Masa muda adalah masa yang paling indah. Ya, karena masa muda adalah masa di mana kita dipenuhi asa dan cita. Begitu banyak waktu yang masih dipunyai anak muda. Begitu besar energi yang dimiliki anak muda. Karena masa muda adalah masa masa ‘emas’. Ibarat batu, masa muda adalah waktunya mengasah bongkahan batu menjadi berlian yang bernilai tinggi.
Sebab, masa muda adalah tempat untuk mencurahkan cita (keinginan) dan asa (harapan). Ketika cita begitu keukeuh dan asa amat menggelora, pastilah kebahagiaan terasa nyata. Begitupun sebaliknya, apabila cita dan asa tidak berjalan, maka hidup terasa kering kerontang dan menyesakkan dada.
Kita, anak muda Indonesia yang hidup di era modern dengan berbagai kenyamanan dan kemudahan fasilitas yang serba cepat. Kendati demikian, kita tidak boleh stagnasasi, terlena dan dininabobokan dengan fasilitas itu. Muda harus bergerak. Bergerak untuk berkarya. Berkarya sesuai dengan bidang masing-masing.
Namun yang terjadi sekarang, banyak generasi muda yang tidak memiliki semangat seperti yang dilakukan oleh pemuda zaman dahulu. Banyak anak muda yang terjerumus pada lembah hitam dunia narkoba hingga tersandung kasusu korupsi. Hal ini merepresentasikan tidak memiliki spirit muda, seperti anak muda di era orde baru maupun semangat berdikari dalam diri Muhammad muda.
Kesuksesan seseorang tidak lahir begitu saja tanpa memiliki pribadi yang baik. Mereka, para generasi muda harus memiliki sifat dan karakter: mandiri, jujur, bertanggung jawab, cerdas, rendah hati, komunikatif, visioner, disiplin tinggi, peduli sesama.
Memiliki kepercayaan dan kejujuran pada diri sendiri itu memang penting. Karena, seseorang yang mau sukses harus bangga dengan dirinya sendiri. Pasalnya, mempunyai pribadi yang tampil apa adanya itu membentuk karakter dalam jiwa. Tampil apa adanya tanpa embel-embel orang lain di belakangnya. Hal ini pernah dialami oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. Suatu ketika selepas terpilih menjadi program pertukaran pelajar ke Jepang melalui program ASEAN-AFS 2006. Ketika ditanya oleh pengurus AFS dengan pertanyaan, “siapa yang pernah naik pesawat?”, delapan dari sembilan orang yang ada, sigap mengacungkan jari. Namun ketika ditanya, siapa yang siap menjadi ketua group dari keberangkatan kelompok itu, si anak Garut ini dengan lantang mengangkat tangannya. Dan berujar, “saya sudah terbiasa menjadi pemimpin, minimal mempin diri sendiri tanpa kehadiran seorang ayah selama delapan tahun lamanya.” Itulah kisah Si Anak yatim dari Garut ini mengejar prestasi sehingga ia mampu mendapatkan beasiswa melalang-buana ke negara-negara tetangga.
Karena manusia adalah mahluk sosial yang fitrahnya baik, maka satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Kita semua saling terikat dan saling membutuhkan. Maka dengan jiwa muda kita harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Fitrah manusia adalah baik. Maka, ketika terjadi bencana, fitrah kita kembali untuk melakukan hal-hal yang baik pula untuk menolongnya. Itulah mengapa Sri “Cici Tegal” Wahyuni, Sandi Hidayat, dan kang Ading berkomitmen menjadi relawan dalam kemanusiaan bersama para relawan lainnya di Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Lalu, soal inspirasi dan suri tauladan, kita tidak bisa memandang sebelah mata dengan figur yang sangat luar biasa ini, Muhammad SAW. Beliau sedari muda telah mengalami peristiwa dan pengalaman yang tidak enak. Semasa dalam kandungan, ia telah ditinggal Ayahandanya, Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal dunia. Selang usia lima tahun, ia menjadi Yatim-Piatu. Sang ibundanya, Aminah wafat. Kemudian, beliau diasuh oleh kakeknya, namun hubungan kakek-cucu ini tidak berlangsung lama. baru dua tahun kebersamaanitu terjalin, Abdul Muthalib pun menemui ajalnya dalam usia 80 tahun. Sehingga ia pun diasung oleh pamannya, Abu Thalib.
Dari tempaan itu, Muhammad Muda menjadi mandiri. Kemandirian Muhammad terbukti di usia remajanya memperlihatkan bahwa Beliau bukan sosok remaja yang manja dan menggantungkan nasib pada budi baik keluarga pamannya. Di usianya yang masih belia, Muhammad ikut menyingsingkan lengan baju dan bekerja keras untuk mendapatkan nafkah hidup. Pekerjaan apapun ia lakoni, (hal. 63).
Beliau pernah menjadi penggembala dan terbiasa mengurus ternak kalangan Bani Saad. Di usia 12 tahun, Muhammad telah berdagang ke Suriah dan kota-kota lain di sekitar Mekkah. Pengalaman berdagangnya kian terasah seiring usianya yang beranjak dewasa. Pada usia 16 tahun, pergaulan Muhammad semakin meluas dan interasi sosial dengan masyarakat Makkah dan di luar Makkah. Hingga di usianya 25 tahun, Muhammad menuai puncak keemasan menjadi business owner, yang dikelola bersama istri tercintanya, Khadijah.
Muhammad sewaktu muda berdiri dengan sosok dirinya sendiri. Bukan hadir karena orang lain, apalagi orang tuanya. Muhammad sedari kecil telah dicoba dengan peristiwa duka (berkabung) yang begitu mendalam. Pendek kata, Muhammad sukses dengan mind set yang kokoh lantaran ia jujur dengan dirinya sendiri. Beliau hadir dari tempaan dirinya sendiri. Muhammad muda pun memiliki track record yang luar biasa di segala bidang. Beliau adalah seorang filsuf, orator, rasul, legislator, pemimpin militer, negosiator, pembaharu, dan pemimpin dengan gelar ‘al-Amin’.
Kehebatan Muhammad telah diakui dunia. Negarawan sekaligus sastrawan Perancis pun menulis tentang figur multi talent ini. “Dengan memperhatikan semua standart ukuran kehebatan manusia, kita bisa bertanya, apakah ada orang yang lebih hebat dari dia? Dia adalah filsuf, orator, rasul, legislator, pemimpin militer, negosiator, pembaharu, pemimpin keagamaan, pendiri lebih dari 20 tahun wilayah negara berasas spiritual. Dialah Muhammad SAW.” (Alphonse de Lamartine, Paris: 1854). (hal. 52).
Mutiara keteladanan Muhammad (muda) sama sekali menara gading pencapaian, justru Hilman dalam buku yang berjudul Muhammad Muda Gue Banget!, justru mengabdikan dirinya untuk memotivasi dan menginspirasi kaum muda. Buku ini menyuguhkan sudut pandang yang segar tentang kawula muda. Dan selayaknya, pemuda melangkahkan kakinya mengisi hari-harinya dengan penuh energi dan spirit muda yang menggelora. []
Judul Buku : Muhammad Muda, Gue Banget!; 9 Mutiara Keteladanan Nabi Muhammad SAW Untuk Anak Muda
Penulis : Hilman Fauzi
Penerbit : ByPass, Bogor
Tebal : iv + 240 hal.
Cetakan : II, Juni 2015
ISBN : (13) 978-602-1667-08-8
Sebab, masa muda adalah tempat untuk mencurahkan cita (keinginan) dan asa (harapan). Ketika cita begitu keukeuh dan asa amat menggelora, pastilah kebahagiaan terasa nyata. Begitupun sebaliknya, apabila cita dan asa tidak berjalan, maka hidup terasa kering kerontang dan menyesakkan dada.
Kita, anak muda Indonesia yang hidup di era modern dengan berbagai kenyamanan dan kemudahan fasilitas yang serba cepat. Kendati demikian, kita tidak boleh stagnasasi, terlena dan dininabobokan dengan fasilitas itu. Muda harus bergerak. Bergerak untuk berkarya. Berkarya sesuai dengan bidang masing-masing.
Namun yang terjadi sekarang, banyak generasi muda yang tidak memiliki semangat seperti yang dilakukan oleh pemuda zaman dahulu. Banyak anak muda yang terjerumus pada lembah hitam dunia narkoba hingga tersandung kasusu korupsi. Hal ini merepresentasikan tidak memiliki spirit muda, seperti anak muda di era orde baru maupun semangat berdikari dalam diri Muhammad muda.
Kesuksesan seseorang tidak lahir begitu saja tanpa memiliki pribadi yang baik. Mereka, para generasi muda harus memiliki sifat dan karakter: mandiri, jujur, bertanggung jawab, cerdas, rendah hati, komunikatif, visioner, disiplin tinggi, peduli sesama.
Memiliki kepercayaan dan kejujuran pada diri sendiri itu memang penting. Karena, seseorang yang mau sukses harus bangga dengan dirinya sendiri. Pasalnya, mempunyai pribadi yang tampil apa adanya itu membentuk karakter dalam jiwa. Tampil apa adanya tanpa embel-embel orang lain di belakangnya. Hal ini pernah dialami oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. Suatu ketika selepas terpilih menjadi program pertukaran pelajar ke Jepang melalui program ASEAN-AFS 2006. Ketika ditanya oleh pengurus AFS dengan pertanyaan, “siapa yang pernah naik pesawat?”, delapan dari sembilan orang yang ada, sigap mengacungkan jari. Namun ketika ditanya, siapa yang siap menjadi ketua group dari keberangkatan kelompok itu, si anak Garut ini dengan lantang mengangkat tangannya. Dan berujar, “saya sudah terbiasa menjadi pemimpin, minimal mempin diri sendiri tanpa kehadiran seorang ayah selama delapan tahun lamanya.” Itulah kisah Si Anak yatim dari Garut ini mengejar prestasi sehingga ia mampu mendapatkan beasiswa melalang-buana ke negara-negara tetangga.
Karena manusia adalah mahluk sosial yang fitrahnya baik, maka satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Kita semua saling terikat dan saling membutuhkan. Maka dengan jiwa muda kita harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Fitrah manusia adalah baik. Maka, ketika terjadi bencana, fitrah kita kembali untuk melakukan hal-hal yang baik pula untuk menolongnya. Itulah mengapa Sri “Cici Tegal” Wahyuni, Sandi Hidayat, dan kang Ading berkomitmen menjadi relawan dalam kemanusiaan bersama para relawan lainnya di Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Lalu, soal inspirasi dan suri tauladan, kita tidak bisa memandang sebelah mata dengan figur yang sangat luar biasa ini, Muhammad SAW. Beliau sedari muda telah mengalami peristiwa dan pengalaman yang tidak enak. Semasa dalam kandungan, ia telah ditinggal Ayahandanya, Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal dunia. Selang usia lima tahun, ia menjadi Yatim-Piatu. Sang ibundanya, Aminah wafat. Kemudian, beliau diasuh oleh kakeknya, namun hubungan kakek-cucu ini tidak berlangsung lama. baru dua tahun kebersamaanitu terjalin, Abdul Muthalib pun menemui ajalnya dalam usia 80 tahun. Sehingga ia pun diasung oleh pamannya, Abu Thalib.
Dari tempaan itu, Muhammad Muda menjadi mandiri. Kemandirian Muhammad terbukti di usia remajanya memperlihatkan bahwa Beliau bukan sosok remaja yang manja dan menggantungkan nasib pada budi baik keluarga pamannya. Di usianya yang masih belia, Muhammad ikut menyingsingkan lengan baju dan bekerja keras untuk mendapatkan nafkah hidup. Pekerjaan apapun ia lakoni, (hal. 63).
Beliau pernah menjadi penggembala dan terbiasa mengurus ternak kalangan Bani Saad. Di usia 12 tahun, Muhammad telah berdagang ke Suriah dan kota-kota lain di sekitar Mekkah. Pengalaman berdagangnya kian terasah seiring usianya yang beranjak dewasa. Pada usia 16 tahun, pergaulan Muhammad semakin meluas dan interasi sosial dengan masyarakat Makkah dan di luar Makkah. Hingga di usianya 25 tahun, Muhammad menuai puncak keemasan menjadi business owner, yang dikelola bersama istri tercintanya, Khadijah.
Muhammad sewaktu muda berdiri dengan sosok dirinya sendiri. Bukan hadir karena orang lain, apalagi orang tuanya. Muhammad sedari kecil telah dicoba dengan peristiwa duka (berkabung) yang begitu mendalam. Pendek kata, Muhammad sukses dengan mind set yang kokoh lantaran ia jujur dengan dirinya sendiri. Beliau hadir dari tempaan dirinya sendiri. Muhammad muda pun memiliki track record yang luar biasa di segala bidang. Beliau adalah seorang filsuf, orator, rasul, legislator, pemimpin militer, negosiator, pembaharu, dan pemimpin dengan gelar ‘al-Amin’.
Kehebatan Muhammad telah diakui dunia. Negarawan sekaligus sastrawan Perancis pun menulis tentang figur multi talent ini. “Dengan memperhatikan semua standart ukuran kehebatan manusia, kita bisa bertanya, apakah ada orang yang lebih hebat dari dia? Dia adalah filsuf, orator, rasul, legislator, pemimpin militer, negosiator, pembaharu, pemimpin keagamaan, pendiri lebih dari 20 tahun wilayah negara berasas spiritual. Dialah Muhammad SAW.” (Alphonse de Lamartine, Paris: 1854). (hal. 52).
Mutiara keteladanan Muhammad (muda) sama sekali menara gading pencapaian, justru Hilman dalam buku yang berjudul Muhammad Muda Gue Banget!, justru mengabdikan dirinya untuk memotivasi dan menginspirasi kaum muda. Buku ini menyuguhkan sudut pandang yang segar tentang kawula muda. Dan selayaknya, pemuda melangkahkan kakinya mengisi hari-harinya dengan penuh energi dan spirit muda yang menggelora. []
Judul Buku : Muhammad Muda, Gue Banget!; 9 Mutiara Keteladanan Nabi Muhammad SAW Untuk Anak Muda
Penulis : Hilman Fauzi
Penerbit : ByPass, Bogor
Tebal : iv + 240 hal.
Cetakan : II, Juni 2015
ISBN : (13) 978-602-1667-08-8
إرسال تعليق