Masyarakat Indonesia terhegemoni sepakbola. Ini terlihat ketika Timnas U-19 menjalankan tanding partner dengan lawan mainnya, para suporter mambanjiri stadion tempat pertandingan berlangsung. Sepak bola sudah menjadi sebuah melting bowl bagi siapa pun. Di dalam sepak bola, semua latar belakang sosial, dianggap tidak ada. Dalam sepak bola hanya ada satu agama, budaya, suku, ras, yaitu sepak bola. Sepak bola telah menyihir semua orang di seluruh bumi. Ya, sepak bola telah menjadi budaya populer penghuni bumi.
Terlepas dari itu, tinggal hitungan detik, mata kita akan dimanjakan “hidangan” pertandingan-pertandingan kelas dunia. Piala Dunia akan di helat di negeri yang secara geografis sama dengan iklim di Indonesia. Saya jadi teringat film Fast And Furios V, “This is Brazziiiillll” (mengutip ucapan Vin Diesel di Fast And Furious V), tempat hajatan spektakuler Piala Dunia di gelar. Tepatnya pada bulan 13 Juni- 14 Juli 2014. Tentunya ribuan pasang mata akan tertuju pada kiblat sepak bola, yakni World Cup. Brazil terkenal dengan gudangnya telenta-talenta muda lahir. Di sana, anak muda yang tidak menyukai sepak bola, sama saja tidak memiliki jati diri, lebih tepatnya sebagai identitas seseorang.
Kita tentu masih teringat kejadian pada Piala Dunia pada tahun 1986, yang sampai sekarang tidak dilupakan dunia. Yakni, di perempat final Piala Dunia 1986? Ya, tepat sekali. Pada tahun itu, Piala Dunia diselenggarakan di Meksiko. Wasit asal Tunisia, Ali Ben Naceur, mengesahkan gol pertama yang dimasukkan oleh Maradona ketika itu, hingga dikenang oleh sejarah dan terkenal dengan sebutan “Gol Tangan Tuhan”.
Nah, pada tahun 2013 lalu, masyarakat Argentina membangun Gereja, yang dibangun di Buenos Aries, Argentina. Gereja yang didirikan atas bentuk apresiasi Gol Tangan Tuhan, ini diberi nama Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona). Bahkan, di negara-nagara Amerika Latin, beberapa orang telah mengatakan sepak bola telah menjadi agama, sebuah agama parodi yang mendewakan sang bintang tersebut, sebut saja Pele dan Maradona. Menurut Hari Wahyudi dalam buku The Land Of Holligans (2009; 27) menyebutkan pengikut kultus ini berjumlah sekira 15 ribu orang.
“Sepakbola telah menjadi jimat. Sepakbola menjadi kekuatan yang memesona orang. Orang akan terhipnotis, terseret, dan tertarik pada sihir sepak bola. Sepak bola seperti semacam ekstasi.” (Hari Wahyudi, The Land of Holligans).
Saat mengisi sebuah formulir, Pele mencantumkan “sepak bola” pada kolom agama. Bagi sebagian orang, sepak bola bahkan telah menjadi “agama”, mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Coach Timo Scheunemann dalam bukunya mengatakan Filsuf Prancis ternama, Albert Camus, suatu kali pernah berujar, “Everthing i know abaout moralty and the obligations of men, i owe it to football.” Inilah, sekarang sepak bola bukan hanya olahraga saja, sepakbola telah merasuk ke dunia yang lain. Bagi sebagian orang sepak bola bahkan telah menjadi “agama”, mendarah daging dalam sehari-hari.
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan yang tinggal satu Minggu lebih, semua khalayak diharapkan bisa memakmurkan tempat ibadahnya dan aktivitas dengan kegiatan-kagiatan positif yang dapat meningkatkan kualitas kehambaannya selama Ramadan. Selain itu Piala dunia dan Ramadan, ada hajatan besar juga, yakni pesta demokratis. Tentunya tidak kalah seru dan menegangkan untuk para khalayak umum. Di tengah musim kampanye pemilihan umum presiden, masyarakat diharapkan tidak terpancing hal-hal yang mengurai keistikamahan dalam beribadahnya dan menjaga kestabilitasan kerukunan warga sekitar dan negara ini.
Piala dunia digelar bersamaan dengan dua event besar sekali pun. Terutama di datangnya bulan suci Ramadan secara spiritual dan tradisi kaum muslimin meningkat. Apakah hegemoni piala dunia akan menggusur dari sisi spiritual seseorang? Mengingat sepak bola adalah olahraga yang sudah merakyat dan bisa di bilang menjadi candu oleh khalayak. Dengan tradisi yang kental dengan ritual-ritual untuk ngalap berkah di tengah hingar-bingar World Cup. Di tengah-tengah bulan puasa sepak bola menjadi dua mata uang yang tentunya menarik untuk di nikmati bersama.
Dahulu pada bulan Ramadan, mereka (baca: masyarakat) biasanya bermalam di surau supaya saat sahur tiba bisa menabuh beduk atau berkeliling untuk membangunkan warga. Sayang, kondisi semacam itu akan tinggal romantisme belaka. Sekarang tradisi tersebut semakin terdegradasi saja, mengingat masyarakat lebih memilih tidur di rumah, sekalian bangun dan menikmati televisi. Secara fungsional, baik sepak bola menjadi aktivitas yang cocok untuk aktivitas untuk membangunkan sahur di bulan Ramadan. Karena bisa sekalian melihat negara jagoan kita berlaga.
Saya juga teringat tutur cerita bapak beberapa tempo hari yang lalu, teman sekantornya, “Bahwa ketika musim piala dunia, ia sangat berharap bisa bangun malam. Bukan lantas berwudlu lalu melaksanakan sholat tahajjud maupun sholat sunnah lainnya, melainkan ia berharap bisa bangun karena ingin melihat pertandingan sepak bola.” Cetusnya. Saya kira, dari cerita bapak tersebut, membuat saya terbayang. Apakah sepak bola telah menjadi “kepercayaan” baru di mata masyarakat? Yang melek akan olahraga ini. Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang saya utarakan sendiri ini.
Pun ekspresi suka cita sebuah masyarakat ketika menyambut piala dunia sekaligus menyambut Ramadan dapat dibaca. Rahmat Petuguran (2014) dahulu, pada tahu 1990-an ketika televisi belum menjadi bagian kehidupan masyarakat desa. Tradisi semacam itu masih belum terlalu kentara, namun sekarang televisi menjadi bagian yang tak luput dari masyarakat menjadikan semarak menyambut Ramadhan sekaligus piala dunia yang di lehat di bulan puasa.
Saya sendiri juga sangat suka dengan sepak bola. Apabila tidak menonton siaran langsung, ada suatu hal yang kurang dalam diri, atau ada getaran emosional yang mengikat diri ini dengan olahraga yang satu ini. Bisa dibilang candu. Ketika di salah-satu televisi menyiarkan pertandingan klub besar entah di Indonesia maupun klub asing, saya tidak bisa mengalah, dan remote kontral pun saya yang menguasai. Karena sepak bola telah menjadi tontonan wajib untuk saya sendiri. Entah apa yang membuat sepak bola menjadi tontonan bukan hanya sebuah tontonan belaka, namun telah bertransformasi sedemikian rupa.
Banyak orang yang bekerja siang malam itu semua hanya untuk menyaksikan pertandingan langsung di Stadion. Adapula yang sampai berani meninggalkan pekerjaannya Cuma hanya ingin menonton orang main bola sebelas lawan sebelas orang, tanpa memikirkan anak dan istrinya dirumah sedang menanti atau sedang kelaparan. Selain itu, ada juga yang berani mengambil ayam milik Ibunya untuk dijual dan dibelikan secarik ntiket pertandingan. Semuanya itu dilakukan demi menonton pertandingan sepak bola. Gila! Manakala sepak bola sudah semacam itu, tidak salah Hari Wahyudi menyebutkan sepak bola telah menjadi “ekstasi” yang mengandung candu dan menawarkan sesi religiusitas dalam jiwa seseorang.
Dewasa ini, sepak bola telah mengubah dunia. Sepak bola telah merambah ke dalam kehidupan manusia. Di mana sepak bola sudah melampui garis batas antara fanatisme yang wajar dan fanatisme yang berlebihan, bahkan kriminal dan gila? Lantaran, demi sebuah pertandingan yang mengatasnamakan “sepak bola” orang melupakan ritual di bulan yang penuh berkah di bulan Ramadan.
Bahkan sepakbola bisa membuat manusia melakukan sisi negatif dengan melakukan judi bola. Tentu di bulan yang penuh rahmat tersebut mengurai sisi religiulitas seseorang. Hal tersebut bisa dikatakan tidak layak untuk ‘dipuji’ sebagai sebuah fanatisme. Semua tergantung diri kita masing-masing. Yang pasti jangan lupa bahwa mata Tuhan melihat.[]
Dimuat http://harianjateng.com/blog/candu-sepak-bola-di-tengah-ramadan/
Terlepas dari itu, tinggal hitungan detik, mata kita akan dimanjakan “hidangan” pertandingan-pertandingan kelas dunia. Piala Dunia akan di helat di negeri yang secara geografis sama dengan iklim di Indonesia. Saya jadi teringat film Fast And Furios V, “This is Brazziiiillll” (mengutip ucapan Vin Diesel di Fast And Furious V), tempat hajatan spektakuler Piala Dunia di gelar. Tepatnya pada bulan 13 Juni- 14 Juli 2014. Tentunya ribuan pasang mata akan tertuju pada kiblat sepak bola, yakni World Cup. Brazil terkenal dengan gudangnya telenta-talenta muda lahir. Di sana, anak muda yang tidak menyukai sepak bola, sama saja tidak memiliki jati diri, lebih tepatnya sebagai identitas seseorang.
Kita tentu masih teringat kejadian pada Piala Dunia pada tahun 1986, yang sampai sekarang tidak dilupakan dunia. Yakni, di perempat final Piala Dunia 1986? Ya, tepat sekali. Pada tahun itu, Piala Dunia diselenggarakan di Meksiko. Wasit asal Tunisia, Ali Ben Naceur, mengesahkan gol pertama yang dimasukkan oleh Maradona ketika itu, hingga dikenang oleh sejarah dan terkenal dengan sebutan “Gol Tangan Tuhan”.
Nah, pada tahun 2013 lalu, masyarakat Argentina membangun Gereja, yang dibangun di Buenos Aries, Argentina. Gereja yang didirikan atas bentuk apresiasi Gol Tangan Tuhan, ini diberi nama Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona). Bahkan, di negara-nagara Amerika Latin, beberapa orang telah mengatakan sepak bola telah menjadi agama, sebuah agama parodi yang mendewakan sang bintang tersebut, sebut saja Pele dan Maradona. Menurut Hari Wahyudi dalam buku The Land Of Holligans (2009; 27) menyebutkan pengikut kultus ini berjumlah sekira 15 ribu orang.
“Sepakbola telah menjadi jimat. Sepakbola menjadi kekuatan yang memesona orang. Orang akan terhipnotis, terseret, dan tertarik pada sihir sepak bola. Sepak bola seperti semacam ekstasi.” (Hari Wahyudi, The Land of Holligans).
Saat mengisi sebuah formulir, Pele mencantumkan “sepak bola” pada kolom agama. Bagi sebagian orang, sepak bola bahkan telah menjadi “agama”, mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Coach Timo Scheunemann dalam bukunya mengatakan Filsuf Prancis ternama, Albert Camus, suatu kali pernah berujar, “Everthing i know abaout moralty and the obligations of men, i owe it to football.” Inilah, sekarang sepak bola bukan hanya olahraga saja, sepakbola telah merasuk ke dunia yang lain. Bagi sebagian orang sepak bola bahkan telah menjadi “agama”, mendarah daging dalam sehari-hari.
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan yang tinggal satu Minggu lebih, semua khalayak diharapkan bisa memakmurkan tempat ibadahnya dan aktivitas dengan kegiatan-kagiatan positif yang dapat meningkatkan kualitas kehambaannya selama Ramadan. Selain itu Piala dunia dan Ramadan, ada hajatan besar juga, yakni pesta demokratis. Tentunya tidak kalah seru dan menegangkan untuk para khalayak umum. Di tengah musim kampanye pemilihan umum presiden, masyarakat diharapkan tidak terpancing hal-hal yang mengurai keistikamahan dalam beribadahnya dan menjaga kestabilitasan kerukunan warga sekitar dan negara ini.
Piala dunia digelar bersamaan dengan dua event besar sekali pun. Terutama di datangnya bulan suci Ramadan secara spiritual dan tradisi kaum muslimin meningkat. Apakah hegemoni piala dunia akan menggusur dari sisi spiritual seseorang? Mengingat sepak bola adalah olahraga yang sudah merakyat dan bisa di bilang menjadi candu oleh khalayak. Dengan tradisi yang kental dengan ritual-ritual untuk ngalap berkah di tengah hingar-bingar World Cup. Di tengah-tengah bulan puasa sepak bola menjadi dua mata uang yang tentunya menarik untuk di nikmati bersama.
Dahulu pada bulan Ramadan, mereka (baca: masyarakat) biasanya bermalam di surau supaya saat sahur tiba bisa menabuh beduk atau berkeliling untuk membangunkan warga. Sayang, kondisi semacam itu akan tinggal romantisme belaka. Sekarang tradisi tersebut semakin terdegradasi saja, mengingat masyarakat lebih memilih tidur di rumah, sekalian bangun dan menikmati televisi. Secara fungsional, baik sepak bola menjadi aktivitas yang cocok untuk aktivitas untuk membangunkan sahur di bulan Ramadan. Karena bisa sekalian melihat negara jagoan kita berlaga.
Saya juga teringat tutur cerita bapak beberapa tempo hari yang lalu, teman sekantornya, “Bahwa ketika musim piala dunia, ia sangat berharap bisa bangun malam. Bukan lantas berwudlu lalu melaksanakan sholat tahajjud maupun sholat sunnah lainnya, melainkan ia berharap bisa bangun karena ingin melihat pertandingan sepak bola.” Cetusnya. Saya kira, dari cerita bapak tersebut, membuat saya terbayang. Apakah sepak bola telah menjadi “kepercayaan” baru di mata masyarakat? Yang melek akan olahraga ini. Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang saya utarakan sendiri ini.
Pun ekspresi suka cita sebuah masyarakat ketika menyambut piala dunia sekaligus menyambut Ramadan dapat dibaca. Rahmat Petuguran (2014) dahulu, pada tahu 1990-an ketika televisi belum menjadi bagian kehidupan masyarakat desa. Tradisi semacam itu masih belum terlalu kentara, namun sekarang televisi menjadi bagian yang tak luput dari masyarakat menjadikan semarak menyambut Ramadhan sekaligus piala dunia yang di lehat di bulan puasa.
Saya sendiri juga sangat suka dengan sepak bola. Apabila tidak menonton siaran langsung, ada suatu hal yang kurang dalam diri, atau ada getaran emosional yang mengikat diri ini dengan olahraga yang satu ini. Bisa dibilang candu. Ketika di salah-satu televisi menyiarkan pertandingan klub besar entah di Indonesia maupun klub asing, saya tidak bisa mengalah, dan remote kontral pun saya yang menguasai. Karena sepak bola telah menjadi tontonan wajib untuk saya sendiri. Entah apa yang membuat sepak bola menjadi tontonan bukan hanya sebuah tontonan belaka, namun telah bertransformasi sedemikian rupa.
Banyak orang yang bekerja siang malam itu semua hanya untuk menyaksikan pertandingan langsung di Stadion. Adapula yang sampai berani meninggalkan pekerjaannya Cuma hanya ingin menonton orang main bola sebelas lawan sebelas orang, tanpa memikirkan anak dan istrinya dirumah sedang menanti atau sedang kelaparan. Selain itu, ada juga yang berani mengambil ayam milik Ibunya untuk dijual dan dibelikan secarik ntiket pertandingan. Semuanya itu dilakukan demi menonton pertandingan sepak bola. Gila! Manakala sepak bola sudah semacam itu, tidak salah Hari Wahyudi menyebutkan sepak bola telah menjadi “ekstasi” yang mengandung candu dan menawarkan sesi religiusitas dalam jiwa seseorang.
Dewasa ini, sepak bola telah mengubah dunia. Sepak bola telah merambah ke dalam kehidupan manusia. Di mana sepak bola sudah melampui garis batas antara fanatisme yang wajar dan fanatisme yang berlebihan, bahkan kriminal dan gila? Lantaran, demi sebuah pertandingan yang mengatasnamakan “sepak bola” orang melupakan ritual di bulan yang penuh berkah di bulan Ramadan.
Bahkan sepakbola bisa membuat manusia melakukan sisi negatif dengan melakukan judi bola. Tentu di bulan yang penuh rahmat tersebut mengurai sisi religiulitas seseorang. Hal tersebut bisa dikatakan tidak layak untuk ‘dipuji’ sebagai sebuah fanatisme. Semua tergantung diri kita masing-masing. Yang pasti jangan lupa bahwa mata Tuhan melihat.[]
Dimuat http://harianjateng.com/blog/candu-sepak-bola-di-tengah-ramadan/
إرسال تعليق