Siapa tokoh inspiratif lokal, kelahiran Trenggalek, yang memiliki prestasi yang luar biasa? Saya berpikir lama. Dalam pikiran saya ada dua; antara mbah Abdul Hamid Wilis, ‘Sang Ensklopedia Trenggalek’, penulis buku Aku Jadi Komandan Banser, Barisan Ansor Serbaguna (2011) dan Prof. Imam Suprayogo. Akhirnya, pilihan saya jatuh pada sosok Prof. Dr. Imam Suprayogo dengan segudang prestasi dan penghargaan, karena mbah Hamid Wilis akan ditulis Penulis muda berbakat Trenggalek, Misbahus Surur. Lantas saya menghubungi beliau lewat media sosial; Facebook—media yang memperkenalkan saya dengan Prof. Imam Suprayogo dengan mengikuti tulisan dan pemikirannya—ia memberi sinyal baik dengan mempersilakan saya untuk ditulis, sebagai tokoh yang penuh inspirasi.
Siapa yang tidak kenal dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo? Prof. Imam Suprayogo merupakan mantan rektor UIN Maliki Malang di rentang (1997-2013). Prof. Imam, sapaan akrabnya, memiliki peran yang luar biasa dalam pengembangan dan “peletakan batu pertama” kampus UIN Maliki Malang. Selama, kurang lebih, 16 tahun kepemimpinannya, Prof. Imam menelurkan banyak prestasi, baik nasional maupun internasional.
Selain sebagai “peletak batu pertama” kampus UIN Malang, beliau sebagai pengagas dan inisiator di bidang pendidikan berbasis pendidikan pesantren di perguruan tinggi di lingkungan kampus tersebut. Semangat Prof. Imam dalam memadukan pendidikan kampus dan pesantren adalah tujuan untuk menciptakan seorang pemimpin intelek yang ulama, ulama yang intelek. Ide tersebut sangatlah luar biasa. Membangun negara dari sendi agama, tentunya.
Sebab, Prof. Imam dikenal sebagai sosok inspiratif, kaya ide dan penuh sahaja. Hanya ada sedikit orang di Indonesia seperti sosok Prof Imam. Ide-ide sangat brilian. Baik tentang pendidikan dan pemikiran tentang Islam, kebangsaan, politik, agama. Pemikirannya tentang pemikiran dan pendidikan Islam sangat autentik. Dia dengan dengan hati yang tulus dan ikhlas hanya untuk mengembangkan lembaga pendidikan dan negara tercinta. Oleh karena itu, pemikirannya sangat ditunggu jutaan manusia, khususnya lembaga pendidikan di Nuswantara.
Tak berlebihan jika selama dipimpin Prof. Imam kampus yang awalnya berstatus STAIN Malang kini berubah menjadi UIN Maliki Malang. Sebagai rektor, Prof. Imam melakukan terobosan yang revolusioner. Sehingga selama rentang waaktu yang cukup lama (1997-2013), kampus yang berada di Malang ini mengalami perubahan signifikan. Pelan tapi pasti, perubahan tersebut bisa dirasakan oleh semua civitas akademik dan tak terkecuali warga Malang sendiri.
Prof. Imam merupakan salah satu cendikiawan terkemuka yang di miliki oleh Indonesia. Ia termasuk orang jenius. Ia sangat pandai mencari terobosan. Bisa dibutikan, selama hidupnya banyak diabdikan di lembaga pendidikan. Sehingga, ia tak ada kesempatan untuk memikirkan kepentingannya pribadi. Prof. Imam justru mencari dana wakaf dalam membangun lembaga pendidikan tersebut. Juga tidak dijadikan yayasan milik diri atau keluarganya.
Mengabdi di Lembaga Pendidikan
Imam suprayogo merupakan sosok inspiratif. Dia terlahir pada tahun 2 januari 1951. Pria yang lahir di Dukuh Papar, Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek—sepuluh menit dari rumah saya—adalah anak kedelapan dari enam belas bersaudara, buah hati dari pasangan KH. Hasan Muchrodji dan Nyai Hj Mariyah.
Dari kedua orang tuanya itulah, beliau banyak belajar tentang kehidupan, kepimpimnan dan tak lupa soal berdakwah. Kala kecil, nama Imam Suprayogo sebenarnya Damyati. Damyati kecil tumbuh tak seceria seumurannyan. Ia sering sakit-sakitan. Karena alasan sakit-sakitan itu, nama Damyati diganti nama oleh Kakeknya (Kartodikoro), dengan nama Suprayogo, (baca; Jawa “Su”: Pemilik, “Prayogo”: Baik), yang berarti Pelaksana Kebaikan. Lantas, karena nama Suprayogo identik dengan corak jawa, oleh orang tua, KH Hasan Muchrodji menambahkan nama Imam di depan Suprayogo. Jadilah Imam Suprayogo, yang kita kagumi sekarang ini. Sebagai orang yang melaksanakan kebaikan dalam pemikirannya.
Setelah beranjak dewasa dan bersekolah, ia menimba ilmu sekolah umum, SDN (1964), SMPN (1967), dan menengah atas SMAN (1970) di tempat kelahirannya, Trenggalek, Jawa Timur. Tetapi setamatnya dari SMAN, beliau mengembara di kota orang. Beliau melanjutkan pendidikan di IAIN Malang Fakultas Tarbiyah—saat itu cabang dari IAIN Surabaya. Setamat di fakultas pendidikan, ia melanjutkan kembali kuliah. Dan ia berhasil meraih gelar doktornya Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.
Tidak yang menyangka, harapan dan doa dari kedua orangtuanya tersebut terwujud, ia mengawali karir dalam memimpin lembaga pendidikan Islam, dimulai sejak menjadi Kepala MINU (Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama) di desa kelahirannya, selama tidak kurang dari lima tahun. Setelah itu perkenalannya dengan Prof. Masyfu’ Zuhdi (Alm.) melebar karirnya ke jenjang nasional, untuk bekerja dan mengabdi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itu, beliau mengawali karirnya dengan menjabat sebagai Kepala Keperpustakaan. Makin lama, karirnya semakin gemilang, beliau pun menjabat sebagai Wakil Dekan, Dekan FISIP, Wakil Rektor I selama 13 tahun dan Wakil Direktur Pascasarjana. Durasi kepemimpinananya di pendidikan kampus Muhammadiyah ini kurang lebih selama 20 tahun.
Selesai mengabdi di UMM pada pertengahan tahun 1998, Prof. Imam mendapat tugas menduduki jabatan sebagai Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang—kini UIN Maliki Malang—berlanjut sebagai ketua STAIN, kemudian mendapat amanah yang cukup besar sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim malang.
Jika kita hitung mulai dari beliau sekolah dari SD sampai menjabat sebagai rektor UIN Maliki Malang berapa lama ia abadikan untuk lembaga pendidikan. Durasi itu tentu tidaklah seberapa, filosofi hidup Prof. Imam Suprayogo sering mengutip hadis Nabi berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesama.” Untuk dapat memberi manfaat, maka seseorang harus memiliki keunggulan dan keunikan. Filosofi itulah yang menjadikan selama hidupnya diabadikan dalam membangun bangsa dari sendi pendidikan, khususnya di lembaga pendidikan Islam.
The Extraordinary Rector
Di jagad perguruan tinggi dan pemikir Islam Indonesia, nama Prof. Imam Suprayogo sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran kota Gaplek ini dikenal luas sebagai cendekiawan muslim yang memiliki obsesi luar besar dalam pembangunan pendidikan, khususnya dalam memadukan pendidikan kampus dan pendidikan pesantren. Ia tidak hanya seorang intelektual yang cuma asyik duduk di menara gading, tetapi mengimplikasikan gagasan-gagasan besarnya dalam praktis di lapangan.
Saat menjabat sebagai rektor di perguruan tinggi di kota Apel ini, banyak sekali perubahan signifikan. Perubahan STAIN Malang menjadi UIN Malang tidak lepas dari kerja keras dan ke-istiqamahannya dalam memajukan pendidikan Islam. Kampus yang semula berupa Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya itu berubah menjadi STAIN Malang pada tahun 1997, kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) pada rentang 2002-2003. Pada tahun 2004, dengan Keppres No. 5 tahun 2004, proses pembabatan dan “peletakan batu” pertama kampus Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Maulana Malik Ibrahim, berdiri megah di tengah kota Malang.
Ini merupakan lompatan yang luar biasa, yang dilakukan oleh Prof. Imam Suprayogo dalam menggagas perguruan tinggi, khususnya di UIN Malang. Melihat capaian Prof. Imam seperti itu—tidak dipungkiri—ia memiliki bekal seorang pemimpin. “Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki bekal yang cukup. Bekal itu berupa kekuatan yang akan digunakan untuk menggerakan seorang yang dipimpinnya. Kekuatan itu merupakan buah pikiran atau ide, pendapat, wawasan, kemampuan melihat masa depan untuk menentukan ke mana arah lembaga yang akan dipimpin akan dikembangkan, potensi yang ada, cara-cara yang akan ditempuh untuk memajukan lembaga yang dipimpin, dan bahkan bagaimana mengatasi rintangan yang mungkin timbul dalam berbagai bentuknya,” tuturnya.
Bekal untuk memimpin sebuah lembaga, ia aplikasi pengembangan pendidikan kampus yang dipadukan dengan pesantren. Misal, sejak mulai babat alas memimpin STAIN Malang, yaitu pada awal tahun 1998, perguruan tinggi Islam yang berada di bawah kementerian agama, ia selalu melakukan terobosan-terobosan yang luar biasa. Prof. Imam selalu membuat dan menerapkan konsep-konsep pendidikan yang belum banyak dilakukan oleh lembaga pendidikan lain. Ia melakukan penggabungan tradisi perguruan tinggi dengan tradisi pesantren. Selain itu, Prof. Imam ingin melahirkan ulama yang intelek dan atau intelek yang sekaligus ulama. Ekspektasi tinggi tersebut membuat Prof. Imam semakin tertantang untuk mengembangkan lembaga pendidikan perguruan tinggi Islam.
Selain berhasil memadukan ma’had atau pondok pesantren di Perguruan Tinggi Islam, serta berhasil menyakinkan semua pihak civitas akademik, setelah melewati waktu lama, beliau menilai perpaduan antara Kampus dan Ma’had al Aly ternyata dipandang hasil. Ia memadukan lembaga kampus dengan lembaga pesantren. Pesantren biasa nuansa tradisional dan berkonotasi bernuansa tradisional dan ndesit (baca; ndeso-perdesaan), namun ia mampu meminimalisasi kesan tradisional itu, ganti dengan Ma’had. Lebih dari itu, agar lebih membanggakan, maka istilah Ma’had, ia tambah dengan kata “al-Aly”, sehingga menjadi Ma’had al -Aly atau pesantren tinggi.
Keberhasilan dalam mengembangkan civitas akademika di UIN Maliki Malang, berasal dari pendidikan filosofi pohon. Keilmuan yang dikembangkan Prof Imam di UIN Maliki Malang menggunakan metafora pohon yang kukuh dan rindang. Pohon menjadi kukuh, berdiri tegak, dan tidak mudah roboh dihempas angin, jika memiliki akar yang kukuh pula dan menghunjam ke bumi. Batang yang kukuh akan melahirkan cabang dan ranting yang kuat serta daun dan buah yang sehat dan segar. Pohon dengan ciri-ciri seperti itulah yang selalu dijadikan perumpamaan ilmu yang dikembangkan di UIN Maliki Malang, begitu gagasan Prof. Imam.
Jika metafora berupa pohon itu dikembangkan, maka buahnya adalah ilmu, iman, amal saleh, dan akhlak karimah. Seseorang yang memiliki ilmu, iman, amal saleh, dan akhlak karimah, itulah yang disebut ulama intelek profesional atau intelek profesional yang ulama. Begitulah, Prof. Dr. Imam memang seorang “The Extraordinary Rector”. Prof Imam adalah seorang yang luar biasa.
Pandangannya inovatif, ramah, mudah diterima semua golongan, bahkan oleh non-muslim sekalipun. Hal ini yang membedakan dari Prof. Imam Suprayogo, menurut M. Husnaini, penyunting buku Masyarakat Tanpa Rangking (2013) dan dan Menghidupkan Jiwa Ilmu (2015), “sifat kreatif dan inovatif seperti ini menjadikan institusi yang sedang beliau pimpin bersifat unik dari lainnya.” Pandangannya kreatif dan inovatiflah yang membuat dan mudah diterima semua orang. Oleh karena itu, ia mampu menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum menjadi satu kesatuan. Ia tidak memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Bukan pekerjaan mudah saya kira, butuh kerja ekstra dalam menggabungkan pelajaran dan ilmu agama dan umum.
Sosok Intelektual Religius
Sejak kecil, Prof. Imam hidup di lingkungan agamis. Dirinya dibesarkan dalam tradisi dan keluarga NU yang taat. Mengingat ayahandanya, KH Hasan Muchrodji, dan ibunya, Hj Mariyah adalah seorang ulama di kampungnya, di Dukuh Papar, Desa Gemaharjo. Ayahnya adalah pengurus NU setempat dan ibunya pengurus Muslimat. Keduanya adalah orang yang sama-sama gemar berorganisasi dan berdakwah.
Meski sejak kecil tidak pernah masuk sekolah Islam—SD sampai SMA, ia sekolah di umum—ia tetap mendapatkan pelajaran tentang agama langsung dari kedua orang tuanya. Dan sejak kecil, Prof. Imam sudah bersinggungan dengan dua organisasi agama terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah.
Selain itu, sejak kecil, Prof. Imam tidak pernah dilarang oleh kedua orangtua, tidak pernah melarang anak-anaknya datang ke masjid Muhammadiyah. “Sekali-kali, saya mengikuti shalat di masjid NU yang dipimpin oleh ayah saya sendiri dan pada kesempatan lain, bersama teman-teman mengikuti sholat tarweh di masjid Muhammadiyah.” Ungkapnya. Mungkin saja, mereka menganggap bahwa hal demikian itu tidak perlu dilarang. “Saya membayangkan bahwa keadaan itu akan semakin indah, manakala kedua organisasi dimaksud—NU dan Muhammadiyah—semakin mendekat, saling menghargai, saling mencintai, dan juga saling bertolong menolong di dalam menegakkan ajaran Islam...,” tambahnya. Hal ini yang menjadikan Prof. Imam “tidak gampang alergi” dengan organisasi Islam di luar sana. Ia pun pernah menjadi pengurus kedua organisasi tersebut hingga baik di tingkat cabang, wilayah, hingga di tingkat pusat.
Selain itu, selama menjabat sebagai rektor di UIN Maliki Malang, beliau adalah tipe yang selalu memikirkan kepentingan umatnya. Ia tak hanya memikirkan perut pribadi dan keluarganya. Ketika mendapat undangan, berkat dari undangan itu tidak langsung diberikan oleh istri dan anak-anaknya, ia berikan para petugas dan penjaga kampus. Bahkan, saat bulan suci ramadhan, Prof. Imam tidak absen untuk memberikan bungkusan untuk menu sahur, hingga memberikan uang makan untuk sahur.
Begitupun saat THR-an, tidak ada yang dibedakan antara pimpinan, dosen, karyawan, satpam, bahkan petugas kebersihan, semua diberikan baju jas yang sama. Manakala rektor mendapat THR Rp 100 ribu, maka satpam dan tukang sapu pun juga mendapat rupiah yang sama. Strategi ini ternyata berhasil menumbuhkan semangat kerja di kalangan pegawai tingkat bawah, karena mereka merasa diperlakukan secara sama. Inilah yang beliau maksud sebagai kesamaan dan kebersamaan.
Keberhasilan Prof. Imam mengabdi di kampus tidak terlepas pesan dari ayahanda tercinta, KH. Hasan Muchrodji, kepada putra-putrinya. Prof Imam sendiri masih teringat dan terinspirasi oleh kalimat indah itu sampai sekarang. Kesantunan tersebut tumbuh dari landasan hidup yang senantiasa dipegangnya; menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, sekti tanpo aji-aji, ngluruk tanpo bolo, kayungyun dening pepoyaning kautamaan (menang tanpa merendahkan, kaya tanpa modal, sakti tanpa ajian tertentu, bertempur tanpa bala bantuan, semua dilakukan untuk memperoleh keutamaan hidup).
Beliau adalah sosok pemimpin sekaligus intelektual religius. Di tengah kesibukan yang begitu padat, beliau selalu dapat meluangkan waktu untuk shalat berjamaah dan mengaji Al-Qur’an setiap selesai berjamaah subuh di Masjid. Bagi orang yang tidak benar-benar memegang teguh ajaran agamanya, meskipun sudah tokoh dan bergelar Profesor, melakukan itu pasti tidak mudah. Sebagian orang yang sibuk, jangankan berjamaah di Masjid, sekadar shalat tepat waktu saja beratnya minta ampun.
Teladan dan tugas hidup itu dipetik dari ayahnya. “Jika kelak kamu menjadi orang kaya, bangunlah sebuah masjid. Syukur kalau masjid itu berukuran besar dan bagus. Jika kamu tidak punya kekayaan untuk membangun masjid yang besar, bangunlah masjid kecil atau mushalla juga tidak apa-apa. Tapi, jika kamu masih tetap belum mampu membangun masjid atau mushalla, bantulah orang yang membangun masjid sekuat kemampuanmu. Bila dengan sedikit uang saja, kamu masih belum mampu, ya bantulah dengan tenaga maupun pikiran. Terakhir, jika kamu terlalu miskin dan lemah, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa, saya tidak kecewa asalkan dengan satu syarat, kamu masih menjadi isinya masjid.” Pesan orangtuanya.
Sosok Yang Merawat Tradisi Menulis
Sebagian besar orang mengatakan, bahwa menulis itu sulit dan menjadi beban. Menurut Prof. Imam Suprayogo, tidak selalu benar. Saya kira betul, karena Prof. Imam merupakan satu dari sedikit tokoh yang merawat tradisi menulis setiap hari, dan selalu menemukan formulanya untuk menangkal kebuntuan menulisnya. Sekalipun bergelar profesor, merawat tradisi menulis itu sulitnya minta ampun. Perlu keseriusan dan ketekunan dalam merawat tradisi menulis itu.
Merawat tradisi menulis tersebut, Prof. Imam memulainya sejak 16 juni 2008 sampai sekarang. Sejak tahun itulah, ia selalu menulis setiap hari di catatan facebook atau website pribadinya. Jika kita berselancar di media sosial, kita akan bertemu tulisan-tulisan Prof. Imam seliweran di media sosial. Tulisannya banyak diposting catatan Facebook, Website UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Website pribadinya.
Karena ketekunan dan kekonsistensinya dalam menulis, Prof. Imam sudah berkali-kali mendapat hadiah atau penghargaan dari MURI, di antaranya menulis berturut-turut tanpa henti selama 1 tahun. Ia begitu produktif, sehingga pada 22 juni 2009, ia menerima Rekor MURI untuk konsistensi menulis setiap hari di blog selama satu tahun tanpa jeda, kemudian pada 15 Juni 2011, mendapatkan MURI dengan katagori sama; konsistensi menulis setiap hari selama tiga tahun.
Saya kira, hanya redaktur dan wartawan sebuah media cetak yang melakukan tradisi menulis setiap hari seperti Prof. Imam itu. Tulisannya setiap hari kurang lebih 800 karakter word, jelas menulis dengan karakter sebanyak itu bukan perkara mudah, apalagi dengan jadwal padat dan kesibukan yang mendera. Namun, Prof. Imam melakukan tradisi menulis selepas shalat subuh berjamaah di masjid. Selepas fajar menyingsing, kita akan menjumpai tulisannya, di catatan facebook. Tradisi ini beliau rawat hingga saat sekarang in, tanpa henti.
Sebagian besar, tulisan-tulisan beliau umumnya adalah tulisan ringan, tetapi bernas. Tidak jarang hanya berisi persoalan remeh temeh, tetapi karena kejeniusannya, beliau sajikan menjadi hikmah. Dan tulisannya adalah refleksi dari pengamatan dan pengalaman sehari-hari, yang diramu dengan dalil-dalil agama, beliau jarang mengupas dari pemikiran orang Barat.
Kalau tidak keliru keseluruhan jumlah artikel yang sudah ditulisnya sebanyak 4.076 lebih, dan saya kira akan bertambah banyak lagi artikel yang akan lahir dari rahim intelektualnya. Hal seperti ini juga tidak lazim, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki energi yang melimpah. Rutinitas seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang mengerti “kehidupan”.
Itulah barangkali yang melandasai gerak langkah Prof. Imam Suprayogo dalam membangun negara Indonesia ini. Melalui ide dan tulisan-tulisannya yang tersebar itu, beliau tidak sekadar mentransfer ide, tetapi juga berbagi pengalaman. Sosok intelektual sekaligus pemimpin yang telah berhasil membawa UIN Maliki Malang memasuki gerbang kemajuan, selama 16 tahun itu. Yang pada Rabu (2/5/2013), beliau menyerahkan tongkat estafetnya kepada Prof Dr Mudjia Rahardjo. Meski telah “turun gunung” dari tampuk kepemimpinannya, ia terus menghidupkan tradisi menulis setiap hari hingga sekarang. Prof. Imam mentradisikan menulis sebagai refleksi menjalani kehidupan, begitulah Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Si.[]
Siapa yang tidak kenal dengan Prof. Dr. Imam Suprayogo? Prof. Imam Suprayogo merupakan mantan rektor UIN Maliki Malang di rentang (1997-2013). Prof. Imam, sapaan akrabnya, memiliki peran yang luar biasa dalam pengembangan dan “peletakan batu pertama” kampus UIN Maliki Malang. Selama, kurang lebih, 16 tahun kepemimpinannya, Prof. Imam menelurkan banyak prestasi, baik nasional maupun internasional.
Selain sebagai “peletak batu pertama” kampus UIN Malang, beliau sebagai pengagas dan inisiator di bidang pendidikan berbasis pendidikan pesantren di perguruan tinggi di lingkungan kampus tersebut. Semangat Prof. Imam dalam memadukan pendidikan kampus dan pesantren adalah tujuan untuk menciptakan seorang pemimpin intelek yang ulama, ulama yang intelek. Ide tersebut sangatlah luar biasa. Membangun negara dari sendi agama, tentunya.
Sebab, Prof. Imam dikenal sebagai sosok inspiratif, kaya ide dan penuh sahaja. Hanya ada sedikit orang di Indonesia seperti sosok Prof Imam. Ide-ide sangat brilian. Baik tentang pendidikan dan pemikiran tentang Islam, kebangsaan, politik, agama. Pemikirannya tentang pemikiran dan pendidikan Islam sangat autentik. Dia dengan dengan hati yang tulus dan ikhlas hanya untuk mengembangkan lembaga pendidikan dan negara tercinta. Oleh karena itu, pemikirannya sangat ditunggu jutaan manusia, khususnya lembaga pendidikan di Nuswantara.
Tak berlebihan jika selama dipimpin Prof. Imam kampus yang awalnya berstatus STAIN Malang kini berubah menjadi UIN Maliki Malang. Sebagai rektor, Prof. Imam melakukan terobosan yang revolusioner. Sehingga selama rentang waaktu yang cukup lama (1997-2013), kampus yang berada di Malang ini mengalami perubahan signifikan. Pelan tapi pasti, perubahan tersebut bisa dirasakan oleh semua civitas akademik dan tak terkecuali warga Malang sendiri.
Prof. Imam merupakan salah satu cendikiawan terkemuka yang di miliki oleh Indonesia. Ia termasuk orang jenius. Ia sangat pandai mencari terobosan. Bisa dibutikan, selama hidupnya banyak diabdikan di lembaga pendidikan. Sehingga, ia tak ada kesempatan untuk memikirkan kepentingannya pribadi. Prof. Imam justru mencari dana wakaf dalam membangun lembaga pendidikan tersebut. Juga tidak dijadikan yayasan milik diri atau keluarganya.
Mengabdi di Lembaga Pendidikan
Imam suprayogo merupakan sosok inspiratif. Dia terlahir pada tahun 2 januari 1951. Pria yang lahir di Dukuh Papar, Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek—sepuluh menit dari rumah saya—adalah anak kedelapan dari enam belas bersaudara, buah hati dari pasangan KH. Hasan Muchrodji dan Nyai Hj Mariyah.
Dari kedua orang tuanya itulah, beliau banyak belajar tentang kehidupan, kepimpimnan dan tak lupa soal berdakwah. Kala kecil, nama Imam Suprayogo sebenarnya Damyati. Damyati kecil tumbuh tak seceria seumurannyan. Ia sering sakit-sakitan. Karena alasan sakit-sakitan itu, nama Damyati diganti nama oleh Kakeknya (Kartodikoro), dengan nama Suprayogo, (baca; Jawa “Su”: Pemilik, “Prayogo”: Baik), yang berarti Pelaksana Kebaikan. Lantas, karena nama Suprayogo identik dengan corak jawa, oleh orang tua, KH Hasan Muchrodji menambahkan nama Imam di depan Suprayogo. Jadilah Imam Suprayogo, yang kita kagumi sekarang ini. Sebagai orang yang melaksanakan kebaikan dalam pemikirannya.
Setelah beranjak dewasa dan bersekolah, ia menimba ilmu sekolah umum, SDN (1964), SMPN (1967), dan menengah atas SMAN (1970) di tempat kelahirannya, Trenggalek, Jawa Timur. Tetapi setamatnya dari SMAN, beliau mengembara di kota orang. Beliau melanjutkan pendidikan di IAIN Malang Fakultas Tarbiyah—saat itu cabang dari IAIN Surabaya. Setamat di fakultas pendidikan, ia melanjutkan kembali kuliah. Dan ia berhasil meraih gelar doktornya Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.
Tidak yang menyangka, harapan dan doa dari kedua orangtuanya tersebut terwujud, ia mengawali karir dalam memimpin lembaga pendidikan Islam, dimulai sejak menjadi Kepala MINU (Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama) di desa kelahirannya, selama tidak kurang dari lima tahun. Setelah itu perkenalannya dengan Prof. Masyfu’ Zuhdi (Alm.) melebar karirnya ke jenjang nasional, untuk bekerja dan mengabdi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itu, beliau mengawali karirnya dengan menjabat sebagai Kepala Keperpustakaan. Makin lama, karirnya semakin gemilang, beliau pun menjabat sebagai Wakil Dekan, Dekan FISIP, Wakil Rektor I selama 13 tahun dan Wakil Direktur Pascasarjana. Durasi kepemimpinananya di pendidikan kampus Muhammadiyah ini kurang lebih selama 20 tahun.
Selesai mengabdi di UMM pada pertengahan tahun 1998, Prof. Imam mendapat tugas menduduki jabatan sebagai Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang—kini UIN Maliki Malang—berlanjut sebagai ketua STAIN, kemudian mendapat amanah yang cukup besar sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim malang.
Jika kita hitung mulai dari beliau sekolah dari SD sampai menjabat sebagai rektor UIN Maliki Malang berapa lama ia abadikan untuk lembaga pendidikan. Durasi itu tentu tidaklah seberapa, filosofi hidup Prof. Imam Suprayogo sering mengutip hadis Nabi berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesama.” Untuk dapat memberi manfaat, maka seseorang harus memiliki keunggulan dan keunikan. Filosofi itulah yang menjadikan selama hidupnya diabadikan dalam membangun bangsa dari sendi pendidikan, khususnya di lembaga pendidikan Islam.
The Extraordinary Rector
Di jagad perguruan tinggi dan pemikir Islam Indonesia, nama Prof. Imam Suprayogo sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran kota Gaplek ini dikenal luas sebagai cendekiawan muslim yang memiliki obsesi luar besar dalam pembangunan pendidikan, khususnya dalam memadukan pendidikan kampus dan pendidikan pesantren. Ia tidak hanya seorang intelektual yang cuma asyik duduk di menara gading, tetapi mengimplikasikan gagasan-gagasan besarnya dalam praktis di lapangan.
Saat menjabat sebagai rektor di perguruan tinggi di kota Apel ini, banyak sekali perubahan signifikan. Perubahan STAIN Malang menjadi UIN Malang tidak lepas dari kerja keras dan ke-istiqamahannya dalam memajukan pendidikan Islam. Kampus yang semula berupa Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya itu berubah menjadi STAIN Malang pada tahun 1997, kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) pada rentang 2002-2003. Pada tahun 2004, dengan Keppres No. 5 tahun 2004, proses pembabatan dan “peletakan batu” pertama kampus Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Maulana Malik Ibrahim, berdiri megah di tengah kota Malang.
Ini merupakan lompatan yang luar biasa, yang dilakukan oleh Prof. Imam Suprayogo dalam menggagas perguruan tinggi, khususnya di UIN Malang. Melihat capaian Prof. Imam seperti itu—tidak dipungkiri—ia memiliki bekal seorang pemimpin. “Untuk menjadi pemimpin, seseorang harus memiliki bekal yang cukup. Bekal itu berupa kekuatan yang akan digunakan untuk menggerakan seorang yang dipimpinnya. Kekuatan itu merupakan buah pikiran atau ide, pendapat, wawasan, kemampuan melihat masa depan untuk menentukan ke mana arah lembaga yang akan dipimpin akan dikembangkan, potensi yang ada, cara-cara yang akan ditempuh untuk memajukan lembaga yang dipimpin, dan bahkan bagaimana mengatasi rintangan yang mungkin timbul dalam berbagai bentuknya,” tuturnya.
Bekal untuk memimpin sebuah lembaga, ia aplikasi pengembangan pendidikan kampus yang dipadukan dengan pesantren. Misal, sejak mulai babat alas memimpin STAIN Malang, yaitu pada awal tahun 1998, perguruan tinggi Islam yang berada di bawah kementerian agama, ia selalu melakukan terobosan-terobosan yang luar biasa. Prof. Imam selalu membuat dan menerapkan konsep-konsep pendidikan yang belum banyak dilakukan oleh lembaga pendidikan lain. Ia melakukan penggabungan tradisi perguruan tinggi dengan tradisi pesantren. Selain itu, Prof. Imam ingin melahirkan ulama yang intelek dan atau intelek yang sekaligus ulama. Ekspektasi tinggi tersebut membuat Prof. Imam semakin tertantang untuk mengembangkan lembaga pendidikan perguruan tinggi Islam.
Selain berhasil memadukan ma’had atau pondok pesantren di Perguruan Tinggi Islam, serta berhasil menyakinkan semua pihak civitas akademik, setelah melewati waktu lama, beliau menilai perpaduan antara Kampus dan Ma’had al Aly ternyata dipandang hasil. Ia memadukan lembaga kampus dengan lembaga pesantren. Pesantren biasa nuansa tradisional dan berkonotasi bernuansa tradisional dan ndesit (baca; ndeso-perdesaan), namun ia mampu meminimalisasi kesan tradisional itu, ganti dengan Ma’had. Lebih dari itu, agar lebih membanggakan, maka istilah Ma’had, ia tambah dengan kata “al-Aly”, sehingga menjadi Ma’had al -Aly atau pesantren tinggi.
Keberhasilan dalam mengembangkan civitas akademika di UIN Maliki Malang, berasal dari pendidikan filosofi pohon. Keilmuan yang dikembangkan Prof Imam di UIN Maliki Malang menggunakan metafora pohon yang kukuh dan rindang. Pohon menjadi kukuh, berdiri tegak, dan tidak mudah roboh dihempas angin, jika memiliki akar yang kukuh pula dan menghunjam ke bumi. Batang yang kukuh akan melahirkan cabang dan ranting yang kuat serta daun dan buah yang sehat dan segar. Pohon dengan ciri-ciri seperti itulah yang selalu dijadikan perumpamaan ilmu yang dikembangkan di UIN Maliki Malang, begitu gagasan Prof. Imam.
Jika metafora berupa pohon itu dikembangkan, maka buahnya adalah ilmu, iman, amal saleh, dan akhlak karimah. Seseorang yang memiliki ilmu, iman, amal saleh, dan akhlak karimah, itulah yang disebut ulama intelek profesional atau intelek profesional yang ulama. Begitulah, Prof. Dr. Imam memang seorang “The Extraordinary Rector”. Prof Imam adalah seorang yang luar biasa.
Pandangannya inovatif, ramah, mudah diterima semua golongan, bahkan oleh non-muslim sekalipun. Hal ini yang membedakan dari Prof. Imam Suprayogo, menurut M. Husnaini, penyunting buku Masyarakat Tanpa Rangking (2013) dan dan Menghidupkan Jiwa Ilmu (2015), “sifat kreatif dan inovatif seperti ini menjadikan institusi yang sedang beliau pimpin bersifat unik dari lainnya.” Pandangannya kreatif dan inovatiflah yang membuat dan mudah diterima semua orang. Oleh karena itu, ia mampu menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum menjadi satu kesatuan. Ia tidak memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Bukan pekerjaan mudah saya kira, butuh kerja ekstra dalam menggabungkan pelajaran dan ilmu agama dan umum.
Sosok Intelektual Religius
Sejak kecil, Prof. Imam hidup di lingkungan agamis. Dirinya dibesarkan dalam tradisi dan keluarga NU yang taat. Mengingat ayahandanya, KH Hasan Muchrodji, dan ibunya, Hj Mariyah adalah seorang ulama di kampungnya, di Dukuh Papar, Desa Gemaharjo. Ayahnya adalah pengurus NU setempat dan ibunya pengurus Muslimat. Keduanya adalah orang yang sama-sama gemar berorganisasi dan berdakwah.
Meski sejak kecil tidak pernah masuk sekolah Islam—SD sampai SMA, ia sekolah di umum—ia tetap mendapatkan pelajaran tentang agama langsung dari kedua orang tuanya. Dan sejak kecil, Prof. Imam sudah bersinggungan dengan dua organisasi agama terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah.
Selain itu, sejak kecil, Prof. Imam tidak pernah dilarang oleh kedua orangtua, tidak pernah melarang anak-anaknya datang ke masjid Muhammadiyah. “Sekali-kali, saya mengikuti shalat di masjid NU yang dipimpin oleh ayah saya sendiri dan pada kesempatan lain, bersama teman-teman mengikuti sholat tarweh di masjid Muhammadiyah.” Ungkapnya. Mungkin saja, mereka menganggap bahwa hal demikian itu tidak perlu dilarang. “Saya membayangkan bahwa keadaan itu akan semakin indah, manakala kedua organisasi dimaksud—NU dan Muhammadiyah—semakin mendekat, saling menghargai, saling mencintai, dan juga saling bertolong menolong di dalam menegakkan ajaran Islam...,” tambahnya. Hal ini yang menjadikan Prof. Imam “tidak gampang alergi” dengan organisasi Islam di luar sana. Ia pun pernah menjadi pengurus kedua organisasi tersebut hingga baik di tingkat cabang, wilayah, hingga di tingkat pusat.
Selain itu, selama menjabat sebagai rektor di UIN Maliki Malang, beliau adalah tipe yang selalu memikirkan kepentingan umatnya. Ia tak hanya memikirkan perut pribadi dan keluarganya. Ketika mendapat undangan, berkat dari undangan itu tidak langsung diberikan oleh istri dan anak-anaknya, ia berikan para petugas dan penjaga kampus. Bahkan, saat bulan suci ramadhan, Prof. Imam tidak absen untuk memberikan bungkusan untuk menu sahur, hingga memberikan uang makan untuk sahur.
Begitupun saat THR-an, tidak ada yang dibedakan antara pimpinan, dosen, karyawan, satpam, bahkan petugas kebersihan, semua diberikan baju jas yang sama. Manakala rektor mendapat THR Rp 100 ribu, maka satpam dan tukang sapu pun juga mendapat rupiah yang sama. Strategi ini ternyata berhasil menumbuhkan semangat kerja di kalangan pegawai tingkat bawah, karena mereka merasa diperlakukan secara sama. Inilah yang beliau maksud sebagai kesamaan dan kebersamaan.
Keberhasilan Prof. Imam mengabdi di kampus tidak terlepas pesan dari ayahanda tercinta, KH. Hasan Muchrodji, kepada putra-putrinya. Prof Imam sendiri masih teringat dan terinspirasi oleh kalimat indah itu sampai sekarang. Kesantunan tersebut tumbuh dari landasan hidup yang senantiasa dipegangnya; menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, sekti tanpo aji-aji, ngluruk tanpo bolo, kayungyun dening pepoyaning kautamaan (menang tanpa merendahkan, kaya tanpa modal, sakti tanpa ajian tertentu, bertempur tanpa bala bantuan, semua dilakukan untuk memperoleh keutamaan hidup).
Beliau adalah sosok pemimpin sekaligus intelektual religius. Di tengah kesibukan yang begitu padat, beliau selalu dapat meluangkan waktu untuk shalat berjamaah dan mengaji Al-Qur’an setiap selesai berjamaah subuh di Masjid. Bagi orang yang tidak benar-benar memegang teguh ajaran agamanya, meskipun sudah tokoh dan bergelar Profesor, melakukan itu pasti tidak mudah. Sebagian orang yang sibuk, jangankan berjamaah di Masjid, sekadar shalat tepat waktu saja beratnya minta ampun.
Teladan dan tugas hidup itu dipetik dari ayahnya. “Jika kelak kamu menjadi orang kaya, bangunlah sebuah masjid. Syukur kalau masjid itu berukuran besar dan bagus. Jika kamu tidak punya kekayaan untuk membangun masjid yang besar, bangunlah masjid kecil atau mushalla juga tidak apa-apa. Tapi, jika kamu masih tetap belum mampu membangun masjid atau mushalla, bantulah orang yang membangun masjid sekuat kemampuanmu. Bila dengan sedikit uang saja, kamu masih belum mampu, ya bantulah dengan tenaga maupun pikiran. Terakhir, jika kamu terlalu miskin dan lemah, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa, saya tidak kecewa asalkan dengan satu syarat, kamu masih menjadi isinya masjid.” Pesan orangtuanya.
Sosok Yang Merawat Tradisi Menulis
Sebagian besar orang mengatakan, bahwa menulis itu sulit dan menjadi beban. Menurut Prof. Imam Suprayogo, tidak selalu benar. Saya kira betul, karena Prof. Imam merupakan satu dari sedikit tokoh yang merawat tradisi menulis setiap hari, dan selalu menemukan formulanya untuk menangkal kebuntuan menulisnya. Sekalipun bergelar profesor, merawat tradisi menulis itu sulitnya minta ampun. Perlu keseriusan dan ketekunan dalam merawat tradisi menulis itu.
Merawat tradisi menulis tersebut, Prof. Imam memulainya sejak 16 juni 2008 sampai sekarang. Sejak tahun itulah, ia selalu menulis setiap hari di catatan facebook atau website pribadinya. Jika kita berselancar di media sosial, kita akan bertemu tulisan-tulisan Prof. Imam seliweran di media sosial. Tulisannya banyak diposting catatan Facebook, Website UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Website pribadinya.
Karena ketekunan dan kekonsistensinya dalam menulis, Prof. Imam sudah berkali-kali mendapat hadiah atau penghargaan dari MURI, di antaranya menulis berturut-turut tanpa henti selama 1 tahun. Ia begitu produktif, sehingga pada 22 juni 2009, ia menerima Rekor MURI untuk konsistensi menulis setiap hari di blog selama satu tahun tanpa jeda, kemudian pada 15 Juni 2011, mendapatkan MURI dengan katagori sama; konsistensi menulis setiap hari selama tiga tahun.
Saya kira, hanya redaktur dan wartawan sebuah media cetak yang melakukan tradisi menulis setiap hari seperti Prof. Imam itu. Tulisannya setiap hari kurang lebih 800 karakter word, jelas menulis dengan karakter sebanyak itu bukan perkara mudah, apalagi dengan jadwal padat dan kesibukan yang mendera. Namun, Prof. Imam melakukan tradisi menulis selepas shalat subuh berjamaah di masjid. Selepas fajar menyingsing, kita akan menjumpai tulisannya, di catatan facebook. Tradisi ini beliau rawat hingga saat sekarang in, tanpa henti.
Sebagian besar, tulisan-tulisan beliau umumnya adalah tulisan ringan, tetapi bernas. Tidak jarang hanya berisi persoalan remeh temeh, tetapi karena kejeniusannya, beliau sajikan menjadi hikmah. Dan tulisannya adalah refleksi dari pengamatan dan pengalaman sehari-hari, yang diramu dengan dalil-dalil agama, beliau jarang mengupas dari pemikiran orang Barat.
Kalau tidak keliru keseluruhan jumlah artikel yang sudah ditulisnya sebanyak 4.076 lebih, dan saya kira akan bertambah banyak lagi artikel yang akan lahir dari rahim intelektualnya. Hal seperti ini juga tidak lazim, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki energi yang melimpah. Rutinitas seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang mengerti “kehidupan”.
Itulah barangkali yang melandasai gerak langkah Prof. Imam Suprayogo dalam membangun negara Indonesia ini. Melalui ide dan tulisan-tulisannya yang tersebar itu, beliau tidak sekadar mentransfer ide, tetapi juga berbagi pengalaman. Sosok intelektual sekaligus pemimpin yang telah berhasil membawa UIN Maliki Malang memasuki gerbang kemajuan, selama 16 tahun itu. Yang pada Rabu (2/5/2013), beliau menyerahkan tongkat estafetnya kepada Prof Dr Mudjia Rahardjo. Meski telah “turun gunung” dari tampuk kepemimpinannya, ia terus menghidupkan tradisi menulis setiap hari hingga sekarang. Prof. Imam mentradisikan menulis sebagai refleksi menjalani kehidupan, begitulah Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, M.Si.[]
إرسال تعليق