Suatu pemandangan yang sangat menarik--menurut saya pribadi--adalah lanskap dari kemegahan dan keindahan alam. Keindahan alam memang sangat mempesona. Semua orang yang melihat sudah pasti bakal terkesima dengan kebesaran alam ciptaan Tuhan semesta ini. Namun jika saya tarik ke sebuah pemandangan, dalam hal ini sesuatu yang sangat sederhana, tentu orang lain bakal mengajukan gugatan atau proses terhadap penilaian saya ini.
Penilaian terhadap pemandangan itu adalah sesuatu yang sangat sederhana dan barangkali Anda sering melihatnya dan itu hal yang sangat tidak menarik dan tidak penting untuk dibahas atau diulas. Apalagi dibesar-besarkan seperti ini.
View atau pemandangan itu tidak lain adalah pemandangan atas kejadian yang sangat sederhana juga umum. Karena pemandangan yang tak sengaja itu menawarkan ketakjuban dan 'kegemasan' tersendiri khususnya bagi saya pribadi. Baiklah, saya akan to the points saja. Tidak akan muter-muter sehingga ujungnya pusing sendiri.
Ketakjuban dari sebuah pemandangan itu adalah saat saya melihat seorang penjual buah sedang menunggu dagangannya dengan membaca buku. Ia membuka buku--entah dibaca atau tidak--duduk di atas bangku depannya pintu mobil dagangannya tersebut. Dengan penuh hikmat, ia membacanya nampak sangat serius.
Saya sebenarnya tak menjamin bahwa ia sedang membaca buku, majalah atau surat kabar lain. Paling-paling mainan hape, nge-game atau ngisi TTS (Teka Teki Silang) untuk menghibur diri saat dagangannya sedang sepi. Tapi dengan hati dan pikiran yang positif, saya yakin ia sedang membaca.
Selepas melihat hal tersebut hati dan pikiran saya tergerak untuk menuliskannya. Padahal saya sedang tidak membeli dagangannya. Namun saat itu saya sedang berkendara dengan pelan-pelan saja sambil bincang-bincang dengan teman saya di atas motor. Melihat hal tersebut, pikiran saya langsung terpikat. Saat itu saya tak bisa pungkiri. Saya sedang ajeg-ajegnya membaca, sehingga sesuatu hal yang bersifat aktivitas membaca saya nilai positif.
Begitupun apa angin dilakukan oleh bakul buah itu. Penjual buah yang biasanya menjual dagangan buahnya, melayani pembeli dengan menimbang dagangannya atau sesekali membantu memilah-milah buah yang kualitasnya baik itu juga sedang mengajegkan aktivitas yang saya lakukan.
Meski aktivitas itu sampingan tetapi itu merupakan salah satu cara yang baik untuk membunuh waktu atau mengisi kesepian dari pelanggannya. Di sisi lain, tukang buah yang memiliki kemauan membaca itu jelas memiliki kesabaran, keuletan, juga memiliki kebiasaan tidak kalah dengan orang-orang pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan itu. Ia sanggup meluangkan waktu dengan meng-upgrade pengetahuannya.
Orang seperti itu memiliki daya pikir yang kuat. Kemauan yang kuat. Ia tidak menyia-yiakan waktu bergulir begitu saja. Ia menyempatkan waktu luangnya dengan membaca koran, mengisi TTS, maupun majalah. Kegiatan tersebut perlu dilakukan oleh siapa pun, dengan latar profesi apa pun juga. Tidak terkecuali orang pegawai atau tukang kebun atau penjual buah.
Saya biasa bertemu pedagang buah tersebut di pinggiran jalan raya. Kebiasaan jalan-jalan memakai kendaraan bermotor jadi sedikit ada waktu dan objek yang saya lihat. Sehingga objek seperti tukang buah membaca pun tidak luput dari penglihatan dan amatan saya. Sekilas bacaan yang dibaca itu sebuah majalah.
"Tukang buah saja mau dan mampu membaca, bagaimana dengan saya?" Gumam saya waktu itu.
Spirit tukang buah itu menyentil dan membuat dahi ini mengkerut. Wong orang yang sudah tidak sekolah dan fokusnya mencari uang di jalanan saja mau membaca bagaimana dengan kita yang masih duduk di bangku pendidikan? Jelas ini merupakan tamparan bagi kita sebagai anak sekolahan. Kearifan tukang buah itu membongkar kemalasan yang menggurita pada diri kita selama ini. Kita sebagai orang Indonesia mau tidak mau harus mengakui bahwa kegiatan membaca di kalangan masyarakat sangat rendah.
Bahkan sastrawan, Taufik Ismail memvonis dirinya sendiri bahkan rakyat Indonesia dengan mengeluarkan statemen Tragedi Nol Buku. Bangsa yang tradisi membacanya di posisi nol. Kebiasaan membaca jauh dari kata habitus. Kok habitus. Wong untuk memulai membaca saja di kalangan anak muda sulitnya minta minta ampun. Kebiasaan membaca jauh dari kata 'habitus'. Kebiasaan membaca bangsa Indonesia seperti yang disampaikan oleh Taufik Ismail tadi, yaitu NOL, "nol besar".
Konon di suatu negara budaya membaca masyarakat juga mempengaruhi kualitas taraf hidup masyarakatnya. Apabila kebiasaan membaca ini sudah mengakar, kualitas hidup masyarakat juga meningkatkan secara signifikan. Maksudnya, secara fisik, seseorang lebih berpenampilan elegan dan tidak terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Artinya, ia lebih memiliki pemikiran matang dalam mengambil keputusan. Ia juga kelihatan berwibawa serta kalem saat berbicara maupun berdialektika.
Memiliki kedalaman ilmu membuat orang jadi terlihat sabar. Ia tidak kelihatan kudet (kurang up-date) tentang tren yang lagi buming. Ia juga bisa mengimbangi percaturan di era digitalisasi dan globalisasi seperti sekarang ini. Dengan modal pengetahuan seperti itu, ia juga belajar peluang di era teknologi. Ia juga dapat belajar tentang tren dunia luar dan mengolah sesuatu menjadi strategi untuk menghadapi tantangan zaman.
Kearifan tukang buah yang saya jumpai di pinggiran jalan raya ini perlu kita teladani. Berprofesi dan berpenampilan seperti apa pun kita selayaknya kita menyempatkan dam membiasakan membaca. Emtah buku atau bacaan yang lain. Tukang buah tersebut jelas memiliki pandangan yang jauh di luar biasa dan cerdas, sehingga kegiatan, yang menurut pada kebanyakan orang tidak ada manfaatnya, dan membuang-buang waktu, dapat bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain di sekitarnya. Semoga.
Tm, 29/4/'15
Penilaian terhadap pemandangan itu adalah sesuatu yang sangat sederhana dan barangkali Anda sering melihatnya dan itu hal yang sangat tidak menarik dan tidak penting untuk dibahas atau diulas. Apalagi dibesar-besarkan seperti ini.
View atau pemandangan itu tidak lain adalah pemandangan atas kejadian yang sangat sederhana juga umum. Karena pemandangan yang tak sengaja itu menawarkan ketakjuban dan 'kegemasan' tersendiri khususnya bagi saya pribadi. Baiklah, saya akan to the points saja. Tidak akan muter-muter sehingga ujungnya pusing sendiri.
Ketakjuban dari sebuah pemandangan itu adalah saat saya melihat seorang penjual buah sedang menunggu dagangannya dengan membaca buku. Ia membuka buku--entah dibaca atau tidak--duduk di atas bangku depannya pintu mobil dagangannya tersebut. Dengan penuh hikmat, ia membacanya nampak sangat serius.
Saya sebenarnya tak menjamin bahwa ia sedang membaca buku, majalah atau surat kabar lain. Paling-paling mainan hape, nge-game atau ngisi TTS (Teka Teki Silang) untuk menghibur diri saat dagangannya sedang sepi. Tapi dengan hati dan pikiran yang positif, saya yakin ia sedang membaca.
Selepas melihat hal tersebut hati dan pikiran saya tergerak untuk menuliskannya. Padahal saya sedang tidak membeli dagangannya. Namun saat itu saya sedang berkendara dengan pelan-pelan saja sambil bincang-bincang dengan teman saya di atas motor. Melihat hal tersebut, pikiran saya langsung terpikat. Saat itu saya tak bisa pungkiri. Saya sedang ajeg-ajegnya membaca, sehingga sesuatu hal yang bersifat aktivitas membaca saya nilai positif.
Begitupun apa angin dilakukan oleh bakul buah itu. Penjual buah yang biasanya menjual dagangan buahnya, melayani pembeli dengan menimbang dagangannya atau sesekali membantu memilah-milah buah yang kualitasnya baik itu juga sedang mengajegkan aktivitas yang saya lakukan.
Meski aktivitas itu sampingan tetapi itu merupakan salah satu cara yang baik untuk membunuh waktu atau mengisi kesepian dari pelanggannya. Di sisi lain, tukang buah yang memiliki kemauan membaca itu jelas memiliki kesabaran, keuletan, juga memiliki kebiasaan tidak kalah dengan orang-orang pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan itu. Ia sanggup meluangkan waktu dengan meng-upgrade pengetahuannya.
Orang seperti itu memiliki daya pikir yang kuat. Kemauan yang kuat. Ia tidak menyia-yiakan waktu bergulir begitu saja. Ia menyempatkan waktu luangnya dengan membaca koran, mengisi TTS, maupun majalah. Kegiatan tersebut perlu dilakukan oleh siapa pun, dengan latar profesi apa pun juga. Tidak terkecuali orang pegawai atau tukang kebun atau penjual buah.
Saya biasa bertemu pedagang buah tersebut di pinggiran jalan raya. Kebiasaan jalan-jalan memakai kendaraan bermotor jadi sedikit ada waktu dan objek yang saya lihat. Sehingga objek seperti tukang buah membaca pun tidak luput dari penglihatan dan amatan saya. Sekilas bacaan yang dibaca itu sebuah majalah.
"Tukang buah saja mau dan mampu membaca, bagaimana dengan saya?" Gumam saya waktu itu.
Spirit tukang buah itu menyentil dan membuat dahi ini mengkerut. Wong orang yang sudah tidak sekolah dan fokusnya mencari uang di jalanan saja mau membaca bagaimana dengan kita yang masih duduk di bangku pendidikan? Jelas ini merupakan tamparan bagi kita sebagai anak sekolahan. Kearifan tukang buah itu membongkar kemalasan yang menggurita pada diri kita selama ini. Kita sebagai orang Indonesia mau tidak mau harus mengakui bahwa kegiatan membaca di kalangan masyarakat sangat rendah.
Bahkan sastrawan, Taufik Ismail memvonis dirinya sendiri bahkan rakyat Indonesia dengan mengeluarkan statemen Tragedi Nol Buku. Bangsa yang tradisi membacanya di posisi nol. Kebiasaan membaca jauh dari kata habitus. Kok habitus. Wong untuk memulai membaca saja di kalangan anak muda sulitnya minta minta ampun. Kebiasaan membaca jauh dari kata 'habitus'. Kebiasaan membaca bangsa Indonesia seperti yang disampaikan oleh Taufik Ismail tadi, yaitu NOL, "nol besar".
Konon di suatu negara budaya membaca masyarakat juga mempengaruhi kualitas taraf hidup masyarakatnya. Apabila kebiasaan membaca ini sudah mengakar, kualitas hidup masyarakat juga meningkatkan secara signifikan. Maksudnya, secara fisik, seseorang lebih berpenampilan elegan dan tidak terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Artinya, ia lebih memiliki pemikiran matang dalam mengambil keputusan. Ia juga kelihatan berwibawa serta kalem saat berbicara maupun berdialektika.
Memiliki kedalaman ilmu membuat orang jadi terlihat sabar. Ia tidak kelihatan kudet (kurang up-date) tentang tren yang lagi buming. Ia juga bisa mengimbangi percaturan di era digitalisasi dan globalisasi seperti sekarang ini. Dengan modal pengetahuan seperti itu, ia juga belajar peluang di era teknologi. Ia juga dapat belajar tentang tren dunia luar dan mengolah sesuatu menjadi strategi untuk menghadapi tantangan zaman.
Kearifan tukang buah yang saya jumpai di pinggiran jalan raya ini perlu kita teladani. Berprofesi dan berpenampilan seperti apa pun kita selayaknya kita menyempatkan dam membiasakan membaca. Emtah buku atau bacaan yang lain. Tukang buah tersebut jelas memiliki pandangan yang jauh di luar biasa dan cerdas, sehingga kegiatan, yang menurut pada kebanyakan orang tidak ada manfaatnya, dan membuang-buang waktu, dapat bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain di sekitarnya. Semoga.
Tm, 29/4/'15
إرسال تعليق