Laboratorium adalah tempat untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ketika berbicara tentang laboratorium, imajinasi saya langsung melayang jauh ke belakang di rentang lima atau sepuluh tahun yang lalu. Di mana saya pertama kali menginjakkan kaki di ruang itu, yang menurut saya pribadi begitu asing dan baunya sangat khas. Selain itu ciri khasnya tentu patung orang yang dibelah sebelah dengan organ tubuh terlihat.
Di tahun-tahun itu, imajinasi tentang ruangan bernama laboratorium adalah ruangan yang anak-anak kecil tidak boleh masuk jika tidak ada keperluan. Begitu pun anak-anak sekolah, jika tidak ada mata pelajaran praktik, maka anak-anak tidak boleh masuk. Apalagi sampai mengotak-atik benda yang ada di dalam.
Selain itu juga labotarium itu adalah tempat rajikan dari berbagai ramuan dan cairan yang mengubah cairan tersebut jadi kekuatan super seperti digambarkan pada kartun-kartun yang saya lihat di Minggu pagi waktu saya kecil dulu. Selain tidak boleh masuk, yang boleh mengoperasikan dan bermain-main atau bereksperimen di arena itu adalah para profesor dengan keilmuan dan riset yang maha dahsyat.
Anak-anak kecil seperti saya tidak diperkenankan untuk masuk dan bermain di ruangan ini. Imaji saya waktu itu terseret saat sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)--setara Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski saya sudah masuk di sekolah pertama menengah, imaji tentang ruangan ini tetap tidak berubah.
Ruangan ini mengantarkan saya pada sebuah tanda tanya di benak saya sampai sekarang. Kalau tidak salah ingat, sampai hari ini saya masuk dan melakukan aktivitas yang pasti di ruangan Labotarium ini adalah hanya sekali. Sekali ketika akan mau ujian nasional. Sebagai siswa yang kurang ajar, ketika itu saya sudah punya pertanyaan--tapi tak sempat saya utarakan--buat apa bangun gedung jika tidak untuk siswa? Lebih baik bangun untuk keperluan yang jelas.
Saking 'takjubnya' dengan ruangan itu, saya sedikit memendam rasa takut saat masuk di ruangan. Sampai-sampai waktu PPL di sekolah menengah pertama di kabupaten dan mendapat ruangan di labotarium saya membawa perasaan aneh dan menyimpan perasaan was-was.
Manakala dalam benak menyimpan banyak tanda tanya, maka pemikiran kita dinamis. Memang, orang sejatinya harus memiliki pemikiran yang objektif seperti itu. Dengan berpikir yang objektif, semua kebenaran yang rasional bisa didapat.
Selain itu juga labotarium itu adalah tempat rajikan dari berbagai ramuan dan cairan yang mengubah cairan tersebut jadi kekuatan super seperti digambarkan pada kartun-kartun yang saya lihat di Minggu pagi waktu saya kecil dulu. Selain tidak boleh masuk, yang boleh mengoperasikan dan bermain-main atau bereksperimen di arena itu adalah para profesor dengan keilmuan dan riset yang maha dahsyat.
Anak-anak kecil seperti saya tidak diperkenankan untuk masuk dan bermain di ruangan ini. Imaji saya waktu itu terseret saat sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)--setara Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski saya sudah masuk di sekolah pertama menengah, imaji tentang ruangan ini tetap tidak berubah.
Ruangan ini mengantarkan saya pada sebuah tanda tanya di benak saya sampai sekarang. Kalau tidak salah ingat, sampai hari ini saya masuk dan melakukan aktivitas yang pasti di ruangan Labotarium ini adalah hanya sekali. Sekali ketika akan mau ujian nasional. Sebagai siswa yang kurang ajar, ketika itu saya sudah punya pertanyaan--tapi tak sempat saya utarakan--buat apa bangun gedung jika tidak untuk siswa? Lebih baik bangun untuk keperluan yang jelas.
Saking 'takjubnya' dengan ruangan itu, saya sedikit memendam rasa takut saat masuk di ruangan. Sampai-sampai waktu PPL di sekolah menengah pertama di kabupaten dan mendapat ruangan di labotarium saya membawa perasaan aneh dan menyimpan perasaan was-was.
Ternyata anggapan dan ketakjuban tentang ruangan itu tidak berhenti. Karena dalam rentang waktu dengan usia melebihi seperempat abad ini memasuki ruangan bernama laboratorium itu adalah saat masuk di MTs tadi. Sebab di Sekolah Menengah Atas (SMA), saya dimasukkan di sekolah yang kelasnya tak tertulis nama cewek sama sekali didaftar absen kelas. Pasti Anda tahu sekolah apa yang saya maksud tersebut. Ya, betul. STM. Sekolah Tombo Melek. Hehehe.
Di balik ngenesnya tak mencicipi sakralnya ruangan berbau obat-obatan itu ternyata sewaktu SMA, juga gak ada cewek di kelas kami. Hahaha. Mau bilang komplit rasanya kok gak enak, mau bilang penderitaannya memang begitu adanya. Namun bukan anak STM kalau tak memiliki akal. Itu soal lain.
Jadi saya tak merasakan dua sekaligus. Tidak merasa jadi seorang ilmuwan, saat praktik di dalam ruangan juga tidak bercanda dengan teman cewek waktu di sekolah STM. Namun ini kesan saya terhadap laboratorium tidak ada kaitannya dengan siswa cewek. Menurut Kamus Ilmiah Populer (2009) menuliskan bahwa laboratorium adalah ruang pendek atau mengadakan eksperimentasi (kimia, biologi, fisika dan sebagainya); bengkel. Dengan ruang eksperimen ini, kita bisa belajar banyak tentang apa yang belum kita ketahui. Juga yang belum kita sentuh, dan belum kita jamah sebelumnya.
Jadi saya tak merasakan dua sekaligus. Tidak merasa jadi seorang ilmuwan, saat praktik di dalam ruangan juga tidak bercanda dengan teman cewek waktu di sekolah STM. Namun ini kesan saya terhadap laboratorium tidak ada kaitannya dengan siswa cewek. Menurut Kamus Ilmiah Populer (2009) menuliskan bahwa laboratorium adalah ruang pendek atau mengadakan eksperimentasi (kimia, biologi, fisika dan sebagainya); bengkel. Dengan ruang eksperimen ini, kita bisa belajar banyak tentang apa yang belum kita ketahui. Juga yang belum kita sentuh, dan belum kita jamah sebelumnya.
Ada yang berpendapat bahwa alam raya ini adalah laboratorium. Laboratorium yang tidak akan habis manakala ilmu pengetahuan tentang kosmologi kita rengkuh. Lautan kosmologi yang kita baca semakin menimbulkan penafsiran-penafsiran baru yang memperluas dan perkaya penafsiran-penafsiran sebelumnya serta dapat mengembangkan berbagai gagasan, dan bahkan akan menimbulkan gagasan lain yang sama sekali baru.
Semua berawal dari tanda tanya yang ada dalam diri kita. Orang jawa bilang, "Ilmu ketemune kanthi laku". Kita tahu bahwa kebanyakan kita justru bukan belajar dari lingkungan yang ada, malah belajar dari antah-berantah. Toto Rahardjo dalam bukunya yang berjudul "Sekolah Biasa Saja (2014) menambahkan banyak orang pandai lantaran mempelajari bayangan, mempelajari fatamorgana yang sangat susah dipahami apabila dimiliki. Bukan belajar dari yang nyata-nyata ada.
Oleh karena itu, laboratorium yang super canggih nan luas ini, untuk memperoleh cakrawala tiada tara, maka perbanyaklah tanda tanya dalam diri. Belajar untuk memungut serpihan-serpihan cakrawala yang ada di dunia ini dengan bertanya dalam diri kita sendiri. Karena laboratorium adalah tanda tanya itu sendiri.
Jadi saya tidak mengenal barang di labotarium mauupun tahu apa itu teknologi yang ada di dalamnya. Sehingga di laboratorium tersebut, saya tak pernah memikirkan apa itu meneliti dan buat apa bereksperimen sesuai ilmu dan teknologi yang ada. Namun laboratorium bernama alam ini mengajarkan saya tetap belajar, mengamati dan meneliti untuk tidak menyebut riset.
Semua berawal dari tanda tanya yang ada dalam diri kita. Orang jawa bilang, "Ilmu ketemune kanthi laku". Kita tahu bahwa kebanyakan kita justru bukan belajar dari lingkungan yang ada, malah belajar dari antah-berantah. Toto Rahardjo dalam bukunya yang berjudul "Sekolah Biasa Saja (2014) menambahkan banyak orang pandai lantaran mempelajari bayangan, mempelajari fatamorgana yang sangat susah dipahami apabila dimiliki. Bukan belajar dari yang nyata-nyata ada.
Oleh karena itu, laboratorium yang super canggih nan luas ini, untuk memperoleh cakrawala tiada tara, maka perbanyaklah tanda tanya dalam diri. Belajar untuk memungut serpihan-serpihan cakrawala yang ada di dunia ini dengan bertanya dalam diri kita sendiri. Karena laboratorium adalah tanda tanya itu sendiri.
Jadi saya tidak mengenal barang di labotarium mauupun tahu apa itu teknologi yang ada di dalamnya. Sehingga di laboratorium tersebut, saya tak pernah memikirkan apa itu meneliti dan buat apa bereksperimen sesuai ilmu dan teknologi yang ada. Namun laboratorium bernama alam ini mengajarkan saya tetap belajar, mengamati dan meneliti untuk tidak menyebut riset.
Iya.... dengan memiliki banyak ilmu, hidup akan lebih mudah untuk dijalani. Cuma saya kadang2 ngedown dan nggak percaya diri dengan ilmu yang saya miliki. Rasanya semua orang kok lebih pandai dari saya.:-D
ردحذفSaya jurang sering begitu Mas Shiq4, mindir dengan ilmu (gentong) orang-orang. Saya hanya bisa mengagumi orang-orang yang ilmunya tinggi itu... Terima kasih, Mas...
ردحذفإرسال تعليق