Salah satu keberhasilan lain adalah bagaimana kepemimpinan yang dilakukan pak Soetran bisa menggerakkan etos kerja (semangat kerja) di masyarakat. Masyarakat bersemangat dalam kerja gotong royong untuk membangun daerahnya sendiri. Jalan-jalan lama diperbaiki. Jalan-jalan baru dibuat melaui kerja warga sendiri dengan penuh semangat.
Kesadaran kerja keras dalam hal bertani dan menanam juga ditingkatkan. Bupati Soetran menggelorakan semboyan “Tidak boleh sejengkal tanahpun yang kosong dari tanaman”. Slogan itu amat berhasil. Tanaman Cengkeh dikenalkan dan langsung ditanam masyarakat secara massif, tanaman yang belakangan dan sekarang ini menjadi salah satu ikon Trenggalek. Cengkeh waktu itu sudah dikenalkan kepada masyarakat terutama di Kecamatan Dongko, Pule, Watulimo. Juga Panggul, Munjungan, Karangan yang memiliki pegunungan.
Pembangunan yang dipimpin oleh Soetran ini amat dikenal oleh masyarakat lain, bahkan terdengar sampai pusat. Nama Soetran juga tercatat sebagai bupati berprestasi di pemerintahan pusat. Karena itu, Trenggalek menjadi sangat terkenal di seluruh Indonesia. Di era ini, banyak tamu yang berdatangan.
Mungkin lebih dari separo Daerah Tingkat II di Indonesia pernah mengadakan peninjauan (kunjungan Kerja) baik dari Eksekutif maupun Legislatif di Trenggalek. Mereka ingin melakukan studi tentang keberhasilan Bupati Soetran dalam membangun Trenggalek.
Bupati Soetran tampaknya juga merupakan tipe orang yang juga memikirkan identitas Trenggalek. Pada suatu hari, pada awal tahun 1973, Bupati Soetran secara informil mengajukan gagasan merubah nama “Trenggalek” menjadi “Trenggalih”. Alasannya kata “Trenggalek” sering diartikan (diplesetkan) “Terang yen elek” (jelas kalau jelek). Sedang “Trenggalih” berarti “Terang ing galih” (Jernih di Hati). Kerena Bupati Soetran agaknya ngotot, maka sebagai jalan tengah dibentuklah suatu panitia yang terdiri dari Legislatip dan Eksekutip dengan nama “Panitia Sejarah Kabupaten Trenggalek”, dengan tugas yang diperluas yaitu: menyusun buku sejarah kabupaten Trenggalek; mencari Hari Jadi Trenggalek; mencari asal-usul kata Trenggalek.
Tugas-tugas itu ternyata tidak mudah dan memakan waktu yang cukup lama. Keinginan mengubah nama Trenggalek berhenti karena pada Bulan Mei 1975 secara mendadak Bupati Soetran diangkat menjadi Pj. Gubernur Irian Jaya. Dan kemudian secara definitif ditetapkan sebagai Gubernur Irian Jaya menggantikan Kolonel Acup Zainal. Soetran dianggap berhasil membangun secara drastis Trenggalek dengan gaya militeristik dan mengorganisir kerja keras gotong-royong masyarakat untuk membangun infrastruktur.
Nama Bupati Soetran hingga kini masih sering disebut-sebut oleh banyak orang. Meskipun ia adalah bagian dari Orde Baru dan militer yang citra politiknya sempat ditolak gerakan rakyat dan mahasiswa sejak era 1998, nama Soetran tak akan tenggelam. Itu karena beliau memang meletakkan dasar bagi pembangunan Trenggalek melalui kepemimpinan yang berwibawa dan disegani masyarakatnya, dengan melakukan pembangunan insfrastruktur yang banyak mengubah wajah Trenggalek.
Bupati-bupati setelahnya hanyalah meneruskan apa yang sudah dilakukannya. Sejauh ini, tidak ada bupati yang melakukan terobosan yang dapat menyamai keberhasilan pak Soetran. Bahkan dalam sejarah dinamika ekonomi dengan masyarakat lainnya, tampaknya Trenggalek tidak menunjukkan keberhasilan yang berarti. Dengan kabupaten sekitar, Trenggalek juga masih tertinggal jauh. Angin segar reformasi yang melanda Indonesia sejak 1998, terutama diberikannya Trenggalek otonomi daerah sebagaimana daerah lainnya, juga belum mampu membuat Trenggalek mengalami kebangkitan dalam arti yang sesungguhnya.
Kesadaran kerja keras dalam hal bertani dan menanam juga ditingkatkan. Bupati Soetran menggelorakan semboyan “Tidak boleh sejengkal tanahpun yang kosong dari tanaman”. Slogan itu amat berhasil. Tanaman Cengkeh dikenalkan dan langsung ditanam masyarakat secara massif, tanaman yang belakangan dan sekarang ini menjadi salah satu ikon Trenggalek. Cengkeh waktu itu sudah dikenalkan kepada masyarakat terutama di Kecamatan Dongko, Pule, Watulimo. Juga Panggul, Munjungan, Karangan yang memiliki pegunungan.
Pembangunan yang dipimpin oleh Soetran ini amat dikenal oleh masyarakat lain, bahkan terdengar sampai pusat. Nama Soetran juga tercatat sebagai bupati berprestasi di pemerintahan pusat. Karena itu, Trenggalek menjadi sangat terkenal di seluruh Indonesia. Di era ini, banyak tamu yang berdatangan.
Mungkin lebih dari separo Daerah Tingkat II di Indonesia pernah mengadakan peninjauan (kunjungan Kerja) baik dari Eksekutif maupun Legislatif di Trenggalek. Mereka ingin melakukan studi tentang keberhasilan Bupati Soetran dalam membangun Trenggalek.
Bupati Soetran tampaknya juga merupakan tipe orang yang juga memikirkan identitas Trenggalek. Pada suatu hari, pada awal tahun 1973, Bupati Soetran secara informil mengajukan gagasan merubah nama “Trenggalek” menjadi “Trenggalih”. Alasannya kata “Trenggalek” sering diartikan (diplesetkan) “Terang yen elek” (jelas kalau jelek). Sedang “Trenggalih” berarti “Terang ing galih” (Jernih di Hati). Kerena Bupati Soetran agaknya ngotot, maka sebagai jalan tengah dibentuklah suatu panitia yang terdiri dari Legislatip dan Eksekutip dengan nama “Panitia Sejarah Kabupaten Trenggalek”, dengan tugas yang diperluas yaitu: menyusun buku sejarah kabupaten Trenggalek; mencari Hari Jadi Trenggalek; mencari asal-usul kata Trenggalek.
Tugas-tugas itu ternyata tidak mudah dan memakan waktu yang cukup lama. Keinginan mengubah nama Trenggalek berhenti karena pada Bulan Mei 1975 secara mendadak Bupati Soetran diangkat menjadi Pj. Gubernur Irian Jaya. Dan kemudian secara definitif ditetapkan sebagai Gubernur Irian Jaya menggantikan Kolonel Acup Zainal. Soetran dianggap berhasil membangun secara drastis Trenggalek dengan gaya militeristik dan mengorganisir kerja keras gotong-royong masyarakat untuk membangun infrastruktur.
Nama Bupati Soetran hingga kini masih sering disebut-sebut oleh banyak orang. Meskipun ia adalah bagian dari Orde Baru dan militer yang citra politiknya sempat ditolak gerakan rakyat dan mahasiswa sejak era 1998, nama Soetran tak akan tenggelam. Itu karena beliau memang meletakkan dasar bagi pembangunan Trenggalek melalui kepemimpinan yang berwibawa dan disegani masyarakatnya, dengan melakukan pembangunan insfrastruktur yang banyak mengubah wajah Trenggalek.
Bupati-bupati setelahnya hanyalah meneruskan apa yang sudah dilakukannya. Sejauh ini, tidak ada bupati yang melakukan terobosan yang dapat menyamai keberhasilan pak Soetran. Bahkan dalam sejarah dinamika ekonomi dengan masyarakat lainnya, tampaknya Trenggalek tidak menunjukkan keberhasilan yang berarti. Dengan kabupaten sekitar, Trenggalek juga masih tertinggal jauh. Angin segar reformasi yang melanda Indonesia sejak 1998, terutama diberikannya Trenggalek otonomi daerah sebagaimana daerah lainnya, juga belum mampu membuat Trenggalek mengalami kebangkitan dalam arti yang sesungguhnya.
إرسال تعليق