Satu bulan yang lalu, aku membeli buku dari salah satu lapak online yang ada di Solo. Ada empat buku yang menarik untuk aku beli. Buku tersebut jelas tidak akan mungkin sampai di tanganku kalau tidak memakai jasa pengiriman barang. Okelah, terjadilah negoisasi antara aku dan penjual buku menentukan jasa pengiriman barang. Aku maunya Pos Indonesia. Ya, itung-itung aku anak Indonesia, dan, biar dibilang punya cinta produk dalam negeri, ya, aku pilih Pos Indonesia
Selain itu, juga rasa nasional(isme), wah, jadi bawa-bawa nama (isme-isme), anggap saja imbuhan kata seperti per- atau -an. Biar tidak dianggap sok keminter. Namun, apalah daya, ternyata barang tersebut memakai pengiriman paket menggunakan JNE. Aku sadar. Aku dari dulu sampai sekarang masih suka menghafal dan membaca plat-plat nomer kendaraan di jalan raya. Sewaktu di luar daerah kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan adalah bermain nomer plat kendaraan. Contoh, plat N itu Malang, Jogja AB, Jakarta itu B. Surabaya L, dan Karesidenan Kediri adalah AG.
Kebiasaan menghafal dan membaca tersebut berlebar pada pola singkatan-singkatan kata. Namun, beberapa tahun belakangan ini aku nikmati jasa pengiriman barang semacam JNE itu tidak tahu kepanjangannya. Aku tidak terlalu mempermasalahkan penggunaan singkatan dan tetek bengek lainnya. Namun, jangan salah. Seperti yang sudah aku bilang, aku ini orang yang paling aktif ketika ada kata yang disingkat-singkat. Misal, JoJoBa (Jomblo-Jomblo Bahagia), Jones atawa Jomblo Ngenes, atau SIKONDOM, hust, jangan ngeres dulu, ini singkatan Situasi Kondisi dan Domisili. Untuk itulah. Entah, kenapa sampai sekarang aku belum menemukan singkatan JNE. Barangkali, eh, jangan anggap barang kali itu batu akik loh, mungkin sebagian Anda mau membantu saya mencarikan kepanjangan dari JNE tersebut.
Buku yang dikirim atas JNE itu, aku beli dari Solo, tempat beberapa teman biasanya menimba ilmu menulis di bilik Literasi itu. Siapa lagi kalau bukan lapaknya Mas Bandung Mawardi. Tidak kenal dengan blio? Wah, Anda mungkin tidak akrab dengan koran-koran nasional, tuh! Perlu lah sesekali beli koran, biar tahu siapa Mas Bandung Mawardi alias Kabut itu. Yang mengangsu Bilik Literasi sekaligus lapak online, Abdjad (Bengawan Litera) bilik buku Solo. Ini aku kasih nomer telepon untuk menghubungi contact person (CP) 085879011234. Silahkan Anda menghubungi langsung untuk mendapatkan buku-buku yang Anda cari. Aku menyertakan nomer contact person ini bukan untuk berkampanye gelap. Apalagi tim sukses (timses) atau apalah itu namanya. Aku menulis nomer hape-nya mas Bandung tidak lain, untuk membantu Anda mendapatkan buku-buku yang menarik bagi kalian.
Buku dipaketkan dari jasa pengiriman tersebut harus memakai jasa kurir. Mengingat kantor pengiriman barang tersebut berada di kota Trenggalek, sedangkan aku ada di pelosok desa, di bagian selatan kota kripik ini. Kurir pun yang mengirimkan barang yang sudah menjadi milikku selepas diterbangkan dari Solo itu. Namun, ada yang dapat aku gali ilmu hikmah dari seorang kurir paket tersebut.
Kita tahu, bahwa sebuah kepercayaan lebih mahal dibanding semua harga barang yang dibeli. Itu jelas. Kepercayaan ibarat, gelas yang utuh kemudian jatuh pecah berantakan kemana-kemana. Jika disatukan tidak akan kembali seperti semula. Begitu juga seperti kertas, meski tidak sobek dan tidak terbang dibuat pesawat kertas, yang dikeras, jika dikembalikan ke-wujud semula, kertas tersebut tidak akan sempurna, pasti ada bekas lipatan atau lekukan selepas remasan tadi. Itu jelas! Tidak bisa ditawar lagi.
Teringat ketika, seorang kurir, yang tak tahu siapa namanya, yang jelas masih seumuran denganku, ia tampaknya bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Dan, kebetulan, aku kemarin menjadi seorang kurir dadakan. Ini salah satu tindakanku hubungan secara horizontal, habblum minnas. Hubungan terhadap teman sendiri. Ternyata kepercayaan tak seberat muatanmu. Betul.
Aku sedang belajar menjadi orang "penting!". Bukan yang berdandan rapih, berdesi, sepatu yang katanya Saiful Jamil seharga jutaan itu. Aku sedang belajar menunggang kuda besi demi sebuah bangunan kokoh, atas nama kepercayaan. Orang "penting", maksudnya, aku belajar menjadi orang penting, untuk kepetingan bersama. Aku belajar menjadi tukang kurir untuk urusan logistik, yang nantinya, ujung-ujungnya urusan logistik. Seperti kata para aktipis-aktipis di jalanan itu. Maka dari itu, aku perlu belajar tentang:
Pertama, seorang kurir harusnya membangun sikap kepercayaan kepada pelanggannya. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak bisa tidak. Harus dilakukan kepercayaan kepada konsumennya. Menjadi kurir atau penyedia layanan jasa ibarat membuat sebuah corporation yang tidak bisa jauh dari dunia konsumen, maka dari situ, sebuah kepercayaan harus ditegakkan setegak-tegaknya.
Kedua, tahan goncangan. Bukan hanya medan yang membuat barang atau yang lebih menaruh emosional, ketika goncangan dari seorang pelanggan tidak cocok dengan produk yang dipesannya. Ada salah satu contoh, yang dulunya, menjadi tranding topic. Sebuah laptop atau alat komunikasi, telepon genggam bisa-bisanya berubah menjadi beberapa bungkus mie instan, yang tak seberapa itu. Kiranya, perlu untuk tahan banting juga kondisi badannya. Biasanya, apabila memakai kurir, semacam aku ini, harus menyusuri jalan-jalan pelosok, yang jalannya belum dijamah bau aspal.
Ketiga, setali tiga uang dengan tahan goncangan, penting juga harus tahan godaan. Ini penting untuk diperhatikan siapa saja yang mempunyai tugas yang sangat mulia--sekali lagi, mulia ini, bukan batu akik--yang menyampaikan pesanan kepada orang yang meminta.
Kurir, sedemikian halnya seperti delevery makanan cepat saji itu, jangan sampai, barang yang dipesan dimakan di tengah jalan--mirip seperti polah tingkahnya Bang Jarwo dalam karton anak-anak itu. Juga tidak boleh jajan di sembarang tempat. Dikawatirkan, nanti pesanannya tidak tepat waktu, maka godaan di jalanan harus ditahan sedemkian kuat, seperti memegang erat jalinan cinta terhadap kekasihmu.
Keempat, kurir juga manusia. Alat transportasinya juga membutuhkan asupan gizi untuk menerbangkan paketan si empunya barang. Tentu, sebagaimana alat transportasi tersebut, seorang kurir juga seperti musafir, yang membutuhkan asupan gizi yang baik untuk bertahan hidup di atas transportasi massal ini. Perlulah, seorang kurir mendapatkan anggaran lebih secara pribadi. Karena telah berkerja secara baik dan tepat sasaran.
Menikmati menjadi kurir banyak senangnya daripada susahnya. Karena, dengan kita menjadi penjelajah dan berkunjung ke tempat-tempat pengguna jasa pengiriman barang, seorang kurir tidak akan bosen, seperti orang yang kerjanya dikukung atawa dikurung oleh gedung-gedung ber-ACC itu. Jelas, udara yang bersihpun tak jarang ia hidup. Selain itu, berangkat petang pulang malam. Seorang tidak bisa melihat perhatian antara pagi beralih ke siang. Siang ke sore. Hingga sore temaram menuju malam tak juga ia nikmati.
Itulah, kenapa aku menulis tentang kurir, pasca menjadi kurir yang baik hati dan tidak sombong. Aku menikmati setiap jengkal lesatan motorku selama menjadi kurir. Kurir harus memiliki hak untuk mengutarakan pendapat, atau jajak pendapat ketika ada yang perlu didiskusikan. Sebetulnya, banyak pelajaran yang aku petik sepintas menjadi kurir untuk seorang teman sendiri. "Seng penting barang e ora rusak, ora enek seng cacat, serta dalam jumlah yang sesuai." Muatanku tak seberat kepercayaanmu.[]
Tm, 30-9-'15
Selain itu, juga rasa nasional(isme), wah, jadi bawa-bawa nama (isme-isme), anggap saja imbuhan kata seperti per- atau -an. Biar tidak dianggap sok keminter. Namun, apalah daya, ternyata barang tersebut memakai pengiriman paket menggunakan JNE. Aku sadar. Aku dari dulu sampai sekarang masih suka menghafal dan membaca plat-plat nomer kendaraan di jalan raya. Sewaktu di luar daerah kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan adalah bermain nomer plat kendaraan. Contoh, plat N itu Malang, Jogja AB, Jakarta itu B. Surabaya L, dan Karesidenan Kediri adalah AG.
Kita tahu, bahwa sebuah kepercayaan lebih mahal dibanding semua harga barang yang dibeli. Itu jelas. Kepercayaan ibarat, seperti kertas, meski tidak sobek dan tidak terbang dibuat pesawat kertas, kertas yang diperas, jika dikembalikan ke-wujud semula, maka kertas tersebut tidak akan sempurna, pasti ada bekas lipatan atau lekukan selepas remasan tadi. Itu jelas! Tidak bisa ditawar lagi.
Kebiasaan menghafal dan membaca tersebut berlebar pada pola singkatan-singkatan kata. Namun, beberapa tahun belakangan ini aku nikmati jasa pengiriman barang semacam JNE itu tidak tahu kepanjangannya. Aku tidak terlalu mempermasalahkan penggunaan singkatan dan tetek bengek lainnya. Namun, jangan salah. Seperti yang sudah aku bilang, aku ini orang yang paling aktif ketika ada kata yang disingkat-singkat. Misal, JoJoBa (Jomblo-Jomblo Bahagia), Jones atawa Jomblo Ngenes, atau SIKONDOM, hust, jangan ngeres dulu, ini singkatan Situasi Kondisi dan Domisili. Untuk itulah. Entah, kenapa sampai sekarang aku belum menemukan singkatan JNE. Barangkali, eh, jangan anggap barang kali itu batu akik loh, mungkin sebagian Anda mau membantu saya mencarikan kepanjangan dari JNE tersebut.
| Belajar jadi Kurir yang Baik |
Buku dipaketkan dari jasa pengiriman tersebut harus memakai jasa kurir. Mengingat kantor pengiriman barang tersebut berada di kota Trenggalek, sedangkan aku ada di pelosok desa, di bagian selatan kota kripik ini. Kurir pun yang mengirimkan barang yang sudah menjadi milikku selepas diterbangkan dari Solo itu. Namun, ada yang dapat aku gali ilmu hikmah dari seorang kurir paket tersebut.
Kita tahu, bahwa sebuah kepercayaan lebih mahal dibanding semua harga barang yang dibeli. Itu jelas. Kepercayaan ibarat, gelas yang utuh kemudian jatuh pecah berantakan kemana-kemana. Jika disatukan tidak akan kembali seperti semula. Begitu juga seperti kertas, meski tidak sobek dan tidak terbang dibuat pesawat kertas, yang dikeras, jika dikembalikan ke-wujud semula, kertas tersebut tidak akan sempurna, pasti ada bekas lipatan atau lekukan selepas remasan tadi. Itu jelas! Tidak bisa ditawar lagi.
Teringat ketika, seorang kurir, yang tak tahu siapa namanya, yang jelas masih seumuran denganku, ia tampaknya bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Dan, kebetulan, aku kemarin menjadi seorang kurir dadakan. Ini salah satu tindakanku hubungan secara horizontal, habblum minnas. Hubungan terhadap teman sendiri. Ternyata kepercayaan tak seberat muatanmu. Betul.
Aku sedang belajar menjadi orang "penting!". Bukan yang berdandan rapih, berdesi, sepatu yang katanya Saiful Jamil seharga jutaan itu. Aku sedang belajar menunggang kuda besi demi sebuah bangunan kokoh, atas nama kepercayaan. Orang "penting", maksudnya, aku belajar menjadi orang penting, untuk kepetingan bersama. Aku belajar menjadi tukang kurir untuk urusan logistik, yang nantinya, ujung-ujungnya urusan logistik. Seperti kata para aktipis-aktipis di jalanan itu. Maka dari itu, aku perlu belajar tentang:
Pertama, seorang kurir harusnya membangun sikap kepercayaan kepada pelanggannya. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak bisa tidak. Harus dilakukan kepercayaan kepada konsumennya. Menjadi kurir atau penyedia layanan jasa ibarat membuat sebuah corporation yang tidak bisa jauh dari dunia konsumen, maka dari situ, sebuah kepercayaan harus ditegakkan setegak-tegaknya.
Kedua, tahan goncangan. Bukan hanya medan yang membuat barang atau yang lebih menaruh emosional, ketika goncangan dari seorang pelanggan tidak cocok dengan produk yang dipesannya. Ada salah satu contoh, yang dulunya, menjadi tranding topic. Sebuah laptop atau alat komunikasi, telepon genggam bisa-bisanya berubah menjadi beberapa bungkus mie instan, yang tak seberapa itu. Kiranya, perlu untuk tahan banting juga kondisi badannya. Biasanya, apabila memakai kurir, semacam aku ini, harus menyusuri jalan-jalan pelosok, yang jalannya belum dijamah bau aspal.
Ketiga, setali tiga uang dengan tahan goncangan, penting juga harus tahan godaan. Ini penting untuk diperhatikan siapa saja yang mempunyai tugas yang sangat mulia--sekali lagi, mulia ini, bukan batu akik--yang menyampaikan pesanan kepada orang yang meminta.
Kurir, sedemikian halnya seperti delevery makanan cepat saji itu, jangan sampai, barang yang dipesan dimakan di tengah jalan--mirip seperti polah tingkahnya Bang Jarwo dalam karton anak-anak itu. Juga tidak boleh jajan di sembarang tempat. Dikawatirkan, nanti pesanannya tidak tepat waktu, maka godaan di jalanan harus ditahan sedemkian kuat, seperti memegang erat jalinan cinta terhadap kekasihmu.
Keempat, kurir juga manusia. Alat transportasinya juga membutuhkan asupan gizi untuk menerbangkan paketan si empunya barang. Tentu, sebagaimana alat transportasi tersebut, seorang kurir juga seperti musafir, yang membutuhkan asupan gizi yang baik untuk bertahan hidup di atas transportasi massal ini. Perlulah, seorang kurir mendapatkan anggaran lebih secara pribadi. Karena telah berkerja secara baik dan tepat sasaran.
Menikmati menjadi kurir banyak senangnya daripada susahnya. Karena, dengan kita menjadi penjelajah dan berkunjung ke tempat-tempat pengguna jasa pengiriman barang, seorang kurir tidak akan bosen, seperti orang yang kerjanya dikukung atawa dikurung oleh gedung-gedung ber-ACC itu. Jelas, udara yang bersihpun tak jarang ia hidup. Selain itu, berangkat petang pulang malam. Seorang tidak bisa melihat perhatian antara pagi beralih ke siang. Siang ke sore. Hingga sore temaram menuju malam tak juga ia nikmati.
Itulah, kenapa aku menulis tentang kurir, pasca menjadi kurir yang baik hati dan tidak sombong. Aku menikmati setiap jengkal lesatan motorku selama menjadi kurir. Kurir harus memiliki hak untuk mengutarakan pendapat, atau jajak pendapat ketika ada yang perlu didiskusikan. Sebetulnya, banyak pelajaran yang aku petik sepintas menjadi kurir untuk seorang teman sendiri. "Seng penting barang e ora rusak, ora enek seng cacat, serta dalam jumlah yang sesuai." Muatanku tak seberat kepercayaanmu.[]
Tm, 30-9-'15
إرسال تعليق