Entah apa yang ada di benak saya saat itu? Semua mengalir begitu saja sampai rentang waktu yang tidak bisa diduga. Waktu memang tidak bisa dipaksa. Mengalir dan berputar mengelilingi angka-angka yang ada di sekitarnya, dan hanyut dalam hitungan detik, menit jam dan bulan serta tahun.
Saya sangat senang sekali jalan-jalan mengitari dan memungut sejarah-sejarah peninggalann zaman purba. Sejarah zaman dulu ibarat bongkahan batu yang isinya mozaik. Nah, dari bongkahan itulah yang ingin saya bongkar dan kemudian menjadi “prasasti” informasi dan pengetahuan bagi yang sendiri dan pembaca blog yang budiman ini.
Pada kesempatan itu saya berkunjung dengan Didik Agus, salah satu teman yang senang belajar sejarah. Ia terbilang cukup paham dengan sejarah boyolangu. Selama perjalanan, ia cukup mendominasi obrolan ringan namun cukup berbobot. Sampai-sampai informasi yang ia utarakan lenyap bersama dengan udara yang berhembus.
Pertama kali saya berkunjung Candi Boyolangu ini tahun 2013. Di tahun itu saya memiliki keinginan untuk menikmati pemandangan sekaligus belajar sejarah. Sejarah yang ingin saya pelajari sekaligus datang secara langsung adalah Candi yang berada di Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Candi Boyolangu merupakan salah satu candi yang terletak di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kab. Tulungagung. Untuk menuju sana, jalur tak terlalu sulit. Jika dari arah utara, naik kerata api atau bus, hanya mencari angkutan jalur ke Boyolangu – Campur Darat. Turun di sekitar Pasar Boyolangu dan Anda tinggal mencari informasi warga sekitar.
Candi Boyolangu ini berada di tengah-tengah pemukiman warga. Jika dari Museum Wajakensis Tulungagung berjalan ke arah selatan kurang lebih 2 kilometer, kemudian belok kanan (barat) melewati jalan desa sejauh kurang lebih 500 meter. Selanjutnya terdapat gapura masuk menuju lokasi candi. Gapura itu ada tulisan Candi Boyolangu.
Setelah menemukan tulisan Candi Boyolangu perjalanan belum sampai. Tinggal beberapa langkah saja. Untuk mencapai candi ini kita melewati sebuah gank (lorong) sepanjang 50 meter, dengan lebar 2,5 meter. Kanan kiri jalan dibatasi tembok yang tinggi 75 centimeter. Sebelum masuk ke candi ada pos, yang mungkin itu dibuka ketika ada kunjungan yang sifatnya formal atau pengunjung ramai.
Saat kami ke sana suasana sepi, hanya kami berdua. Sampai di lokasi candi ini, saya merasa ada sesuatu hal mistis di sekitar candi. Namun perasaan itu saya tepis begitu saja. Tak pedulikan perasaan atau merindingnya bulu kudu ini.
Candi ini merupakan candi yang terbuat dari batu bata persegi panjang. Untuk menuju candi induk ada tangga yang harus kita naiki. Tangga tersebut berada di bagian barat yang berukuran 2,68 x 2,08 meter. Sementara ukuran batu bata yang digunakan candi itu berukuran 11,40 m x 11,40 m. Candi ini terbilang sangat terawat. Tak ada vandal sekitar candi ini. Di kanan kiri candi ditembokisasi dan (di)kawat(isasi) di atas tembok itu.
Secara keseluruhan, di candi Boyolangu ini terdiri atas sebuah candi induk dan dua candi perwara yang masing-masing berada di kanan-kiri candi (utara selatannya). Didik beberapa kali bercerita perihal candi ini. Namun saya tak langsung percaya dengan ceritanya. Cerita itu sampai pada sebuah pertanyaan, yang akhirnya saya mencari sumber-sumber lain. Dan saya pun nge-cek sumber sekunder yang menuliskan candi ini ditemukan pertama kali tahun 1914 dalam timbunan tanah.
Menurut informasi, sejarah candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350 -1289 M). Namun berdasarkan angka tahun pada umpak-umpak menunjukkan berasal dari masa Majapahit. Angka tahun tersebut 1291 Saka, yang merupakan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yaitu sekitar pertengahan Abad XIV.
Candi induk tampak dominan. Candi yang berpusat pada tokoh utama yang berupa arca wanita, yang kepalanya telah tiada, diletakkan di tengah-tengah candi induk. Arca yang ditempatkan di bawah bangunan tanpa dinding, hanya bergenting saja dengan kayu penyangga yang sudah sedikit miring.
Tokoh wanita tersebut adalah Gayatri atau seorang pendeta wanita Budha di masa kerjaan Majapahit yang bergelar Rajapadmi. Gayatri merupakan istri keempat Raja Wijaya pendiri kerajaan Majapahit.
Menurut cerita, dan Didik menambahkan dengan gesture menyakinkan, mengatakan bahwa candi ini berfungsi sebagai tempat penyimpan abu jenasah Gayatri dan sekaligus tempat pemujaan agama Budha. Sisi lain, nama lain dari Candi Boyolangu ini adalah Candi Gayatri. Nah, jika diawal saya memiliki perasaan merinding, ternyata candi ini bagi masyarakat disebut Punden Gilang.
Saya dan Didik Agus tidak mau pergi begitu saja tanpa mengambil gambar. Karena yang berada di sekitar hanya kami berdua, kami pun memutuskan untuk mengambil gambar dengan mode timer. Sebenarnya di selatan candi ini, saat kami berkunjung, ada masyakat yang sedang bekerja. Tapi nggak mungkin minta tolong hanya perkara selfi.
Sumber: wikipedia
Kebudayaan.kemdikbud.go
Saya sangat senang sekali jalan-jalan mengitari dan memungut sejarah-sejarah peninggalann zaman purba. Sejarah zaman dulu ibarat bongkahan batu yang isinya mozaik. Nah, dari bongkahan itulah yang ingin saya bongkar dan kemudian menjadi “prasasti” informasi dan pengetahuan bagi yang sendiri dan pembaca blog yang budiman ini.
Pada kesempatan itu saya berkunjung dengan Didik Agus, salah satu teman yang senang belajar sejarah. Ia terbilang cukup paham dengan sejarah boyolangu. Selama perjalanan, ia cukup mendominasi obrolan ringan namun cukup berbobot. Sampai-sampai informasi yang ia utarakan lenyap bersama dengan udara yang berhembus.
Pertama kali saya berkunjung Candi Boyolangu ini tahun 2013. Di tahun itu saya memiliki keinginan untuk menikmati pemandangan sekaligus belajar sejarah. Sejarah yang ingin saya pelajari sekaligus datang secara langsung adalah Candi yang berada di Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Candi Boyolangu merupakan salah satu candi yang terletak di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kab. Tulungagung. Untuk menuju sana, jalur tak terlalu sulit. Jika dari arah utara, naik kerata api atau bus, hanya mencari angkutan jalur ke Boyolangu – Campur Darat. Turun di sekitar Pasar Boyolangu dan Anda tinggal mencari informasi warga sekitar.
Candi Boyolangu ini berada di tengah-tengah pemukiman warga. Jika dari Museum Wajakensis Tulungagung berjalan ke arah selatan kurang lebih 2 kilometer, kemudian belok kanan (barat) melewati jalan desa sejauh kurang lebih 500 meter. Selanjutnya terdapat gapura masuk menuju lokasi candi. Gapura itu ada tulisan Candi Boyolangu.
Setelah menemukan tulisan Candi Boyolangu perjalanan belum sampai. Tinggal beberapa langkah saja. Untuk mencapai candi ini kita melewati sebuah gank (lorong) sepanjang 50 meter, dengan lebar 2,5 meter. Kanan kiri jalan dibatasi tembok yang tinggi 75 centimeter. Sebelum masuk ke candi ada pos, yang mungkin itu dibuka ketika ada kunjungan yang sifatnya formal atau pengunjung ramai.
Saat kami ke sana suasana sepi, hanya kami berdua. Sampai di lokasi candi ini, saya merasa ada sesuatu hal mistis di sekitar candi. Namun perasaan itu saya tepis begitu saja. Tak pedulikan perasaan atau merindingnya bulu kudu ini.
Candi ini merupakan candi yang terbuat dari batu bata persegi panjang. Untuk menuju candi induk ada tangga yang harus kita naiki. Tangga tersebut berada di bagian barat yang berukuran 2,68 x 2,08 meter. Sementara ukuran batu bata yang digunakan candi itu berukuran 11,40 m x 11,40 m. Candi ini terbilang sangat terawat. Tak ada vandal sekitar candi ini. Di kanan kiri candi ditembokisasi dan (di)kawat(isasi) di atas tembok itu.
Secara keseluruhan, di candi Boyolangu ini terdiri atas sebuah candi induk dan dua candi perwara yang masing-masing berada di kanan-kiri candi (utara selatannya). Didik beberapa kali bercerita perihal candi ini. Namun saya tak langsung percaya dengan ceritanya. Cerita itu sampai pada sebuah pertanyaan, yang akhirnya saya mencari sumber-sumber lain. Dan saya pun nge-cek sumber sekunder yang menuliskan candi ini ditemukan pertama kali tahun 1914 dalam timbunan tanah.
Menurut informasi, sejarah candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350 -1289 M). Namun berdasarkan angka tahun pada umpak-umpak menunjukkan berasal dari masa Majapahit. Angka tahun tersebut 1291 Saka, yang merupakan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yaitu sekitar pertengahan Abad XIV.
Candi induk tampak dominan. Candi yang berpusat pada tokoh utama yang berupa arca wanita, yang kepalanya telah tiada, diletakkan di tengah-tengah candi induk. Arca yang ditempatkan di bawah bangunan tanpa dinding, hanya bergenting saja dengan kayu penyangga yang sudah sedikit miring.
Tokoh wanita tersebut adalah Gayatri atau seorang pendeta wanita Budha di masa kerjaan Majapahit yang bergelar Rajapadmi. Gayatri merupakan istri keempat Raja Wijaya pendiri kerajaan Majapahit.
Menurut cerita, dan Didik menambahkan dengan gesture menyakinkan, mengatakan bahwa candi ini berfungsi sebagai tempat penyimpan abu jenasah Gayatri dan sekaligus tempat pemujaan agama Budha. Sisi lain, nama lain dari Candi Boyolangu ini adalah Candi Gayatri. Nah, jika diawal saya memiliki perasaan merinding, ternyata candi ini bagi masyarakat disebut Punden Gilang.
Saya dan Didik Agus tidak mau pergi begitu saja tanpa mengambil gambar. Karena yang berada di sekitar hanya kami berdua, kami pun memutuskan untuk mengambil gambar dengan mode timer. Sebenarnya di selatan candi ini, saat kami berkunjung, ada masyakat yang sedang bekerja. Tapi nggak mungkin minta tolong hanya perkara selfi.
Sumber: wikipedia
Kebudayaan.kemdikbud.go
Hello mas Rokhim.
ردحذفBentuk bangunannya begitu ya mas ?
Btw. Mungkin masih banyak yah candi yang belum terungkap di Indonesia.
Hallo juga, Mas Evir... gimana kabarnya?
ردحذفBetul mas bentuknya seperti itu... Iya mas masih banya relief" candi yang belum ditemukan. Saya mengikuti group" sejarah, meski tak sering, ada candi" baru ditemukan...
Baik alhamdulillah.
ردحذفDari website luar negeri juga sering ada ttg Asia dan Indonesia, malah di kita belum ada.
Iya mas. Luar negeri cukup terkenal lengkap dan pemerintahnya juga sangat mendukung...
ردحذفإرسال تعليق