Hari jumat adalah hari yang dinanti oleh banyak siswa sekolah. Hari jumat diyakini banyak orang dan siswa sebagai hari terpendek dari hari-hari biasa. Kenapa disebut hari terpendek? Menurut orang tua yang mau membocorkan kisahnya tentang hari Jumat adalah bahwa di hari itu, orang-orang, khususnya orang muslim meninggalkan sejenak aktivitasnya untuk menunaikan ibadah shalat Jumat.
Namun bagi siswa yang menuntut ilmu, ilmu kok dituntut, makanya lari terus, siswa mendapat porsi lebih sedikit dari Mata Pelajaran. Tak ayal hari Jumat, disadari atau tidak merupakan hari yang tepat untuk menghindar dari Mata Pelajaran yang jenuh nan membosankan di dalam ruangan yang sumpek itu.
Pada hari biasa kegiatan lakukan setelah lonceng atau bel berbunyi--pertanda jam pertama mulai--tidak lain adalah ya itu tadi, menyantap menu makanan sehari-hari, menyantap bau khas kertas dan debu di atasnya. Yang telah tertulis dalam Modul Mata Pelajaran.
Namun di hari itu, hari yang biasa siswa mengenakan seragam cokelat, khas pramuka perdana berhamburan di depan kelas, di selokan, di halaman bahkan di taman-taman di tiap kelas masing-masing. Mereka saling bersinergi, saling bantu-membantu, saling membersihkan, saling berebut untuk mencabuti rumput yang lama, atau terlupakan, yang menggangu keindahan kelas. Saling adu cepat mengambil bekas plastik, kertas bekas yang sudah dikepal, serta daun yang masih basah dan belum kering terlepas dari tangkainya.
Tidak lupa juga, siswa-siswa yang masih tercatat baru akil baligh ini juga membersihkan bangku, meja, cendela, papan tulis yang masih konvensional--halah--papan tulis kapur. Wajah anak-anak yang terlihat kurang semangat seketika berubah ceria, setelah ada pemberitahuan dari balik suara yang ada di toa sekolahan itu. Jika di luar sana, toa jadi perkara, berbeda di sekolahan SMPN 1 Papar, Kediri ini. Kali ini suara itu mengabarkan kebebasan dari belenggu ruangan.
Oh iya, tak lupa mereka juga sangat senang dan antusias dengan aktivitas pagi itu. Kegembiraan sangat terlihat dari bagaimana mereka mengambil dan memungut barang bekas itu. Dengan lihai dan cekatan, mereka mengambil dan membuang di tempat sampah tanpa ada perasaan geli ataupun jijik. Siswa-siswa yang berada di lantai atas pun demikian. Mereka juga tampak berseri-seri dari wajah yang masih baru lulus jadi anak berbaju merah putih.
Seorang siswa bernama Nurma sangat nampak riang sambil mengucurkan air dari atas untuk bunga-bunga itu.
"Saya sangat senang melihat bunga itu," ujarnya dengan wajah senang.
"Apalagi," tambahnya, "Bunga dan tanaman-tanaman lain membantu saya dan kawan-kawan saya saat suntuk di kelas. Ia memberikan ketenangan saat saya dan temen-temen saya melihatnya," akunya.
Sementara itu, kebijakan ini sangatlah tepat untuk membangkitkan dan merangsang kesadaran bagi siswa-siswa di sekolah. Meski ini tindakan sederhana, tetapi ini penting untuk diajarkan pada peserta didik. Menjaga kebersihan dan menjaga keindahan lingkungan sekolah adalah satu hal penting dari pelajaran lain. Melalui kebijakan dan "kurikulum kesadaran", saya kira ini merupakan kebijakan yang sangat produktif. Hal ini akan lebih bijak dilaksanakan satu minggu sekali untuk menanam dan menumbuhkan kesadaran bagi sesama.
Hal tersebut juga dibahas dalam buku Ayah Edy. Ayah Edy--begitu sampul buku tersebut tertera--mengatakan bahwa membangkitkan kesadaran akan kebersihan adalah hal terpenting. Di negara Ratu Elizabeth, Inggris, ternyata profesi yang paling kaya adalah mereka yang bekerja di bidang kebersihan. Di sana tukang sampah sangatlah dihormati sekali. Sebab, kalau bukan tukang sampah siapa lagi yang akan membersihkan sampah yang berserakan di jalan. Siapa yang akan mempercantik taman kota dari tumpukan sampah yang menghalangi keindahan kota.
Mencermati cerita Ayah Edy tersebut alangkah baik kita bisa mengambil pelajaran, baik para peserta didik maupun pendidik sendiri. Pendidikan selain mempersiapkan para peserta didik memiliki nalar kritis, inovatif, juga penting memiliki kesadaran atas pentingnya menjaga kebersihan di setiap tempat, termasuk di lingkungan sekolah masing-masing.
Nah, waktu yang tepat untuk merangkai dan menyadarkan diri untuk menjaga kebersihan tidak lain adalah di hari Jumat. Hari yang tidak banyak dihabiskan untuk menyuntuki rangkaian kalimat dan ocehan para guru yang setiap hari terus diulang-ulang itu. Hari Jumat sendiri dipilih karena hari itu biasa dibuat orang-orang sebagai hari bersih. Hari Jumat juga terkenal sebagai hari yang leluasa terhadap kebijakan dan keputusan dari pihak komite sekolah atau pun pemegang kebijakan di instansi-instansi lain.
Terlepas dari hadits tentang menjaga kebersihan sangat dianjurkan untuk selalu kita pelihara itu. “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Sebab kebersihan adalah cerminan identitas diri kita sendiri. Bagaimana pun perilaku yang kitaterhadap lingkungan sekitar merupakan representasi eksistensi kita terhadap kehambaan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pemurah itu.
Berawal dari kebersihan lingkungan tempat belajar itu, tidak dimungkiri pengetahuan atau ilmu juga mudah diserap dengan pikiran yang bersih dan jernih. Lebih jauh, selain kesadaran akan kebersihan di lingkungan sekolah, dampak sosial seorang anak juga ikut terbangun. Hal itu terlihat, ketika seorang anak berbaur dengan sesama, karyawan serta guru mereka sendiri. Untuk itu, pendidikan berbasis lingkungan hidup untuk membangkitkan pendidik yang sadar akan lingkungan dan bermasyarakat sekalipun.
Cakupan pelajaran sosial juga terbangun. Setelah terisolasi dari sekat-sekat bangku, kelas maupun gedung-gedung tersebut, melalui hari Jumat pembebasan bagi para guru dan siswa-siswa juga tersalurkan. Yang biasanya guru dan siswa serius dalam kegiatan belajar mengajar, melalui Jumat yang bersahabat itu, siswa dan guru pun tersalurkan.
Apalagi bagi calon guru atau mereka yang bercita-cita menjadi guru, momentum hari Jumat adalah momen hari membebaskan diri dari rasa bosan dan serius di dalam kelas. Ada Hal yang Lebih Penting dari Hari Kebersihan, Yakni Hari Membebaskan Siswa dari Rasa Bosan. Dan bagi saya sendiri hari Jumat adalah hari yang, na-na-na. “Ini hari yang sangat saya nantikan, selain ngisi cuma satu kelas, waktu untuk pulang pun semakin cepat.”
Catatan seseorang yang tidak ada kerjaan setelah selesai (ngajar) PPL
Papar-Tasikmadu, 26-27/09/2014
Namun bagi siswa yang menuntut ilmu, ilmu kok dituntut, makanya lari terus, siswa mendapat porsi lebih sedikit dari Mata Pelajaran. Tak ayal hari Jumat, disadari atau tidak merupakan hari yang tepat untuk menghindar dari Mata Pelajaran yang jenuh nan membosankan di dalam ruangan yang sumpek itu.
Pada hari biasa kegiatan lakukan setelah lonceng atau bel berbunyi--pertanda jam pertama mulai--tidak lain adalah ya itu tadi, menyantap menu makanan sehari-hari, menyantap bau khas kertas dan debu di atasnya. Yang telah tertulis dalam Modul Mata Pelajaran.
Namun di hari itu, hari yang biasa siswa mengenakan seragam cokelat, khas pramuka perdana berhamburan di depan kelas, di selokan, di halaman bahkan di taman-taman di tiap kelas masing-masing. Mereka saling bersinergi, saling bantu-membantu, saling membersihkan, saling berebut untuk mencabuti rumput yang lama, atau terlupakan, yang menggangu keindahan kelas. Saling adu cepat mengambil bekas plastik, kertas bekas yang sudah dikepal, serta daun yang masih basah dan belum kering terlepas dari tangkainya.
Tidak lupa juga, siswa-siswa yang masih tercatat baru akil baligh ini juga membersihkan bangku, meja, cendela, papan tulis yang masih konvensional--halah--papan tulis kapur. Wajah anak-anak yang terlihat kurang semangat seketika berubah ceria, setelah ada pemberitahuan dari balik suara yang ada di toa sekolahan itu. Jika di luar sana, toa jadi perkara, berbeda di sekolahan SMPN 1 Papar, Kediri ini. Kali ini suara itu mengabarkan kebebasan dari belenggu ruangan.
Oh iya, tak lupa mereka juga sangat senang dan antusias dengan aktivitas pagi itu. Kegembiraan sangat terlihat dari bagaimana mereka mengambil dan memungut barang bekas itu. Dengan lihai dan cekatan, mereka mengambil dan membuang di tempat sampah tanpa ada perasaan geli ataupun jijik. Siswa-siswa yang berada di lantai atas pun demikian. Mereka juga tampak berseri-seri dari wajah yang masih baru lulus jadi anak berbaju merah putih.
Seorang siswa bernama Nurma sangat nampak riang sambil mengucurkan air dari atas untuk bunga-bunga itu.
"Saya sangat senang melihat bunga itu," ujarnya dengan wajah senang.
"Apalagi," tambahnya, "Bunga dan tanaman-tanaman lain membantu saya dan kawan-kawan saya saat suntuk di kelas. Ia memberikan ketenangan saat saya dan temen-temen saya melihatnya," akunya.
Sementara itu, kebijakan ini sangatlah tepat untuk membangkitkan dan merangsang kesadaran bagi siswa-siswa di sekolah. Meski ini tindakan sederhana, tetapi ini penting untuk diajarkan pada peserta didik. Menjaga kebersihan dan menjaga keindahan lingkungan sekolah adalah satu hal penting dari pelajaran lain. Melalui kebijakan dan "kurikulum kesadaran", saya kira ini merupakan kebijakan yang sangat produktif. Hal ini akan lebih bijak dilaksanakan satu minggu sekali untuk menanam dan menumbuhkan kesadaran bagi sesama.
Hal tersebut juga dibahas dalam buku Ayah Edy. Ayah Edy--begitu sampul buku tersebut tertera--mengatakan bahwa membangkitkan kesadaran akan kebersihan adalah hal terpenting. Di negara Ratu Elizabeth, Inggris, ternyata profesi yang paling kaya adalah mereka yang bekerja di bidang kebersihan. Di sana tukang sampah sangatlah dihormati sekali. Sebab, kalau bukan tukang sampah siapa lagi yang akan membersihkan sampah yang berserakan di jalan. Siapa yang akan mempercantik taman kota dari tumpukan sampah yang menghalangi keindahan kota.
Mencermati cerita Ayah Edy tersebut alangkah baik kita bisa mengambil pelajaran, baik para peserta didik maupun pendidik sendiri. Pendidikan selain mempersiapkan para peserta didik memiliki nalar kritis, inovatif, juga penting memiliki kesadaran atas pentingnya menjaga kebersihan di setiap tempat, termasuk di lingkungan sekolah masing-masing.
Nah, waktu yang tepat untuk merangkai dan menyadarkan diri untuk menjaga kebersihan tidak lain adalah di hari Jumat. Hari yang tidak banyak dihabiskan untuk menyuntuki rangkaian kalimat dan ocehan para guru yang setiap hari terus diulang-ulang itu. Hari Jumat sendiri dipilih karena hari itu biasa dibuat orang-orang sebagai hari bersih. Hari Jumat juga terkenal sebagai hari yang leluasa terhadap kebijakan dan keputusan dari pihak komite sekolah atau pun pemegang kebijakan di instansi-instansi lain.
Terlepas dari hadits tentang menjaga kebersihan sangat dianjurkan untuk selalu kita pelihara itu. “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Sebab kebersihan adalah cerminan identitas diri kita sendiri. Bagaimana pun perilaku yang kitaterhadap lingkungan sekitar merupakan representasi eksistensi kita terhadap kehambaan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pemurah itu.
Berawal dari kebersihan lingkungan tempat belajar itu, tidak dimungkiri pengetahuan atau ilmu juga mudah diserap dengan pikiran yang bersih dan jernih. Lebih jauh, selain kesadaran akan kebersihan di lingkungan sekolah, dampak sosial seorang anak juga ikut terbangun. Hal itu terlihat, ketika seorang anak berbaur dengan sesama, karyawan serta guru mereka sendiri. Untuk itu, pendidikan berbasis lingkungan hidup untuk membangkitkan pendidik yang sadar akan lingkungan dan bermasyarakat sekalipun.
Cakupan pelajaran sosial juga terbangun. Setelah terisolasi dari sekat-sekat bangku, kelas maupun gedung-gedung tersebut, melalui hari Jumat pembebasan bagi para guru dan siswa-siswa juga tersalurkan. Yang biasanya guru dan siswa serius dalam kegiatan belajar mengajar, melalui Jumat yang bersahabat itu, siswa dan guru pun tersalurkan.
Apalagi bagi calon guru atau mereka yang bercita-cita menjadi guru, momentum hari Jumat adalah momen hari membebaskan diri dari rasa bosan dan serius di dalam kelas. Ada Hal yang Lebih Penting dari Hari Kebersihan, Yakni Hari Membebaskan Siswa dari Rasa Bosan. Dan bagi saya sendiri hari Jumat adalah hari yang, na-na-na. “Ini hari yang sangat saya nantikan, selain ngisi cuma satu kelas, waktu untuk pulang pun semakin cepat.”
Catatan seseorang yang tidak ada kerjaan setelah selesai (ngajar) PPL
Papar-Tasikmadu, 26-27/09/2014
hahaha..... hari senam jugaa
ردحذفHahaha.... Hari senam biasanya hari Sabtu loh, Bu.
حذفإرسال تعليق