Semaraknya bulan Ramadhan tidak bisa dilalui begitu saja. Bulan istimewa, memang seharusnya disambut dengan suka cita. Banyak event maupun kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat umum untuk menyambut bulan suci ini. Di antaranya, adanya arak-arakan keliling kampung (ta'aruf), banyaknya ucapan selamat menunaikan ibadah puasa di iklan maupun di baleho jalan, bersih-bersih rumah hingga masjid, hingga kegiatan yang sifatnya ilmiah sekalipun, atau acara berkumpul bersama teman-teman dengan tema diskusi tentang ilmu keislaman maupun dialog yang lain.
Ramadhan memang sangat tepat untuk dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri. Selain ibadah; seperti tadarus hingga sholat sunnah lainnya, banyak event penting dilakukan untuk mengisi waktu atau kualitas personal. Misal berbagi dengan orang yang tidak punya (fakir- miskin) atau bagi keberkahan dengan berbagi rejeki di jalan memberi takjil atau sahur kepada orang lain. Yang jelas, Ramadhan sangat disayangkan jika dilewatkan tanpa kegiatan yang bermanfaat.
Namun kegiatan yang tak kalah menarik dalam menyambut bulan penuh berkah dan kemuliaan adalah menebar kebaikan dengan menyemai literasi kepada sesama. Ramadhan dengan semangat berliterasi adalah salah satu bentuk menyebar kesadaran akan pentingnya budaya membaca dan menulis bagi kita semua. Hari ini (Minggu, 12 Juli 2015) bertempat di Balai Benih, Trenggalek telah terselenggara Ramadhan Literasi.
Acara ini memang menarik. Acara ini pula digelar untuk menyambut kemeriahan bulan Ramadhan seksligus mengisi waktu ngabuburit dan buka puasa bersama. Ada beragam acara digelar: mulai dari diklat menulis dan bicara di depan publik, hingga bedah buku. Di antara buku-buku yang dibedah adalah Tuturan Penguatan Guru dalam Wacana Kelas (2015), Geliat Literasi Semangat (Membaca dan Menulis) dari IAIN Tulungagung (2015), dan Sajak Buat Guruku (2015).
Salah satu buku yang dibedah, (saya sebagai pemberi testimoni) memang ada kaitannya dengan judul literasi, yakni "bunga rampai" dari civitas akademika IAIN Tulungagung, yang ditulis oleh Dosen, mahasiswa, dan alumni perguruan tinggi tersebut. Yang tak kalah penting, Ramadhan berliterasi ini sebagai media untuk berbaur dengan para penulis sekaliber Dr. Ngainun Naim, Nurani Soyomukti, dan Misbahus Surur, para pemateri dengan gaya tutur beda penyampaiannya, para peserta makin paham akan keutamaan berliterasi. Acara Ramadhan literasi semacam ini menarik pas dengan menunggu beduk adzan Maghrib. Walau "nabi usus" kita sedang keroncongan, akan tetapi otak dan pikiran kita terus diberi asupan "gizi" dengan informasi dan pengetahuan yang berkualitas, maka niscaya kualitas pribadi terjaga.
Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh kemudahan dan semangat baru. Jadi, bertepatan dengan bulan pendidikan, di mana kita semua dididik untuk belajar menjadi pribadi yang baik, bulan puasa ini kita juga harus memiliki semangat baru untuk belajar. Sebenarnya belajar bukan pada bulan Ramadhan saja, namun momentum bulan Ramadhan ini kita tingkatkan belajar (baca-tulis) untuk meningkatkan kualitas diri.
Bertepatan di bulan Ramadhan ini pula, al-Qur'an turun dari langit lewat perantara Malaikat Jibril untuk Nabi Muhammad Saw untuk kemaslahatan umat Islam di seantero dunia. Dan, dengan turun al-Qur'an itu surat pertama yang diperintahkan kepada Nabi adalah Iqra' (bacalah!). Jadi, di bulan suci ini sangat tepat mengingat sekaligus momentum yang pas membangun budaya literasi (baca-tulis) untuk meningkatkan kualitas diri atau membangun masyarakat yang memiliki melek pengetahuan dan wawasan luas.
Bagi saya, acara seperti ini adalah salah satu cara mempererat tali silaturrahmi terhadap sesama. Sekaligus penguat diri untuk tetap belajar menulis, menulis, dan menulis. Karena menulis, sekalipun di bulan puasa, kita tidak boleh puas(a). Karena Ramadhan dan menulis satu bentuk untuk meningkatkan kualitas diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga. Amin[]
Ramadhan memang sangat tepat untuk dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri. Selain ibadah; seperti tadarus hingga sholat sunnah lainnya, banyak event penting dilakukan untuk mengisi waktu atau kualitas personal. Misal berbagi dengan orang yang tidak punya (fakir- miskin) atau bagi keberkahan dengan berbagi rejeki di jalan memberi takjil atau sahur kepada orang lain. Yang jelas, Ramadhan sangat disayangkan jika dilewatkan tanpa kegiatan yang bermanfaat.
Namun kegiatan yang tak kalah menarik dalam menyambut bulan penuh berkah dan kemuliaan adalah menebar kebaikan dengan menyemai literasi kepada sesama. Ramadhan dengan semangat berliterasi adalah salah satu bentuk menyebar kesadaran akan pentingnya budaya membaca dan menulis bagi kita semua. Hari ini (Minggu, 12 Juli 2015) bertempat di Balai Benih, Trenggalek telah terselenggara Ramadhan Literasi.
Acara ini memang menarik. Acara ini pula digelar untuk menyambut kemeriahan bulan Ramadhan seksligus mengisi waktu ngabuburit dan buka puasa bersama. Ada beragam acara digelar: mulai dari diklat menulis dan bicara di depan publik, hingga bedah buku. Di antara buku-buku yang dibedah adalah Tuturan Penguatan Guru dalam Wacana Kelas (2015), Geliat Literasi Semangat (Membaca dan Menulis) dari IAIN Tulungagung (2015), dan Sajak Buat Guruku (2015).
Salah satu buku yang dibedah, (saya sebagai pemberi testimoni) memang ada kaitannya dengan judul literasi, yakni "bunga rampai" dari civitas akademika IAIN Tulungagung, yang ditulis oleh Dosen, mahasiswa, dan alumni perguruan tinggi tersebut. Yang tak kalah penting, Ramadhan berliterasi ini sebagai media untuk berbaur dengan para penulis sekaliber Dr. Ngainun Naim, Nurani Soyomukti, dan Misbahus Surur, para pemateri dengan gaya tutur beda penyampaiannya, para peserta makin paham akan keutamaan berliterasi. Acara Ramadhan literasi semacam ini menarik pas dengan menunggu beduk adzan Maghrib. Walau "nabi usus" kita sedang keroncongan, akan tetapi otak dan pikiran kita terus diberi asupan "gizi" dengan informasi dan pengetahuan yang berkualitas, maka niscaya kualitas pribadi terjaga.
Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh kemudahan dan semangat baru. Jadi, bertepatan dengan bulan pendidikan, di mana kita semua dididik untuk belajar menjadi pribadi yang baik, bulan puasa ini kita juga harus memiliki semangat baru untuk belajar. Sebenarnya belajar bukan pada bulan Ramadhan saja, namun momentum bulan Ramadhan ini kita tingkatkan belajar (baca-tulis) untuk meningkatkan kualitas diri.
Bertepatan di bulan Ramadhan ini pula, al-Qur'an turun dari langit lewat perantara Malaikat Jibril untuk Nabi Muhammad Saw untuk kemaslahatan umat Islam di seantero dunia. Dan, dengan turun al-Qur'an itu surat pertama yang diperintahkan kepada Nabi adalah Iqra' (bacalah!). Jadi, di bulan suci ini sangat tepat mengingat sekaligus momentum yang pas membangun budaya literasi (baca-tulis) untuk meningkatkan kualitas diri atau membangun masyarakat yang memiliki melek pengetahuan dan wawasan luas.
Bagi saya, acara seperti ini adalah salah satu cara mempererat tali silaturrahmi terhadap sesama. Sekaligus penguat diri untuk tetap belajar menulis, menulis, dan menulis. Karena menulis, sekalipun di bulan puasa, kita tidak boleh puas(a). Karena Ramadhan dan menulis satu bentuk untuk meningkatkan kualitas diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga. Amin[]
إرسال تعليق