Beberapa hari ini, saya membaca akun Facebook yang isinya tentang posting-an atau update status ajakan untuk membudayakan menulis. Menulis bagi yang sudah lama mengetahui seluk beluk dalam dunia literasi sedikit mudah. Mudah karena sudah terbiasa dan kebiasaan. Karena bagaimanapun menulis didasari kemauan dan ketelatenan dari dalam diri. Secara presentase, seorang penulis yang memiliki bakat menulis hanya berapa % saja. Lainnya adalah karena kesediannya dalam menggerakan tangan dan pikirannya setiap hari serta adanya kesempatan yang dimilikinya. Selain telaten dan punya kemauan untuk menulis, ya akan menuai hasilnya.
Saya jadi teringat pepatah yang sering begitu legendaris, dari dulu hingga sekarang masih tentang jadi senjata wejangan orangtua kepada anak-anaknya. Dan pepatah ini menggema di sanubari saya lagi, “hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”. Saya kira, pepatah tersebut masih berlaku hingga sekarang.
Apabila kita hemat dalam, dalam hal ini hemat waktu yang tidak bermanfaat, maka kita juga akan kaya peluang, kesempatan maupun kaya yang tak sempat kita lakukan saat kita sibuk (?). Karena saya berbicara tentang dunia literasi, maka "kekayaan" ataupun kesempatan menulis itu akan semakin besar. Selain tentunya kaya akan wawasan dan karya nyata (tulisan dan buku). Kesempatan itu akan membawa kita pada sebuah tulisan dan kita mengusai tulisan sesuai dengan genre yang kita sukai dan kita kuasai. Baik kita pandai menulis dalam genre fiksi atau nonfiksi.
Tulisan ini, saya kira sangat memotivasi diri saya sendiri untuk tetap bertahan dan terus belajar menulis hingga menulis yang baik dan benar. Ya, menulis harus dibangun dalam diri. Dalam jejaring sosial, seperti Facebook, Blog, maupun portal online dewasa ini sudah banyak sekali yang memanfaatkannya untuk media menulis dengan basis status dan bahkan sebagai media untuk mempublikasikan tulisannya yang sudah dihasilkan.
Dengan adanya Facebook, Blog maupun portal Online, orang yang ingin “belajar” menulis, saya rasa sangat terbantu sekali. Meski tahap belajar, berani dan mau menulis itu merupakan usaha yang sangat luar biasa. Saya membaca dan mengikuti seorang penulis yang setiap hari menulis di status Facebook-nya, hingga ia menerbitkan tulisan dari tulisan yang ia tulis di Facebook. Hingga penulis tersebut akhirnya menginspirasi para penulis-penulis muda maupun penulis pemula. Lantaran beberapa penulis yang sudah lama malang melintang dalam dunia kepenulisan beberapa kali memotivasi seseorang lewat tulisan-tulisan yang ia hasilkan.
"Jika kita tidak mencoba, maka kita telah membuat kesalahan." Simon Bolivar
Beberapa orang telah menulis dengan bentuk catatan ataupun status. Dari orang yang sudah terjun dahulu dalam dunia menulis, kiranya sudah banyak bahan yang diketahui. Sehingga seorang penulis dengan mudah bisa memotivasi dan menyalurkan bakat dan minat dalam dunia tulis-menulis.<
Saya pribadi banyak belajar dan termotivasi dari tulisan-tulisan mereka. Jika tak sebut, nama-namanya bakal menghabiskan space tulisan ini. Mereka bagi saya sangat luar biasa. Bermula dari tulisan yang diunggah itu tidak sedikit yang mengikuti dan juga ikut menulis. Ini bagi saya pribadi merupakan virus yang penting jika terus disebarkan.
Jika kita masih sering melihat dan membaca status-status remeh temeh, tidak sedikit dari beberapa tulisan status jejaring sosial tersebut juga menginspirasi. Meski sebagian besar tulisan itu bermula hal-hal sederhana, misal peengalamannya membaca, pengalamannya saat mereka naik bis, pesawat maupun pengalamannya berkunjung dari suatu tempat merupakan hal yang luar biasa.
Pengalaman-pengalaman itu dan catatan-catatan itu terus ditulis maka dijadikan karya. Selain itu ada beberapa akun Facebook yang memberikan undangan pelatihan menulis dan perihal lomba menulis. Hadiahnya bisa dibilang “wauow”. Undangan-undangan menulis yang tertera di media sosial tersebut, sangat menggerakkan seseorang untuk mengasah berani menulis, menulis dan menulis. Keberanian menulis ini merupakan modal yang bagus untuk meningkatkan kualitas dan keberaniannya dalam mengeksplor wawasannya dan pengetahuan menulisnya.
Dari status media sosial tersebut sangat memprovokasi saya untuk ikut dan bergerak menulis. “Jika kita tidak mencoba, maka kita telah membuat kesalahan,” demikian pesan Simon Bolivar, apabila seorang ilmuan saja sudah mengatakan seperti itu. Maka kita pun semakin salah dan salah besar ketika kita tidak melakukan dan mencoba untuk belajar menulis dan terus menulis.
Banyak postingan yang menganjurkan untuk menulis. Entah itu, lomba membuat puisi, novel, diksi maupun nondiksi, skenario, maupun naskah. Ya, “gerakan ayo menulis”. Gerakan ayo menulis seharusnya dilakukan setiap hari, sebab menulis tak ubahnya seperti orang mau belajar berjalan dan banyak gerakan dan terus menempa diri untuk terus berlatih berjalan walau tertitah-titah.
Asupan tersebut berupa bacaan. Entah bacaan yang serius maupun yang bergenre lucu, tak ada masalah untuk dilahap semua. Membaca buku adalah asupan yang sepatutnya terus dilakukan setiap hari dan setiap saat. Karena menulis juga membutuh energi masukan dalam otak kita dan beberapa referensi karya tersebut. Sehingga budaya “gerakan ayo menulis” seharusnya dilakukan seimbang antara menulis dan membaca. Sebab menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang terus dilakukan seorang penulis.[]
Saya jadi teringat pepatah yang sering begitu legendaris, dari dulu hingga sekarang masih tentang jadi senjata wejangan orangtua kepada anak-anaknya. Dan pepatah ini menggema di sanubari saya lagi, “hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”. Saya kira, pepatah tersebut masih berlaku hingga sekarang.
Apabila kita hemat dalam, dalam hal ini hemat waktu yang tidak bermanfaat, maka kita juga akan kaya peluang, kesempatan maupun kaya yang tak sempat kita lakukan saat kita sibuk (?). Karena saya berbicara tentang dunia literasi, maka "kekayaan" ataupun kesempatan menulis itu akan semakin besar. Selain tentunya kaya akan wawasan dan karya nyata (tulisan dan buku). Kesempatan itu akan membawa kita pada sebuah tulisan dan kita mengusai tulisan sesuai dengan genre yang kita sukai dan kita kuasai. Baik kita pandai menulis dalam genre fiksi atau nonfiksi.
Tulisan ini, saya kira sangat memotivasi diri saya sendiri untuk tetap bertahan dan terus belajar menulis hingga menulis yang baik dan benar. Ya, menulis harus dibangun dalam diri. Dalam jejaring sosial, seperti Facebook, Blog, maupun portal online dewasa ini sudah banyak sekali yang memanfaatkannya untuk media menulis dengan basis status dan bahkan sebagai media untuk mempublikasikan tulisannya yang sudah dihasilkan.
Dengan adanya Facebook, Blog maupun portal Online, orang yang ingin “belajar” menulis, saya rasa sangat terbantu sekali. Meski tahap belajar, berani dan mau menulis itu merupakan usaha yang sangat luar biasa. Saya membaca dan mengikuti seorang penulis yang setiap hari menulis di status Facebook-nya, hingga ia menerbitkan tulisan dari tulisan yang ia tulis di Facebook. Hingga penulis tersebut akhirnya menginspirasi para penulis-penulis muda maupun penulis pemula. Lantaran beberapa penulis yang sudah lama malang melintang dalam dunia kepenulisan beberapa kali memotivasi seseorang lewat tulisan-tulisan yang ia hasilkan.
"Jika kita tidak mencoba, maka kita telah membuat kesalahan." Simon Bolivar
Beberapa orang telah menulis dengan bentuk catatan ataupun status. Dari orang yang sudah terjun dahulu dalam dunia menulis, kiranya sudah banyak bahan yang diketahui. Sehingga seorang penulis dengan mudah bisa memotivasi dan menyalurkan bakat dan minat dalam dunia tulis-menulis.<
Saya pribadi banyak belajar dan termotivasi dari tulisan-tulisan mereka. Jika tak sebut, nama-namanya bakal menghabiskan space tulisan ini. Mereka bagi saya sangat luar biasa. Bermula dari tulisan yang diunggah itu tidak sedikit yang mengikuti dan juga ikut menulis. Ini bagi saya pribadi merupakan virus yang penting jika terus disebarkan.
Jika kita masih sering melihat dan membaca status-status remeh temeh, tidak sedikit dari beberapa tulisan status jejaring sosial tersebut juga menginspirasi. Meski sebagian besar tulisan itu bermula hal-hal sederhana, misal peengalamannya membaca, pengalamannya saat mereka naik bis, pesawat maupun pengalamannya berkunjung dari suatu tempat merupakan hal yang luar biasa.
Pengalaman-pengalaman itu dan catatan-catatan itu terus ditulis maka dijadikan karya. Selain itu ada beberapa akun Facebook yang memberikan undangan pelatihan menulis dan perihal lomba menulis. Hadiahnya bisa dibilang “wauow”. Undangan-undangan menulis yang tertera di media sosial tersebut, sangat menggerakkan seseorang untuk mengasah berani menulis, menulis dan menulis. Keberanian menulis ini merupakan modal yang bagus untuk meningkatkan kualitas dan keberaniannya dalam mengeksplor wawasannya dan pengetahuan menulisnya.
Dari status media sosial tersebut sangat memprovokasi saya untuk ikut dan bergerak menulis. “Jika kita tidak mencoba, maka kita telah membuat kesalahan,” demikian pesan Simon Bolivar, apabila seorang ilmuan saja sudah mengatakan seperti itu. Maka kita pun semakin salah dan salah besar ketika kita tidak melakukan dan mencoba untuk belajar menulis dan terus menulis.
Banyak postingan yang menganjurkan untuk menulis. Entah itu, lomba membuat puisi, novel, diksi maupun nondiksi, skenario, maupun naskah. Ya, “gerakan ayo menulis”. Gerakan ayo menulis seharusnya dilakukan setiap hari, sebab menulis tak ubahnya seperti orang mau belajar berjalan dan banyak gerakan dan terus menempa diri untuk terus berlatih berjalan walau tertitah-titah.
Asupan tersebut berupa bacaan. Entah bacaan yang serius maupun yang bergenre lucu, tak ada masalah untuk dilahap semua. Membaca buku adalah asupan yang sepatutnya terus dilakukan setiap hari dan setiap saat. Karena menulis juga membutuh energi masukan dalam otak kita dan beberapa referensi karya tersebut. Sehingga budaya “gerakan ayo menulis” seharusnya dilakukan seimbang antara menulis dan membaca. Sebab menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang terus dilakukan seorang penulis.[]
إرسال تعليق