“Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala. Untuk apa kita membaca? Sebuah buku mestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita.” (Franz Kafka)
Kesukaan menulis sebenarnya sudah dimulai sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Nah, itu sebuah catatan-catatan seharian dalam buku tulis. Dan kadangkala meringkas mata pelajaran. Walau hobbiku menulis hanyalah sekedar menulis dalam catatan mata pelajaran tetapi itu adalah batu loncatan terhadap dunia tulis, dan dalam pemilihan struktur kelas, saya tak segan untuk mengajukan diri menjadi sekretaris, tetap berbau menulis.
Menginjak MTs, saya tetap berkeinginan menjadi sekretaris kelas. Tidak jarang, kesukaanku menulis dimanfaatkan teman satu kelas, untuk merangkum tugas-tugas dari guru pelajaran. Saya ingat betul teman yang biasanya meminta bantuan tersebut adalah Aris, anak Margomulyo. Namun semua kegiatab menulis tersebut masih sekedar hobi dan bersifat insidental, tidak saya teruskan secara serius ketika masuk di kenjang SMK. Karena di SMK yang mayoritasnya anak cowok, dan tak ada seorang anak cewek, kecuali guru perempuan. Maklum saja, cita-cita saya ingin menjadi tentara jauh lebih menjanjikan dibandingkan menjadi seorang penulis. Malah, menjadi penulis tidak ada diurutan cita-cita di otakku. Demikian pandangan saya waktu itu yang menganggap profesi tentara lebih berwibawa dan bisa menjadi sandaran hidup.
Saya mencoba untuk menelusuri kehidupan saya setelah beberapa puluh tahun yang lalu, tetap ketika masih usia Sekolah Dasar sampai SMK. Saat itu, saya lebih suka menulis didepan papan tulis atau menjadi pendekte untuk teman-teman. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, latihan mengarahlah yang membuat saya setres. Mengapa? Kare na bagi saya waktu itu, mencari gagasan dan menuangkan ke atas kertas adalah pekerjaan yang sangat selit dan menjengkelkan. Namun demikian, saya tetap menyelesaikan dengan memutas imajinasi sewaktu perjalanan di suatu tempat.
Ketika memasuki MTs, saya mulai senang membaca. Kegiatan membaca tersebut kubangun diluar sekolah. Tetapi tetap, ketika di sekolah juga sering masuk di perpustakaan sekolah yang lakukan ketika jam istirahat datang, sewaktu istiharat saya habiskan di ruang perpustakaan. Sewaktu pulang sekolah budaya membaca juga terbangun, yaitu dengan membeli majalah olahraga, majalah bola dan soccer. Di balik aktifitas membaca majalah olahraga, saya geluti. Dan, tak jarang juga menyuruh Bapak untuk berburu mencari majalah dari loper koran yang menjual majalah tersebut. Dan penjual majalah tersebut masih belum tergantikan pekerjaan mulia tersebut, yaitu pak Gun.
Menurut saya, membaca buku atau majalah hidup terasa semakin bergairah. Pengalamna saya menjadi bertambah, tanpa harus daya mengalami kejadian yang saya baca. Saat membaca kisah tertentu atau kejadian tertentu, saya merasa hanyut ke dalam suasana saat itu terjadi. Pikiran saya menerawang kemana-mana, seolah-olah saya mengalami kejadian yang terdapat dalam cerita itu. Lantaran, kesukaanku membaca majalah olahraga, dalam benak, ingin rasanya menjadi seorang atlit sepakbola. Tetapi apalah daya tangan tak sampai? Bagi saya, hal tersebut merupakan pengalaman batin yang sangat mengasikkan. Banyak hal yang dapat dipelajari dari kegiatan membaca buku yang pasti, pengetahuan dan wawasan saya menjadi bertambah.
Buku Ubah Lakon
Pengalaman membaca buku dan majalah yang sangat berkesan dan terus terang telah banyak membuat diri saya berubah total adalah ketika saya membaca sebuah buku yang dipinjemkan dari seorang sahabat bernama Wawan, (sekarang dia menjadi kasun di salah satu kantor di Kecamatan Watulimo). Saat itu, saya baru saja menyelesaikan pendidikan MTs di kota kelahiran saya. Buku yang saya baca tersebut berjudul “ISQ”, karya Ari Ginanjar Agustian
Rasanya buku itu adalah buku paling serius pertama yang pernah saya baca. Mula-mula saya bingung membaca buku semacam itu. Betapa tidak? Saya sebelumnya hanya terbiasa membaca buku pelajaran dan majalah olahraga dan belum pernah membaca buku semacam itu. Akhirnya buku tersebut saya baca berulang-ulang sambil mencoba menerapkan saran yang ada dalam buku tersebut.
Buku tersebut sangat menarik dan telah berhasil mengajak diri saya berubah. Banyak hal yang sangat berbeda dengan pengetahuan yang selam ini diberikan oleh orang tua saya mengenai bagaimana bergaul dengan orang lain, dan memberi pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan emosional menjadi hal yang luar biasa. Tetapi apa yang terdapat dalam buku yang sangat segar dan menggairahkan. Sejak saat itu, saya mulai berubah dalam pribadi saya. Yang dulunya, tidak menganggap menulis adalah sebuah hobbi, dan sekarang saya dalam benak terus selalu mengindahkan buku dan ada keinginan menjadi seorang wartawan.
Oleh sebab itu, bagiku buku adalah embrio kemajuan. Kegemaran membaca buku adalah mahkota peradaban. Dari membaca buku Remy Silado, aku menemukan kalimat begini: “Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya dan membacanya, maka dengan manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.”
Banyak teman dan tokoh yang menganjurkan untuk terus mengindahkan dan berteman dengan lembaran dan tumpukan buku (membacanya). “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Tulisan begawan Pramoedya Ananta Toer selaras dengan apa yang dikatakan oleh Remy Silado. Karena buku adalah jendela dunia. Berlumuran dengan buku lebih indah di diri kita sendiri.
Kesukaan menulis sebenarnya sudah dimulai sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Nah, itu sebuah catatan-catatan seharian dalam buku tulis. Dan kadangkala meringkas mata pelajaran. Walau hobbiku menulis hanyalah sekedar menulis dalam catatan mata pelajaran tetapi itu adalah batu loncatan terhadap dunia tulis, dan dalam pemilihan struktur kelas, saya tak segan untuk mengajukan diri menjadi sekretaris, tetap berbau menulis.
Menginjak MTs, saya tetap berkeinginan menjadi sekretaris kelas. Tidak jarang, kesukaanku menulis dimanfaatkan teman satu kelas, untuk merangkum tugas-tugas dari guru pelajaran. Saya ingat betul teman yang biasanya meminta bantuan tersebut adalah Aris, anak Margomulyo. Namun semua kegiatab menulis tersebut masih sekedar hobi dan bersifat insidental, tidak saya teruskan secara serius ketika masuk di kenjang SMK. Karena di SMK yang mayoritasnya anak cowok, dan tak ada seorang anak cewek, kecuali guru perempuan. Maklum saja, cita-cita saya ingin menjadi tentara jauh lebih menjanjikan dibandingkan menjadi seorang penulis. Malah, menjadi penulis tidak ada diurutan cita-cita di otakku. Demikian pandangan saya waktu itu yang menganggap profesi tentara lebih berwibawa dan bisa menjadi sandaran hidup.
Saya mencoba untuk menelusuri kehidupan saya setelah beberapa puluh tahun yang lalu, tetap ketika masih usia Sekolah Dasar sampai SMK. Saat itu, saya lebih suka menulis didepan papan tulis atau menjadi pendekte untuk teman-teman. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, latihan mengarahlah yang membuat saya setres. Mengapa? Kare na bagi saya waktu itu, mencari gagasan dan menuangkan ke atas kertas adalah pekerjaan yang sangat selit dan menjengkelkan. Namun demikian, saya tetap menyelesaikan dengan memutas imajinasi sewaktu perjalanan di suatu tempat.
Ketika memasuki MTs, saya mulai senang membaca. Kegiatan membaca tersebut kubangun diluar sekolah. Tetapi tetap, ketika di sekolah juga sering masuk di perpustakaan sekolah yang lakukan ketika jam istirahat datang, sewaktu istiharat saya habiskan di ruang perpustakaan. Sewaktu pulang sekolah budaya membaca juga terbangun, yaitu dengan membeli majalah olahraga, majalah bola dan soccer. Di balik aktifitas membaca majalah olahraga, saya geluti. Dan, tak jarang juga menyuruh Bapak untuk berburu mencari majalah dari loper koran yang menjual majalah tersebut. Dan penjual majalah tersebut masih belum tergantikan pekerjaan mulia tersebut, yaitu pak Gun.
Menurut saya, membaca buku atau majalah hidup terasa semakin bergairah. Pengalamna saya menjadi bertambah, tanpa harus daya mengalami kejadian yang saya baca. Saat membaca kisah tertentu atau kejadian tertentu, saya merasa hanyut ke dalam suasana saat itu terjadi. Pikiran saya menerawang kemana-mana, seolah-olah saya mengalami kejadian yang terdapat dalam cerita itu. Lantaran, kesukaanku membaca majalah olahraga, dalam benak, ingin rasanya menjadi seorang atlit sepakbola. Tetapi apalah daya tangan tak sampai? Bagi saya, hal tersebut merupakan pengalaman batin yang sangat mengasikkan. Banyak hal yang dapat dipelajari dari kegiatan membaca buku yang pasti, pengetahuan dan wawasan saya menjadi bertambah.
Buku Ubah Lakon
Pengalaman membaca buku dan majalah yang sangat berkesan dan terus terang telah banyak membuat diri saya berubah total adalah ketika saya membaca sebuah buku yang dipinjemkan dari seorang sahabat bernama Wawan, (sekarang dia menjadi kasun di salah satu kantor di Kecamatan Watulimo). Saat itu, saya baru saja menyelesaikan pendidikan MTs di kota kelahiran saya. Buku yang saya baca tersebut berjudul “ISQ”, karya Ari Ginanjar Agustian
Rasanya buku itu adalah buku paling serius pertama yang pernah saya baca. Mula-mula saya bingung membaca buku semacam itu. Betapa tidak? Saya sebelumnya hanya terbiasa membaca buku pelajaran dan majalah olahraga dan belum pernah membaca buku semacam itu. Akhirnya buku tersebut saya baca berulang-ulang sambil mencoba menerapkan saran yang ada dalam buku tersebut.
Buku tersebut sangat menarik dan telah berhasil mengajak diri saya berubah. Banyak hal yang sangat berbeda dengan pengetahuan yang selam ini diberikan oleh orang tua saya mengenai bagaimana bergaul dengan orang lain, dan memberi pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan emosional menjadi hal yang luar biasa. Tetapi apa yang terdapat dalam buku yang sangat segar dan menggairahkan. Sejak saat itu, saya mulai berubah dalam pribadi saya. Yang dulunya, tidak menganggap menulis adalah sebuah hobbi, dan sekarang saya dalam benak terus selalu mengindahkan buku dan ada keinginan menjadi seorang wartawan.
Oleh sebab itu, bagiku buku adalah embrio kemajuan. Kegemaran membaca buku adalah mahkota peradaban. Dari membaca buku Remy Silado, aku menemukan kalimat begini: “Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya dan membacanya, maka dengan manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.”
Banyak teman dan tokoh yang menganjurkan untuk terus mengindahkan dan berteman dengan lembaran dan tumpukan buku (membacanya). “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Tulisan begawan Pramoedya Ananta Toer selaras dengan apa yang dikatakan oleh Remy Silado. Karena buku adalah jendela dunia. Berlumuran dengan buku lebih indah di diri kita sendiri.
إرسال تعليق