Islam itu agama yang sempurna. Yang mengajarkan terpadukan dalam kehidupan sehari-hari dan diamalkan dalam berbagai sendi kehidupan, baik secara individu maupun sosial. Apapun yang kita lakukan ada etika yang mengaturnya. Dari perkara terkecil sampai perkara terbesar; baik dari buang air kecil atau buang air besar sampai masalah utang-piutang, pernikahan, sampai perkara hukum pun ada “cara mainnya” dalam Islam. Tujuannya adalah demi tercapainya kerukunan, ketenteraman dan kebaikan umat manusia di manapun berada.
Islam adalah agama perdamaian. Islam bukan doktrin kekerasan, bukan pula pencetus kebrutalan. Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin, yakni kasih sayang bagi semesta alam. Keberadaan islam adalah untuk menciptakan kasih sayang, perdamaian dunia, dan antitesis dari berbagai ajaran kebrutalan.
Agama tidak sekedar ajaran-ajaran yang terkandung dan doktrin ketuhanan, tetapi lebih dari itu, yaitu pengamalan terhadap ajaran agama. Agama mengajarkan kebaikan, perdamaian, dan hubungan baik antar sesama dan Tuhannya, sesamanya, dan alam lingkungannya. Islam juga bukan identitas dalam saku dompet di KTP. Seorang muslim adalah totalitas dari pengamalan ajaran agama Islam yang rahmatan lil’alamin (kafah).
BerIslam bukan sekedar shalat, membayar zakat dan lain sebagainya. Islam lebih dari itu. Islam adalah perbuatan yang baik. Kita semua tentu mahfum dengan folklore Imam Al-Ghazali dan seekor lalat. Kita pasti tahu Imam Al-Ghazali mahir dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan: ahli ilmu logika, filsafat dan sebagainya, ilmu agama; teolog, tasawuf, fikih, dan sebagainya. Ia seorang sufi yang dihormati dan disegani. Walau telah meninggal, ia masih harum nama dan pemikirannya dan fatwanya diyakini sampai sekarang. Yang lebih istimewa lagi, ia seseorang ulama besar dan ahli ibadah. Namun Allah tidak memberikan “tiket gratis” kepada Imam Ghazali untuk memasuki surga-Nya.
Imam Ghazali masuk surga bukan karena kuantitas dan kualitas ibadahnya, bukan pula karena ketaatannya kepada Allah. Dia masuk surga karena telah memberi minum seekor lalat haus yang “menggangu” tatkala dia sedang menulis (hal. 35).
Allah memberi ‘rekomendasi’ masuk ke surga justru kebaikannya pada seekor lalat yang meminum tinta miliknya. Meski, seorang ahli ibadah, seorang sufi, ahli hikmah, dan pelaku kebaijkan belum terjamin surga untuknya. Sebab, Islam tidak hanya seremonial peribadatan shalat, zakat, puasa serta berbagai ibadah mahdhah lainnya. Akan tetapi, Islam yang baik dalam praktiknya, yang baik, mulia, luhur dan penuh dengan kebaikan-kebaikan hidup.
Oleh karena itu, praktik dari pengamalan ajaran-ajaran agama itu tertuang dalam bentuk budi pekerti yang luhur, akhlak yang terpuji, perbuatan yang berasaskan belas kasih, lisan yang terjaga, berkata jujur, tidak menzalimi orang lain, menjaga diri dari kemaksiatan, dan serangkaian kebajikan lain yang berupa perbuatan-perbuatan baik. Jika agama adalah materi pembelajaran, maka pengamalannya adalah kebajikan, (Hal. 80).
Namun sekarang, ajaran Islam oleh sebagaian orang atau organisasi dibentuk yang justru menampakkan kegarangannya. Lafal “Allahu Akbar” yang seharusnya untuk seruan panggilan shalat, iqamah dan berserah diri dengan mendirikan sedemikian khusyuk. Kini lafal takbir pun diteriakkan di luar masjid, yang justru dibarengi dengan aksi merusak fasilitas. “Allahu Akbar” dilafalkan dengan nada tinggi. Pelafalnya mengacungkan tongkat, pedang, atau balok kayu untuk memukul sesuatu di sekitarnya. Melihat realitas tersebut, banyak orang mengalami ketakutan ketika lafal “Allahu Akbar” disuarakan.
Ironis! Menyatakan kebesaran Allah yang suci dan sakral digunakan untuk melegalkan aksi-aksi kekerasan, penindasan dan kebrutalan, maka sama dengan menistakan Allah Yang Mahabesar dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Hal itu sangatlah bertolak belakang dengan ajaran agama Islam yang cinta damai, rahmatan lil’alamin. Islam itu bukan cuma teriakan “Allahu Akbar”. Di dalam Islam, ada pula lafal “Alhamdulillah” untuk bersyukur dan memuji Allah, lafal “Subhanallah” untuk menegaskan kesucian dan kebesaran Allah, lafal “Assalamu’alaikum” untuk bertegur sapa dengan sesama, dan lafal-lafal yang lainnya. Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan nilai-nilai perjuangan (jihad), tetapi mengajarkan kasih sayang karena Islam adalah rahmatan lil’alamin.
Sebagai makhluk yang dianugerahi akhlak dan pikiran, kita perlu belajar berpikir dari Isaac Newton. Newton dianugerahi Allah, otak untuk menciptakan teori gravitasi dari sebuah apel yang jatuh. Dari apel itulah apel menjadi ilmu yang diterima, diyakini dan gunakan sampai sekarang ini.
Newton bukan seorang muslim, tetapi yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr [59] ayat 21, “Sekiranya kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Hal. 16).
Lebih dari itu, dengan berpikir orang Barat sudah mampu pergi ke bulan, bisa menciptakan kapal selam, mampu memproduksi alat-alat perang supercanggih, mempercanggih rancangan pesawat terbang, dan bisa membuat teknologi semakin maju.
Sementara kita, dengan seiring perkembangannya, Indonesia masih terjebak dengan perbedaan pendapat mengenai berIslam; mengenai qunut, jumlah rakaat shalat tarawih, penetapan awal bulan Hijriyah; terutama bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Bukan berhenti di situ saja, ritual peribadatan yang bersinggungan dengan tradisi dan budaya tidak lepas dari sorotan. Lantaran, mereka berbeda dengan paham kita, kita dengan mudah mengkafir-kafirkan. Membidah. Menyesatkan. Hingga kita hakimi sendiri mereka yang pahamnya tidak sejalan dengan kekerasan.
Padahal kita tahu sendiri, kita adalah sesama muslim dan sesama muslim itu bersaudara. Dan umat Islam seolah terkotak-kotak dalam perbedaan tersebut. Alangkah besarnya Islam membangun peradaban untuk melawan kekebalan, kemunduran dan ketertinggalan dari bangsa Barat itu. Islam bersatu membangun melek peradaban kemajuan lebih bijak daripada memusuhi sesama.
Oleh karena itulah Ali Abdullah dengan bukunya yang berjudul Islam Bukan Hanya Teriakan “Allahu Akbar” membuka perspektif kita terhadap beragama. Buku ini berbeda dengan buku pada umumnya, buku ini unik dan menarik serta kritis, bagi mereka yang memiliki pandangan berIslam yang kaku dan fanatik dan sering bersikap membabi buta.
Tulisan-tulisan dalam buku ini membincangkan Islam yang tidak sekedar “Allahu Akbar”. Tulisan-tulisan yang disajikan merupakan refleksi atas realitas saat ini dengan mempertimbangkan berbagai kisah teladan serta epik moral lainnya. Bukankah Islam untuk hidup kita dan kita hidup untuk mengamalkan Islam? Mengamalkan ajaran Islam dalam setiap sendi kehidupan.[]
Judul Buku : Islam Bukan Hanya Teriakan “ALLAHU AKBAR”
Penulis : Ali Abdullah
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Terbit : Pertama, 2015
Tebal : xiii+172 halaman
Islam adalah agama perdamaian. Islam bukan doktrin kekerasan, bukan pula pencetus kebrutalan. Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin, yakni kasih sayang bagi semesta alam. Keberadaan islam adalah untuk menciptakan kasih sayang, perdamaian dunia, dan antitesis dari berbagai ajaran kebrutalan.
Agama tidak sekedar ajaran-ajaran yang terkandung dan doktrin ketuhanan, tetapi lebih dari itu, yaitu pengamalan terhadap ajaran agama. Agama mengajarkan kebaikan, perdamaian, dan hubungan baik antar sesama dan Tuhannya, sesamanya, dan alam lingkungannya. Islam juga bukan identitas dalam saku dompet di KTP. Seorang muslim adalah totalitas dari pengamalan ajaran agama Islam yang rahmatan lil’alamin (kafah).
BerIslam bukan sekedar shalat, membayar zakat dan lain sebagainya. Islam lebih dari itu. Islam adalah perbuatan yang baik. Kita semua tentu mahfum dengan folklore Imam Al-Ghazali dan seekor lalat. Kita pasti tahu Imam Al-Ghazali mahir dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan: ahli ilmu logika, filsafat dan sebagainya, ilmu agama; teolog, tasawuf, fikih, dan sebagainya. Ia seorang sufi yang dihormati dan disegani. Walau telah meninggal, ia masih harum nama dan pemikirannya dan fatwanya diyakini sampai sekarang. Yang lebih istimewa lagi, ia seseorang ulama besar dan ahli ibadah. Namun Allah tidak memberikan “tiket gratis” kepada Imam Ghazali untuk memasuki surga-Nya.
Imam Ghazali masuk surga bukan karena kuantitas dan kualitas ibadahnya, bukan pula karena ketaatannya kepada Allah. Dia masuk surga karena telah memberi minum seekor lalat haus yang “menggangu” tatkala dia sedang menulis (hal. 35).
Allah memberi ‘rekomendasi’ masuk ke surga justru kebaikannya pada seekor lalat yang meminum tinta miliknya. Meski, seorang ahli ibadah, seorang sufi, ahli hikmah, dan pelaku kebaijkan belum terjamin surga untuknya. Sebab, Islam tidak hanya seremonial peribadatan shalat, zakat, puasa serta berbagai ibadah mahdhah lainnya. Akan tetapi, Islam yang baik dalam praktiknya, yang baik, mulia, luhur dan penuh dengan kebaikan-kebaikan hidup.
Oleh karena itu, praktik dari pengamalan ajaran-ajaran agama itu tertuang dalam bentuk budi pekerti yang luhur, akhlak yang terpuji, perbuatan yang berasaskan belas kasih, lisan yang terjaga, berkata jujur, tidak menzalimi orang lain, menjaga diri dari kemaksiatan, dan serangkaian kebajikan lain yang berupa perbuatan-perbuatan baik. Jika agama adalah materi pembelajaran, maka pengamalannya adalah kebajikan, (Hal. 80).
Namun sekarang, ajaran Islam oleh sebagaian orang atau organisasi dibentuk yang justru menampakkan kegarangannya. Lafal “Allahu Akbar” yang seharusnya untuk seruan panggilan shalat, iqamah dan berserah diri dengan mendirikan sedemikian khusyuk. Kini lafal takbir pun diteriakkan di luar masjid, yang justru dibarengi dengan aksi merusak fasilitas. “Allahu Akbar” dilafalkan dengan nada tinggi. Pelafalnya mengacungkan tongkat, pedang, atau balok kayu untuk memukul sesuatu di sekitarnya. Melihat realitas tersebut, banyak orang mengalami ketakutan ketika lafal “Allahu Akbar” disuarakan.
Ironis! Menyatakan kebesaran Allah yang suci dan sakral digunakan untuk melegalkan aksi-aksi kekerasan, penindasan dan kebrutalan, maka sama dengan menistakan Allah Yang Mahabesar dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Hal itu sangatlah bertolak belakang dengan ajaran agama Islam yang cinta damai, rahmatan lil’alamin. Islam itu bukan cuma teriakan “Allahu Akbar”. Di dalam Islam, ada pula lafal “Alhamdulillah” untuk bersyukur dan memuji Allah, lafal “Subhanallah” untuk menegaskan kesucian dan kebesaran Allah, lafal “Assalamu’alaikum” untuk bertegur sapa dengan sesama, dan lafal-lafal yang lainnya. Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan nilai-nilai perjuangan (jihad), tetapi mengajarkan kasih sayang karena Islam adalah rahmatan lil’alamin.
Sebagai makhluk yang dianugerahi akhlak dan pikiran, kita perlu belajar berpikir dari Isaac Newton. Newton dianugerahi Allah, otak untuk menciptakan teori gravitasi dari sebuah apel yang jatuh. Dari apel itulah apel menjadi ilmu yang diterima, diyakini dan gunakan sampai sekarang ini.
Newton bukan seorang muslim, tetapi yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr [59] ayat 21, “Sekiranya kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Hal. 16).
Lebih dari itu, dengan berpikir orang Barat sudah mampu pergi ke bulan, bisa menciptakan kapal selam, mampu memproduksi alat-alat perang supercanggih, mempercanggih rancangan pesawat terbang, dan bisa membuat teknologi semakin maju.
Sementara kita, dengan seiring perkembangannya, Indonesia masih terjebak dengan perbedaan pendapat mengenai berIslam; mengenai qunut, jumlah rakaat shalat tarawih, penetapan awal bulan Hijriyah; terutama bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Bukan berhenti di situ saja, ritual peribadatan yang bersinggungan dengan tradisi dan budaya tidak lepas dari sorotan. Lantaran, mereka berbeda dengan paham kita, kita dengan mudah mengkafir-kafirkan. Membidah. Menyesatkan. Hingga kita hakimi sendiri mereka yang pahamnya tidak sejalan dengan kekerasan.
Padahal kita tahu sendiri, kita adalah sesama muslim dan sesama muslim itu bersaudara. Dan umat Islam seolah terkotak-kotak dalam perbedaan tersebut. Alangkah besarnya Islam membangun peradaban untuk melawan kekebalan, kemunduran dan ketertinggalan dari bangsa Barat itu. Islam bersatu membangun melek peradaban kemajuan lebih bijak daripada memusuhi sesama.
Oleh karena itulah Ali Abdullah dengan bukunya yang berjudul Islam Bukan Hanya Teriakan “Allahu Akbar” membuka perspektif kita terhadap beragama. Buku ini berbeda dengan buku pada umumnya, buku ini unik dan menarik serta kritis, bagi mereka yang memiliki pandangan berIslam yang kaku dan fanatik dan sering bersikap membabi buta.
Tulisan-tulisan dalam buku ini membincangkan Islam yang tidak sekedar “Allahu Akbar”. Tulisan-tulisan yang disajikan merupakan refleksi atas realitas saat ini dengan mempertimbangkan berbagai kisah teladan serta epik moral lainnya. Bukankah Islam untuk hidup kita dan kita hidup untuk mengamalkan Islam? Mengamalkan ajaran Islam dalam setiap sendi kehidupan.[]
Judul Buku : Islam Bukan Hanya Teriakan “ALLAHU AKBAR”
Penulis : Ali Abdullah
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Terbit : Pertama, 2015
Tebal : xiii+172 halaman
إرسال تعليق