Saya seharian muter-muter Kota Bogor bersama tiga rekan kerja. Waktu itu, saya benar-benar menikmati waktu dengan menjelajahi jalan Kota Bogor, meski yang saya lalui adalah jalan yang raya dan macet tidak bisa dijauhi. Namun saya tak terlalu menghiraukan soal itu. Siang itu macet tak seberapa. Hanya beberapa meter saja dan tak lama. Macet khas kota besar dengan populasi kendaraan yang luar biasa padat. Intinya, macetnya tak separah di kota-kota langganan macet.
Kenapa saya bilang menikmati waktu, meski yang saya hadapi adalah kemacetan atau lainnya? Tidak lain adalah karena keluar dari tempurung situasi dengan jerat waktu dan lokasi. Biasanya saya berkutat dengan pekerjaan; memotret dan menghadap komputer. Kali itu, saya bekerja tanpa terikat waktu dan ruangan.
Hari pertama bekerja di luar ruangan, saya lalui dari Kota Tangerang. Sebab, saya waktu itu menetap di BSD. Dengan melepas raga menyusuri jalan selepas turun sholat Subuh, saya menuju di stasiun Rawabuntu. Diiringi lampu kota disampingnya semburat cahaya langit yang sudah mulai mencair dengan warna kuning, saya bergerak dan menyusuri jalanan Kota Tangerang. Menunggu kereta lewat lima menit, kereta commuter membawa saya menyusuri pinggiran Kota Jakarta. Hingga pagi beranjak siang sambil menahan kantuk di kereta sampailah di Kota Hujan sebagai orang asing.
Saya sempat menaruh cemas dan tak tahu arah di Kota Bogor ini. Selain jarang ke Kota Bogor, dan komunikasi dengan dua rekan kerja—yang sudah berada di Bogor—rada tersendat karena saya tak memiliki pulsa dan paket internet tak punya. Saya hanya duduk termangu di depan Botani Square, merapal tulisan gapura ikon Kota Bogor. Sementara teman yang satu berangkat dari Kota Pahlawan, Surabaya. Kami berempat akhirnya berkumpul jam 11 siang di Botani Square tempat pemberhentian angkutan Damri berhenti.
Kami beranjak di depan lobby Botani Square. Kami berempat menyewa naik mobil carteran--ojek online yang diboking menuju di Hotel Salak. Teman yang berangkat dari Surabaya ini ingin menaruh barang bawaan dan ganti pakaian. Setelah itu, kami berjalan menyusuri kota Hujan, seharian. Sebenarnya banyak sekali agenda yang harus kami selesaikan hari itu.
Salah satunya adalah acara di kampus Universitas Pakuan Bogor sekaligus ada kunjungan di Museum Kepresidenan RI di istana Bogor. Meski begitu, kami tidak mempurnakan atau menuntaskan acara di kampus itu. Selepas kunjungan di Museum Kepresidenan, kami undur diri dan menyelesaikan pekerjaan lain.
Waktu itu memang banyak sekali kegiatan yang harus diselesaikan dan segera dideal-kan atau dinegosiasikan. Saya tak banyak bicara untuk soal ini. Selain tidak memiliki wewenang, saya hanya sebagai pengekor dan diminta ikut saja. Saya diminta ikut karena saya mau diajari, entah apa saya sudah lupa.
Pada kesempatan itu, saya tak banyak bicara. Saya malah kepikiran yang lain. Jauh dari apa yang dibicarakan mereka. Saya menahan ide atau gagasan itu tidak hilang oleh sapuan angin dan karena lelahnya kondisi tubuh. Setiap mobil lewat di tempat-tempat yang belum saya singgahi atau tempat penuh dengan historis, saya selalu merapal kata demi kata dari dalam hati. Saya sudah lupa jalan apa yang kami lalui. Yang jelas, kami tiga kali berhenti dan negosiasi dengan klain.
Kami melewati jalan raya, baik perkampungan maupun jalan protokol. Memutari Kebun Raya Bogor dan saya hampir hafal di luar kepala tentang jalur yang kami lalui itu. Sebab, saat kami mau ke mana, kami selalu melalui jalan itu. Intinya, jalur dan jalan yang kami lalui adalah jalan yang sama dan berulang lewat jalan itu.
Di pertemuan pertama itulah, kami bisa melihat Gunung Salak dari atas gedung bertingkat. Dari kejauhan, Gunung Salak nampak kokoh dan megah. Seperti yang kita ketahui, Gunung Salak merupakan kompleks gunung berapi yang terletak di selatan Jakarta, di Pulau Jawa. Kawasan rangkaian gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Gunung Salak berusia relatif tua sehingga memiliki beberapa puncak. Geoposisi puncak tertinggi gunung ini ialah 6°43' LS dan 106°44' BT dan dinamakan Puncak Salak I dengan ketinggian puncak 2.211 m dari permukaan laut (dpl.)
Dari atas gedung, di mana saya berdiri memandang puncak gunung yang diselimuti mendung yang berwarna abu-abu dengan gumpalan putih di sekitarnya, membawa saya dalam ketakjuban. Gunung yang berasal dari kata bahasa Sanskerta salaka yang berarti "perak" ini sangat kokoh. Menurut masyarakat setempat, nama "Salak" berasal dari kata "siloka" dan "salaka" yang berarti "simbol atau tanda dan juga asal-usul". Masyarakat adat ini setiap tahunnya sering menggelar acara-acara seremonial tradisi, seperti seren taun, muludan, dan lain-lain. Ritual digelar di Gunung Salak, karena gunung ini sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Meski saya tidak memanjat atau mendaki Gunung Salak, tetapi dari lipatan saya memandang menandakan bawah Gunung Salak selalu memberikan kesan yang cukup mendalam saat saya melihat. Saat saya berdiri, banyak menyeruak dari balik pikiran. Saya pun tak lupa mengabadikan Gunung Salak dari kejauhan. Dari saya berdiri pemandangan Gunung Salak terlihat kian megah. Sebuah destinasi alam yang luar biasa. Semoga keindahan alam ini kian terjaga abadi.[]
Kenapa saya bilang menikmati waktu, meski yang saya hadapi adalah kemacetan atau lainnya? Tidak lain adalah karena keluar dari tempurung situasi dengan jerat waktu dan lokasi. Biasanya saya berkutat dengan pekerjaan; memotret dan menghadap komputer. Kali itu, saya bekerja tanpa terikat waktu dan ruangan.
Hari pertama bekerja di luar ruangan, saya lalui dari Kota Tangerang. Sebab, saya waktu itu menetap di BSD. Dengan melepas raga menyusuri jalan selepas turun sholat Subuh, saya menuju di stasiun Rawabuntu. Diiringi lampu kota disampingnya semburat cahaya langit yang sudah mulai mencair dengan warna kuning, saya bergerak dan menyusuri jalanan Kota Tangerang. Menunggu kereta lewat lima menit, kereta commuter membawa saya menyusuri pinggiran Kota Jakarta. Hingga pagi beranjak siang sambil menahan kantuk di kereta sampailah di Kota Hujan sebagai orang asing.
Saya sempat menaruh cemas dan tak tahu arah di Kota Bogor ini. Selain jarang ke Kota Bogor, dan komunikasi dengan dua rekan kerja—yang sudah berada di Bogor—rada tersendat karena saya tak memiliki pulsa dan paket internet tak punya. Saya hanya duduk termangu di depan Botani Square, merapal tulisan gapura ikon Kota Bogor. Sementara teman yang satu berangkat dari Kota Pahlawan, Surabaya. Kami berempat akhirnya berkumpul jam 11 siang di Botani Square tempat pemberhentian angkutan Damri berhenti.
Kami beranjak di depan lobby Botani Square. Kami berempat menyewa naik mobil carteran--ojek online yang diboking menuju di Hotel Salak. Teman yang berangkat dari Surabaya ini ingin menaruh barang bawaan dan ganti pakaian. Setelah itu, kami berjalan menyusuri kota Hujan, seharian. Sebenarnya banyak sekali agenda yang harus kami selesaikan hari itu.
Salah satunya adalah acara di kampus Universitas Pakuan Bogor sekaligus ada kunjungan di Museum Kepresidenan RI di istana Bogor. Meski begitu, kami tidak mempurnakan atau menuntaskan acara di kampus itu. Selepas kunjungan di Museum Kepresidenan, kami undur diri dan menyelesaikan pekerjaan lain.
Waktu itu memang banyak sekali kegiatan yang harus diselesaikan dan segera dideal-kan atau dinegosiasikan. Saya tak banyak bicara untuk soal ini. Selain tidak memiliki wewenang, saya hanya sebagai pengekor dan diminta ikut saja. Saya diminta ikut karena saya mau diajari, entah apa saya sudah lupa.
Pada kesempatan itu, saya tak banyak bicara. Saya malah kepikiran yang lain. Jauh dari apa yang dibicarakan mereka. Saya menahan ide atau gagasan itu tidak hilang oleh sapuan angin dan karena lelahnya kondisi tubuh. Setiap mobil lewat di tempat-tempat yang belum saya singgahi atau tempat penuh dengan historis, saya selalu merapal kata demi kata dari dalam hati. Saya sudah lupa jalan apa yang kami lalui. Yang jelas, kami tiga kali berhenti dan negosiasi dengan klain.
Kami melewati jalan raya, baik perkampungan maupun jalan protokol. Memutari Kebun Raya Bogor dan saya hampir hafal di luar kepala tentang jalur yang kami lalui itu. Sebab, saat kami mau ke mana, kami selalu melalui jalan itu. Intinya, jalur dan jalan yang kami lalui adalah jalan yang sama dan berulang lewat jalan itu.
Di pertemuan pertama itulah, kami bisa melihat Gunung Salak dari atas gedung bertingkat. Dari kejauhan, Gunung Salak nampak kokoh dan megah. Seperti yang kita ketahui, Gunung Salak merupakan kompleks gunung berapi yang terletak di selatan Jakarta, di Pulau Jawa. Kawasan rangkaian gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Gunung Salak berusia relatif tua sehingga memiliki beberapa puncak. Geoposisi puncak tertinggi gunung ini ialah 6°43' LS dan 106°44' BT dan dinamakan Puncak Salak I dengan ketinggian puncak 2.211 m dari permukaan laut (dpl.)
Dari atas gedung, di mana saya berdiri memandang puncak gunung yang diselimuti mendung yang berwarna abu-abu dengan gumpalan putih di sekitarnya, membawa saya dalam ketakjuban. Gunung yang berasal dari kata bahasa Sanskerta salaka yang berarti "perak" ini sangat kokoh. Menurut masyarakat setempat, nama "Salak" berasal dari kata "siloka" dan "salaka" yang berarti "simbol atau tanda dan juga asal-usul". Masyarakat adat ini setiap tahunnya sering menggelar acara-acara seremonial tradisi, seperti seren taun, muludan, dan lain-lain. Ritual digelar di Gunung Salak, karena gunung ini sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Meski saya tidak memanjat atau mendaki Gunung Salak, tetapi dari lipatan saya memandang menandakan bawah Gunung Salak selalu memberikan kesan yang cukup mendalam saat saya melihat. Saat saya berdiri, banyak menyeruak dari balik pikiran. Saya pun tak lupa mengabadikan Gunung Salak dari kejauhan. Dari saya berdiri pemandangan Gunung Salak terlihat kian megah. Sebuah destinasi alam yang luar biasa. Semoga keindahan alam ini kian terjaga abadi.[]
إرسال تعليق