Mahahani. Nama ini sudah familiar di telinga Kediri Raya bahkan di luar kota Kediri. Pasalnya, Mahanani adalah komunitas yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat dalam minat baca atau bahasa sehari-harinya Taman Baca Mahanani. Sehingga Mahananian--sebutan relawan Mahanani--memiliki visi untuk memperkenalkan dan mengajak masyarakat akan sadar budaya baca. Budaya baca sendiri di kalangan masyarakat Kediri atau kota-kota besar belum tumbuh secara masif. Ya, kita tahu sendiri, masyarakat kita lebih didominasi oleh budaya tonton dan bahasa oral atau budaya tutur.
Untuk itu, Mahanani yang saya kunjungi kemarin (1/6), sangat menarik. Mengapa menarik? Secara fisik, saya sudah beberapa kali berkunjung di Taman Baca Mahanani ini--terhitung dari awal hingga kemarin--sudah lima kali ke tempat buku itu. Namun ada yang beda dari kunjungan tersebut. Saya sedikit banyak mendapat pelajaran tentang bagaimana cara untuk membudayakan membaca di lingkungan terdekat. Naim Ali, salah satu penggagas Taman Baca Mahanani memberi petuah bahwa hal pertama yang harus dilakukan ada target kita bidik. Maksudnya, target yang akan kita bidik untuk membudayakan membaca itu anak-anak: TK, SD, SMP, SMA atau orang dewasa. Hal ini yang penting! Apabila sasaran 'tembak' itu sudah kita dapat, baru kita masuk ke dunianya mereka.
Misal, saya lebih condong membudayakan membaca dan target dan sasaran saya ke anak-anak: TK dan SMA maka yang pertama kali kita bangun adalah komunikasi. Komunikasi terhadap anak-anak itu sendiri. Apalagi anak-anak sedang bermain atau sedang berkumpul maka itulah waktu yang tepat untuk membangun komunikasi dengannya. Kita bisa belajar bareng dengan anak-anak yang sedang bermain. Jikalau kita memiliki buku beberapa kemudian letakkanlah buku tersebut di sebelah kita. Biarkan dulu buku tersebut menjadi sahabat bermain kita. Lalu, setelah kita sudah masuk dalam dunianya, dengan ikut bermain itu maka kita bisa memulai tujuan kita semula, yakni bercerita tentang dunia kesukaan mereka. Dan kita itulah referensi bagi mereka semua.
Mahanani adalah salah satu dari sekian banyak taman baca yang di Kediri. Buku-buku yang dikoleksi sudah banyak sekali. Buku-buku yang ada di sudut-sudut ruangan Taman Baca Mahanani telah banyak membantu mahasiswa--tidak terkecuali--mahasiswa semester akhir. Selain itu, Taman Baca ini sangat penting bagi masyarakat di sekitarnya, terutama untuk anak-anak seusia TK-SD, karena target mereka adalah masyarakat umum dan kalangan akademisi. Terlihat dari beberapa volunteer atau relawan Mahanani yang biasa disebut Mahananian berasal dari mahasiswa yang di Kediri. Taman baca yang memiliki segudang slogan ini memang menarik. Misalnya, slogan yang menjadi iconnya Mahanani Bukumu, Budayamu!, Dunia Selebar Buku,Nggak Malu Baca Buku. Jargon inilah yang menjadi senjata mereka untuk memecahkan pikiran masyarakat--yang memiliki statement bahwa membaca buku itu tidak penting dan membuang waktu saja.
Fokus saya ketika melihat dan membaca poster yang ditempel di jalanan adalah slogan Nggak Zamannya Malu Baca Buku. Karena slogan ini dibarengi dengan gambar seorang anak Punk yang sedang membaca. Seorang Punker pun tidak malu membaca, bagaimana dengan kita-kita seorang yang dekat dengan dunia akademisi dan keilmuan. Oleh karena itu, bukan zamannya lagi malu membaca atau tidak pentingnya kegiatan membaca itu.
Apabila kegiatan membaca tersebut diimbangi dengan kegiatan menulis ber(literasi) maka tidak dipungkiri mereka semua menjadi bagian dari budaya orang-orang berpikir negara maju. Karena kalau kita melihat lebih jauh terkait salah satu faktor negara maju adalah budaya literasi yang kuat dan tinggi. Membaca dan menulis seyogyanya harus dibangun sejak kecil seperti halnya membaca. Karena menulis yang dimulai sejak kecil juga akan mempermudah proses pendidikan dan kehidupan mereka.
Membaca dan menulis juga harus dibangun oleh taman baca-taman baca (TBM). Pasalnya, di dalam taman baca lebih banyak kegiatan yang langsung bersangkutan dengan dunia buku. Sehingga awal dari budaya menulis tidak terlepas dari dunia buku dan membaca. Ada satu contoh yang menggunakan media Taman Baca Masyarakat (TBM) yang terlibat dalam proses tulis-menulis. Yakni TBM Cangkruk Pinter besutan Muksin Kalda. Di cangkruk pintar ini, ia membudayakan membaca dan menulis sehingga--secara tidak sadar--mereka membutuhkan buku dan tidak bisa jauh dari buku. Mereka membutuhkan banyak referensi untuk bahan menulis. Kendati begitu, budaya literasi masih sulit untuk dikembangkan ditengah gelombang budaya tonton yang telah masif. Sebenarnya, budaya literasi yang sedikit demi sedikit mulai bangun dari tidur siangnya tersebut harus ditanamkan pada kelompok belajar bersama, seperti TBM tersebut. TBM sebenarnya juga memiliki kans untuk membangun budaya literasi.
Saya sangat salut dengan Dr. Ngainun Naim ataupun yang lainnya, yang menggiatkan budaya berliterasi. Seperti hipotesisnya, potensi literasi di daerah sekarisidenan kota Kediri dan sekitarnya, termasuk di kota-kota disebelah, Tulungagung, Trenggalek dan lainnya semakin semarak. Misalnya saja, geliat literasi ia tangkap dari sayembara menulis antologi bersama. Antologi ini berjudul "Geliat Literasi; Membangun Budaya Membaca dan Menulis di Kampus IAIN Tulungagung." Buku menangkap geliat literasi ini sedang dalam proses pengerjaan di penerbit. Semoga buku ini menjadi awal yang baik untuk memacu budaya literasi di manapun, termasuk kalangan kampus-kampus lain dan instansi-instansi yang lain.
Budaya baca dan tulis memang pantas untuk ditumbuhkembangkan. Lantaran, melalui budaya membaca dan menulis adalah salah satu faktor keberhasilan pendidikan dan kehidupan. Pada dunia pendidikan, kita terbantu dengan budaya tersebut. Manakala mau presentasi tentu menjadi mudah dan mendorong untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh audien. Pengetahuan dan pengalaman tentang pelajaran tersebut jadi mudah dikuasai. Itu salah satu kemudahan dalam bidang presentasi. Dalam konteks skripsi atau penulisan makalah, jelas, keterampilan menulis sangat membantu dan mempermudah pengerjaan tugas akhir tersebut. Keterampilan menulis memang perlu ditekankan pada dalam lingkup akademik. Kendati di tengah-tengah isu Strata 1 tidak memakai skripsi namun keterampilan menulis tetap terus digelorakan. Pada suatu saat keterampilan ini menemui jalan kesuksesan.
Dalam bidang kehidupan, membaca dan menulis sangat penting. Di lingkungan masyarakat budaya ini juga tidak kalah urgen karena pekerjaan apapun dan di manapun budaya literasi ini diperlukan. Bahkan, melalui UNICEF, Indonesia dikategorikan dalam negara buta aksara. Rasio budaya membaca adalah 0,0001. Artinya dari 1000 orang hanya 1 orang saja. Hal tersebut memang miris kenyataannya. Untuk itu budaya mengenal buku serta geliat literasi perlu digalakkan. Menggalakkan pun bisa dari berbagai sisi: bisa melalui TBM, dari motivasi menulis hingga status-status facebook atau via media sosial perlu ditekankan. Karena kedua budaya tersebut sangat penting diadakan. []
Untuk itu, Mahanani yang saya kunjungi kemarin (1/6), sangat menarik. Mengapa menarik? Secara fisik, saya sudah beberapa kali berkunjung di Taman Baca Mahanani ini--terhitung dari awal hingga kemarin--sudah lima kali ke tempat buku itu. Namun ada yang beda dari kunjungan tersebut. Saya sedikit banyak mendapat pelajaran tentang bagaimana cara untuk membudayakan membaca di lingkungan terdekat. Naim Ali, salah satu penggagas Taman Baca Mahanani memberi petuah bahwa hal pertama yang harus dilakukan ada target kita bidik. Maksudnya, target yang akan kita bidik untuk membudayakan membaca itu anak-anak: TK, SD, SMP, SMA atau orang dewasa. Hal ini yang penting! Apabila sasaran 'tembak' itu sudah kita dapat, baru kita masuk ke dunianya mereka.
Misal, saya lebih condong membudayakan membaca dan target dan sasaran saya ke anak-anak: TK dan SMA maka yang pertama kali kita bangun adalah komunikasi. Komunikasi terhadap anak-anak itu sendiri. Apalagi anak-anak sedang bermain atau sedang berkumpul maka itulah waktu yang tepat untuk membangun komunikasi dengannya. Kita bisa belajar bareng dengan anak-anak yang sedang bermain. Jikalau kita memiliki buku beberapa kemudian letakkanlah buku tersebut di sebelah kita. Biarkan dulu buku tersebut menjadi sahabat bermain kita. Lalu, setelah kita sudah masuk dalam dunianya, dengan ikut bermain itu maka kita bisa memulai tujuan kita semula, yakni bercerita tentang dunia kesukaan mereka. Dan kita itulah referensi bagi mereka semua.
Mahanani adalah salah satu dari sekian banyak taman baca yang di Kediri. Buku-buku yang dikoleksi sudah banyak sekali. Buku-buku yang ada di sudut-sudut ruangan Taman Baca Mahanani telah banyak membantu mahasiswa--tidak terkecuali--mahasiswa semester akhir. Selain itu, Taman Baca ini sangat penting bagi masyarakat di sekitarnya, terutama untuk anak-anak seusia TK-SD, karena target mereka adalah masyarakat umum dan kalangan akademisi. Terlihat dari beberapa volunteer atau relawan Mahanani yang biasa disebut Mahananian berasal dari mahasiswa yang di Kediri. Taman baca yang memiliki segudang slogan ini memang menarik. Misalnya, slogan yang menjadi iconnya Mahanani Bukumu, Budayamu!, Dunia Selebar Buku,Nggak Malu Baca Buku. Jargon inilah yang menjadi senjata mereka untuk memecahkan pikiran masyarakat--yang memiliki statement bahwa membaca buku itu tidak penting dan membuang waktu saja.
Fokus saya ketika melihat dan membaca poster yang ditempel di jalanan adalah slogan Nggak Zamannya Malu Baca Buku. Karena slogan ini dibarengi dengan gambar seorang anak Punk yang sedang membaca. Seorang Punker pun tidak malu membaca, bagaimana dengan kita-kita seorang yang dekat dengan dunia akademisi dan keilmuan. Oleh karena itu, bukan zamannya lagi malu membaca atau tidak pentingnya kegiatan membaca itu.
Apabila kegiatan membaca tersebut diimbangi dengan kegiatan menulis ber(literasi) maka tidak dipungkiri mereka semua menjadi bagian dari budaya orang-orang berpikir negara maju. Karena kalau kita melihat lebih jauh terkait salah satu faktor negara maju adalah budaya literasi yang kuat dan tinggi. Membaca dan menulis seyogyanya harus dibangun sejak kecil seperti halnya membaca. Karena menulis yang dimulai sejak kecil juga akan mempermudah proses pendidikan dan kehidupan mereka.
Membaca dan menulis juga harus dibangun oleh taman baca-taman baca (TBM). Pasalnya, di dalam taman baca lebih banyak kegiatan yang langsung bersangkutan dengan dunia buku. Sehingga awal dari budaya menulis tidak terlepas dari dunia buku dan membaca. Ada satu contoh yang menggunakan media Taman Baca Masyarakat (TBM) yang terlibat dalam proses tulis-menulis. Yakni TBM Cangkruk Pinter besutan Muksin Kalda. Di cangkruk pintar ini, ia membudayakan membaca dan menulis sehingga--secara tidak sadar--mereka membutuhkan buku dan tidak bisa jauh dari buku. Mereka membutuhkan banyak referensi untuk bahan menulis. Kendati begitu, budaya literasi masih sulit untuk dikembangkan ditengah gelombang budaya tonton yang telah masif. Sebenarnya, budaya literasi yang sedikit demi sedikit mulai bangun dari tidur siangnya tersebut harus ditanamkan pada kelompok belajar bersama, seperti TBM tersebut. TBM sebenarnya juga memiliki kans untuk membangun budaya literasi.
Saya sangat salut dengan Dr. Ngainun Naim ataupun yang lainnya, yang menggiatkan budaya berliterasi. Seperti hipotesisnya, potensi literasi di daerah sekarisidenan kota Kediri dan sekitarnya, termasuk di kota-kota disebelah, Tulungagung, Trenggalek dan lainnya semakin semarak. Misalnya saja, geliat literasi ia tangkap dari sayembara menulis antologi bersama. Antologi ini berjudul "Geliat Literasi; Membangun Budaya Membaca dan Menulis di Kampus IAIN Tulungagung." Buku menangkap geliat literasi ini sedang dalam proses pengerjaan di penerbit. Semoga buku ini menjadi awal yang baik untuk memacu budaya literasi di manapun, termasuk kalangan kampus-kampus lain dan instansi-instansi yang lain.
Budaya baca dan tulis memang pantas untuk ditumbuhkembangkan. Lantaran, melalui budaya membaca dan menulis adalah salah satu faktor keberhasilan pendidikan dan kehidupan. Pada dunia pendidikan, kita terbantu dengan budaya tersebut. Manakala mau presentasi tentu menjadi mudah dan mendorong untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh audien. Pengetahuan dan pengalaman tentang pelajaran tersebut jadi mudah dikuasai. Itu salah satu kemudahan dalam bidang presentasi. Dalam konteks skripsi atau penulisan makalah, jelas, keterampilan menulis sangat membantu dan mempermudah pengerjaan tugas akhir tersebut. Keterampilan menulis memang perlu ditekankan pada dalam lingkup akademik. Kendati di tengah-tengah isu Strata 1 tidak memakai skripsi namun keterampilan menulis tetap terus digelorakan. Pada suatu saat keterampilan ini menemui jalan kesuksesan.
Dalam bidang kehidupan, membaca dan menulis sangat penting. Di lingkungan masyarakat budaya ini juga tidak kalah urgen karena pekerjaan apapun dan di manapun budaya literasi ini diperlukan. Bahkan, melalui UNICEF, Indonesia dikategorikan dalam negara buta aksara. Rasio budaya membaca adalah 0,0001. Artinya dari 1000 orang hanya 1 orang saja. Hal tersebut memang miris kenyataannya. Untuk itu budaya mengenal buku serta geliat literasi perlu digalakkan. Menggalakkan pun bisa dari berbagai sisi: bisa melalui TBM, dari motivasi menulis hingga status-status facebook atau via media sosial perlu ditekankan. Karena kedua budaya tersebut sangat penting diadakan. []
إرسال تعليق