Dahulu saat masih segar-segarnya terjun di dunia pendidikan, dalam hal ini, sregep kuliah, saya memiliki kesibukan seperti orang rumahan. Kesibukan ini tidak saya dapat di bangku perkuliahan, yang diisi perihal yang menjengkelkan, penuh hal-hal yang menjemukan dan absurd. Hanya berputar bangku, papan, layar LED di depan, ruang dengan sedikit disamarkan hanya memberi ruang untuk sorot LED sebagai media atau pemantik diskusi.
Selain itu, ditambah diskusi-diskusi tak jelas jlutrungnya di beberapa tempat di sekitaran kampus. Namun hanya sepersekian persen saja saya lakukan. Lebih banyak aktivitas sebagai mahasiswa kalong (bukan hewan yang keluar malam) atau lebih tepatnya sebagai mahasiswa kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang) tanpa aktivitas yang menggambarkan seorang mahasiswa yang harus akan wawasan, informasi, pengetahuan maupun diskusi ataupun kongkow bersama-sama teman sampai mulut berbusa.
Itu adalah dinamika yang saya lalui, saat musim kemarau saya masih kuliah, dua atau tiga tahun yang lalu. Terlepas dari dinamika yang menjemukan di dunia pendidikan, perkuliahan, saya memiliki kesibukan, kesempatan, tambahan asupan gizi yang tidak saya dapatkan selama 4 bulan kuliah (satu semester dalam hitungan kalender akademik yang 2 bulan sebagai waktu libur untuk mahasiswa), yaitu menjadi seorang manusia.
Kenapa saya sebut sebagai manusia? Yang sejatinya saya sudah menjadi seorang manusia nyata. Karena manusia adalah satu-satunya makhluk sosial buang saling bantu-membantu dengan yang lainnya. Saya memiliki kebiasaan yang saya lakukan untuk membantu orang-orang terdekat. Sebenarnya ini sudah menjadi kewajiban yang hakiki untuk membantu sesama saudara. Iya, tak terbantahkan untuk soal ini. Namun bagi saya ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang anak kepada orangtua kepada saudara mudanya.
Apa sih yang bisa saya berikan kepada saudara muda? (adik terkecil maupun sepupu-sepupu lain dan saudara-saudara yang lain dan bahkan orang tua sendiri) adalah selama liburan kuliah, yang biasanya digunakan pelesiran bersama teman-teman (dekatnya), tetapi saya tidak. Saya memiliki tambahan dalam dunia per-kurikulum-an yang saya sebut sebagai "kurikulum tersembunyi". Kurikulum ini saya kerjakan hampir setiap hari dengan jarak, ya, selemparan batu motor melaju saja.
Kurikulum ini merupakan kurikulum mengantarkan adik saya terkecil ke sekolah. Tidak hanya antar sekolah--yang bagi orang kota dilakukan satu kali dalam satu tahun program dari pemerintah saat tahun ajaran baru--tetapi saat pulang sekolah. Kurikulum ini bisa dikatakan sebagai jasa antar-jemput. Hmmm... Masak jasa antar-jemput, sepertinya tak indah didengar. Lagi pula, dia juga adik sendiri, selayaknya seperti itu.
Tidak hanya saat liburan kuliah saja, jauh sebelum saya masuk dunia perkuliahan, saya sudah diminta ketersediaan dan selalu diharapkan waktunya saat jam-jam sibuk masuk sekolah. Mulai pukul 7 atau setengah delapan sampai pukul pulang sekolah sekitar pukul sepuluh waktu pendidikan di tingkat Taman Kanak-kanak.
Tidak hanya kesediaan waktu, tetapi juga kesigapan, kerendahan, kelunakan hati serta mengurangi jatah bangkong (bangun siang) untuk membantu ibu. Selepas bangun tidur waktu subuh, saya sudah diminta untuk parut kelapa dengan memakai alat tradisional. Selepas waktu beranjak siang, saya dengan cekatan sudah bergelut dengan adik saya yang paling kecil. Misal memakaikan baju seragam sekolah, memberi bedak dan mempersiapkan lain-lain. Pada tahap ini, tak ada pemaksaan.
Semua mengalir begitu saja. Entah sejak kapan, adik saya yang paling terkecil ini sangat dekat dengan saya sehingga saat jam-jam sibuk masuk sekolah ia selalu mendekat dan menenteng baju untuk membantu memakaikannya. Padahal di dekatnya ada orangtua (bapak) yang lagi menikmati sajian berita pagi. Ia memilih saya untuk membantu mengenakan seragam sekolahnya. Terlebih, ia juga sering menolak sisir rambutnya, lantaran tak sesuai dengan pola dari keinginannya.
Kita mahfum bahwa membantu orang tua memang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab seorang anak. Selain membahagiakan kedua orang tua, juga meringankan beban pekerjaannya, yang berat itu. Adik saya (Resta), waktu rutinitas ini terjadi masih berusia 5 tahun. Ia juga masih tercatat di kelas TK nol besar. Jadi ia secara pribadi belum begitu cekatan dalam berdandan laiknya seorang biduan atau anak-anak sekolah dasar.
Sebenarnya saya juga memiliki adik laki-laki yang usianya terpaut dua tahun dari saya. Dari kami yang paling dekat dengan adik perempuan ini adalah saya. Sehingga ia memilih saya untuk membantunya dalam urusan kurikulum tersembunyi ini.
Dalam rentetan itu, jujur saja, saya juga kadang merasa keberatan. Seberat-beratnya aktivitas itu saya kerjakan pula dengan senang hati. Sebab, ini merupakan pekerjaan memanusiakan manusia. Selama menempuh pendidikan, belum tentu kurikulum ini masuk dan diajarkan dalam mata pelajaran dan mata kuliah di dunia pendidikan. Dan ini saya lakukan dengan kerendahan hati. Bagaimanapun yang saya kerjakan ini adalah semata-mata membantu meringankan pekerjaan orang tua. Dan semoga ibu bapak dan semua keluarga kecil ini selalu sehat wal afiat. Amin.[]
Selain itu, ditambah diskusi-diskusi tak jelas jlutrungnya di beberapa tempat di sekitaran kampus. Namun hanya sepersekian persen saja saya lakukan. Lebih banyak aktivitas sebagai mahasiswa kalong (bukan hewan yang keluar malam) atau lebih tepatnya sebagai mahasiswa kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang) tanpa aktivitas yang menggambarkan seorang mahasiswa yang harus akan wawasan, informasi, pengetahuan maupun diskusi ataupun kongkow bersama-sama teman sampai mulut berbusa.
Itu adalah dinamika yang saya lalui, saat musim kemarau saya masih kuliah, dua atau tiga tahun yang lalu. Terlepas dari dinamika yang menjemukan di dunia pendidikan, perkuliahan, saya memiliki kesibukan, kesempatan, tambahan asupan gizi yang tidak saya dapatkan selama 4 bulan kuliah (satu semester dalam hitungan kalender akademik yang 2 bulan sebagai waktu libur untuk mahasiswa), yaitu menjadi seorang manusia.
Kenapa saya sebut sebagai manusia? Yang sejatinya saya sudah menjadi seorang manusia nyata. Karena manusia adalah satu-satunya makhluk sosial buang saling bantu-membantu dengan yang lainnya. Saya memiliki kebiasaan yang saya lakukan untuk membantu orang-orang terdekat. Sebenarnya ini sudah menjadi kewajiban yang hakiki untuk membantu sesama saudara. Iya, tak terbantahkan untuk soal ini. Namun bagi saya ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang anak kepada orangtua kepada saudara mudanya.
Apa sih yang bisa saya berikan kepada saudara muda? (adik terkecil maupun sepupu-sepupu lain dan saudara-saudara yang lain dan bahkan orang tua sendiri) adalah selama liburan kuliah, yang biasanya digunakan pelesiran bersama teman-teman (dekatnya), tetapi saya tidak. Saya memiliki tambahan dalam dunia per-kurikulum-an yang saya sebut sebagai "kurikulum tersembunyi". Kurikulum ini saya kerjakan hampir setiap hari dengan jarak, ya, selemparan batu motor melaju saja.
Kurikulum ini merupakan kurikulum mengantarkan adik saya terkecil ke sekolah. Tidak hanya antar sekolah--yang bagi orang kota dilakukan satu kali dalam satu tahun program dari pemerintah saat tahun ajaran baru--tetapi saat pulang sekolah. Kurikulum ini bisa dikatakan sebagai jasa antar-jemput. Hmmm... Masak jasa antar-jemput, sepertinya tak indah didengar. Lagi pula, dia juga adik sendiri, selayaknya seperti itu.
Tidak hanya saat liburan kuliah saja, jauh sebelum saya masuk dunia perkuliahan, saya sudah diminta ketersediaan dan selalu diharapkan waktunya saat jam-jam sibuk masuk sekolah. Mulai pukul 7 atau setengah delapan sampai pukul pulang sekolah sekitar pukul sepuluh waktu pendidikan di tingkat Taman Kanak-kanak.
Tidak hanya kesediaan waktu, tetapi juga kesigapan, kerendahan, kelunakan hati serta mengurangi jatah bangkong (bangun siang) untuk membantu ibu. Selepas bangun tidur waktu subuh, saya sudah diminta untuk parut kelapa dengan memakai alat tradisional. Selepas waktu beranjak siang, saya dengan cekatan sudah bergelut dengan adik saya yang paling kecil. Misal memakaikan baju seragam sekolah, memberi bedak dan mempersiapkan lain-lain. Pada tahap ini, tak ada pemaksaan.
Semua mengalir begitu saja. Entah sejak kapan, adik saya yang paling terkecil ini sangat dekat dengan saya sehingga saat jam-jam sibuk masuk sekolah ia selalu mendekat dan menenteng baju untuk membantu memakaikannya. Padahal di dekatnya ada orangtua (bapak) yang lagi menikmati sajian berita pagi. Ia memilih saya untuk membantu mengenakan seragam sekolahnya. Terlebih, ia juga sering menolak sisir rambutnya, lantaran tak sesuai dengan pola dari keinginannya.
Kita mahfum bahwa membantu orang tua memang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab seorang anak. Selain membahagiakan kedua orang tua, juga meringankan beban pekerjaannya, yang berat itu. Adik saya (Resta), waktu rutinitas ini terjadi masih berusia 5 tahun. Ia juga masih tercatat di kelas TK nol besar. Jadi ia secara pribadi belum begitu cekatan dalam berdandan laiknya seorang biduan atau anak-anak sekolah dasar.
Sebenarnya saya juga memiliki adik laki-laki yang usianya terpaut dua tahun dari saya. Dari kami yang paling dekat dengan adik perempuan ini adalah saya. Sehingga ia memilih saya untuk membantunya dalam urusan kurikulum tersembunyi ini.
Dalam rentetan itu, jujur saja, saya juga kadang merasa keberatan. Seberat-beratnya aktivitas itu saya kerjakan pula dengan senang hati. Sebab, ini merupakan pekerjaan memanusiakan manusia. Selama menempuh pendidikan, belum tentu kurikulum ini masuk dan diajarkan dalam mata pelajaran dan mata kuliah di dunia pendidikan. Dan ini saya lakukan dengan kerendahan hati. Bagaimanapun yang saya kerjakan ini adalah semata-mata membantu meringankan pekerjaan orang tua. Dan semoga ibu bapak dan semua keluarga kecil ini selalu sehat wal afiat. Amin.[]
إرسال تعليق