Badan rasanya luar biasa capek dan serasa rontok setelah dua-tiga hari pulang-pergi (PP) Prigi-Kediri. Namun, setelah sampai di rumah rasa capek ini hilang seketika. Tidak lain karena saya melirik bungkusan berwarna coklat dan lengkap tertera identitas nama pengirim sekaligus penerimanya.
Saya memastikan bungkusan yang ada di atas meja belajar adik saya itu dengan seksama. Jangan-jangan bungkusan kiriman itu adalah paket bom. Ah, masak iya? Tanpa perasaan takut atau was-was, saya ambil saja paketan itu, kemudian membuka siapa pengirimnya. Subhanallah! Pak Satria Dharma pengirimnya. Tanpa banyak ba, bi, bu, saya berdoa semoga Pak Satria Dharma selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang dan dilancarkan rezekinya. Amin.
Sebentarnya, saya sudah pernah mendapat kiriman buku dari Pak Satria. Yang buku pertama judul 'TWENTY YEARS of Joy and Happiness'. Buku ini ia kirimkan pada tahun lalu, tepatnya bulan Maret. Buku tersebut juga saya sempat mereview secara sederhana di blog saya dengan judul 'Menulis Buku Untuk Hadiah'. Review tersebut anggap saja sebuah umpan balik/ feed back dari pemikiran yang diberikan kepada saya secara gratis, tanpa kembalian ongkos kirim.
Seperti pada buku sebelumnya, buku tersebut merupakan bagian dari perjalanannya dalam menyebar virus literasi. Di dalam buku tersebut banyak sekali inspirasi yang bisa 'diangkut' jadi ide. Buku tersebut sebenarnya juga catatan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Atau lebih tepatnya dalam kurun waktu setahun atau lebih. Yang lebih special, buku tersebut adalah hadiah ulang tahun yang kelima puluh tahun.
Di dalam buku tersebut tersimpan dan tertuang harapan-harapannya bagi generasi penerus bangsa untuk melek literasi; memiliki budaya membaca sekaligus menulis. Sebenarnya selain dua buku tersebut, saya juga mengoleksi beberapa buku karya Pak Satria, di antaranya; Muslim kok Nyebelin (Bentang, 2014), dan bunga rampai BooM Literasi (Revka Petra Media, 2014), Membangun Budaya Literasi, (Unesa Press, 2014).
Dan kini buku yang jadi 'kejutan' literasi ini adalah A Full Year of Literacy.
;Ketua IGI, Ikatan Guru Indonesia ini telah menulis beberapa buku lain. Kenapa buku tersebut saya sebut sebagai 'Kejutan Literasi'? Tidak bukan, karena buku tersebut kedatangannya sungguh mengejutkan. Lalu kenapa saya tambahi kata Literasi? Tidak lain karena, di tengah dahaga saya dalam menulis, buku ini seakan menjadi secercah tinta, di tengah tandusnya lahan saya menulis.
Selain itu, buku tersebut sebagai pemantik inspirasi dan motivasi saya untuk menulis, menulis dan menulis lagi. Alasan kedua, buku tersebut saya sebut kejutan lantaran saya hanya pesan via inbox Facebook. Anehnya beliau tidak merespon inbox itu. Eh, ternyata buku tersebut sampai rumah dengan selamat, tanpa ada kekurangan satu apa pun. Itu artinya, Pak Satria Dharma masih menyimpan alamat lengkap saya dan tahu kebutuhan di kemacetan menulis saya.
Buku A Full Year of Literacy ini berbeda dengan buku sebelumnya. Buku ini kemasannya lebih jreng dan mudah untuk dibaca. Serta kertas sampulnya dan isinya berbeda dengan buku sebelumnya. Sehingga buku ini enak untuk dikonsumsi setiap saat. Saya baru menikmati hidangan buku tersebut baru beberapa judul saja. Dalam kata pengantarnya beliau menyampaikan bahwa buku memang berbeda dengan buku sebelum-sebelumnya. Buku tersebut ia tulis secara sederhana dan ringkas.
Buku tersebut merupakan buku catatan akhir tahun 2015. Hasil Safari Literasi dari beberapa penjuru Nuswantara, selama satu tahun. Ada beberapa poin penting dari buku tersebut. Bersama Walikota Surabaya, ibu Risma (Tri Rismaharini) dan teman-teman yang lain, termasuk Pak Satria Dharma, sejak tahun 2014 telah mencanangkan dan men-sounding-kan Surabaya sebagai Kota Literasi.
Surabaya merupakan kota pertama yang mendeklarasikan sebagai Kota Literasi. Program ini bukan isapan jempol. Mengingat Wali Kota Surabaya kelahiran Kediri itu langsung merekrut atau mendiklat serta mendaulat 500 orang-orang pilihan untuk bekerja dan di tempat di Perpustakaan dan di Taman Baca yang ada di Surabaya. Meski gerakan ini masih fokus di Sekolah Dasar dan TBM, tetapi ini merupakan sebuah program yang perlu didukung oleh semua pihak. Tidak menutup-kemungkinan, di tahun akan datang banyak sekolah yang sadar dengan literasi.
Seperti di SMPN 43 Surabaya. Di sekolah ini merupakan produk awal sekolah dengan melek literasi di kalangan Sekolah Menengah Pertama. Seperti yang dikatakan Satria Dharma, sekolah yang di memiliki konsep 'duta literasi' ini adalah contoh sekolah yang menerapkan kurikulum literasi, yang mewajibkan setiap siswa membaca selama 15 menit. Yang dipungkiri jika budaya membaca tersebut akan berkembang menjadi budaya menulis.
Saya kira, gerakan literasi yang dilakukan oleh kota Pahlawan dan sekolah SMPN 43 khususnya, merupakan jawaban dari statement yang sempat dikeluarkan oleh sastrawan Indonesia Taufik Ismail dengan tragedi nol buku. Serta survey yang dilakukan oeh PISA (Program for International Student Assessment), Indonesia khususnya nilai siswa jeblok di urutan 64 dari 65 negara. Belum lagi budaya membaca siswa, menurut OECD, Indonesia menempati peringkat 52 negara di ASIA Timur.
Jika budaya yang telah diawali oleh Kota Surabaya tersebut didukung dengan baik, tak mustahil, negara Indonesia ini akan menjadi negara yang berkembang dan memiliki peradaban yang lebih maju lagi. Semoga! Buku yang ditulis oleh seorang pegiat literasi ulung ini memang buku yang sangat mengejutkan. Dan semoga mengejutkan pula dampak virus literasi yang disebarkan oleh beliau mengejutkan dunia. Bahwa Indonesia tidak buta literasi, tidak buta baca dan tulis.[]
Buku : A Full Year of Literacy
Penulis : Satria Dharma
Penerbit : Eureka Academia
Cetak : Pertama, Desember 2015
Hlm. : xii + 288
ISBN : 978-602-0931-25-8
Saya memastikan bungkusan yang ada di atas meja belajar adik saya itu dengan seksama. Jangan-jangan bungkusan kiriman itu adalah paket bom. Ah, masak iya? Tanpa perasaan takut atau was-was, saya ambil saja paketan itu, kemudian membuka siapa pengirimnya. Subhanallah! Pak Satria Dharma pengirimnya. Tanpa banyak ba, bi, bu, saya berdoa semoga Pak Satria Dharma selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang dan dilancarkan rezekinya. Amin.
Sebentarnya, saya sudah pernah mendapat kiriman buku dari Pak Satria. Yang buku pertama judul 'TWENTY YEARS of Joy and Happiness'. Buku ini ia kirimkan pada tahun lalu, tepatnya bulan Maret. Buku tersebut juga saya sempat mereview secara sederhana di blog saya dengan judul 'Menulis Buku Untuk Hadiah'. Review tersebut anggap saja sebuah umpan balik/ feed back dari pemikiran yang diberikan kepada saya secara gratis, tanpa kembalian ongkos kirim.
Seperti pada buku sebelumnya, buku tersebut merupakan bagian dari perjalanannya dalam menyebar virus literasi. Di dalam buku tersebut banyak sekali inspirasi yang bisa 'diangkut' jadi ide. Buku tersebut sebenarnya juga catatan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Atau lebih tepatnya dalam kurun waktu setahun atau lebih. Yang lebih special, buku tersebut adalah hadiah ulang tahun yang kelima puluh tahun.
Di dalam buku tersebut tersimpan dan tertuang harapan-harapannya bagi generasi penerus bangsa untuk melek literasi; memiliki budaya membaca sekaligus menulis. Sebenarnya selain dua buku tersebut, saya juga mengoleksi beberapa buku karya Pak Satria, di antaranya; Muslim kok Nyebelin (Bentang, 2014), dan bunga rampai BooM Literasi (Revka Petra Media, 2014), Membangun Budaya Literasi, (Unesa Press, 2014).
Dan kini buku yang jadi 'kejutan' literasi ini adalah A Full Year of Literacy.
;Ketua IGI, Ikatan Guru Indonesia ini telah menulis beberapa buku lain. Kenapa buku tersebut saya sebut sebagai 'Kejutan Literasi'? Tidak bukan, karena buku tersebut kedatangannya sungguh mengejutkan. Lalu kenapa saya tambahi kata Literasi? Tidak lain karena, di tengah dahaga saya dalam menulis, buku ini seakan menjadi secercah tinta, di tengah tandusnya lahan saya menulis.
Selain itu, buku tersebut sebagai pemantik inspirasi dan motivasi saya untuk menulis, menulis dan menulis lagi. Alasan kedua, buku tersebut saya sebut kejutan lantaran saya hanya pesan via inbox Facebook. Anehnya beliau tidak merespon inbox itu. Eh, ternyata buku tersebut sampai rumah dengan selamat, tanpa ada kekurangan satu apa pun. Itu artinya, Pak Satria Dharma masih menyimpan alamat lengkap saya dan tahu kebutuhan di kemacetan menulis saya.
Buku A Full Year of Literacy ini berbeda dengan buku sebelumnya. Buku ini kemasannya lebih jreng dan mudah untuk dibaca. Serta kertas sampulnya dan isinya berbeda dengan buku sebelumnya. Sehingga buku ini enak untuk dikonsumsi setiap saat. Saya baru menikmati hidangan buku tersebut baru beberapa judul saja. Dalam kata pengantarnya beliau menyampaikan bahwa buku memang berbeda dengan buku sebelum-sebelumnya. Buku tersebut ia tulis secara sederhana dan ringkas.
Buku tersebut merupakan buku catatan akhir tahun 2015. Hasil Safari Literasi dari beberapa penjuru Nuswantara, selama satu tahun. Ada beberapa poin penting dari buku tersebut. Bersama Walikota Surabaya, ibu Risma (Tri Rismaharini) dan teman-teman yang lain, termasuk Pak Satria Dharma, sejak tahun 2014 telah mencanangkan dan men-sounding-kan Surabaya sebagai Kota Literasi.
Surabaya merupakan kota pertama yang mendeklarasikan sebagai Kota Literasi. Program ini bukan isapan jempol. Mengingat Wali Kota Surabaya kelahiran Kediri itu langsung merekrut atau mendiklat serta mendaulat 500 orang-orang pilihan untuk bekerja dan di tempat di Perpustakaan dan di Taman Baca yang ada di Surabaya. Meski gerakan ini masih fokus di Sekolah Dasar dan TBM, tetapi ini merupakan sebuah program yang perlu didukung oleh semua pihak. Tidak menutup-kemungkinan, di tahun akan datang banyak sekolah yang sadar dengan literasi.
Seperti di SMPN 43 Surabaya. Di sekolah ini merupakan produk awal sekolah dengan melek literasi di kalangan Sekolah Menengah Pertama. Seperti yang dikatakan Satria Dharma, sekolah yang di memiliki konsep 'duta literasi' ini adalah contoh sekolah yang menerapkan kurikulum literasi, yang mewajibkan setiap siswa membaca selama 15 menit. Yang dipungkiri jika budaya membaca tersebut akan berkembang menjadi budaya menulis.
Saya kira, gerakan literasi yang dilakukan oleh kota Pahlawan dan sekolah SMPN 43 khususnya, merupakan jawaban dari statement yang sempat dikeluarkan oleh sastrawan Indonesia Taufik Ismail dengan tragedi nol buku. Serta survey yang dilakukan oeh PISA (Program for International Student Assessment), Indonesia khususnya nilai siswa jeblok di urutan 64 dari 65 negara. Belum lagi budaya membaca siswa, menurut OECD, Indonesia menempati peringkat 52 negara di ASIA Timur.
Jika budaya yang telah diawali oleh Kota Surabaya tersebut didukung dengan baik, tak mustahil, negara Indonesia ini akan menjadi negara yang berkembang dan memiliki peradaban yang lebih maju lagi. Semoga! Buku yang ditulis oleh seorang pegiat literasi ulung ini memang buku yang sangat mengejutkan. Dan semoga mengejutkan pula dampak virus literasi yang disebarkan oleh beliau mengejutkan dunia. Bahwa Indonesia tidak buta literasi, tidak buta baca dan tulis.[]
Buku : A Full Year of Literacy
Penulis : Satria Dharma
Penerbit : Eureka Academia
Cetak : Pertama, Desember 2015
Hlm. : xii + 288
ISBN : 978-602-0931-25-8
Bukunya mantap, gan.
ردحذفayo nulis lagiii lagii dan lagiii
ردحذفSiap. Laksanakan. hehehe
حذفإرسال تعليق