"Karena menulis adalah bakat semua orang. Dan menulis adalah bakat dan hak setiap orang". Anugerah terindah dari Tuhan semesta alam ini adalah Bakat dan potensi dari dalam diri. Oleh karena itu, salah satu tugas kita sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan perasaan oleh Tuhan, adalah menggali potensi yang kita miliki.
Barangkali kita pernah membaca buku yang berjudul The 8th Habit, dari Stephen R. Covey, "Jauh di dalam setiap diri kita ada kerinduan mendalam untuk menjalani kehidupan yang hebat, yang agung, dan memberi sumbangan nyata--untuk sungguh-sungguh merasa penting, untuk membuat perbedaan yang benar--benar nyata. Mungkin kita meragukan diri kita sendiri dan kemampuan kita untuk melakukan hal itu. Namun, saya ingin Anda mengetahui keyakinan saya yang terdalam bahwa Anda dapat menjalani kehidupan seperti itu. Anda memiliki potensi luar biasa di dalam diri Anda. Ya, Anda semua memiliki potensi itu. Ini adalah hak yang kita miliki sejak lahir, anugerah yang diberikan kepada manusia," tulis Stephen R. Covey dalam The 8th Habits.
Oleh karena itu, potensi yang ada pada diri kita, yang di anugerahi oleh Tuhan wajib kita maksimalkan. Bagaimana caranya? Pertanyaan ini sudah jamak dipertanyakan banyak pihak. Dan, sudah banyak buku-buku tentang motivasi memaksimalkan potensi yang kita miliki, namun tidak banyak orang yang berhasil memahami hal tersebut, sehingga sulit untuk mencapai tujuan untuk menggali potensi diri tersebut. Celakanya apabila kita sudah beranjak dewasa atau minimal sudah masuk sekolah, tetapi kita belum juga menemukan potensi yang dianugerahkan oleh Maha Kuasa, kita sendiri yang rugi.
Begitu juga di dunia pendidikan, katakanlah dunia pendidikan, Universitas. Selayaknya, di dunia pendidikan setingkat universitas, mahasiswa atau mahasiswi sudah mengetahui bakat yang dimilikinya. Sehingga ketika masuk atau sudah tetgelut di dunia pendidikan telah mengetahui potensi dirinya, lantas mengeksekusi menjadi ahli dalam bidangnya. Namun, kenyataannya tidak banyak yang mengetahui potensi dalam dirinya, sehingga ketika keluar dari universitas, ia tidak bingung mencari tempat atau kegiatan yang akan dikerjakan. Padahal, keterampilan menulis dan bertutur sangat penting bagi keberlangsungan hidup setelah ia lulus dari kawah candradimuka.
Konon, keterampilan menulis dan bertutur adalah keterampilan yang saling berhubungan. Berhubungan dengan struktur kehidupan kita. Lantaran, dunia pendidikan maupun kehidupan nyatanya, kedua keterampilan ini bak keping mata uang, saling bermanfaat. Oleh karena itu, menurut penelitian, menguasai bahasa dalam artian: membaca dan menulis, serta bertutur bisa mempengaruhi kualitas taraf hidup masyarakat maupun orang. Taraf hidup masyarakat yang melek literasi (baca-tulis, serta bertutur) maka kualitas hidup masyarakat juga meningkatkan. Serta pemahaman dan kesadaran masyarakat juga meningkatkan.
Dalam buku yang berjudul On Writing Well, yang ditulis oleh William Ziensset mengatakan "Bahwa ketakutan menulis sudah tertanam sejak anak-anak sekolah pada usia dini, khususnya anak-anak yang berkecenderungan sains, atau teknik dan mekanik. Mereka diyakinkan bahwa menulis adalah kecakapan khusus yang dikuasai oleh guru bahasa, yang dimiliki hanya oleh sedikit orang yang berkecenderungan humanistik yang memiliki "bakat dalam berkata-kata".
Dari persepsi William Ziennest ini bisa digeneralisasikan sedikit. Bahwa manusia yang menguasai bahasa bertutur dalam konteks kertas, hanya orang-orang yang berkutik di bidang tersebut. Atau guru bahasa. Namun kalau kita mau membuka mata lebih jauh, anggapan oleh William itu, hanya sedikit saja. Pasalnya, ketika ada kemauan dan kemampuan yang kuat maka bakat dalam berkata bisa dipelajari. Dan ini jelas bahwa Tuhan telah menitipkan kita anugerah potensi dan bakat; apapun bakat itu. Maka tugas kita sebagai makhluk yang diciptakan sedemikian "unik" dan wakil atau khalifah di muka bumi ini, maka sesungguhnya kemampuan itu ada pada diri kita. Tinggal kita mengekspresikan dan mengeksplorasikan ke dalam teks.
Kendati demikian, tidak sedikit yang mau mencoba untuk belajar. Kalaupun ada yang mau belajar, tetapi tidak tahan lama. Artinya tidak tahan dalam proses itu. Namun hal demikian itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Akan lebih baik lagi, bahwa bakat atau tidak tersebut terus diasah dan dilakukan setiap hari. Dari situ, kemampuan atau kebiasaan akan muncul bersamaan dengan ke(telaten)an tersebut. Oleh karena, apapun bakat itu, semua tergantung oleh jam terbang dalam mengemas potensi tersebut.
Oleh karena itu, menulis atau berbakat apapun bukanlah keterampilan yang dimiliki sebagian orang sejak lahir saja, tetapi seperti bakat-bakat lainnya; bakat musik, seni olahraga atau bakat bertutur. Karena menulis adalah bakat semua orang. Dan menulis adalah bakat dan hak setiap orang. Karena menulis adalah berbicara dan komunikasi kepada seseorang di atas kertas. Seseorang yang dapat berpikir secara jernih mampu pula, menulis dengan jelas tentang masalah apapun itu. Karena menulis adalah hak semua bidang dan orang.
Barangkali kita pernah membaca buku yang berjudul The 8th Habit, dari Stephen R. Covey, "Jauh di dalam setiap diri kita ada kerinduan mendalam untuk menjalani kehidupan yang hebat, yang agung, dan memberi sumbangan nyata--untuk sungguh-sungguh merasa penting, untuk membuat perbedaan yang benar--benar nyata. Mungkin kita meragukan diri kita sendiri dan kemampuan kita untuk melakukan hal itu. Namun, saya ingin Anda mengetahui keyakinan saya yang terdalam bahwa Anda dapat menjalani kehidupan seperti itu. Anda memiliki potensi luar biasa di dalam diri Anda. Ya, Anda semua memiliki potensi itu. Ini adalah hak yang kita miliki sejak lahir, anugerah yang diberikan kepada manusia," tulis Stephen R. Covey dalam The 8th Habits.
Oleh karena itu, potensi yang ada pada diri kita, yang di anugerahi oleh Tuhan wajib kita maksimalkan. Bagaimana caranya? Pertanyaan ini sudah jamak dipertanyakan banyak pihak. Dan, sudah banyak buku-buku tentang motivasi memaksimalkan potensi yang kita miliki, namun tidak banyak orang yang berhasil memahami hal tersebut, sehingga sulit untuk mencapai tujuan untuk menggali potensi diri tersebut. Celakanya apabila kita sudah beranjak dewasa atau minimal sudah masuk sekolah, tetapi kita belum juga menemukan potensi yang dianugerahkan oleh Maha Kuasa, kita sendiri yang rugi.
Begitu juga di dunia pendidikan, katakanlah dunia pendidikan, Universitas. Selayaknya, di dunia pendidikan setingkat universitas, mahasiswa atau mahasiswi sudah mengetahui bakat yang dimilikinya. Sehingga ketika masuk atau sudah tetgelut di dunia pendidikan telah mengetahui potensi dirinya, lantas mengeksekusi menjadi ahli dalam bidangnya. Namun, kenyataannya tidak banyak yang mengetahui potensi dalam dirinya, sehingga ketika keluar dari universitas, ia tidak bingung mencari tempat atau kegiatan yang akan dikerjakan. Padahal, keterampilan menulis dan bertutur sangat penting bagi keberlangsungan hidup setelah ia lulus dari kawah candradimuka.
Konon, keterampilan menulis dan bertutur adalah keterampilan yang saling berhubungan. Berhubungan dengan struktur kehidupan kita. Lantaran, dunia pendidikan maupun kehidupan nyatanya, kedua keterampilan ini bak keping mata uang, saling bermanfaat. Oleh karena itu, menurut penelitian, menguasai bahasa dalam artian: membaca dan menulis, serta bertutur bisa mempengaruhi kualitas taraf hidup masyarakat maupun orang. Taraf hidup masyarakat yang melek literasi (baca-tulis, serta bertutur) maka kualitas hidup masyarakat juga meningkatkan. Serta pemahaman dan kesadaran masyarakat juga meningkatkan.
Dalam buku yang berjudul On Writing Well, yang ditulis oleh William Ziensset mengatakan "Bahwa ketakutan menulis sudah tertanam sejak anak-anak sekolah pada usia dini, khususnya anak-anak yang berkecenderungan sains, atau teknik dan mekanik. Mereka diyakinkan bahwa menulis adalah kecakapan khusus yang dikuasai oleh guru bahasa, yang dimiliki hanya oleh sedikit orang yang berkecenderungan humanistik yang memiliki "bakat dalam berkata-kata".
Dari persepsi William Ziennest ini bisa digeneralisasikan sedikit. Bahwa manusia yang menguasai bahasa bertutur dalam konteks kertas, hanya orang-orang yang berkutik di bidang tersebut. Atau guru bahasa. Namun kalau kita mau membuka mata lebih jauh, anggapan oleh William itu, hanya sedikit saja. Pasalnya, ketika ada kemauan dan kemampuan yang kuat maka bakat dalam berkata bisa dipelajari. Dan ini jelas bahwa Tuhan telah menitipkan kita anugerah potensi dan bakat; apapun bakat itu. Maka tugas kita sebagai makhluk yang diciptakan sedemikian "unik" dan wakil atau khalifah di muka bumi ini, maka sesungguhnya kemampuan itu ada pada diri kita. Tinggal kita mengekspresikan dan mengeksplorasikan ke dalam teks.
Kendati demikian, tidak sedikit yang mau mencoba untuk belajar. Kalaupun ada yang mau belajar, tetapi tidak tahan lama. Artinya tidak tahan dalam proses itu. Namun hal demikian itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Akan lebih baik lagi, bahwa bakat atau tidak tersebut terus diasah dan dilakukan setiap hari. Dari situ, kemampuan atau kebiasaan akan muncul bersamaan dengan ke(telaten)an tersebut. Oleh karena, apapun bakat itu, semua tergantung oleh jam terbang dalam mengemas potensi tersebut.
Oleh karena itu, menulis atau berbakat apapun bukanlah keterampilan yang dimiliki sebagian orang sejak lahir saja, tetapi seperti bakat-bakat lainnya; bakat musik, seni olahraga atau bakat bertutur. Karena menulis adalah bakat semua orang. Dan menulis adalah bakat dan hak setiap orang. Karena menulis adalah berbicara dan komunikasi kepada seseorang di atas kertas. Seseorang yang dapat berpikir secara jernih mampu pula, menulis dengan jelas tentang masalah apapun itu. Karena menulis adalah hak semua bidang dan orang.
Bener sih, cuman ya kayak intelegence sih, ada yg memang tulisannya magical gitu bikin klepek2 hahaha
ردحذفTerima kasih, Mas udah menyempatkan membac tulisan tersebut. Kalau oleh tahu "tulisan magical" siapa ya? 😂
ردحذفLike hujan bulan juni, Hemingway, Tolstoy, tereliye etc
ردحذفMemang keren-keren, Mas tulisan para penulis-penulis besar itu... Saya sangat suka novelnya Hemingway...
ردحذفtemen-temen ane banyak banget beralasan kalo menulis itu bukan bagian dari potensi dirinya, bang. Padahal banyak buku bertema tulis-menulis; yang menegaskan kalo alasan "nggak bakat" itu merupakan dalih. Jadi, aku senang bisa membaca postingannya ini, bang. heehehehe | btw, salam kenal :)
ردحذفTerima kasih, Neng sudah jalan-jalan di blog saya. Betul banget, menulis itu emang dari kemauan. Kalau gak mau nulis berarti gak ada tulisan.., hehehe
ردحذفOh iya terima kasih banyak ya apresiasinya... hehehe. Salam kenal balik... 😊
Yoih, bang. Hehehe | ane tunggu postingan2 terbarunya bang.
ردحذفOh iya baik terima kasih ya apresiasinya... Hehehe...
ردحذفإرسال تعليق