Ada wajah baru--meski bukan baru-baru amat--bertengger di tampuk kepemimpinan liga Inggris tahun lalu, 2015-2016. Berkat kemenangan impresif di kandang lawan, Newcastle dengan skor cukup telak 3-0, Leicester City berhak memuncaki klasemen sementara liga Inggris. Sebagai runner-up adalah Setan Merah, Manchester United selisih cukup tipis, hanya satu poin. Meski begitu The Foxes berhak Raihan juara Inggris tahun lalu. Apa rahasianya?
The Foxes gagal mempertahankan puncaki klasemen dari selepas bentrok dengan The Devils berakhir imbang 1-1 (29/11). Namun pada akhirnya, sampai pekan ke-14 pemimpin klasemen ada di tangan The Citizens. Sementara Manchester United duduk di peringkat ketiga liga primer, di bawah Leicester City. Dan, barangkali tidak ada yang menduga Leicester City mampu mewarnai klasemen. Selain itu salah seorang strikernya menjadi top skor di Premire League Inggris musim ini.
Semua tidak terjadi begitu saja. Tentunya ada ramuan manjur yang disiapkan oleh manajer The Foxes, Claudio Renieri. Terlepas dari fluktuatif setiap tim di tangga puncak klasemen, pasti Leicester City memiliki misi yang berbeda. Klub semenjana ini, sampai di pekan empat belas memiliki catatan yang baik. Mereka mampu bermain apik sampai turun minum. Serta mampu mengemas laga-laga krusial maupun biasa saja dengan catatan yang gemilang. Dilihat dari klasemen sampai pekan ke-14, Leicester City baru terkalahkan satu kali, kala melawan The Gunners (26/9) dengan telak 2-5.
Mereka memiliki permainan cukup aktratif. Mereka, para pemain juga mampu mengoperasikan posnya dengan baik. Terbukti pressing yang dilakukan para pemain Leicester City cukup membuat repot para pemain lawan. Misalnya saja ketika bentrok melawan Setan Merah kemarin. Leicester lebih banyak melakukan pressing di sepertiga lapangan Manchester United. Jamie Vardy dan Shinji Okazaki menjadi pemain yang beredar dan pelapis dari formasi pressing tersebut. Oleh karenanya pergeseran bola dari belakangke depan sangat mudah dikuasai. Sehingga Claudio Ranieri memainkan pergeseran formasi tergantung di mana daerah bola berada, formasi elastis. Tidak berlebihan jika formasi tersebut membuat kesulitan serangan yang dinahkodai Louis Van Gaal pekan kemarin.
Selain itu, aliran bola dari belakang ke depan selalu shout on Target. Tidak berlebihan jika selama 10 laga beruntun selalu mencetak gol. Tambahan tiga gol saat melawan Newcastle membawa Leicester City sebagai tim paling produktif di EPL. Dengan produktifitas 28 gol dan 22 kemasukan. Meski secara stastik, 22 kebobolan lini belakang perlu pertahanan grendel untuk menekan terlalu banyak kemasukan.
Konsistensi para pemainnya juga diperhitungkan. Salah satu striker mereka yang sedang di track menanjak adalah Jamie Vardy. Ia mencetak rekor baru dengan menyamai bahkan melampui rekor eks bomber The Devils, Ruud Van Nistelrooy (RVN hanya mencetak gol 10 kali secara beruntun). Pemain yang memakai nomer punggung 33 ini, mencetak 11 gol secara beruntun. Sampai di pekan ke-14, ia mampu membuat 14 gol telah disarangkan oleh pemain berusia 28 tahun ini.
Pemain asal Inggris ini merupakan predator yang diperhitungkan di musim ini. Selain bisa mengantarkan timnya ke puncak ke posisi pertama di pekan ke-13 dalam klasemen, Jamie Vardy sebagai momok menakutkan bagi para penjaga gawang di bawah mistar. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah EPL, yang membuat gol dalam 11 laga secara beruntun.
Kepercayaan diri Vardy terbangun karena setiap bentroknya mampu membawa timnya meremput tiga poin. Seperti yang telah saya jelaskan di atas, Vardy mampu menyebloskan bola ke gawang lawan setiap laganya. Gol-gol yang diciptakan sebagian besar dicetak pada setelah jeda turun minum. Babak kedua ini, Leicester mulai panas. Delapan dari 14 gol yang diciptakan Vardy pada babak kedua. Periode paling berbahaya di menit-menit 15 terakhir. Terbukti, mereka membukukan delapan gol dari empat belas gol pada durasi tersebut.
Seperti pepatah populer yang sering kita dengar. Semakin tinggi pohon, semakin besar angin bertiup. Tentu saja pro-kontra juga ikut mengiringi perjalanan Leicester, untuk mampu mempertahankan posisi sampai akhir musim. Seperti romantika-romantika musim-musim lalu, para tim-tim besar, Chelsea, Mancheter United, Manchester City, Liverpool maupun Arsenal, biasanya telat panas. Akan tetapi jika ditafsir dari produktifitas, Leicester City merupakan tidak ingin dikatakan sebagai kontestan pemompa gairah klub-klub besar. Jika saja, The Foxes mampu menjaga konsistensi, serta tidak diganggu oleh cideranya pemain, dan kekelahan pemain, Leicester bisa bersaing dengan tim-tim langganan posisi atas. Adapun kelelahan, saya rasa tidak menjadi masalah. Leicester hanya fokus pada pertandingan EPL saja, selebihnya ia bertanding di pertandingan lokal.
Selain itu rahasia Leicester City terletak pada sosok pelatih mereka. Meski Claudio Ranieri mendapat banyak pujian, tetapi juga ada yang meragukan kapabilitas Leicester sebagai klub kuda hitam. Dan biasanya melempem di laga-laga akhir musim. Sejak 2000, prestasi pelatih asal Italia ini lumayan gemilang menangani tim-tim yang ia asuh. Lewat tangan dinginnya, ia nyaris selalu bisa mengantarkan sebuah klub berada di puncak klasemen di liga. Tercatat, ia gagal menangani Internazionale pada musim 2011/2012. Rekor tersebut bukan termasuk Parma, yang ia asuh sekana tiga bulan saja, pada 2007.
Grafik statistik Leicester sampai pekan ke-14 sangat positif. Selepas bentruk melawan Manchester United, Leicester City mengalami kekalahan sekali. Selebihnya menang 8 kali, seri 5 kali. Rasio gol yang signifikan, 29 gol dengan 21 kebobolan merepresentasikan Leicester lumayan konsisten dan produktif.
The Foxes adalah ia mampu mempertahankan trend positif tersebut dengan menyampu bersih setiap lawatan melawan klub posisi menengah ke bawah dengan baik. Ia juga belum mengalami kekalahan di laga tandang, di King Power Stadium. Apabila konsistensi di atas mampu ia jalankan dengan baik, tidak mustahil, Leicester mampu mempertahankan tampuk kepemimpinan klasemen sampai akhir musim.[]
The Foxes gagal mempertahankan puncaki klasemen dari selepas bentrok dengan The Devils berakhir imbang 1-1 (29/11). Namun pada akhirnya, sampai pekan ke-14 pemimpin klasemen ada di tangan The Citizens. Sementara Manchester United duduk di peringkat ketiga liga primer, di bawah Leicester City. Dan, barangkali tidak ada yang menduga Leicester City mampu mewarnai klasemen. Selain itu salah seorang strikernya menjadi top skor di Premire League Inggris musim ini.
Semua tidak terjadi begitu saja. Tentunya ada ramuan manjur yang disiapkan oleh manajer The Foxes, Claudio Renieri. Terlepas dari fluktuatif setiap tim di tangga puncak klasemen, pasti Leicester City memiliki misi yang berbeda. Klub semenjana ini, sampai di pekan empat belas memiliki catatan yang baik. Mereka mampu bermain apik sampai turun minum. Serta mampu mengemas laga-laga krusial maupun biasa saja dengan catatan yang gemilang. Dilihat dari klasemen sampai pekan ke-14, Leicester City baru terkalahkan satu kali, kala melawan The Gunners (26/9) dengan telak 2-5.
Mereka memiliki permainan cukup aktratif. Mereka, para pemain juga mampu mengoperasikan posnya dengan baik. Terbukti pressing yang dilakukan para pemain Leicester City cukup membuat repot para pemain lawan. Misalnya saja ketika bentrok melawan Setan Merah kemarin. Leicester lebih banyak melakukan pressing di sepertiga lapangan Manchester United. Jamie Vardy dan Shinji Okazaki menjadi pemain yang beredar dan pelapis dari formasi pressing tersebut. Oleh karenanya pergeseran bola dari belakangke depan sangat mudah dikuasai. Sehingga Claudio Ranieri memainkan pergeseran formasi tergantung di mana daerah bola berada, formasi elastis. Tidak berlebihan jika formasi tersebut membuat kesulitan serangan yang dinahkodai Louis Van Gaal pekan kemarin.
Selain itu, aliran bola dari belakang ke depan selalu shout on Target. Tidak berlebihan jika selama 10 laga beruntun selalu mencetak gol. Tambahan tiga gol saat melawan Newcastle membawa Leicester City sebagai tim paling produktif di EPL. Dengan produktifitas 28 gol dan 22 kemasukan. Meski secara stastik, 22 kebobolan lini belakang perlu pertahanan grendel untuk menekan terlalu banyak kemasukan.
Konsistensi para pemainnya juga diperhitungkan. Salah satu striker mereka yang sedang di track menanjak adalah Jamie Vardy. Ia mencetak rekor baru dengan menyamai bahkan melampui rekor eks bomber The Devils, Ruud Van Nistelrooy (RVN hanya mencetak gol 10 kali secara beruntun). Pemain yang memakai nomer punggung 33 ini, mencetak 11 gol secara beruntun. Sampai di pekan ke-14, ia mampu membuat 14 gol telah disarangkan oleh pemain berusia 28 tahun ini.
Pemain asal Inggris ini merupakan predator yang diperhitungkan di musim ini. Selain bisa mengantarkan timnya ke puncak ke posisi pertama di pekan ke-13 dalam klasemen, Jamie Vardy sebagai momok menakutkan bagi para penjaga gawang di bawah mistar. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah EPL, yang membuat gol dalam 11 laga secara beruntun.
Kepercayaan diri Vardy terbangun karena setiap bentroknya mampu membawa timnya meremput tiga poin. Seperti yang telah saya jelaskan di atas, Vardy mampu menyebloskan bola ke gawang lawan setiap laganya. Gol-gol yang diciptakan sebagian besar dicetak pada setelah jeda turun minum. Babak kedua ini, Leicester mulai panas. Delapan dari 14 gol yang diciptakan Vardy pada babak kedua. Periode paling berbahaya di menit-menit 15 terakhir. Terbukti, mereka membukukan delapan gol dari empat belas gol pada durasi tersebut.
Seperti pepatah populer yang sering kita dengar. Semakin tinggi pohon, semakin besar angin bertiup. Tentu saja pro-kontra juga ikut mengiringi perjalanan Leicester, untuk mampu mempertahankan posisi sampai akhir musim. Seperti romantika-romantika musim-musim lalu, para tim-tim besar, Chelsea, Mancheter United, Manchester City, Liverpool maupun Arsenal, biasanya telat panas. Akan tetapi jika ditafsir dari produktifitas, Leicester City merupakan tidak ingin dikatakan sebagai kontestan pemompa gairah klub-klub besar. Jika saja, The Foxes mampu menjaga konsistensi, serta tidak diganggu oleh cideranya pemain, dan kekelahan pemain, Leicester bisa bersaing dengan tim-tim langganan posisi atas. Adapun kelelahan, saya rasa tidak menjadi masalah. Leicester hanya fokus pada pertandingan EPL saja, selebihnya ia bertanding di pertandingan lokal.
Selain itu rahasia Leicester City terletak pada sosok pelatih mereka. Meski Claudio Ranieri mendapat banyak pujian, tetapi juga ada yang meragukan kapabilitas Leicester sebagai klub kuda hitam. Dan biasanya melempem di laga-laga akhir musim. Sejak 2000, prestasi pelatih asal Italia ini lumayan gemilang menangani tim-tim yang ia asuh. Lewat tangan dinginnya, ia nyaris selalu bisa mengantarkan sebuah klub berada di puncak klasemen di liga. Tercatat, ia gagal menangani Internazionale pada musim 2011/2012. Rekor tersebut bukan termasuk Parma, yang ia asuh sekana tiga bulan saja, pada 2007.
Grafik statistik Leicester sampai pekan ke-14 sangat positif. Selepas bentruk melawan Manchester United, Leicester City mengalami kekalahan sekali. Selebihnya menang 8 kali, seri 5 kali. Rasio gol yang signifikan, 29 gol dengan 21 kebobolan merepresentasikan Leicester lumayan konsisten dan produktif.
The Foxes adalah ia mampu mempertahankan trend positif tersebut dengan menyampu bersih setiap lawatan melawan klub posisi menengah ke bawah dengan baik. Ia juga belum mengalami kekalahan di laga tandang, di King Power Stadium. Apabila konsistensi di atas mampu ia jalankan dengan baik, tidak mustahil, Leicester mampu mempertahankan tampuk kepemimpinan klasemen sampai akhir musim.[]
إرسال تعليق