Rista membawa kresek berwarna putih berisi opak pecel dari sekolah. Saya jadi teringat lima belas tahun yang lalu. Saat itu, di mana saya masih unyu-unyu dan tampak polos dengan berbagai dolanan dan jajanan saat pulang sekolah. Saya masih ingat betul sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI)—setara dengan (SD) Sekolah Dasar—yang kebetulan sama dengan sekolah Rista ini. Saya kangen dengan masa-masa sekolah kala itu.
Yang saya kangeni dari masa itu adalah, leluasanya saya membawa dolanan atau mainan sepulang sekolah dan cemilan khas jajanan sekolah. Lantaran merasa laki-laki paripurna pada masanya ini, rasanya kurang lengkap jika dahulu tak memiliki cerita khas sekolahan tentang membeli jajanan sekolah dan membeli bermain dolanan. Masa cowok maskulin mainannya boneka atau masak-masakan sama anak cewek. Ya, ndak mbois blas-lah, mblo. Meskipun begitu, pernah sih, saya bermain masak-masakan dan pasaran layaknya perempuan. Kelkelkel.
Saya ingat betul, kala itu, tujuan sekolah selain menuntut ilmu (ilmu kok ditutut sih), sekolah hanya sekedar mencari teman dan berkumpul bersama teman-teman sebaya mencari kesenang-senangan dan 'apel' siang dengan penjual dolanan di samping sekolah. Jika pada waktu itu sekolah tidak senang maka saya akan tidak punya kisah yang menarik. Salah penyemangat sekolah pada waktu itu adalah penjual dolanan, yang biasanya berjualan di depan sekolah. Ia menggelar tikar. Dolanannya dijual, ia ditaruh di tanah di atas tikar.
Saya bisa dibilan pembeli setia. Alasannya uang jajan saya pasti saya donasikan untuk membeli jajanan atau dolanan. Sebagai pembeli yang taat, saya harus ingat nama penjual dolanan itu. Ia adalah mbah bunder—begitu sapaannya—sosoknya berbadan tinggi besar. Gesture itulah yang mendukung dipanggil mbah bunder. Barangkali alasannya anak-anak manggil mbah bunder karena bodynya tersebut.
Itu periode 90-an. Gimana dengan anak-anak era teknologi yang serba instan dan serbacanggih seperti sekarang ini? Saya hampir mirip dengan Rista. Kalau Rista membawa sesuatu untuk dibagikan keluarganya di rumah, lantas saya ketika itu, membawa dolanan made in China. Wah jadi tertangkap basah tak cinta ploduk-ploduk dalam negli, donk. Hehehe. Namun, saya tidak akan membicarakan soal itu disini. Saya hanya akan ingin menulis kebaikan adik saya, yang membawa jajanan dari sekolahnya untuk seorang kakak. Saat itu juga, saya terbawa romantisme masa-masa lugu dan lucu berpakaian seragam putih merah. Yang jajan di kantin bu Supin
Tadi siang (saat saya menulis ini), entah apa yang dipikirkan dalam benak adik saya, Rista pulang sekolah membawa sekresek putih berisi cemilan, berisi opak pecel. Rista adalah seorang perempuan, jadi ia lebih sensitiif untuk urusan perut dan dapur. Kalau tak jajan di sekolah, biasanya sisa uangnya untuk jajan di rumah. Akan tetapi, Rista tak biasa membeli jajan lalu dibawa pulang. Namun saat itu, Rista membawa pulang oleh-oleh untuk kakak satu ini.
“Wah, mantap ini, kerjaan seharian Cuma tiduran saya, ada yang memberi rezeki!” Gumam saya.
Saya pun langsung berterima kasih, seraya menangadahkan kedua tangan ke atas, seraya berdoa, mirip Bang Jarwo dalam lakon Adit dan Bang Sopo saat ketiban rezeki. “Matur suwon ya, ndok, wes titumbasne opak pecel.” Seru saya. (Terimakasih ya, ndok, sudah sampeyan belikan opak pecel).
Aahhh, hipotesis saya meleset, dan tak tepat. Ternyata camilan yang dibawa dari sekolah itu bukan untuk saya, tetapi untuk dimakan sendiri. Saya tahu, ia bukan pecinta makanan pedas seperti opak sambel itu. Jadi saya harus bersabar mirip ilmu kucing, yang siap menghardik mangsanya. Ia tahunya hanya membeli, untuk urusan nabi usus, itu saya memang ahlinya, tinimbang Rista.
“Sopo loh, Mas seng ape ngekek i sampeyan kie? Wong opak pecel iki ape tak maem dewe kok? Hahahaha.” (Siapa loh, Mas yang ngasih sampeyan itu? Wong krupuk pecel ini mau aku maem sendiri kok!) Ujarnya seraya ngece saya.
Meski begitu, Opak Pecel itu tetap jadi santapan saya, buktinya telah beberapa kali Rista membawa camilan dari sekolah, saya juga yang melahap habis makanan itu. Terhitung telah dua atau tiga kali, Rista membawa oleh-oleh dari sekolahnya.
Opak pecel merupakan dua kompilasi antara sambel pecel dengan krupuk kali. Sehingga rasanya pedas manis. Cemilan ini asli dari Jawa, lebih tepatnya Jawa bagian Timur dan Tengah. Kita masih ingat, ibu kantin waktu sekolah dasar, pasti cemilan ini tidak bisa jauh dari lapak ibu kantin. Bahannya perpaduan dua bahan pokok: Antara krupuk dan sambel kacang tanah yang dibumbui bersamaan cabe dan sebangsanya, yang dicampuri oleh ijo-ijo atau daun bayam atau yang lain. Sehingga terpadu, menjadi pedas dan nikmat seperti itu.
Sementara itu, untuk urusan belajar, siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini memang sedikit sulitnya minta ampun. Yang pikirkan, ketika sekolah adalah uang saku atau sangunya. Beberapa kali atau malah setiap hari, setiap mau berangkat sekolah, Rista harus berdebat dengan Ibu. yang didebatkan tidak jauh dari soal sarapan dan sangu sekolah.
Rista memang tidak terlalu doyan makan, jika disangoni, yang dibeli tidak Jauh dari yang namanya dolanan, ya minuman. Itulah yang menyebabkan nafsu makannya rendah. Sebagai seorang anak yang pakai menejemen uang sakunya untuk keperluan jajan, yang malah dijajan untuk keperluan sekundernya, yakni semacam dolan.
Tetapi saya paling senang, jika Rista pulang sekolah membawa oleh-oleh yang tidak jauh dari nama makanan. Saya yang suka ngemil, lantaran Rista membawa sekresek cemilan, semacam opak sambel itu artinya, ia telah mendukung program doyan ngemil saya ini. Sebagai seorang laki-laki yang belum juga merasakan rokok, lebih baiknya mulut, saya manfaatkan untuk ngemil. Ya, ngemil opak pecel itu.[]
Yang saya kangeni dari masa itu adalah, leluasanya saya membawa dolanan atau mainan sepulang sekolah dan cemilan khas jajanan sekolah. Lantaran merasa laki-laki paripurna pada masanya ini, rasanya kurang lengkap jika dahulu tak memiliki cerita khas sekolahan tentang membeli jajanan sekolah dan membeli bermain dolanan. Masa cowok maskulin mainannya boneka atau masak-masakan sama anak cewek. Ya, ndak mbois blas-lah, mblo. Meskipun begitu, pernah sih, saya bermain masak-masakan dan pasaran layaknya perempuan. Kelkelkel.
Saya ingat betul, kala itu, tujuan sekolah selain menuntut ilmu (ilmu kok ditutut sih), sekolah hanya sekedar mencari teman dan berkumpul bersama teman-teman sebaya mencari kesenang-senangan dan 'apel' siang dengan penjual dolanan di samping sekolah. Jika pada waktu itu sekolah tidak senang maka saya akan tidak punya kisah yang menarik. Salah penyemangat sekolah pada waktu itu adalah penjual dolanan, yang biasanya berjualan di depan sekolah. Ia menggelar tikar. Dolanannya dijual, ia ditaruh di tanah di atas tikar.
Saya bisa dibilan pembeli setia. Alasannya uang jajan saya pasti saya donasikan untuk membeli jajanan atau dolanan. Sebagai pembeli yang taat, saya harus ingat nama penjual dolanan itu. Ia adalah mbah bunder—begitu sapaannya—sosoknya berbadan tinggi besar. Gesture itulah yang mendukung dipanggil mbah bunder. Barangkali alasannya anak-anak manggil mbah bunder karena bodynya tersebut.
Itu periode 90-an. Gimana dengan anak-anak era teknologi yang serba instan dan serbacanggih seperti sekarang ini? Saya hampir mirip dengan Rista. Kalau Rista membawa sesuatu untuk dibagikan keluarganya di rumah, lantas saya ketika itu, membawa dolanan made in China. Wah jadi tertangkap basah tak cinta ploduk-ploduk dalam negli, donk. Hehehe. Namun, saya tidak akan membicarakan soal itu disini. Saya hanya akan ingin menulis kebaikan adik saya, yang membawa jajanan dari sekolahnya untuk seorang kakak. Saat itu juga, saya terbawa romantisme masa-masa lugu dan lucu berpakaian seragam putih merah. Yang jajan di kantin bu Supin
Tadi siang (saat saya menulis ini), entah apa yang dipikirkan dalam benak adik saya, Rista pulang sekolah membawa sekresek putih berisi cemilan, berisi opak pecel. Rista adalah seorang perempuan, jadi ia lebih sensitiif untuk urusan perut dan dapur. Kalau tak jajan di sekolah, biasanya sisa uangnya untuk jajan di rumah. Akan tetapi, Rista tak biasa membeli jajan lalu dibawa pulang. Namun saat itu, Rista membawa pulang oleh-oleh untuk kakak satu ini.
“Wah, mantap ini, kerjaan seharian Cuma tiduran saya, ada yang memberi rezeki!” Gumam saya.
Saya pun langsung berterima kasih, seraya menangadahkan kedua tangan ke atas, seraya berdoa, mirip Bang Jarwo dalam lakon Adit dan Bang Sopo saat ketiban rezeki. “Matur suwon ya, ndok, wes titumbasne opak pecel.” Seru saya. (Terimakasih ya, ndok, sudah sampeyan belikan opak pecel).
Aahhh, hipotesis saya meleset, dan tak tepat. Ternyata camilan yang dibawa dari sekolah itu bukan untuk saya, tetapi untuk dimakan sendiri. Saya tahu, ia bukan pecinta makanan pedas seperti opak sambel itu. Jadi saya harus bersabar mirip ilmu kucing, yang siap menghardik mangsanya. Ia tahunya hanya membeli, untuk urusan nabi usus, itu saya memang ahlinya, tinimbang Rista.
“Sopo loh, Mas seng ape ngekek i sampeyan kie? Wong opak pecel iki ape tak maem dewe kok? Hahahaha.” (Siapa loh, Mas yang ngasih sampeyan itu? Wong krupuk pecel ini mau aku maem sendiri kok!) Ujarnya seraya ngece saya.
Meski begitu, Opak Pecel itu tetap jadi santapan saya, buktinya telah beberapa kali Rista membawa camilan dari sekolah, saya juga yang melahap habis makanan itu. Terhitung telah dua atau tiga kali, Rista membawa oleh-oleh dari sekolahnya.
Opak pecel merupakan dua kompilasi antara sambel pecel dengan krupuk kali. Sehingga rasanya pedas manis. Cemilan ini asli dari Jawa, lebih tepatnya Jawa bagian Timur dan Tengah. Kita masih ingat, ibu kantin waktu sekolah dasar, pasti cemilan ini tidak bisa jauh dari lapak ibu kantin. Bahannya perpaduan dua bahan pokok: Antara krupuk dan sambel kacang tanah yang dibumbui bersamaan cabe dan sebangsanya, yang dicampuri oleh ijo-ijo atau daun bayam atau yang lain. Sehingga terpadu, menjadi pedas dan nikmat seperti itu.
Sementara itu, untuk urusan belajar, siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini memang sedikit sulitnya minta ampun. Yang pikirkan, ketika sekolah adalah uang saku atau sangunya. Beberapa kali atau malah setiap hari, setiap mau berangkat sekolah, Rista harus berdebat dengan Ibu. yang didebatkan tidak jauh dari soal sarapan dan sangu sekolah.
Rista memang tidak terlalu doyan makan, jika disangoni, yang dibeli tidak Jauh dari yang namanya dolanan, ya minuman. Itulah yang menyebabkan nafsu makannya rendah. Sebagai seorang anak yang pakai menejemen uang sakunya untuk keperluan jajan, yang malah dijajan untuk keperluan sekundernya, yakni semacam dolan.
Tetapi saya paling senang, jika Rista pulang sekolah membawa oleh-oleh yang tidak jauh dari nama makanan. Saya yang suka ngemil, lantaran Rista membawa sekresek cemilan, semacam opak sambel itu artinya, ia telah mendukung program doyan ngemil saya ini. Sebagai seorang laki-laki yang belum juga merasakan rokok, lebih baiknya mulut, saya manfaatkan untuk ngemil. Ya, ngemil opak pecel itu.[]
إرسال تعليق