“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia.” Selarik kalimat pernah terlontar dari Sang Proklamator, Presiden Soekarno. Inilah kata-kata mutiara yang menunjukkan pentingnya peranan pemuda. Selain itu, Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak persatuan dan kesatuan bagi terwujudnya kemerdekaan Republik Indonesia juga membuktikan bahwa pemudalah garda terdepan dalam perjalanan dan pembangunan sebuah bangsa.
Singkat kata, maju mundurnya suatu negara terletak pada pundak generasi mudanya. Jika pemudanya memiliki kualitas tinggi negara bakal maju. Begitu pula sebaliknya bila para pemudanya berkualitas rendah maka kehancuran negara tinggal menunggu waktu.
Karenanya, pemuda adalah garda paling ujuk dalam memajukan dan membangun sebuah bangsa dalam lingkup nasional maupun intenasional. Ada semacam harapan yang kita gantungkan para tokoh-tokoh muda yang sedang menjabat sebagai Kepala Daerah atau yang sedang bertempur di kancah dunia perpolitikan. Misalnya saja, Bupati Bangkalan, Madura. Kabupaten Bangkalan dipimpin pemuda yang usia 26 tahun, empat bulan. Muhammad Makmun Ibnu Fuad pun tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). Ia masih tercatat sebagai pemimpin termuda hingga saat ini.
Lantas bagaimana stok pemuda yang ada di daerah, khususnya di Kabupaten Trenggalek? Saat ini di Trenggalek, kita mengenal sosok dan bakal calon Bupati yang usianya masih muda. Seperti; Emil Dardak, Muhammad Nur Arifin, Moh. Kholid, Sri Rahayu dan sosok-sosok lainnya. Mereka semua adalah balon calon bupati yang akan berkiprah dalam ajang pemilihan kepala daerah tahun 2015.
Kita tahu, Emil Dardak dengan kapasitasnya sebagai doktor termuda bidang ekonomi dari Ritsumeikan Asia Pacific University. Ia pakar tata kota. Ia juga Sang Executive Vice President di perusahaan BUMN. Pria kelahiran 20 Mei 1984 ini adalah salah satu pemimpin masa depan yang diharapkan bisa membawa perubahan. Di usianya yang masih 31 tahun, ia sudah malang melintang di perusahaan BUMN. Ia sudah kenyang pengalaman di kancah nasional maupun di internasional, selayaknya ia mampu mendongkrak kemajuan sebuah daerah atau pun negara.
Selain itu kita mengenal sosok brylian dan masih sangat muda. Ia adalah Muhammad Nur Arifin, seorang pengusaha dan penginisiasi organisasi Trengginas, sekaligus penggagas I LOVE TRENGGALEK ini juga tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya, pemuda yang usianya masih 25 tahun ini akan ikut bertarung di kancah Pilkada bersama pemuda yang usia di atasnya dan sudah kenyang di bidang politik.
Terlepas dari sosok muda, kita tidak bisa memandang sebelah mata para generasi emas di di atas 50 tahun-an. Misalnya, Moh. Kholiq serta ibu Sri Rahayu, Sanusi dan Muchsin. Mereka semua telah banyak “makan garam” dunia perpolitikkan di Trenggalek. Mereka berdua jelas punya banyak strategi manakala melawan pemuda-pemuda di bawah usianya.
Selain beberapa sosok di atas, kita tidak bisa menutup mata dengan figur muda di bidang masing-masingnya. Sebut saja, Doding Rohmadi, Nurani Soyomukti atau lainnya. Kedua sosok ini memiliki pengaruh dalam bidang masing-masing. Misalnya saja, dengan usianya yang masih muda, 30 tahun-an, Doding terpilih sebagai Ketua Cabang Partai PDI-P Trenggalek beberapa bulan yang lalu. Doding Rohmadi sebelum terpilih menjadi Ketua PDIP tingkat cabang Trenggalek juga aktif mengkritisi pemerintah untuk mengawal kebijakan.
Terlepas dari beberapa tokoh muda di atas, kita tidak bisa mengesampingkan sosok yang mendobrak bidang kebudayaan di Trenggalek. Nurani adalah sosok muda militan sekaligus idealis. Pria yang berusia 35 di tahun 2010 adalah “otak” penggagas sastra Trenggalek yang mendobrak budaya sebagai bentuk seni di luar genre pop sekaligus inisiator komunitas baca tulis, yang terkenal slogannya “Memasyarakatkan Sastra, Menyastrakan Masyarakat”. Ia juga telah melahirkan beberapa buku-buku pergerakan dan lainnya. Pemuda yang dari sejarahnya adalah mantan aktivis ini menjabat sebagai anggota KPU Trenggalek. Ia juga memiliki pengalaman dan gagasan-gagasan cerdas dalam bidang sastra dan kebudayaan. Ditambah lagi usianya yang masing muda, ia sangat berpotensi membangun kabupaten ke depan.
Mereka semua adalah para calon pemimpin muda masa depan yang ada di Trenggalek. Tokoh muda terkenal dengan idealisme, keberanian, dan daya kreativitasnya. Mereka diharapkan adanya terobosan-terobosan positif yang bisa membawa daerah yang dipimpin ke arah kemajuan.
Terbesit sebuah harapan agar kedepannya semakin banyak para tokoh-tokoh muda yang muncul di kancah politik daerah maupun nasional. Bukannya saya tidak percaya kepada tokoh-tokoh tua, tetapi sekarang sudah saatnya tokoh mudalah yang mengambil alih tongkat estafet kepimpinan. Mudah-mudah saja ke depan, para tokoh muda yang di-sounding-kan seperti di atas mampu menjawab tantangan masyarakat melalui kinerja positifnya. Dengan mengeyampingkan kepentingan parpol atau kepentingan pribadi, para pemimpin muda harus bergerak cepat dengan gagasan-gagasan cerdas demi tujuan ke arah yang lebih baik lagi. Melihat dari kaca saya, mereka memiliki peluang yang sama untuk memajukan kabupaten Trenggalek menjadi lebih baik lagi.[]
Keterangan: Tulisan ini adalah tulisan lama yang saya tulis sebelum Pilgub Trenggalek secara subjektif.
Singkat kata, maju mundurnya suatu negara terletak pada pundak generasi mudanya. Jika pemudanya memiliki kualitas tinggi negara bakal maju. Begitu pula sebaliknya bila para pemudanya berkualitas rendah maka kehancuran negara tinggal menunggu waktu.
Karenanya, pemuda adalah garda paling ujuk dalam memajukan dan membangun sebuah bangsa dalam lingkup nasional maupun intenasional. Ada semacam harapan yang kita gantungkan para tokoh-tokoh muda yang sedang menjabat sebagai Kepala Daerah atau yang sedang bertempur di kancah dunia perpolitikan. Misalnya saja, Bupati Bangkalan, Madura. Kabupaten Bangkalan dipimpin pemuda yang usia 26 tahun, empat bulan. Muhammad Makmun Ibnu Fuad pun tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). Ia masih tercatat sebagai pemimpin termuda hingga saat ini.
Lantas bagaimana stok pemuda yang ada di daerah, khususnya di Kabupaten Trenggalek? Saat ini di Trenggalek, kita mengenal sosok dan bakal calon Bupati yang usianya masih muda. Seperti; Emil Dardak, Muhammad Nur Arifin, Moh. Kholid, Sri Rahayu dan sosok-sosok lainnya. Mereka semua adalah balon calon bupati yang akan berkiprah dalam ajang pemilihan kepala daerah tahun 2015.
Kita tahu, Emil Dardak dengan kapasitasnya sebagai doktor termuda bidang ekonomi dari Ritsumeikan Asia Pacific University. Ia pakar tata kota. Ia juga Sang Executive Vice President di perusahaan BUMN. Pria kelahiran 20 Mei 1984 ini adalah salah satu pemimpin masa depan yang diharapkan bisa membawa perubahan. Di usianya yang masih 31 tahun, ia sudah malang melintang di perusahaan BUMN. Ia sudah kenyang pengalaman di kancah nasional maupun di internasional, selayaknya ia mampu mendongkrak kemajuan sebuah daerah atau pun negara.
Selain itu kita mengenal sosok brylian dan masih sangat muda. Ia adalah Muhammad Nur Arifin, seorang pengusaha dan penginisiasi organisasi Trengginas, sekaligus penggagas I LOVE TRENGGALEK ini juga tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya, pemuda yang usianya masih 25 tahun ini akan ikut bertarung di kancah Pilkada bersama pemuda yang usia di atasnya dan sudah kenyang di bidang politik.
Terlepas dari sosok muda, kita tidak bisa memandang sebelah mata para generasi emas di di atas 50 tahun-an. Misalnya, Moh. Kholiq serta ibu Sri Rahayu, Sanusi dan Muchsin. Mereka semua telah banyak “makan garam” dunia perpolitikkan di Trenggalek. Mereka berdua jelas punya banyak strategi manakala melawan pemuda-pemuda di bawah usianya.
Selain beberapa sosok di atas, kita tidak bisa menutup mata dengan figur muda di bidang masing-masingnya. Sebut saja, Doding Rohmadi, Nurani Soyomukti atau lainnya. Kedua sosok ini memiliki pengaruh dalam bidang masing-masing. Misalnya saja, dengan usianya yang masih muda, 30 tahun-an, Doding terpilih sebagai Ketua Cabang Partai PDI-P Trenggalek beberapa bulan yang lalu. Doding Rohmadi sebelum terpilih menjadi Ketua PDIP tingkat cabang Trenggalek juga aktif mengkritisi pemerintah untuk mengawal kebijakan.
Terlepas dari beberapa tokoh muda di atas, kita tidak bisa mengesampingkan sosok yang mendobrak bidang kebudayaan di Trenggalek. Nurani adalah sosok muda militan sekaligus idealis. Pria yang berusia 35 di tahun 2010 adalah “otak” penggagas sastra Trenggalek yang mendobrak budaya sebagai bentuk seni di luar genre pop sekaligus inisiator komunitas baca tulis, yang terkenal slogannya “Memasyarakatkan Sastra, Menyastrakan Masyarakat”. Ia juga telah melahirkan beberapa buku-buku pergerakan dan lainnya. Pemuda yang dari sejarahnya adalah mantan aktivis ini menjabat sebagai anggota KPU Trenggalek. Ia juga memiliki pengalaman dan gagasan-gagasan cerdas dalam bidang sastra dan kebudayaan. Ditambah lagi usianya yang masing muda, ia sangat berpotensi membangun kabupaten ke depan.
Mereka semua adalah para calon pemimpin muda masa depan yang ada di Trenggalek. Tokoh muda terkenal dengan idealisme, keberanian, dan daya kreativitasnya. Mereka diharapkan adanya terobosan-terobosan positif yang bisa membawa daerah yang dipimpin ke arah kemajuan.
Terbesit sebuah harapan agar kedepannya semakin banyak para tokoh-tokoh muda yang muncul di kancah politik daerah maupun nasional. Bukannya saya tidak percaya kepada tokoh-tokoh tua, tetapi sekarang sudah saatnya tokoh mudalah yang mengambil alih tongkat estafet kepimpinan. Mudah-mudah saja ke depan, para tokoh muda yang di-sounding-kan seperti di atas mampu menjawab tantangan masyarakat melalui kinerja positifnya. Dengan mengeyampingkan kepentingan parpol atau kepentingan pribadi, para pemimpin muda harus bergerak cepat dengan gagasan-gagasan cerdas demi tujuan ke arah yang lebih baik lagi. Melihat dari kaca saya, mereka memiliki peluang yang sama untuk memajukan kabupaten Trenggalek menjadi lebih baik lagi.[]
Keterangan: Tulisan ini adalah tulisan lama yang saya tulis sebelum Pilgub Trenggalek secara subjektif.
إرسال تعليق