Dunia teknologi berbasis internet sekarang ini memang memudahkan manusia dalam bekerja. Kemudahan dalam berjejaring ini mau tidak mau "menuntut" manusia mengikuti, bahkan lebih baik lagi berinovasi jika tidak mau dianggap tertinggal atau terbelakang. Apalagi sampai bisa produktif. Itu lebih baik.
Sebab apa-apa yang kita butuhkan sudah tersedia di "store", di mesin pencarian Google. Tinggal ketik penelusuran di Google semua bakal terjawab. Selesai. Pada mesin pencarian, saya ketik kata kunci maka mesin itu akan mengantarkan ke suatu cakrawala pengetahuan dan gagasan yang tak terkira kedalaman intelektualnya. Ada sebuah adagium pemuja dunia maya. "Anda bertanya, Mbah Google menjawab". Adagium sebetulnya sindirin terhadap orang yang telah kecanduan terhadap dunia selipatan 5 inci tersebut.
Kita harus menyakini itu.
Di era digitalisasi itu, kita telah masuk di era banjir informasi. Mau tidak mau kita harus mengikuti dan menghadapi era banjir informasi depan mata dengan bijaksana tanpa ikut menyebar informasi yang nir-manfaat atau berita palsu (hoaks) kepada masyarakat luar. Itu tidak baik.
Berbicara tentang kemudahan internet, saya mendapatkan manfaatnya--seperti yang sudah saya tulis di awal-awal--di akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014. Dengan menulis hal remah-remah rengginang ini di blogspot. Pertama kali menikmati kemudahan ini--menulis di blog--di tahun itu saya senangnya tidak ketulungan. Suasana bagaimana pun tidak dapat mengendurkan semangat saya untuk menulis.
Awal saya nge-blog dengan tampilan yang "bagus" itu tidak lain karena belas kasih dan bantuan dari teman. Mulanya saya nge-blog sekenanya. Hanya untuk bersenang-senang. Ibarat anak kecil yang baru mendapat mainan baru, senangnya minta ampun. Tidak mau pindah ke lain mainan. Sampai di kemudian hari saya sadar bahwa media blog ini mampu menjadikan manusia jadi kreatif dan inovatif dengan menulis apa saja yang ada dipikiran kita. Termasuk saya. Lalu saya seolah terhipnotis dan mengubah cara berpikir saya dalam melihat sesuai hal yang unik maupun hal baru.
Karena termotivasi mengisi blog saat waktu longgar, saya terangsang untuk terus nge-blog. Meski hambatan tiba itu tidak mengendurkan semangat. Saat itu mengetahui dan menulis tentang banyak hal adalah hal yang harus saya tulis hari itu juga.
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 2)
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 1)
Bahkan dari hal-halsederhana pun tidak luput saya catat (jejak daring-blog). Sebenarnya bila semangat ini saya rawat sampai hari ini dan tidak gampang tergiur dengan hal yang baru-baru maka saya bisa membayangkan kekuatan blog saya ini sampai hari ini bisa lebih dari yang saya katakan. Namun karena saya suka tergiur dengan hal yang baru, blog-blog yang saya bangun sering tak terurus dan ganti yang baru. Sebuah tindakan yang tidak patut dibanggakan.
Saya tahu, mempertahankan itu lebih berat dari pada membuat atau mendapatkan yang baru. Dan saya sadar, susana yang seperti itu sangat-sangat menjemukan atas sebuah kegiatan yang bernama nge-blog.
Namun saat ini saya mencoba untuk tetap bertahan dengan sisa kuota yang lebih dari cukup. Saya harus bersyukur adanya teknologi seperti ini jadi salah satu ujian dan sajian nyata bagi saya pribadi dalam menguji konsistensi menulis saya pribadi, meski tulisan-tulisan yang saya hasilkan tentang hal remeh temeh yang tidak penting.
Adanya blog ini jadi wujud nyata saya dalam mendokumentasikan jejak digital saya dari dunia nyata. Untuk itu saya harus mendorong sendiri untuk mencapai apa yang jadi keinginan saya sendiri. Dan harus terus belajar dan bekerja keras tanpa mengenal putus asa untuk memperbaiki kualitas.
Bosan dengan Suasana
Setiap nge-blog dengan suasana yang tidak mendukung dan fasilitas minim jadi tantangan tersendiri. Setiap hari suasana hanya bermodal laptop, kadang smartphone kalau lagi kaya ada cemilan yang kaya akan lemak. Dan setiap hari hanya itu-itu saja. Tidak ada suasana yang mendukung untuk berinteraksi dengan yang lain.
Suasana seperti itu menjadi suasana di mana saya harus bekerja sendiri di dalam kamar bertemankan sebuah laptop yang tidak bisa bicara. Senyap, sunyi tanpa ada musik yang menggema. Karena saya lebih suka hening dan tidak ada musik-musik pengiring.
Namun melihat semangat teman saya, dalam hal ini laptop, saya jadi mempertahankan dan bertahan dari suasana itu. Laptop saya tetap setiap menemani saya setiap hari, meski dia sudah berulang kali masuk persalinan (reparasi tukang komputer). Namun saya menyadari sekuat-kuatnya iman saya dalam mempertahankan semangat menulis, semangat itu luntur dan kalah juga.
Sebenarnya pepatah orang Jawa kuno pernah membisiki telinga saya bahwa mempertahankan sesuatu (dengan konsisten) itu lebih sulit dari pada memulai lagi. Pepatah itu merasuk ke dalam diri saya tetapi tak mempan. Hanya tinggal pepatah yang setiap hari diulang-ulang tak ada manfaatnya.
Memang betultantangan dalam diri saya tidak lain adalah perkara konsisten dan plan-plin, istikomah dan yakin akan indah pada waktunya. Suasana dan perkara itu adalah penyakityang berada di dalam diri saya ini. Itu penyakit!
Saya harus menyadari bahwa saya memiliki satu penyakit atau sindrom tidak bisa konsisten dan gampang-an beralih kepada hal yang masih fresh. Mudah menoleh milik orang lain. Padahal saya sendiri mampu menulis atau membuat seperti itu. Oleh karena itu suasana ini jelas tidak produktif dan tidak nyaman lagi.
Dalam perkara nge-blog pun demikian. Saya sudah beberapa kali pindah blog. Mulai dari blog tanpa bayar sampai blog gratisan seperti blogspot[dot]com itu sudah saya lalui. Bahkan saya juga pernah memanfaatkan wordpress meski tidak lama. Kemudian saya beralih lagi di blog ini. Saya gampang-an tergiur dengan model template baru. Memang bener demikian.
Dari kebosanan ini sebenarnya jadi tantangan tersendiri bagi saya. Tapi tantangan itu hanya jadi motivasi dalam tumpukan memori otak. Tidak berguna sama sekali. Semoga dengan suasana dan bahan yang lebih banyak lagi saya bisa menulis setiap hari. Satu hari satu tulisan minimal. Semoga.[]
Sebab apa-apa yang kita butuhkan sudah tersedia di "store", di mesin pencarian Google. Tinggal ketik penelusuran di Google semua bakal terjawab. Selesai. Pada mesin pencarian, saya ketik kata kunci maka mesin itu akan mengantarkan ke suatu cakrawala pengetahuan dan gagasan yang tak terkira kedalaman intelektualnya. Ada sebuah adagium pemuja dunia maya. "Anda bertanya, Mbah Google menjawab". Adagium sebetulnya sindirin terhadap orang yang telah kecanduan terhadap dunia selipatan 5 inci tersebut.
Kita harus menyakini itu.
Di era digitalisasi itu, kita telah masuk di era banjir informasi. Mau tidak mau kita harus mengikuti dan menghadapi era banjir informasi depan mata dengan bijaksana tanpa ikut menyebar informasi yang nir-manfaat atau berita palsu (hoaks) kepada masyarakat luar. Itu tidak baik.
Berbicara tentang kemudahan internet, saya mendapatkan manfaatnya--seperti yang sudah saya tulis di awal-awal--di akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014. Dengan menulis hal remah-remah rengginang ini di blogspot. Pertama kali menikmati kemudahan ini--menulis di blog--di tahun itu saya senangnya tidak ketulungan. Suasana bagaimana pun tidak dapat mengendurkan semangat saya untuk menulis.
Awal saya nge-blog dengan tampilan yang "bagus" itu tidak lain karena belas kasih dan bantuan dari teman. Mulanya saya nge-blog sekenanya. Hanya untuk bersenang-senang. Ibarat anak kecil yang baru mendapat mainan baru, senangnya minta ampun. Tidak mau pindah ke lain mainan. Sampai di kemudian hari saya sadar bahwa media blog ini mampu menjadikan manusia jadi kreatif dan inovatif dengan menulis apa saja yang ada dipikiran kita. Termasuk saya. Lalu saya seolah terhipnotis dan mengubah cara berpikir saya dalam melihat sesuai hal yang unik maupun hal baru.
Karena termotivasi mengisi blog saat waktu longgar, saya terangsang untuk terus nge-blog. Meski hambatan tiba itu tidak mengendurkan semangat. Saat itu mengetahui dan menulis tentang banyak hal adalah hal yang harus saya tulis hari itu juga.
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 2)
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 1)
Bahkan dari hal-halsederhana pun tidak luput saya catat (jejak daring-blog). Sebenarnya bila semangat ini saya rawat sampai hari ini dan tidak gampang tergiur dengan hal yang baru-baru maka saya bisa membayangkan kekuatan blog saya ini sampai hari ini bisa lebih dari yang saya katakan. Namun karena saya suka tergiur dengan hal yang baru, blog-blog yang saya bangun sering tak terurus dan ganti yang baru. Sebuah tindakan yang tidak patut dibanggakan.
Saya tahu, mempertahankan itu lebih berat dari pada membuat atau mendapatkan yang baru. Dan saya sadar, susana yang seperti itu sangat-sangat menjemukan atas sebuah kegiatan yang bernama nge-blog.
Namun saat ini saya mencoba untuk tetap bertahan dengan sisa kuota yang lebih dari cukup. Saya harus bersyukur adanya teknologi seperti ini jadi salah satu ujian dan sajian nyata bagi saya pribadi dalam menguji konsistensi menulis saya pribadi, meski tulisan-tulisan yang saya hasilkan tentang hal remeh temeh yang tidak penting.
Adanya blog ini jadi wujud nyata saya dalam mendokumentasikan jejak digital saya dari dunia nyata. Untuk itu saya harus mendorong sendiri untuk mencapai apa yang jadi keinginan saya sendiri. Dan harus terus belajar dan bekerja keras tanpa mengenal putus asa untuk memperbaiki kualitas.
Bosan dengan Suasana
Setiap nge-blog dengan suasana yang tidak mendukung dan fasilitas minim jadi tantangan tersendiri. Setiap hari suasana hanya bermodal laptop, kadang smartphone kalau lagi kaya ada cemilan yang kaya akan lemak. Dan setiap hari hanya itu-itu saja. Tidak ada suasana yang mendukung untuk berinteraksi dengan yang lain.
Suasana seperti itu menjadi suasana di mana saya harus bekerja sendiri di dalam kamar bertemankan sebuah laptop yang tidak bisa bicara. Senyap, sunyi tanpa ada musik yang menggema. Karena saya lebih suka hening dan tidak ada musik-musik pengiring.
Namun melihat semangat teman saya, dalam hal ini laptop, saya jadi mempertahankan dan bertahan dari suasana itu. Laptop saya tetap setiap menemani saya setiap hari, meski dia sudah berulang kali masuk persalinan (reparasi tukang komputer). Namun saya menyadari sekuat-kuatnya iman saya dalam mempertahankan semangat menulis, semangat itu luntur dan kalah juga.
Sebenarnya pepatah orang Jawa kuno pernah membisiki telinga saya bahwa mempertahankan sesuatu (dengan konsisten) itu lebih sulit dari pada memulai lagi. Pepatah itu merasuk ke dalam diri saya tetapi tak mempan. Hanya tinggal pepatah yang setiap hari diulang-ulang tak ada manfaatnya.
Memang betultantangan dalam diri saya tidak lain adalah perkara konsisten dan plan-plin, istikomah dan yakin akan indah pada waktunya. Suasana dan perkara itu adalah penyakityang berada di dalam diri saya ini. Itu penyakit!
Saya harus menyadari bahwa saya memiliki satu penyakit atau sindrom tidak bisa konsisten dan gampang-an beralih kepada hal yang masih fresh. Mudah menoleh milik orang lain. Padahal saya sendiri mampu menulis atau membuat seperti itu. Oleh karena itu suasana ini jelas tidak produktif dan tidak nyaman lagi.
Dalam perkara nge-blog pun demikian. Saya sudah beberapa kali pindah blog. Mulai dari blog tanpa bayar sampai blog gratisan seperti blogspot[dot]com itu sudah saya lalui. Bahkan saya juga pernah memanfaatkan wordpress meski tidak lama. Kemudian saya beralih lagi di blog ini. Saya gampang-an tergiur dengan model template baru. Memang bener demikian.
Dari kebosanan ini sebenarnya jadi tantangan tersendiri bagi saya. Tapi tantangan itu hanya jadi motivasi dalam tumpukan memori otak. Tidak berguna sama sekali. Semoga dengan suasana dan bahan yang lebih banyak lagi saya bisa menulis setiap hari. Satu hari satu tulisan minimal. Semoga.[]
إرسال تعليق