Saya termasuk pembeli buku yang taat. Kebiasaan beberapa tahun belakangan ini, membeli buku dalam satu minggu sekali masih terpelihara sampai sekarang. Satu minggu tidak membeli buku, rasanya ada yang ganjil, ada saja yang kurang dalam diri saya ini. Pokoknya, dalam satu minggu itu ada satu atau dua buku baru ada di tangan. Untuk urusan membaca itu perkara gampang. Nanti kalau sudah siap (satu bulan kemudian, pasti akan kubaca). Kebiasaan inilah beberapa kali mendapat protes dari orang tua saya, ibu yang keras memprotes.
Saya kira tidak berlebihan jika ibu memberi kritik atau menasehati tentang kebiasaan saya membeli buku, yang menurutnya, overlude itu. Namun, ia mahfum, saya beli buku ibarat petani memerlukan arit dan cangkul, eh jangan kira komunis loh, petani itu alatnya arit atau sabit dan cangkul. Semakin lama makin kesini, ibu memahami dengan kebutuhan otak abstrak saya ini, ia kemudian memaklumi anaknya membeli buku. Meski sesekali ia juga protes dengan semakin menggunungnya koleksi buku saya di rak buku di rumah.
Memang betul, saya terasa tergerak ketika dalam satu minggu tersebut tidak membeli buku. Hal ini bisa dibuktikan. Para pelayan atau karyawan/ti toko buku Togamas Tulungagung, sebagian besar saya kenali. Maksudnya, saya dan para karyawan/ti berkomunikasi tidak canggung. Serasa tidak ada batasan. Ini saya konsumen, ini mereka adalah penjual. Tidak. Tidak ada sekat di antara kita. Meski begitu, kami tidak tahu nama satu persatu.
Begitulah buku, mampu mempersatukan insan manusia saling mengenal satu sama lain. Kembali pada buku tadi. Tidak hanya di Tulungagung, tetapi juga di Kediri, (karena saya tinggal di pelosok desa, jadi maklum lah jikalau bisa akses toko buku di kota-kota kecil) saya hunting buku. Yang jadi sasaran adalah buku yang berdiskon. Maklumlah anak rantau, yang masih belum memiliki pendapatan finansial sendiri di saku. Buku diskonlah tujuan utama saya ke toko buku tersebut. Bagi saya, buku terbitan tahun berapapun itu adalah new books, buku baru, buku ya belum pernah saya baca itu buku baru.
Pernah suatu ketika, perjalanan dari rumah ke Kediri, tujuan pertama mana lagi kalau bukan ke toko buku. Saya mencari informasi dan updating buku-buku baru dalam rak toko buku. Berharap ada buku bagus berdiskon. Ndilallah, buku-buku bagus itu ada di rak diskon, di toko buku Togamas Kediri. Bak gayung bersambut. Sayapun langsung menuju buku diskon tersebut. Saya lihat satu persatu, saya amati dengan teliti dan saksama. Wah, buku-buku keren, ada di depan tangan. Bayangkan, karya-karya penuh keilmuan dihargai Rp. 15.000.-, ilmu dihargai seharga kacang goreng, apa ndak bikin ngiler para pemburu buku atau booklover coba? Jelas surga dunia yang ada di depan mata.
Buku-buku tersebut di antaranya; Di Bawah Bendera Sarung; kisah humor anak pesantren (Pastel: 2014), Habis Galau Terbitlah Move on, Orang Maiyah (buku ini harga normal), Menyambut Kematian; Memaknai Hidup Menuju Akhirat, Sebelas Patriot. Buku ini dibandrol dengan harga yang sangat murah. Buku yang sangat luar biasa ini saya dapatkan dengan mengeluarkan uang bergambar Bung Karno, itupun masih ada kembaliannya. Sebuah harga yang tidak merepresentasikan atau tak seimbang dengan nilai keilmuannya.
Namun, tak munafik--bagi saya begitupun sampeyan semua--buku berdiskon seakan sorga keilmuan yang tidak terhingga, dan yang dicari-cari serta dinanti-nanti. Dus, apapun itu diskon memang penting untuk semua produk. Tidak terkecuali untuk asupan gizi otak dari sisi keintelektualan diri seorang manusia, membutuhkan asupan suplemen ilmu yang baik pula. Supaya kecantikan otak kita tidak kalah cantik dengan kecantikan fisik. Tak absurd memang, banyak orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik itu berawal dari banyaknya dan kuantitas referensi yang ia miliki maupun bacaan.
Tak mustahil, dengan adanya buku diskon tersebut, bak angin segar bagi para pemburu ilmu, begitu Cak Nun biasa berujar. Jadi para pemburu ilmu tersebut dengan hadirnya obral dan bazar buku yang harganya sedikit mirip, semisal buku berdiskon sangat membantu dahaga sisi intelektualitas seseorang.
Namun yang tidak kalah penting adalah, bukan seberapa banyak kita membaca buku-buku yang telah kita beli (kuantitas), melainkan seberapa besar buku bacaan tersebut mengubah perilaku kita (kualitas) hidup. Tentu, hadirnya buku-buku murah yang berada, seperti bazar atau obral tersebut semacam fase di tengah terik panasnya perilaku manusia yang sedang dekonstruksi perilaku baik.
Selain itu, buku kemudian bagi para pembaca. Seperti yang saya singgung tadi, buku menjadi oase, menurut pengarang dan penyiar Garrison Keillor, Amerika Serikat, "buku merupakan berkah yang dapat Anda buka dan buka lagi." Dengan begitu, Anda bisa setiap saat menikmati dan membaca di manapun anda berada.
Oleh karena itu, bagi saya, entah buku yang dibandrol murah atau mahal memiliki magis tersebut untuk kita serap "cahayanya" dan ilmunya." Membaca buku ibarat Aladin yang menaiki karpet merah sedang melintasi dunia. Hal tersebut juga disampaikan oleh Coreline Gordon. "Buku yang ditulis secara indah merupakan karpet ajaib yang mampu membawa Anda menjelajahi dunia yang tidak dapat Anda masuki melalui cara lain apa pun." []
Saya kira tidak berlebihan jika ibu memberi kritik atau menasehati tentang kebiasaan saya membeli buku, yang menurutnya, overlude itu. Namun, ia mahfum, saya beli buku ibarat petani memerlukan arit dan cangkul, eh jangan kira komunis loh, petani itu alatnya arit atau sabit dan cangkul. Semakin lama makin kesini, ibu memahami dengan kebutuhan otak abstrak saya ini, ia kemudian memaklumi anaknya membeli buku. Meski sesekali ia juga protes dengan semakin menggunungnya koleksi buku saya di rak buku di rumah.
Memang betul, saya terasa tergerak ketika dalam satu minggu tersebut tidak membeli buku. Hal ini bisa dibuktikan. Para pelayan atau karyawan/ti toko buku Togamas Tulungagung, sebagian besar saya kenali. Maksudnya, saya dan para karyawan/ti berkomunikasi tidak canggung. Serasa tidak ada batasan. Ini saya konsumen, ini mereka adalah penjual. Tidak. Tidak ada sekat di antara kita. Meski begitu, kami tidak tahu nama satu persatu.
Begitulah buku, mampu mempersatukan insan manusia saling mengenal satu sama lain. Kembali pada buku tadi. Tidak hanya di Tulungagung, tetapi juga di Kediri, (karena saya tinggal di pelosok desa, jadi maklum lah jikalau bisa akses toko buku di kota-kota kecil) saya hunting buku. Yang jadi sasaran adalah buku yang berdiskon. Maklumlah anak rantau, yang masih belum memiliki pendapatan finansial sendiri di saku. Buku diskonlah tujuan utama saya ke toko buku tersebut. Bagi saya, buku terbitan tahun berapapun itu adalah new books, buku baru, buku ya belum pernah saya baca itu buku baru.
Pernah suatu ketika, perjalanan dari rumah ke Kediri, tujuan pertama mana lagi kalau bukan ke toko buku. Saya mencari informasi dan updating buku-buku baru dalam rak toko buku. Berharap ada buku bagus berdiskon. Ndilallah, buku-buku bagus itu ada di rak diskon, di toko buku Togamas Kediri. Bak gayung bersambut. Sayapun langsung menuju buku diskon tersebut. Saya lihat satu persatu, saya amati dengan teliti dan saksama. Wah, buku-buku keren, ada di depan tangan. Bayangkan, karya-karya penuh keilmuan dihargai Rp. 15.000.-, ilmu dihargai seharga kacang goreng, apa ndak bikin ngiler para pemburu buku atau booklover coba? Jelas surga dunia yang ada di depan mata.
Buku-buku tersebut di antaranya; Di Bawah Bendera Sarung; kisah humor anak pesantren (Pastel: 2014), Habis Galau Terbitlah Move on, Orang Maiyah (buku ini harga normal), Menyambut Kematian; Memaknai Hidup Menuju Akhirat, Sebelas Patriot. Buku ini dibandrol dengan harga yang sangat murah. Buku yang sangat luar biasa ini saya dapatkan dengan mengeluarkan uang bergambar Bung Karno, itupun masih ada kembaliannya. Sebuah harga yang tidak merepresentasikan atau tak seimbang dengan nilai keilmuannya.
Namun, tak munafik--bagi saya begitupun sampeyan semua--buku berdiskon seakan sorga keilmuan yang tidak terhingga, dan yang dicari-cari serta dinanti-nanti. Dus, apapun itu diskon memang penting untuk semua produk. Tidak terkecuali untuk asupan gizi otak dari sisi keintelektualan diri seorang manusia, membutuhkan asupan suplemen ilmu yang baik pula. Supaya kecantikan otak kita tidak kalah cantik dengan kecantikan fisik. Tak absurd memang, banyak orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik itu berawal dari banyaknya dan kuantitas referensi yang ia miliki maupun bacaan.
Tak mustahil, dengan adanya buku diskon tersebut, bak angin segar bagi para pemburu ilmu, begitu Cak Nun biasa berujar. Jadi para pemburu ilmu tersebut dengan hadirnya obral dan bazar buku yang harganya sedikit mirip, semisal buku berdiskon sangat membantu dahaga sisi intelektualitas seseorang.
Namun yang tidak kalah penting adalah, bukan seberapa banyak kita membaca buku-buku yang telah kita beli (kuantitas), melainkan seberapa besar buku bacaan tersebut mengubah perilaku kita (kualitas) hidup. Tentu, hadirnya buku-buku murah yang berada, seperti bazar atau obral tersebut semacam fase di tengah terik panasnya perilaku manusia yang sedang dekonstruksi perilaku baik.
Selain itu, buku kemudian bagi para pembaca. Seperti yang saya singgung tadi, buku menjadi oase, menurut pengarang dan penyiar Garrison Keillor, Amerika Serikat, "buku merupakan berkah yang dapat Anda buka dan buka lagi." Dengan begitu, Anda bisa setiap saat menikmati dan membaca di manapun anda berada.
Oleh karena itu, bagi saya, entah buku yang dibandrol murah atau mahal memiliki magis tersebut untuk kita serap "cahayanya" dan ilmunya." Membaca buku ibarat Aladin yang menaiki karpet merah sedang melintasi dunia. Hal tersebut juga disampaikan oleh Coreline Gordon. "Buku yang ditulis secara indah merupakan karpet ajaib yang mampu membawa Anda menjelajahi dunia yang tidak dapat Anda masuki melalui cara lain apa pun." []
إرسال تعليق