Dari judul di atas sudah bisa ditebak, kemana arah tulisan ini akan bermuara. Maka, perlukah aku melanjutkan tulisan ini? Coba sampeyan pikiran, mblo, masih penting ndak? Kalau tidak, ya akhiru kalam, loh, mblo. Bener, serius ini! Ragu, untuk menentukan masih lanjut apa ndak baca tulisan ini. Coba dech, dipikirkan sekali lagi.
Okelah, kalau sampeyan memaksa, aku mulai dari sini. Siapa tahu nanti malah memiliki kesamaan, pernah merasakan dengan yang aku rasakan. Tapi bener, loh, ya, jangan sampai menyesal. Tulisan ini tidak bermutu, ya, ngentekno spess pisan. Jan ra penting blass..
Sampeyan pasti pernah ikut acara seperti jalan sehat, sepedah santai, atau apapun itu namanya, yang ada imbalan hadiah. Aku sering sekali. Malah tidak bisa dihitung jari. Jari sepuluh pun tak bakal cekap. Aku termasuk salah satu orang yang antusias ikut kegiatan itu. Selain untuk ikut yang berbau sehat bebarengan, aku juga beradu keberuntungan. Pokoknya, di sana ada event undian, di situ aku ada. Tapi aku bukan jailakung loh. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Betapa kecewanya dalam hati, ikut undian tapi tak kunjung dapat hadiah. Tak bawa pulang apa-apa.
Acara jalan sehat yang baru saja aku lakoni, kemarin pada tanggal 14 Oktober. Event ini dalam rangka sosialisasi Pilkada Trenggalek, “Jadilah Pemilih Cerdas”. Jadi kegiatan ini menyadarkan masyarakat untuk memanfaatkan hak pilih dan mensukseskan Pilkada serentak se Indonesia. Maka, pada kesempatan bersamaan dengan tahun baru Hijriyah, diadakan jalan sehat plus dorprize-nya sangat menggiurkan siapa saja yang ikut dan dapat kupon.
Jadi, karena anggota PPS dapat undangan, aku pun mendatangi undangan tersebut. Aku ke Trenggalek bersama kawan-kawan PPS dan PPK Watulimo. Sebelum berangkat, Mas Jabrin berkelakar, “Sopo seng mambengi ngipi bu Endah udo, iku seng bakal ooleh hadiah!” ujarnya kepada teman-teman. Sebelum jalan sehat dimulai.
“Ora loh, Mas, opo hubungane undian karo wong udo, loh?” Gumamku, sambil senyum ke arahnya.
Kan, perkara dapet dorprize atau tidak itu, kan, angka yang disebutkan di depan. Kenapa, kok, jadi vulgar begitu. Hems. Ngernyitkan dahi.
Jalan sehat pun dibuka oleh salah satu komisioner KPU Trenggalek. Bendera start pun di kibarkan. Bertanda jalan sehat di mulai. Aku dan beberapa peserta berjalan menyusuri jalanan, kelokan, tapi tak lama, hanya beberapa menit sudah sampai pada garis finish. Wong keringat saja belum sampai keluar kok.
Selain untuk jalan sehat dan tentu saja hadiah, moment ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan untuk berekspresi. Beberapa orang memanfaatkan untuk berfoto ria. Berselfie-selfie ria. Dan tidak lupa memberikan isyarat jari tangan sebagai tanda kegembiraan di acara tersebut. Meski di acara tersebut, konon ada berita boikut dari salah satu pasangan calon bupati masalah seragam yang dikenakan para peserta jalan sehat itu. Tapi tak mengendurkan keceriaan dan berkumpul bersama teman-teman, dan tak terlalu aku pikirkan. Tujuanku ikut jalan sehat, ya ikut menyehatkan badan dan bawa pulang hadiah. Itu saja, tidak lebih.
Aku yang membawa 5 karcis, berharap, salah satu nomer yang tertera di kupon undian itu terpanggil untuk mendapatkan hadiah. Menunggu dipanggilnya nomer undian, aku bersama teman-teman ngobrol-ngidul. Sampailah acara yang ditunggu-tunggu. Yakni, pengundian dorprize.
Dalam batinku, aku pengen sekali naik panggung dan pulang bawa hadiah. Dahulu sampai sekarang, seingatku, aku belum pernah dapat hadiah undian. Sama sekali belum pernah. Di sela-sela lamunanku terhadap dorprize itu, suara temanku memecah pikiranku terhadap hadiah itu. “semakin diharap, semakin tidak dapat.” Katanya dari kejauhan sekaligus menyadarkan halusinasi.
Satu jam. Dua jam. Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Setiap angka yang dilontarkan oleh pembaca acara, aku cermati. Sembari melihat angka yang ada di kertas undian. Ternyata benar. Apa yang dikatakan teman saya tadi. Semakin berharap, semakin tak dapat undian. Kita ikhlaskan saja. Kalau dapet ya, alhamdulillah, kalau tak dapet, ya, syukur.
Dan sampailah di akhir acara. Ternyata angka tak jua dibaca. Pembaca acara tak kunjung membacakan nomor undian tepat di nomor kupon undianku. Ya, aku Cuma bisa berharap. Sekali-kali gitu, loh, dapet hadiah kupon undian. Biar bisa bawa hadia gratis. Bawa pulang dan orang tua juga ikut senang.
Apa aku harus menggunakan dukun? Hahaha. Ya, janganlah. Itu, mah, kan musyrik, kan mblo.
Okelah, kalau sampeyan memaksa, aku mulai dari sini. Siapa tahu nanti malah memiliki kesamaan, pernah merasakan dengan yang aku rasakan. Tapi bener, loh, ya, jangan sampai menyesal. Tulisan ini tidak bermutu, ya, ngentekno spess pisan. Jan ra penting blass..
Sampeyan pasti pernah ikut acara seperti jalan sehat, sepedah santai, atau apapun itu namanya, yang ada imbalan hadiah. Aku sering sekali. Malah tidak bisa dihitung jari. Jari sepuluh pun tak bakal cekap. Aku termasuk salah satu orang yang antusias ikut kegiatan itu. Selain untuk ikut yang berbau sehat bebarengan, aku juga beradu keberuntungan. Pokoknya, di sana ada event undian, di situ aku ada. Tapi aku bukan jailakung loh. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Betapa kecewanya dalam hati, ikut undian tapi tak kunjung dapat hadiah. Tak bawa pulang apa-apa.
Acara jalan sehat yang baru saja aku lakoni, kemarin pada tanggal 14 Oktober. Event ini dalam rangka sosialisasi Pilkada Trenggalek, “Jadilah Pemilih Cerdas”. Jadi kegiatan ini menyadarkan masyarakat untuk memanfaatkan hak pilih dan mensukseskan Pilkada serentak se Indonesia. Maka, pada kesempatan bersamaan dengan tahun baru Hijriyah, diadakan jalan sehat plus dorprize-nya sangat menggiurkan siapa saja yang ikut dan dapat kupon.
Jadi, karena anggota PPS dapat undangan, aku pun mendatangi undangan tersebut. Aku ke Trenggalek bersama kawan-kawan PPS dan PPK Watulimo. Sebelum berangkat, Mas Jabrin berkelakar, “Sopo seng mambengi ngipi bu Endah udo, iku seng bakal ooleh hadiah!” ujarnya kepada teman-teman. Sebelum jalan sehat dimulai.
“Ora loh, Mas, opo hubungane undian karo wong udo, loh?” Gumamku, sambil senyum ke arahnya.
Kan, perkara dapet dorprize atau tidak itu, kan, angka yang disebutkan di depan. Kenapa, kok, jadi vulgar begitu. Hems. Ngernyitkan dahi.
Jalan sehat pun dibuka oleh salah satu komisioner KPU Trenggalek. Bendera start pun di kibarkan. Bertanda jalan sehat di mulai. Aku dan beberapa peserta berjalan menyusuri jalanan, kelokan, tapi tak lama, hanya beberapa menit sudah sampai pada garis finish. Wong keringat saja belum sampai keluar kok.
Selain untuk jalan sehat dan tentu saja hadiah, moment ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan untuk berekspresi. Beberapa orang memanfaatkan untuk berfoto ria. Berselfie-selfie ria. Dan tidak lupa memberikan isyarat jari tangan sebagai tanda kegembiraan di acara tersebut. Meski di acara tersebut, konon ada berita boikut dari salah satu pasangan calon bupati masalah seragam yang dikenakan para peserta jalan sehat itu. Tapi tak mengendurkan keceriaan dan berkumpul bersama teman-teman, dan tak terlalu aku pikirkan. Tujuanku ikut jalan sehat, ya ikut menyehatkan badan dan bawa pulang hadiah. Itu saja, tidak lebih.
Aku yang membawa 5 karcis, berharap, salah satu nomer yang tertera di kupon undian itu terpanggil untuk mendapatkan hadiah. Menunggu dipanggilnya nomer undian, aku bersama teman-teman ngobrol-ngidul. Sampailah acara yang ditunggu-tunggu. Yakni, pengundian dorprize.
Dalam batinku, aku pengen sekali naik panggung dan pulang bawa hadiah. Dahulu sampai sekarang, seingatku, aku belum pernah dapat hadiah undian. Sama sekali belum pernah. Di sela-sela lamunanku terhadap dorprize itu, suara temanku memecah pikiranku terhadap hadiah itu. “semakin diharap, semakin tidak dapat.” Katanya dari kejauhan sekaligus menyadarkan halusinasi.
Satu jam. Dua jam. Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Setiap angka yang dilontarkan oleh pembaca acara, aku cermati. Sembari melihat angka yang ada di kertas undian. Ternyata benar. Apa yang dikatakan teman saya tadi. Semakin berharap, semakin tak dapat undian. Kita ikhlaskan saja. Kalau dapet ya, alhamdulillah, kalau tak dapet, ya, syukur.
Dan sampailah di akhir acara. Ternyata angka tak jua dibaca. Pembaca acara tak kunjung membacakan nomor undian tepat di nomor kupon undianku. Ya, aku Cuma bisa berharap. Sekali-kali gitu, loh, dapet hadiah kupon undian. Biar bisa bawa hadia gratis. Bawa pulang dan orang tua juga ikut senang.
Apa aku harus menggunakan dukun? Hahaha. Ya, janganlah. Itu, mah, kan musyrik, kan mblo.
Saya juga orang yang paling jarang menang urusan undian kayak gini.
ردحذفHahahha. Nasib memang gak berpihak pada kita, Mas..
ردحذفTapi saya pernah dapat Hape lucky draw jalan santai. Senangnya kayak terbang ke planet pluto Ka hahaha
ردحذفPihak sangat senang sekali ya. Kapan giliran aku ya??
ردحذفIntinya jangan berharap dapet. Pasti dapet hahaha
ردحذفHahahaha. Betul itu. Aku juga berharap gak dapat... tapi sampai sekarang gak dapat"...
ردحذفYa nih mas..hadeghh
ردحذفHahahha... berdoa saja mas. Kalau pas undian jadi dapet
ردحذفإرسال تعليق