“Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Dari saat ini Anda bangun menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali”. (Fatima Marnissi)
Saya teringat salah satu dosen saat masih kuliah di STAIN--kini IAIN--Tulungagung, yaitu Dr. Ngainun Naim. Ia sangat tekun sekali merawat mood-nya menulis. Bahkan ia menulis hampir setiap hari dan dalam situasi yang tak PW (posisi wenak). Ia menulis biasa menulis di atas bus saat perjalanan berangkat kerja. Di hadapan laptop maupun sedang menikmati segelas kopi di depan rumah.
Ia mengimplementasikan kegiatan ini dengan baik. Hasilkan juga bisa ia rasakan, menelurkan karya nyata berbentuk buku. Terlepas dari itu, Dr. Naim--sapaan akrabnya--menulis disalah satu bukunya “Menulis harus dilakukan setiap hari, karena menulis setiap hari akan menghindari kesulitan. Tetapi kalau tidak dilakukan setiap hari itu sama saja kita akan mengulangi semula”.
Saya kira memang benar apa yang disarankan oleh Pak Naim tersebut. Sudah sewajarnya seorang penulis itu harus diasah setiap hari. Hal demikian untuk menghindari kesan dan kesulitan dalam menulis maupun memahat kata. Sebab menulis setiap hari akan melancarkan sirkulasi udara di otak kita sehingga cara berpikir kita jadi jernih dan runtut. Menulis yang dilakukan dengan ajeg juga membentuk kita berpikir yang konstan lagi mengalir.
Tetapi menulis yang dilakukan setipa hari juga banyak mengalami kendala. Salah satu musuh yang sangat nyata ketika akan menulis. yaitu yaitu malas, bosan, dan jenuh. Musuh mood-nya tersebut memang sering datang tanpa kita duga sebelumnya. Ia datang saat kita sedang asyik-asyiknya menulis, saat asiknya rasa jenuh menyerang kita, yang kita telantarkan tulisan tadi sehingga terbelengkai.
Seyogyanya musuh tersebut harus dilawan. Perlawanan tersebut ya, terus konsisten dan dilawan dengan terus menulis. Misalnya lagi, saat sedang fokus menulis rasa bosan mengelayuti. Kita harus pandai-pandai memanajemen waktu. Dan salah satu cara yang kita gunakan mengelabui hal tersebut adalah memanipulasi kondisi tersebut. Bolehlah keluar rumah, kantor atau jalan kemana sebentar setelah suasana dirasa siap kembali meneruskan menulis. Ya, kita lanjutkan kembali menulis itu.
Menulis setiap hari, pada dasarnya melakukan kegiatan mengaktualisasikan diri dengan menggoreskan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kaliamat, dan menuangkan gagasan sebagai manusia yang berfikir dan mencipta. Kenapa Memproduksi? Sebab dunia seorang penulis atau pencipta tulisan/ karya tulis tugasnya adalah memproduksi (mencipta) gagasan dalam bentuk tulisan, berbeda dengan orang yang hanya menuruti dan meniru khotbah iklan-iklan TV.
MENULIS berbeda dengan MENONTON. Mengapa? Karena menonton tidak perlu menggunakan imajinasi atau merangsang berfikir. Dan kita menjadi penonton (subjek) langsung dihubungkan dengan objek (tontonan) melalui penglihatan (dan pendengaran)—idak perlu berpikir dan merasa dalam waktu panjang dan secara mendalam.
Seperti yang dikatakan oleh seorang penulis dan intelektual Perempuan Fatima Marnissi dari Maroko “Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Dari saat ini Anda bangun menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali."
Penulis tidak segan dirinya berbaur dengan buku bacaan, malah tidak ragu eksistensinya lebih membaca buku dan mengakses informasi yang sedang hits daripada hal lain yang kurang produktif. Hal demikian dilakukan sebagai bahan menulis. Dan seorang penulis selalu beranggapan dirinya kurang akan pengetahuan, wawasannya dan merangsang imajinasi salah satu cara untuk mengaktualisasikan dirinya adalah dengan membaca buku. Karena buku adalah sumber informasi yang paling tepercaya, di banding dengan informasi yang lain. Dan tradisi membaca buku tersebut harus dibangun sejak dini mungkin, untuk memupuk tradisi membaca buku yang kuat.
Pemahaman yang dibangun lewat membaca dan informasi yang digali semakin banyak, tidak mustahil menulis pun semakin mudah mengeksplor semua kemampuannya dalam menulis. Hal tersebut dilakukan setiap hari. Apabila dilakukan setiap kesempatan untuk memahat kata demi kata semakin luar biasa, tidak mustahil akan menghasilkan karya yang luar biasa pula.
Menulis haruslah dilakukan setiap hari, dan tidak segan mencatat apa saja imajinasi yang terlintas dalam benak, karena imajinasi datangnya tidak bisa dipaksakan dan datangnya tidak disangka-sangka. Dari situ, menulis haruslah siap dengan buku catatan atau dicatat dalam bentuk apapun.
Berbeda dengan cara menulis seorang penulis besar seperti J. K. Rowling. Menurutnya “Kita mungkin saja memulai sebuah proyek menulis dan masanya akan tiba—hari, Minggu, atau bulan—dimana kita akan merasa bosan, frustasi, bahkan ingin rasanya berteriak meninggalkan itu semua selam-lamanya. Tetapi lihatlah jika kita berhasil mengatasi itu. Berpikir menyeluruh”. Ketekunan Rowling mendapatkan ide mengenai Harry Potter pada tahun 1990, dan menghabiskan 17 tahun untuk mengerjakan sebelum dia menyelesaikan seri terakhir novel tersebut, Harry Potter and the Deathly Hallown, pada tahun 2007.
17 tahun lebih adalah rentang waktu seorang anak dalam menempuh jenjang Taman Kanak-Kanak sampai SMU. Selama 17 tahun itulah Rowling menulis biografi yang sedang berada di dalam kereta. Saat itu ide mengenai Harry Potter melintas di benaknya ia berada dalam kereta. Dia tak memiliki kertas atau pena, sehingga dalam 40 jam perjalanan dengan kereta itu, hal yang dilakukan hanyalah berpikir. Rowling memaksa dirinya untuk terus menerung agar dapat menyimpan setiap detail kisah Harry Potter. “Menurutku, jika saat itu aku langsung menulisnya di kertas, aku justru akan memperlambat segala ide yang muncul”.
“Jangan terlalu cepat menulis sebuah ide. Pikirkan juga mengenai struktur, konsep, kesimpulan, dan cara bercerita yang akan kita terapkan sebelum menuliskannya,” imbuhnya. Itulah keunikan yang dimiliki Rowling. Tetapi sebagai besar penulis justru menulis secara acak setiap idenya di mana dan kapan pun itu menjadi kekuatan tersendiri yang dimiliki seorang penulis.
Berbeda lagi dengan saya, ada sebuah kekhawatiran yang luar biasa besar apabila inspirasi terlintas di depan, namun saya tak siap untuk menulis. Maka biasanya hangus dan hilang begitu saja. Oleh karena itu kekhawatiran terhadap ide itu terlupakan dan terlintas begitu saja di benak kita apabila tak segera dituliskan.
Penulis harus siap mencurahkan semua perasaan dan keadaan otot dan otak untuk menulis. Pernah mendengar ungkapan “Ketika menulis dengan hati, keluar pun menyentuh hati”.
Saya rasa menulis setiap hari adalah upaya merawat diri sendiri dari kondisi mood yang buruk. Rasanya tidak sama sekali jika seorang penulis yang baik bukan penulis yang dirawat dengan baik. Tidak afdol, kalau tidak dilakukan dengan semangat yang tinggi dan keseriusan yang kuat. Sehingga langkah yang paling tepat untuk belajar menulis adalah terus menulis, menulis, dan menulis, hingga waktunya nanti menghasilkna karya yang sesuai degan karakter kita sendiri. Dan cara untuk membentuk karya yang berkarakter adalah dengan kita mengaktualisasikan dirinya dengan membaca. Sehingga membaca adalah sarana untuk membentuk karakter yang masif.
Kapanpun dan di manapun kita berada menulis seyogyanya memang harus dilakukan dengan baik. Lebih baik lagi dilakukan setiap hari. Persoalan siapa yang membaca tulisan kita adalah itu urusan belakangan, tugas kita adalah menulis, menulis dan menulis selain juga memperbaiki kualitas diri. Jadi, marilah menulis agar memberikan banyak manfaat buat diri dan sesama. Amin.[]
Sumber; Zeest Zehra, “Tips menulis ala J.K Rowling pengarang Harry Potter, dalam www.penulispro.com, diakses pada 21 september 2013
Saya teringat salah satu dosen saat masih kuliah di STAIN--kini IAIN--Tulungagung, yaitu Dr. Ngainun Naim. Ia sangat tekun sekali merawat mood-nya menulis. Bahkan ia menulis hampir setiap hari dan dalam situasi yang tak PW (posisi wenak). Ia menulis biasa menulis di atas bus saat perjalanan berangkat kerja. Di hadapan laptop maupun sedang menikmati segelas kopi di depan rumah.
Ia mengimplementasikan kegiatan ini dengan baik. Hasilkan juga bisa ia rasakan, menelurkan karya nyata berbentuk buku. Terlepas dari itu, Dr. Naim--sapaan akrabnya--menulis disalah satu bukunya “Menulis harus dilakukan setiap hari, karena menulis setiap hari akan menghindari kesulitan. Tetapi kalau tidak dilakukan setiap hari itu sama saja kita akan mengulangi semula”.
Saya kira memang benar apa yang disarankan oleh Pak Naim tersebut. Sudah sewajarnya seorang penulis itu harus diasah setiap hari. Hal demikian untuk menghindari kesan dan kesulitan dalam menulis maupun memahat kata. Sebab menulis setiap hari akan melancarkan sirkulasi udara di otak kita sehingga cara berpikir kita jadi jernih dan runtut. Menulis yang dilakukan dengan ajeg juga membentuk kita berpikir yang konstan lagi mengalir.
Tetapi menulis yang dilakukan setipa hari juga banyak mengalami kendala. Salah satu musuh yang sangat nyata ketika akan menulis. yaitu yaitu malas, bosan, dan jenuh. Musuh mood-nya tersebut memang sering datang tanpa kita duga sebelumnya. Ia datang saat kita sedang asyik-asyiknya menulis, saat asiknya rasa jenuh menyerang kita, yang kita telantarkan tulisan tadi sehingga terbelengkai.
Seyogyanya musuh tersebut harus dilawan. Perlawanan tersebut ya, terus konsisten dan dilawan dengan terus menulis. Misalnya lagi, saat sedang fokus menulis rasa bosan mengelayuti. Kita harus pandai-pandai memanajemen waktu. Dan salah satu cara yang kita gunakan mengelabui hal tersebut adalah memanipulasi kondisi tersebut. Bolehlah keluar rumah, kantor atau jalan kemana sebentar setelah suasana dirasa siap kembali meneruskan menulis. Ya, kita lanjutkan kembali menulis itu.
Menulis setiap hari, pada dasarnya melakukan kegiatan mengaktualisasikan diri dengan menggoreskan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kaliamat, dan menuangkan gagasan sebagai manusia yang berfikir dan mencipta. Kenapa Memproduksi? Sebab dunia seorang penulis atau pencipta tulisan/ karya tulis tugasnya adalah memproduksi (mencipta) gagasan dalam bentuk tulisan, berbeda dengan orang yang hanya menuruti dan meniru khotbah iklan-iklan TV.
MENULIS berbeda dengan MENONTON. Mengapa? Karena menonton tidak perlu menggunakan imajinasi atau merangsang berfikir. Dan kita menjadi penonton (subjek) langsung dihubungkan dengan objek (tontonan) melalui penglihatan (dan pendengaran)—idak perlu berpikir dan merasa dalam waktu panjang dan secara mendalam.
Seperti yang dikatakan oleh seorang penulis dan intelektual Perempuan Fatima Marnissi dari Maroko “Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Dari saat ini Anda bangun menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali."
Penulis tidak segan dirinya berbaur dengan buku bacaan, malah tidak ragu eksistensinya lebih membaca buku dan mengakses informasi yang sedang hits daripada hal lain yang kurang produktif. Hal demikian dilakukan sebagai bahan menulis. Dan seorang penulis selalu beranggapan dirinya kurang akan pengetahuan, wawasannya dan merangsang imajinasi salah satu cara untuk mengaktualisasikan dirinya adalah dengan membaca buku. Karena buku adalah sumber informasi yang paling tepercaya, di banding dengan informasi yang lain. Dan tradisi membaca buku tersebut harus dibangun sejak dini mungkin, untuk memupuk tradisi membaca buku yang kuat.
Pemahaman yang dibangun lewat membaca dan informasi yang digali semakin banyak, tidak mustahil menulis pun semakin mudah mengeksplor semua kemampuannya dalam menulis. Hal tersebut dilakukan setiap hari. Apabila dilakukan setiap kesempatan untuk memahat kata demi kata semakin luar biasa, tidak mustahil akan menghasilkan karya yang luar biasa pula.
Menulis haruslah dilakukan setiap hari, dan tidak segan mencatat apa saja imajinasi yang terlintas dalam benak, karena imajinasi datangnya tidak bisa dipaksakan dan datangnya tidak disangka-sangka. Dari situ, menulis haruslah siap dengan buku catatan atau dicatat dalam bentuk apapun.
Berbeda dengan cara menulis seorang penulis besar seperti J. K. Rowling. Menurutnya “Kita mungkin saja memulai sebuah proyek menulis dan masanya akan tiba—hari, Minggu, atau bulan—dimana kita akan merasa bosan, frustasi, bahkan ingin rasanya berteriak meninggalkan itu semua selam-lamanya. Tetapi lihatlah jika kita berhasil mengatasi itu. Berpikir menyeluruh”. Ketekunan Rowling mendapatkan ide mengenai Harry Potter pada tahun 1990, dan menghabiskan 17 tahun untuk mengerjakan sebelum dia menyelesaikan seri terakhir novel tersebut, Harry Potter and the Deathly Hallown, pada tahun 2007.
17 tahun lebih adalah rentang waktu seorang anak dalam menempuh jenjang Taman Kanak-Kanak sampai SMU. Selama 17 tahun itulah Rowling menulis biografi yang sedang berada di dalam kereta. Saat itu ide mengenai Harry Potter melintas di benaknya ia berada dalam kereta. Dia tak memiliki kertas atau pena, sehingga dalam 40 jam perjalanan dengan kereta itu, hal yang dilakukan hanyalah berpikir. Rowling memaksa dirinya untuk terus menerung agar dapat menyimpan setiap detail kisah Harry Potter. “Menurutku, jika saat itu aku langsung menulisnya di kertas, aku justru akan memperlambat segala ide yang muncul”.
“Jangan terlalu cepat menulis sebuah ide. Pikirkan juga mengenai struktur, konsep, kesimpulan, dan cara bercerita yang akan kita terapkan sebelum menuliskannya,” imbuhnya. Itulah keunikan yang dimiliki Rowling. Tetapi sebagai besar penulis justru menulis secara acak setiap idenya di mana dan kapan pun itu menjadi kekuatan tersendiri yang dimiliki seorang penulis.
Berbeda lagi dengan saya, ada sebuah kekhawatiran yang luar biasa besar apabila inspirasi terlintas di depan, namun saya tak siap untuk menulis. Maka biasanya hangus dan hilang begitu saja. Oleh karena itu kekhawatiran terhadap ide itu terlupakan dan terlintas begitu saja di benak kita apabila tak segera dituliskan.
Penulis harus siap mencurahkan semua perasaan dan keadaan otot dan otak untuk menulis. Pernah mendengar ungkapan “Ketika menulis dengan hati, keluar pun menyentuh hati”.
Saya rasa menulis setiap hari adalah upaya merawat diri sendiri dari kondisi mood yang buruk. Rasanya tidak sama sekali jika seorang penulis yang baik bukan penulis yang dirawat dengan baik. Tidak afdol, kalau tidak dilakukan dengan semangat yang tinggi dan keseriusan yang kuat. Sehingga langkah yang paling tepat untuk belajar menulis adalah terus menulis, menulis, dan menulis, hingga waktunya nanti menghasilkna karya yang sesuai degan karakter kita sendiri. Dan cara untuk membentuk karya yang berkarakter adalah dengan kita mengaktualisasikan dirinya dengan membaca. Sehingga membaca adalah sarana untuk membentuk karakter yang masif.
Kapanpun dan di manapun kita berada menulis seyogyanya memang harus dilakukan dengan baik. Lebih baik lagi dilakukan setiap hari. Persoalan siapa yang membaca tulisan kita adalah itu urusan belakangan, tugas kita adalah menulis, menulis dan menulis selain juga memperbaiki kualitas diri. Jadi, marilah menulis agar memberikan banyak manfaat buat diri dan sesama. Amin.[]
Sumber; Zeest Zehra, “Tips menulis ala J.K Rowling pengarang Harry Potter, dalam www.penulispro.com, diakses pada 21 september 2013
Belum bisa nulis tiap hari nih mas..paling beberapa hari sekali.hhee
ردحذفHehehe. Saya hanya belajar dari guru, Mas.
ردحذفKereeen mas. Mksh
ردحذفSama-sama pak Fauzi. Saya juga masih belajar menulis setiap hari meski sering mengalami kendala... terima kasih pak atas kunjungannya salam kenal
ردحذفإرسال تعليق