Di siang hari yang cerah, pasangan sejoli ini sedang melakukan komunikasi jarak jauh. Mereka sms-an. Mereka saling lempar pertanyaan dan ucapan. Ucapan yang tidak bisa dihindari dari keduanya adalah perkara sepele. Mungkin tidak disuruh pun, ia akan melakukan sendiri: dari balik pesan itu sejoli itu melemparkan pertanyaan sederhana, tetapi pas untuk memulai hari. Pesan pendek itu adalah Lagi ngapain sampeyan? Sudah maem apa belum? Nanti sakit loh kalau tidak maem!
Ucapan-ucapan itu bermula saat-saat anak-anak yang baru akil baligh sedang kasmaran dengan telepon genggam. Baik anak-anak yang baru akil baligh, pasangan baru maupun yang sedang tak bisa memisahkan tangannya dengan alat komunikasi itu, mereka semua biasa menyapa teman dekat, gebetan, pacar dan bahkan selingkuhnya dengan pertanyaan itu. Siapa pun pasti mengucap dan bertanya demikian.
itu kalimat yang sangat sederhana tetapi penting untuk disampaikan. Diucapkan pun juga mudah sehingga bisa diakses oleh semua golongan. Tidak tua. Tidak muda. Pokoknya siapa pun mereka, pertanyaan sederhana tersebut adalah 'menu' wajib untuk mempertanyakan kondisi sesaat. Dan untuk mengawali dialek panjang di belakangnya. Ucapan dan pertanyaan itu tidak bisa terlupakan. Entah, karena dia sedang merajut cinta dan kasmaran, ya, ucapan itu menjadi hal yang tidak wajib, yang ucapkan sehari-hari via seluler atau viral.
Begitu juga yang dilakukan oleh kedua insan ini. Sebut saja Giant dan Lela (bukan nama sebenarnya dan sedang disamarkan). Giant adalah seorang anak muda yang masih belum lulus dari dari tempatnya menimba ilmu, di salah satu Perguruan Tinggi Swasta. Tetapi saat, ia bertekad untuk merampungkan pendidikannya, ternyata kampusnya bermasalah. Sebenarnya, ia mau diwisuda, eh kampusnya malah tersandung kasus dan di-non-aktif-kan. Giant pun tidak jadi lulus tahun ini. Ia memilih opsi untuk lulus tahun depan sembari mencari kerja sekenanya.
Sedangkan Lela adalah seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Islam yang tak jauh dari dari rumahnya. Lela termasuk salah satu mahasiswi yang pandai. Ia sejak kuliah Strata satu tidak mengeluarkan biaya sepeser pun dari kantongnya untuk bayar SPP atau kelengkapan administrasi lainnya. Sebab, ia mendapat beasiswa dari Kemenag (Kementerian yang membawahi Departeman Agama, kampus Islam. Tempatnya menuntut ilmu itu).
Waktu meraih gelar sarjana, ia mendapat beasiswa karena mendapat predikat sam cumluade di jurusannya. Sehingga ia mendapat kesempatan lain dalam melanjutkan pendidikannya di kampus yang sama. Sebab itu, ia melenggang dengan mulus untuk menyempurkan misi untuk "dibayari" oleh kampus. Kuliahnya tak dipungut biaya alias gratis, tis-tissssss. Itu artinya, predikat ia sedang mengincar misi-misi yang tak terduga yang sebelumnya tak ia pikirkan.
Jadi, Lela selama menempuh bangku perkuliahan, ia tidak mengeluarkan uang repes pun untuk melunasi administrasinya dalam pendidikannya. Paling-paling ia mengeluarkan pulusnya hanya tugas, semacam print makalah dan penggandaan makalah tersebut.
Meskipun berbeda jurusan, kuliah, strata dan perguruan, mereka tampak kompak dan saling membantu satu sama lain. Kalau ada 'garapan' atau tugas dari dosennya masing-masing. Tugasnya selalu dikerjakan bareng-bareng (itupun kalau keduanya tidak terpisahkan dengan aktivitasnya masing-masing). Sesekali ketika Lela sedang sibuk, tugasnya itu dilempar ke Giant. Begitu juga sebaliknya, ketika Giant sedang banyak orderan kegiatan, Lela lah yang mengerjakan.
Tetapi yang paling banyak luputnya, tidak mengerjakan adalah si Lela tersebut. Jadi, Giant mengerjakan tugas pasca Lela.
Ini menarik, bayangkan, si Giant yang sampai sekarang tidak wisuda-wisuda mampu mengerjakan tugas pasca sarjannya si doinya. Misal tugas makalah dari mata kuliah si Lela. Dengan skill yang pernah dimiliki di bangku perkuliahan S1, ia mengerjakan makalah si Lela. Kemampuan yang rendah, Giant sangat PeDe mengerjakan garapan makalah S2.
Beberapa hari Giant menghadap Laptop bututnya. Sesekali membalik-balikan lembaran buku yang ia miliki. Referensi dalam Pascasarjana minimal harus sepuluh buku. Bayangkan dari Giant yang beda jurusan tersebut mampu menyulap makalah tersebut begitu mempesona. Ia menjadi ghost writer makalah bagi si doinya. Ghost writer bukan yang ada di media-media massa loh, ya. Ghost writer ini tidak ada angggarannya, alias gratisan. Heemss, ngarep amat sich dapet sesuatu dari si doi. hehehe..
Giant adalah tipe yang tidak bisa-an bisa dimintai pertolongan sama anak cewek. Apalagi doi-nya sendiri. Ia paling tidak enak itu menolak tawaran bantuan dari si doi. Kalau tidak dituruti dicap tidak setia. Kalau diterima, maka ia akan tidak mandiri, ia berdiri di kaki sendiri. Kalau terus-terusan nanti jadi tidak bisa mengerjakan dan waktu tesis seperti kena bomerang sendiri. Tidak bisa mengerjakan proposal dan tesisi waktu tesis-an. Giant jadi serba bingung. Serba salah. Alah, lupakan masalah bingung si Giant. Ya, itu memang konsekuensi seseorang yang terlalu manja, tidak mau berusaha sendiri.
Lalu, bagaimana hasil garapan si Giant terkait makalah si Lela itu? Hahaha. Bisa dibuktikan. Pasti hancur berkeping-keping. Banyak kripik, eh kritik yang di sana-sini. Dihujat. Dicaci. Ditelanjangi. Dihabiskan oleh para mahasiswa pascasarjana beneran. (eeitss, jangan berpikiran kalau Lela bukan mahasiswa beneran. Ingat, Lela masuk di Pasca melalui program beasiswa, sum cumluade. Jadi, Lela ya mahasiswa beneran, tidak abal-abal lagi).
Tibalah waktu yang di nanti-nanti si Lela untuk presentasi di hadapan para mahasiswa beneran (emangnya hanya ijasah saja yang abal-abal?) Si Giant pun harap-harap cemas, menunggu hasil kerajianan tangan makalah yang dikerjakannya.
Dua jam setelah kejadian perkara tampil mempresentasikan makalah, si Lela lapor ke pos keamanan via Whatsapp bahwa makalah garapan Giant mendapat pujian dari dosen pengampu mata kuliah tersebut.
"Beb, makalah yang sampeyan buatkan dihlem, dipuji," kata Lela di ujung Whatsapp sana.
"Dihlem sama apa? Kastrol apa lem rajawali? Pungkas Giant gaya medok khas, seraya tidak menampakkan kesan senang.
"Mboh." Balas si Lela.
"Dihlem, dipuji. Katanya, makalah yang sampeyan buatkan bagus, sedikit kritikan." Lanjutnya via media seluler itu.
"Alhamdulillah, ternyata kuliah di jurusan yang tidak bonafide dan tidak sinkron dengan jurusan sampeyan, aku bisa membuat makalah S2," timpal si Giant di ujung whatsapp.
Membuat makalah S2 rasah bayaaarr, eh rasa S1 itu luar biasa loh, ya, mblo. Buktinya, makalah S2 bisa dilahap oleh si Giant. Menjadi ghost writer si doi itu lebih bonafide dibanding kampus yang lagi non-aktif itu. Persetan kampus yang 243 yang lagi kesandung kasus itu. Ternyata mahasiswa S1 itu tidak kalah jika diadu soal membuat makalah.
Daaaannnn,,,,, dibalik keruwetan kampus yang tersandung kasus, dan tugas-tugas dari kampus Lela. Yang lebih penting dari itu semua adalah berduaan memang lebih enak dari pada bertigaan. []
Ucapan-ucapan itu bermula saat-saat anak-anak yang baru akil baligh sedang kasmaran dengan telepon genggam. Baik anak-anak yang baru akil baligh, pasangan baru maupun yang sedang tak bisa memisahkan tangannya dengan alat komunikasi itu, mereka semua biasa menyapa teman dekat, gebetan, pacar dan bahkan selingkuhnya dengan pertanyaan itu. Siapa pun pasti mengucap dan bertanya demikian.
itu kalimat yang sangat sederhana tetapi penting untuk disampaikan. Diucapkan pun juga mudah sehingga bisa diakses oleh semua golongan. Tidak tua. Tidak muda. Pokoknya siapa pun mereka, pertanyaan sederhana tersebut adalah 'menu' wajib untuk mempertanyakan kondisi sesaat. Dan untuk mengawali dialek panjang di belakangnya. Ucapan dan pertanyaan itu tidak bisa terlupakan. Entah, karena dia sedang merajut cinta dan kasmaran, ya, ucapan itu menjadi hal yang tidak wajib, yang ucapkan sehari-hari via seluler atau viral.
Begitu juga yang dilakukan oleh kedua insan ini. Sebut saja Giant dan Lela (bukan nama sebenarnya dan sedang disamarkan). Giant adalah seorang anak muda yang masih belum lulus dari dari tempatnya menimba ilmu, di salah satu Perguruan Tinggi Swasta. Tetapi saat, ia bertekad untuk merampungkan pendidikannya, ternyata kampusnya bermasalah. Sebenarnya, ia mau diwisuda, eh kampusnya malah tersandung kasus dan di-non-aktif-kan. Giant pun tidak jadi lulus tahun ini. Ia memilih opsi untuk lulus tahun depan sembari mencari kerja sekenanya.
Sedangkan Lela adalah seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Islam yang tak jauh dari dari rumahnya. Lela termasuk salah satu mahasiswi yang pandai. Ia sejak kuliah Strata satu tidak mengeluarkan biaya sepeser pun dari kantongnya untuk bayar SPP atau kelengkapan administrasi lainnya. Sebab, ia mendapat beasiswa dari Kemenag (Kementerian yang membawahi Departeman Agama, kampus Islam. Tempatnya menuntut ilmu itu).
Waktu meraih gelar sarjana, ia mendapat beasiswa karena mendapat predikat sam cumluade di jurusannya. Sehingga ia mendapat kesempatan lain dalam melanjutkan pendidikannya di kampus yang sama. Sebab itu, ia melenggang dengan mulus untuk menyempurkan misi untuk "dibayari" oleh kampus. Kuliahnya tak dipungut biaya alias gratis, tis-tissssss. Itu artinya, predikat ia sedang mengincar misi-misi yang tak terduga yang sebelumnya tak ia pikirkan.
Jadi, Lela selama menempuh bangku perkuliahan, ia tidak mengeluarkan uang repes pun untuk melunasi administrasinya dalam pendidikannya. Paling-paling ia mengeluarkan pulusnya hanya tugas, semacam print makalah dan penggandaan makalah tersebut.
Meskipun berbeda jurusan, kuliah, strata dan perguruan, mereka tampak kompak dan saling membantu satu sama lain. Kalau ada 'garapan' atau tugas dari dosennya masing-masing. Tugasnya selalu dikerjakan bareng-bareng (itupun kalau keduanya tidak terpisahkan dengan aktivitasnya masing-masing). Sesekali ketika Lela sedang sibuk, tugasnya itu dilempar ke Giant. Begitu juga sebaliknya, ketika Giant sedang banyak orderan kegiatan, Lela lah yang mengerjakan.
Tetapi yang paling banyak luputnya, tidak mengerjakan adalah si Lela tersebut. Jadi, Giant mengerjakan tugas pasca Lela.
Ini menarik, bayangkan, si Giant yang sampai sekarang tidak wisuda-wisuda mampu mengerjakan tugas pasca sarjannya si doinya. Misal tugas makalah dari mata kuliah si Lela. Dengan skill yang pernah dimiliki di bangku perkuliahan S1, ia mengerjakan makalah si Lela. Kemampuan yang rendah, Giant sangat PeDe mengerjakan garapan makalah S2.
Beberapa hari Giant menghadap Laptop bututnya. Sesekali membalik-balikan lembaran buku yang ia miliki. Referensi dalam Pascasarjana minimal harus sepuluh buku. Bayangkan dari Giant yang beda jurusan tersebut mampu menyulap makalah tersebut begitu mempesona. Ia menjadi ghost writer makalah bagi si doinya. Ghost writer bukan yang ada di media-media massa loh, ya. Ghost writer ini tidak ada angggarannya, alias gratisan. Heemss, ngarep amat sich dapet sesuatu dari si doi. hehehe..
Giant adalah tipe yang tidak bisa-an bisa dimintai pertolongan sama anak cewek. Apalagi doi-nya sendiri. Ia paling tidak enak itu menolak tawaran bantuan dari si doi. Kalau tidak dituruti dicap tidak setia. Kalau diterima, maka ia akan tidak mandiri, ia berdiri di kaki sendiri. Kalau terus-terusan nanti jadi tidak bisa mengerjakan dan waktu tesis seperti kena bomerang sendiri. Tidak bisa mengerjakan proposal dan tesisi waktu tesis-an. Giant jadi serba bingung. Serba salah. Alah, lupakan masalah bingung si Giant. Ya, itu memang konsekuensi seseorang yang terlalu manja, tidak mau berusaha sendiri.
Lalu, bagaimana hasil garapan si Giant terkait makalah si Lela itu? Hahaha. Bisa dibuktikan. Pasti hancur berkeping-keping. Banyak kripik, eh kritik yang di sana-sini. Dihujat. Dicaci. Ditelanjangi. Dihabiskan oleh para mahasiswa pascasarjana beneran. (eeitss, jangan berpikiran kalau Lela bukan mahasiswa beneran. Ingat, Lela masuk di Pasca melalui program beasiswa, sum cumluade. Jadi, Lela ya mahasiswa beneran, tidak abal-abal lagi).
Tibalah waktu yang di nanti-nanti si Lela untuk presentasi di hadapan para mahasiswa beneran (emangnya hanya ijasah saja yang abal-abal?) Si Giant pun harap-harap cemas, menunggu hasil kerajianan tangan makalah yang dikerjakannya.
Dua jam setelah kejadian perkara tampil mempresentasikan makalah, si Lela lapor ke pos keamanan via Whatsapp bahwa makalah garapan Giant mendapat pujian dari dosen pengampu mata kuliah tersebut.
"Beb, makalah yang sampeyan buatkan dihlem, dipuji," kata Lela di ujung Whatsapp sana.
"Dihlem sama apa? Kastrol apa lem rajawali? Pungkas Giant gaya medok khas, seraya tidak menampakkan kesan senang.
"Mboh." Balas si Lela.
"Dihlem, dipuji. Katanya, makalah yang sampeyan buatkan bagus, sedikit kritikan." Lanjutnya via media seluler itu.
"Alhamdulillah, ternyata kuliah di jurusan yang tidak bonafide dan tidak sinkron dengan jurusan sampeyan, aku bisa membuat makalah S2," timpal si Giant di ujung whatsapp.
Membuat makalah S2 rasah bayaaarr, eh rasa S1 itu luar biasa loh, ya, mblo. Buktinya, makalah S2 bisa dilahap oleh si Giant. Menjadi ghost writer si doi itu lebih bonafide dibanding kampus yang lagi non-aktif itu. Persetan kampus yang 243 yang lagi kesandung kasus itu. Ternyata mahasiswa S1 itu tidak kalah jika diadu soal membuat makalah.
Daaaannnn,,,,, dibalik keruwetan kampus yang tersandung kasus, dan tugas-tugas dari kampus Lela. Yang lebih penting dari itu semua adalah berduaan memang lebih enak dari pada bertigaan. []
Jangan jangan ghost nya mas sendiri nih? He he
ردحذفEh saya sendiri sekarang juga melakukan itu, kuliah bahasa Inggris namun mengerjakan pesanan skripsi olahraga, masih sama S1 nya sih..eh malahan dapat bagus katanya. Saya hanyalah bermodal YouTube untuk menyelesaikan nya.
Hahha masak saya sendiri? Saya bisa apa?
ردحذفWah mantap tuh bisa jadi Ghost Writer. Bisa jadi kerjaan sampingan dong
Kalau selain olahraga saya tidak berani 😂
ردحذفHahahaha... Alasannya?
ردحذفYang lain banyak hitungan njlimetnya
ردحذفItu ceritanya mas Rohim lagi pake mukena?kok fotonya agak serem ya?
ردحذفJadi inget cerita temenku yang GW dan dia menyebutkan beberapa nama beken yang ternyata karyanya dihasilkan oleh GW juga. Aku kaget, bengong dan gak percaya. Ya, susah buat percaya emang, apalagi kalau gak menyimak langsung dari penutur aslinya hehe
ردحذفNjlimet gimana?? Kan makalahnya sama konsepnya...
ردحذفMasak ceritaku? Haduh... Kira-kira sesuai ya dengan cerita saya? Hehehe...
ردحذفSerem? Biar kaya Ghost.. Hehehe
Itu untuk keperluan apa mas?
ردحذفإرسال تعليق