"Publikasikan diri dan karyamu setiap hari, kamu akan bertemu orang-orang hebat.” Bob Solomon
Karya dan eksistensi diri tidak bisa dipisahkan. Ibarat dua sisi keping uang logam, ia saling berkaitan. Karya, secara tidak sadar, akan mempengaruhi dan mengada kepada si pencipta. Dengan karya dan kreativitas (pembuat) mudah ditemukan para penikmat karya itu sendiri. Dan, karya juga sebagai alat untuk berjejaring dengan dunia luar.
Membuat karya tak harus menunggu berkualitas. Jikalau berpijak dengan kualitas, maka sangat mungkin, karya tak akan tercipta dan tak terselesaikan. Karena itu, berkaryalah! Tidak ada yag tidak memiliki hak untuk berbuat. Berkarya bisa dari apapun—tergantung dari passion Anda sendiri: seni, musik, menggambar, menulis dan apapun bidang yang Anda geluti dan tekuni bisa menjadi bernilai karya. Dan menjadi batu loncatan untuk hidup yang lebih baik lagi.
Misal, konsistensi memposting karya-karya, ide atau gagasan di media online, suatu ketika kita membutuhkan bantuan, tidak mustahil jaringan kenalan membantu menemukan pekerjaan baru. Bisa jadi, atasan yang baru, tidak perlu membaca daftar riwayat hidup secara detail. Barangkali cara untuk memikat atasan tersebut dengan cara terus konsistensi dan komitmend dalam berkarya. Maka, kiranya penting mendokumentasikan dan memposting karya-karya di website dan blog pribadi!
Postingan tersebut kiranya harus menginspirasi dan mencerahkan. Dan tidak mengandung unsur SARA! Bernilai positif bagi orang lain serta terbuka dan bermurah hati untuk berbagi ide dan ilmu pengetahuan yang masih fresh.
Untuk mendapatkan hal tersebut—tidak lain, tidak bukan—dengan berkreasi dan terus berkarya. Berkarya tidak harus menunggu bakat, melainkan dengan jalan kreativitas. Meminjam istilah musisi Brian Eno, yang lebih dikenal dengan scenius, scenius atau kreativitas adalah jalan sehat yang dipandang masih “suci”. Brian Eno mengatakan, “Dengan cara ini, gagasan-gagasan besar sering kali dilahirkan sekelompok orang kreatif—seniman, kurator, perumus teori, dan trendsetter lainnya—yang membangun sebuah “zona orang-orang berbakat.” Jika kita lebih terbuka dan mau menelisik sejarah lagi, banyak orang-orang yang kita anggap genius, tetapi sebenarnya mereka adalah sekelompok orang yang saling mendukung, mengamati karya satu sama lain, saling mengambil apapun dari pencapaian orang-orang hebat.
Karena itu, karya bagus tidak berdiri sendiri dan tak muncul begitu saja. Dan, kreativitas ada di dalam aspek tersebut. Apabila kita menarik kesuksesan orang-orang hebat, maka mereka tidak menyebutkan kecerdasan atau bakat, tetapi kosistensi dari kreativitas itu sendiri: gagasan, kualitas hubungan yang dijalin, dan percakapan yang diciptakan. Sebab, karya dan kreativitas selalu berkolaborasi satu sama lain.
Namun untuk menuju hal di atas, maka kita sering dihantui oleh perasaan ragu-ragu dan takut. Takut untuk mencoba. Perlu disadari, bahwa kita semua adalah amatir. Dalam bahasa Prancis, amatir berasal dari kata amateur, yang artinya “pencipta” dan memiliki semangat dalam “mencipta”. Pencipta dan mencipta berbagai macam bidang kreativitas maka tak usah takut untuk bereksperimen, mengambil kesempatan dan mengikuti kata naluri (hati) untuk memperjuangkan potensi dalam diri.
Ternyata sikap amateur atau amatir pernah dilakukan oleh John Lennon, seorang penyanyi dunia. Lantaran sudah terbiasa menulis dan menciptakan lagu-lagu, ia merasa penulisan lagu-lagunya terkesan biasa dan membosankan. Dengan semangat amateur atau amatirnya, ia mengambil sebuah benda yang jauh dari angan-angannya. Lalu ambillah terompet yang tidak terbiasa ia mainkan. Apa yang terjadi? Dari terompet itulah maha karya tercipta dan lahir hingga menjadi opus magnum, maha karya besar.
Oleh karena, kita semua harus memiliki jiwa “pencipta” dari sisi seorang amatir dan membuang jauh-jauh perasaan ragu-ragu serta takut tersebut. Bagi seorang profesional kiranya penting memiliki sikap dari jiwa semangat “pencipta” ala seorang amatir. Dari sikap amatir itulah kecintaannya terhadap kreativitas dan proses belajar tidak henti dan tanpa batas.
Kreativitas dan sikap amatir dapat dimulai dan dilakukan oleh siapa saja. Tidak terkecuali oleh orang yang memiliki keterbatasan fisik. Ada sebuah cerita yang mengharukan dari seorang kritikus film Roger Ebert. Semasa hidupnya Roger sering diundang danberbicara di acara televisi. Dia mencari menafkah diri dan keluarganya melalui bercuap-cuap dengan suaranya. Namun setelah divonis menderita kanker tenggorokan dan menjalani sejumlah operasi berat, ketika itu, dia tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, untuk berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarganya, dia harus menulis di selembar kertas atau mengetik di mic, kemudian komuputerlah yang menyuarakan jawaban dan gagasannya.
Keterbatasan itu tak membuatnya patah arang. Dia masih memiliki semangat “pencipta” bak seorang amatir. Dia mencurahkan pikiran lewat postingan di facebook, tweet, blogging di rogerebert.com, yang dia kelola sendiri. Postingan-nya menakjubkan semua mata dan tulisannya menuai tanggapan ratusan orang. Dia berujar “Di web suara asliku tersalurkan,” tulis Ebert. Meminjam istilah Asma Nadia, menulis adalah mengabarkan kebaikan, maka Roger Ebert mengabarkan apa yang ingin ia sampaikan kepada dunia. Karena bagi dirinya, menulis seolah menyangkut hidup dan mati maka dia menulis di blog atau website—tidak terkecuali—sosial media untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Cerita di atas masih relevan dengan keadaan kompleksitas masyarakat kekinian. Ini kedengarannya agak ekstrem namun ada relevansitas dengan masyarakat sekarang. Apabila tidak bisa ditemukan secara online maka kita dianggap tidak ada. Ya, kita bisa lihat sendiri bahwa media sosial sedemikian dekat dengan manusia zaman sekarang. Apabila sehari tidak update “status” maka serasa hilang ditelan zaman. Dalam bahasanya J. Sumardianta, “bisa dibilang, manusia zaman digital lebih sengsara bila fakir sinyal ketimbang fakir miskin.” Kiranya tidak berlebihan guru SMA Kolese de Brito tersebut.
Serupa tapi tak sama, mempublikasikan karya yang telah dihasilkan tidak harus melalui media cetak. Dunia yang serba cepat ini mengharuskan setiap orang untuk eksis sekalipun di media online. Pengarang Edgar Allan Poe mengatakan apabila sebagian penulis takut jika proses berkaryanya diketahui orang lain dan hanya menimbun, menutup rapat-rapat gagasan dari karyanya untuk dirinya sendiri, meminjam istilah J. Sumardianta, dia adalah seorang fakir.
Lewat publikasi karyalah, penulis atau pencipta dapat menjalin keakraban dan banyak berbagi dengan penikmat karya hingga bisa membangun korelasi yang positif. Maka perbanyaklah berkreasi dan berinovasi. Bahwa setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi hebat.
Cara yang umum digunakan oleh kebanyakan orang-orang hebat adalah, pertama, mengarsip apa yang ia kerjakan, artinya merekam, memotret serta mendokumentasikan. Ini adalah salah satu proses kreatif yang dilakukan kebanyakan orang. Kedua, menyebarkan kabar harian. Dengan kabar harian kepada orang lain salah satu bentuk interaksi terhadap masyarakat. Melalui karya dan kreativitas itu sendiri—secara tidak sadar—konsumen (pembaca) menjadi bagian dari proses kreatif. Dia bisa membaca, menilai, mengkritik dan mengkategorikan karya tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Bob Solomon, “Publikasikan diri dan karyamu setiap hari, kamu akan bertemu orang-orang hebat.”
Oleh karena itu, buku Austin Kleon yang berjudul Show Your Work! To Share Your Creativity and Get Discovered, semacam wangsit untuk membangunkan “kelayuan” dalam berkarya serta membangkitkan kesadaran bahwa berkarya tak harus menunggu bakat. Karena, siapapun kamu! Dimanapun kamu! Di zaman keterbukaan ini, semua orang punya kesempatan sama untuk berkarya. Jangan sembuyikan proses kreatifmu. Undang orang-orang untuk melihatnya. Jangan khawatir kritik, karena itu bahan pelajaran buat kita. siapa yang tahu, ide yang menurut kita tidak menarik, malah luar biasa bagi orang lain. Lebih dari itu, karyamu juga bisa menginspirasi orang lain. Jadi, tidak perlu ragu dan malu. Berbagi karya membuatmu kaya![]
Judul buku : Show Your Work!; To Share Yorang n Creativity and Get Discovered
Karya dan eksistensi diri tidak bisa dipisahkan. Ibarat dua sisi keping uang logam, ia saling berkaitan. Karya, secara tidak sadar, akan mempengaruhi dan mengada kepada si pencipta. Dengan karya dan kreativitas (pembuat) mudah ditemukan para penikmat karya itu sendiri. Dan, karya juga sebagai alat untuk berjejaring dengan dunia luar.
Membuat karya tak harus menunggu berkualitas. Jikalau berpijak dengan kualitas, maka sangat mungkin, karya tak akan tercipta dan tak terselesaikan. Karena itu, berkaryalah! Tidak ada yag tidak memiliki hak untuk berbuat. Berkarya bisa dari apapun—tergantung dari passion Anda sendiri: seni, musik, menggambar, menulis dan apapun bidang yang Anda geluti dan tekuni bisa menjadi bernilai karya. Dan menjadi batu loncatan untuk hidup yang lebih baik lagi.
Misal, konsistensi memposting karya-karya, ide atau gagasan di media online, suatu ketika kita membutuhkan bantuan, tidak mustahil jaringan kenalan membantu menemukan pekerjaan baru. Bisa jadi, atasan yang baru, tidak perlu membaca daftar riwayat hidup secara detail. Barangkali cara untuk memikat atasan tersebut dengan cara terus konsistensi dan komitmend dalam berkarya. Maka, kiranya penting mendokumentasikan dan memposting karya-karya di website dan blog pribadi!
Postingan tersebut kiranya harus menginspirasi dan mencerahkan. Dan tidak mengandung unsur SARA! Bernilai positif bagi orang lain serta terbuka dan bermurah hati untuk berbagi ide dan ilmu pengetahuan yang masih fresh.
Untuk mendapatkan hal tersebut—tidak lain, tidak bukan—dengan berkreasi dan terus berkarya. Berkarya tidak harus menunggu bakat, melainkan dengan jalan kreativitas. Meminjam istilah musisi Brian Eno, yang lebih dikenal dengan scenius, scenius atau kreativitas adalah jalan sehat yang dipandang masih “suci”. Brian Eno mengatakan, “Dengan cara ini, gagasan-gagasan besar sering kali dilahirkan sekelompok orang kreatif—seniman, kurator, perumus teori, dan trendsetter lainnya—yang membangun sebuah “zona orang-orang berbakat.” Jika kita lebih terbuka dan mau menelisik sejarah lagi, banyak orang-orang yang kita anggap genius, tetapi sebenarnya mereka adalah sekelompok orang yang saling mendukung, mengamati karya satu sama lain, saling mengambil apapun dari pencapaian orang-orang hebat.
Karena itu, karya bagus tidak berdiri sendiri dan tak muncul begitu saja. Dan, kreativitas ada di dalam aspek tersebut. Apabila kita menarik kesuksesan orang-orang hebat, maka mereka tidak menyebutkan kecerdasan atau bakat, tetapi kosistensi dari kreativitas itu sendiri: gagasan, kualitas hubungan yang dijalin, dan percakapan yang diciptakan. Sebab, karya dan kreativitas selalu berkolaborasi satu sama lain.
Namun untuk menuju hal di atas, maka kita sering dihantui oleh perasaan ragu-ragu dan takut. Takut untuk mencoba. Perlu disadari, bahwa kita semua adalah amatir. Dalam bahasa Prancis, amatir berasal dari kata amateur, yang artinya “pencipta” dan memiliki semangat dalam “mencipta”. Pencipta dan mencipta berbagai macam bidang kreativitas maka tak usah takut untuk bereksperimen, mengambil kesempatan dan mengikuti kata naluri (hati) untuk memperjuangkan potensi dalam diri.
Ternyata sikap amateur atau amatir pernah dilakukan oleh John Lennon, seorang penyanyi dunia. Lantaran sudah terbiasa menulis dan menciptakan lagu-lagu, ia merasa penulisan lagu-lagunya terkesan biasa dan membosankan. Dengan semangat amateur atau amatirnya, ia mengambil sebuah benda yang jauh dari angan-angannya. Lalu ambillah terompet yang tidak terbiasa ia mainkan. Apa yang terjadi? Dari terompet itulah maha karya tercipta dan lahir hingga menjadi opus magnum, maha karya besar.
Oleh karena, kita semua harus memiliki jiwa “pencipta” dari sisi seorang amatir dan membuang jauh-jauh perasaan ragu-ragu serta takut tersebut. Bagi seorang profesional kiranya penting memiliki sikap dari jiwa semangat “pencipta” ala seorang amatir. Dari sikap amatir itulah kecintaannya terhadap kreativitas dan proses belajar tidak henti dan tanpa batas.
Kreativitas dan sikap amatir dapat dimulai dan dilakukan oleh siapa saja. Tidak terkecuali oleh orang yang memiliki keterbatasan fisik. Ada sebuah cerita yang mengharukan dari seorang kritikus film Roger Ebert. Semasa hidupnya Roger sering diundang danberbicara di acara televisi. Dia mencari menafkah diri dan keluarganya melalui bercuap-cuap dengan suaranya. Namun setelah divonis menderita kanker tenggorokan dan menjalani sejumlah operasi berat, ketika itu, dia tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, untuk berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarganya, dia harus menulis di selembar kertas atau mengetik di mic, kemudian komuputerlah yang menyuarakan jawaban dan gagasannya.
Keterbatasan itu tak membuatnya patah arang. Dia masih memiliki semangat “pencipta” bak seorang amatir. Dia mencurahkan pikiran lewat postingan di facebook, tweet, blogging di rogerebert.com, yang dia kelola sendiri. Postingan-nya menakjubkan semua mata dan tulisannya menuai tanggapan ratusan orang. Dia berujar “Di web suara asliku tersalurkan,” tulis Ebert. Meminjam istilah Asma Nadia, menulis adalah mengabarkan kebaikan, maka Roger Ebert mengabarkan apa yang ingin ia sampaikan kepada dunia. Karena bagi dirinya, menulis seolah menyangkut hidup dan mati maka dia menulis di blog atau website—tidak terkecuali—sosial media untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Cerita di atas masih relevan dengan keadaan kompleksitas masyarakat kekinian. Ini kedengarannya agak ekstrem namun ada relevansitas dengan masyarakat sekarang. Apabila tidak bisa ditemukan secara online maka kita dianggap tidak ada. Ya, kita bisa lihat sendiri bahwa media sosial sedemikian dekat dengan manusia zaman sekarang. Apabila sehari tidak update “status” maka serasa hilang ditelan zaman. Dalam bahasanya J. Sumardianta, “bisa dibilang, manusia zaman digital lebih sengsara bila fakir sinyal ketimbang fakir miskin.” Kiranya tidak berlebihan guru SMA Kolese de Brito tersebut.
Serupa tapi tak sama, mempublikasikan karya yang telah dihasilkan tidak harus melalui media cetak. Dunia yang serba cepat ini mengharuskan setiap orang untuk eksis sekalipun di media online. Pengarang Edgar Allan Poe mengatakan apabila sebagian penulis takut jika proses berkaryanya diketahui orang lain dan hanya menimbun, menutup rapat-rapat gagasan dari karyanya untuk dirinya sendiri, meminjam istilah J. Sumardianta, dia adalah seorang fakir.
Lewat publikasi karyalah, penulis atau pencipta dapat menjalin keakraban dan banyak berbagi dengan penikmat karya hingga bisa membangun korelasi yang positif. Maka perbanyaklah berkreasi dan berinovasi. Bahwa setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi hebat.
Cara yang umum digunakan oleh kebanyakan orang-orang hebat adalah, pertama, mengarsip apa yang ia kerjakan, artinya merekam, memotret serta mendokumentasikan. Ini adalah salah satu proses kreatif yang dilakukan kebanyakan orang. Kedua, menyebarkan kabar harian. Dengan kabar harian kepada orang lain salah satu bentuk interaksi terhadap masyarakat. Melalui karya dan kreativitas itu sendiri—secara tidak sadar—konsumen (pembaca) menjadi bagian dari proses kreatif. Dia bisa membaca, menilai, mengkritik dan mengkategorikan karya tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Bob Solomon, “Publikasikan diri dan karyamu setiap hari, kamu akan bertemu orang-orang hebat.”
Oleh karena itu, buku Austin Kleon yang berjudul Show Your Work! To Share Your Creativity and Get Discovered, semacam wangsit untuk membangunkan “kelayuan” dalam berkarya serta membangkitkan kesadaran bahwa berkarya tak harus menunggu bakat. Karena, siapapun kamu! Dimanapun kamu! Di zaman keterbukaan ini, semua orang punya kesempatan sama untuk berkarya. Jangan sembuyikan proses kreatifmu. Undang orang-orang untuk melihatnya. Jangan khawatir kritik, karena itu bahan pelajaran buat kita. siapa yang tahu, ide yang menurut kita tidak menarik, malah luar biasa bagi orang lain. Lebih dari itu, karyamu juga bisa menginspirasi orang lain. Jadi, tidak perlu ragu dan malu. Berbagi karya membuatmu kaya![]
Judul buku : Show Your Work!; To Share Yorang n Creativity and Get Discovered
Penulis : Austin Kleon
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika), Jakarta
Cetakan : I, November 2014
Tebal : IV+215 hlmPeresensi : Muhammad Choirur Rokhim
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika), Jakarta
Cetakan : I, November 2014
Tebal : IV+215 hlmPeresensi : Muhammad Choirur Rokhim
Masih ragu2 kadang dalam menelurkan karya
ردحذفJangan ragu mas untuk belajar, menelurkan karya ibaratnya kita terus belajar... Saya ingin menelurkan tulisan-tulisan, yang kadang menurut saya sendiri remeh...
ردحذفTulisan saya malah lebih remeh-temeh mas. Hheee 😥😥
ردحذفTak masalah, Mas. Tulisan tersebut nanti akan jadi pengingat perjalanan karir menulis sampean. Menurutku itu lebih baik daripada tidak sama sekali... 🙏😂
ردحذفSip mas. Makasih motivasinya. 😀😀😀
ردحذفMantap, Mas.., Sama-sama.... Sama-sama belajar...
ردحذفSaya setiap hari konsisten membuat sketsa, entah apalah yang saya buat..
ردحذفHasilnya memang tidak sebagus karya karya teman yang senior, namun saya tidak perduli 😃
Saya membuat buku khusus yang isinya sketsa* yang jelek
Mantap itu. Pokoknya kira mengembara pada jalan yang kita bisa. Saya sangat yakin, lantaran konsisten, kita bakal memetik hasilnya di kemudian hari...
ردحذفNamun kalau berharap. .. pasti akan meleset
ردحذفإرسال تعليق