami, saya memandang dari atas dan mengabadikan pantai itu dengan foto dari smartphone yang yang saya bawa. Pantai ini masih sangat alami, kebersihan dan rindang.
Pantai di selatan Jawa memang terkenal sangat indah. Selain itu banyak pantai diketahui oleh masyarakat luar, bahkan penduduk setempat. Karena pantai ini masih virgin, udaranya juga sudah pasti sangat segar dan sepoi-sepoi.
Kami pun akhirnya benar-benar bisa menikmati pantai ini dengan nyata. Saat saya berada di bawah pohon kelapa--kebetulan sudah ada pampang yang terbuat dari kayu-kayu yang diikat di antara dua pohon--, Saya seolah tersihir oleh udara yang terhembus dari selatan itu. Di kanan kiri pantai masih banyak pepohonan yang rindang.
Selain itu kami berkesempatan menikmati beningnya air laut, bersihnya pasir dan pemandangan yang masih alami serta eksotisnya laut. Namun saya baru sadar bahwa saya di sini bukan untuk menikmati pantai ini. Di bibir pantai, orang-orang banyak yang membersihkan pantai dan membuat jalan extream-an. Yakni jalur yang kontur tanahnya sedikit naik dengan kemiringan lebih dari 45 %.
Tetapi saya masih tetap tak bisa mengalihkan pandangan saya pada pantai ini. Di depan pantai ada bangkai perahu rusak,yang tinggal sebelah rangkanya saja. Di sebelah rangka perahu itu ada sungai yang sangat jernih. Tidak jauh dari tempat kami istirahat ada beberapa pohon kelapa muda-muda. Karena lelah mengikuti tracking bersama komunitas adventure itu, kami tidak bisa menjauhkan diri dari godaan haus. Sehingga kami tidak bisa menghindari lambaian daun kelapa untuk segera dipanjat dan diambil air degan dan isinya. Segarnya luar biasa.
Berkat mereka wisata-wisata baru seperti pantai-pantai ditemukan, dikenalkan hingga dikunjungi masyarakat lalu dibuka untuk umum. Hal tersebut yang membuat pantai-pantai baru itu bisa dinikmati hingga sekarang dan masyarakat luar tergiur untuk datang. Berkat mereka membuka jalan sepetak dan menjelajahi alam, wisata baru ini lalu dikunjungi oleh orang luar.
Pantai Genjor memiliki sedikit kemiripan dengan Pantai Pasir Putih. Selain pasirnya yang putih dan ombaknya yang tenang, pantai ini juga sangat bersih, serta memiliki kontur yang sama dengan pantai sebelah timur Pantai Prigi itu. Yang membedakan antara kedua pantai itu adalah luas dan panjang bibir pantainya. Jika Pantai Pasir Putih panjang bibirnya kurang lebih 700 meter. Panjang bibirnya ditentukan oleh lokasi bebatuan atau bukit dari barat ke timur atau timur ke barat dengan membentuk huruf U dengan huruf yang datar memanjang, Pantai Genjor ini lebih membentang dengan lingkungan pepohonan lebat dan hijau.
Sementara suasana pantai sangat hening. Tak ada aktivitas manusia di pantai ini. Kalau pun ada aktivitas manusia, itu hanya orang yang sedang bekerja di hutan di sekitar pantai itu. Sehingga sangat sunyi dan sejuk. Pantai ini sangat cocok jadi tempat relaksasi dari kepenatan sehari-hari. Udaranya segar. Angin yang menggerakkan nyiur sangat sepoi-sepoi. Sedangkan pepohonan juga masih rindang dan masuk kategori liar.
Sebagian besar tumbuhan yang tumbuh adalah pohon waru dan varietas pohon yang lain, yang biasanya hidup di bibir pantai seperti pohon kelapa dan pohon lainnya. Sehingga panas khas pantai itu terhalang oleh rindangnya pepohonan yang tumbuh. Seandainya Anda datang ke sana, mata Anda akan dibuat tertidur di atas pasir dan menatap langit yang biru dan semilirnya angin serta iringan nada ombak yang khas dengan gerak ritmisnya yang datang dan kembali itu.
Perjalanan Pakai Motor Modifikasi Trail
Pantai ini belum familier di telinga masyarakat luar. Pantai ini juga masih belum siap untuk dikunjungi oleh masyarakat dengan jumlah yang banyak. Selain akses ke pantai yang belum ada, kalau pun ada hanya sepetak. Itu pun jalur dari para petani yang menggarap ladang di sana. Dan jalur yang menghubungkan ladang sat dengan ladang yang lain.
Selain itu lebar jalannya juga cukup dibuat papasan satu sepeda motor. Kalau pun ada yang papasan salah satu sepeda motor harus rela menepi dan mendahulukan kendaraan yang lain. Apalagi saat kita papasan dengan petani dengan momotan (barang bawaan) ramban (pakan kambing), maka mau tak mau motor yang satu harus menepi dan mempersilakan motor satu lewat duluan.
Saya ke sana waktu itu bersama teman-teman dari rombongan komunitas motor trail yang biasa menjelajahi alam bebas. Saya tidak sedang menggeber motor dengan mesin kapasitas besar itu. Yang saya geber bersama teman-teman adalah motor bebek yang dimodif motor trail, kendaraan yang biasa digunakan oleh petani di hutan itu. Paham kan? Tetapi untuk urusan sampai di pantai tidak kalah cekatan.
Sebenarnya kami (Remas Sabilil Muttaqin) bersama komunitas Prigi Motor X-Trail (PMX) ini tidak sedang bertamasya atau piknik di pantai ini. Tetapi kami sedang menjalankan misi membuka jalan, membersihkan rute serta memotongi kayu dan tumbuhan liar yang menjalar. Dengan jalur setapak dengan kontur kemiringan tidak rata, serta jalan rabat dan makadam di kanan kiri jurang membuat kami harus berhati-hati, fokus dengan yang ada di depan. Selain itu jalan naik turun membuat saya harus tetap fokus akan setir yang saya pegang.
Karena rutenya yang mentang ini kami yang memiliki jiwa penasaran dan status lakinya menggelora, maka jalan penuh lubang, tidak rata serta naik turun jadi sensasi sendiri untuk ditaklukkan. Tidak itu saja, lebar jalannya setengah meter-an. Sebagian besar semua motor yang kita pakai adalah motor dengan ban pul. Sehingga perlu keahlian khusus untuk mengimbangi motor dengan kontur tidak rata dan naik turun.
Dengan mengandalkan motor bebek yang dimodifikasi mirip trail yang di-obo, jadi tantangan tersendiri bagi para pemuda itu. Meski begitu karena sebagian besar di antara kami boncengan, maka pada waktu melewati tanjakan selalu ringkih dan kecepatannya menurun. Hanya besar di suara dari balik knalpot.
Bermula melewati hutan atau bukit Wonosalam yang lokasinya berada tepat di atas Pantai Pasir Putih tembus ke jalur Jalur Pantai Selatan atau dikenal dengan JLS hingga masuk di hutan di seberang Pantai Kuteng, terus melipir di hutan milik masyarakat hingga sampai di jalur menuju di Pantai Genjor. Jalur menuju pantai adalah jalur Jalur Lintas Selatan (JLS). Jalur ini menghubungkan kabupaten di selatan Jawa. Seperti Kabupaten Tulungagung yang bersebelahan dengan Kabupaten Trenggalek dan kabupaten-kabupaten lain yang berada di Jalur Pantai Selatan Jawa ini.
Selain itu, pantai ini bisa dibilang berbatasan dengan Pantai Sidem dan Pantai Popoh. Karena kontur tanahnya (bibir lautnya) tidak memanjang, maka jika dilihat dari darat tidak akan ketemu pertemuannya. Berbeda lagi saat dilihat dari atas bukit, Pantai Genjor bersebelahan langsung dengan pantai di kawan Kabupaten Tulungagung.
Terbayar Lunas Pantai Bersih
Karena yang saya tumpangi motor bebek dengan gaya setengah-tengah modifnya dan rem depan tak berfungsi, maka kami tertingggal dari rombongan yang ada di depan. Kalau tidak salah tiga orang (saya, Fadli dan satu lupa) tercecer di belakang. Saat kami kehilangan jejak mereka, kami hanya bisa teriak-teriak memanggil orang-orang yang sudah hilang oleh rimbuunnya tanaman yang ditanam oleh para petani dari atas bukit tempat kami kehilangan rombongan itu.
Jalur menuju Pantai Genjor terbilang banyak. Karena jalur yang kami akses adalah jalur milik petani, yang menghubungkan ladang petani dengan ladang petani lain. Dari atas goplan itu (hutan yang digarap dan ditanami) itu saya dan Fadli dan satu teman hanya bisa memandang Pantai Genjor sangat indah dan bersih. Sambil menunggu teman, melacak kami, saya memandang dari atas dan mengabadikan pantai itu dengan foto dari smartphone yang yang saya bawa. Pantai ini masih sangat alami, kebersihan dan rindang.
Pantai di selatan Jawa memang terkenal sangat indah. Selain itu banyak pantai diketahui oleh masyarakat luar, bahkan penduduk setempat. Karena pantai ini masih virgin, udaranya juga sudah pasti sangat segar dan sepoi-sepoi.
Kami pun akhirnya benar-benar bisa menikmati pantai ini dengan nyata. Saat saya berada di bawah pohon kelapa--kebetulan sudah ada pampang yang terbuat dari kayu-kayu yang diikat di antara dua pohon--, Saya seolah tersihir oleh udara yang terhembus dari selatan itu. Di kanan kiri pantai masih banyak pepohonan yang rindang.
Selain itu kami berkesempatan menikmati beningnya air laut, bersihnya pasir dan pemandangan yang masih alami serta eksotisnya laut. Namun saya baru sadar bahwa saya di sini bukan untuk menikmati pantai ini. Di bibir pantai, orang-orang banyak yang membersihkan pantai dan membuat jalan extream-an. Yakni jalur yang kontur tanahnya sedikit naik dengan kemiringan lebih dari 45 %.
Tetapi saya masih tetap tak bisa mengalihkan pandangan saya pada pantai ini. Di depan pantai ada bangkai perahu rusak,yang tinggal sebelah rangkanya saja. Di sebelah rangka perahu itu ada sungai yang sangat jernih. Tidak jauh dari tempat kami istirahat ada beberapa pohon kelapa muda-muda. Karena lelah mengikuti tracking bersama komunitas adventure itu, kami tidak bisa menjauhkan diri dari godaan haus. Sehingga kami tidak bisa menghindari lambaian daun kelapa untuk segera dipanjat dan diambil air degan dan isinya. Segarnya luar biasa.
إرسال تعليق