Usainya memang sudah tua renta. Kulitnya yang keriput menandakan usianya dimakan senja. Ketika ada angin selatan, sosok si tua ini bisa saja jalannya tidak seimbang. Oleng oleh kuatnya hembusan angin. Mbah Asrori sosok yang tua ini. Tua bukan sekedar tua. Namun hanya fisiknya yang telah mulai lapuk. Namun semangat dan kisahnya patut kita teladani bagi kita semua yang mengenalnya.
Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, mbah Asrori tidak menghalangi langkah untuk berbagi sesama. Apa saja yang dapat ia bantu kepada orang lain yang membutuhkan, ia siap untuk membantunya. Usianya bukan batasan untuk beramal sholeh. Pepatah bijak mengatakan 'tua-tua keladi, makin tua makin menjadi,'. Pepatah ini pantas menggambarkan sosok seorang yang sudah sepuh, usia kepala sembilan. Wah, usianya Sembilan Puluh Dua. Dengan usia yang sangat-sangat sepuh, mbah Asrori masih kuat-segar kewarasan untuk beramal sholeh dengan bersekedah.
'Usia bukan batasan untuk berhenti bersedekah.' Motto tersebut yang selalu ditanamkan pada diri mbah Asrori. Kakek yang setiap harinya mengayuh sepeda turonggo atau ontel itu masih setiap dengan motto hidupnya. Setiap hari, ia menggunakan alat transportasi tersebut untuk mengantarkan dirinya ke tempat-tempat yang ia tuju. Tidak jarang dengan kendaraan model doeloe itu, mbah Asrori berkeliling ke tempat-tempat pengajian maupun sekitaran rumahnya. Dengan kendaraan peninggalan zaman dahulu itu pula, ia gunakan untuk berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan.
Meski rezeki yang ia terima tidak seperti orang berpenghasilan gedongan, namun dengan hasil belas kasihan dari tetangganya, hasil dari guru mengaji itu, ia sisihkan untuk bersedekah. Ia setiap jumat selalu bersedekah nasi bungkus. Bagi kita, sekedah seperti itu bisa-bisa saja, namun lihatlah keikhlasan dan ketulusan yang ia berikan untuk membantu sesama: para pemulung, tukang becak atau siapa pun yang membutuhkan makanan. Apalagi makanan itu berisi nasi bungkus lengkap dengan lauk-pauknya. Yang lebih istimewanya lagi adalah, ia bersedekah di hari Kumat. Setiap hari Jumat, ia bersedekah dengan menu yang hampir berbeda-beda. Tentu, agar semua penerima tidak akan bosen dengan menu yang diberikan.
Sekian itu, ia berkeliling tidak ditemani kamera untuk mendokumentasikan gerakannya tersebut. Bukan pula mobil dengan ajakan atau anjuran kepada kita semua. Dia berkeliling ke lingkungan sekitar dengan sepeda tuanya itu. Serta nasi yang sudah dibungkusi dari rumah, serta kresek warna-warni itu: merah, hitam, biru.
"Mbah Asrori setidaknya menyisihkan Rp. 400.000 per bulan untuk bersedekah padahal penghasilan beliau juga tidak segitu," ujar Fajar Ali Imron, salah seorang tetangga Mbah Asrori.
Dirata-rata, dalam sehari, Mbah Asrori mengumpulkan biaya dua belas ribu rupiah. Bagi kita, nominal uang yang sedemikian itu tidaklah besar. Namun mengeluarkan untuk keperluan membantu sesama atau menyumbang kotak dalam masjid di sela-sela khotbah jumat, beratnya minta ampun. Bagi Mbah Asrori, gaji dari mengajar mengaji kepada anak-anak sekitar rumahnya itu ada hak orang lain. Gaji yang diterima dari berprofesi sebagai seorang guru mengaji, yang berpenghasilan hanya sekitar Rp. 800.000 perbulan itu, ia potong setengah untuk bersedekah.
Ia dengan data yang sedemikian itu, mampu membeli 150 bungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Menu yang lumayan lengkap, dengan variasi lauk yang ada. Tentu rasa kemanusiaan yang tinggi, yang diimplementasikan oleh Mbah Asrori ini. Kakek dengan 3 anak dan 10 cucu tersebut memang memiliki jiwa dermawan yang luar biasa. Dengan dana yang sedemikian, namun ia mampu berbagi 150 bungkus untuk sesama yang membutuhkannya.
Kedermawanan ini semata-mata untuk membantu sesama. Namun ternyata, sedekah yang dilakukan oleh Mbah Asrori tersebut semata-mata bukan hanya karena ingin menolong mereka yang ingin membutuhkan makan saja, akan tetapi Mbah Asrori iba melihat tetangganya yang seorang janda berjualan nasi bungkus. Dengan perasaan iba terhadap tetangganya itulah Mbah Asrori membantu perekonomian kepala rumah tangga tunggal tersebut, dan memberikan kepada yang memerlukan bantuan itu.
Menurut Fajar, lima tahun silam Mbah Asrori bahkan sudah berangkat ke Tanah suci, Mekkah al Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji dari uang hasil jerih payahnya tersebut.
"Sebenarnya kalau dilogika dengan penghasilan tersebut mustahil beliau bisa berangkat haji, tapi ya itulah kalau orang ikhlas bersedekah pasti ada saja rejekinya," ungkap Fajar.
Orang yang bersedekah dengan hati yang tulus dan ikhlas pasti akan dibalas dengan imbalan yang setimpal oleh Allah SWT., namun jangan sampai kita mengharapkan balasan tersebut. Orang yang melakukan dengan keikhlasan tentu tidak akan mengharap-harap kembalian dari siapa pun dan kapanpun. Semua yang dilakukan halnya mengharapkan ridha Allah SWT. Semua yang dilakukan atas dasar keridhaan illahi, tentu semua akan indah pada waktunya. Dan Mbah Asrori, dengan sifat kedermawanan tersebut, patut kita teladani.
Kita, atau mereka yang berpenghasilan lebih namun untuk mengulurkan tangan membantu sesama sulit dan beratnya minta ampun. Sifat yang dimiliki oleh Mba Asrori ini yang benar-benar patut untuk dicontoh oleh semua orang, siapapun itu. Seberapa pun penghasilan yang diterima, sepatutnya kita tetap bersyukur, dan ada hak orang lain yang kita terima. Contoh Mbah Asrori itulah kita patut meneladani, dengan berpenghasilannya tidak seberapa, tetapi mampu mengayomi sesama. Dan amalnya pun luar biasa![]
Kediri, 7/9/'15
Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, mbah Asrori tidak menghalangi langkah untuk berbagi sesama. Apa saja yang dapat ia bantu kepada orang lain yang membutuhkan, ia siap untuk membantunya. Usianya bukan batasan untuk beramal sholeh. Pepatah bijak mengatakan 'tua-tua keladi, makin tua makin menjadi,'. Pepatah ini pantas menggambarkan sosok seorang yang sudah sepuh, usia kepala sembilan. Wah, usianya Sembilan Puluh Dua. Dengan usia yang sangat-sangat sepuh, mbah Asrori masih kuat-segar kewarasan untuk beramal sholeh dengan bersekedah.
'Usia bukan batasan untuk berhenti bersedekah.' Motto tersebut yang selalu ditanamkan pada diri mbah Asrori. Kakek yang setiap harinya mengayuh sepeda turonggo atau ontel itu masih setiap dengan motto hidupnya. Setiap hari, ia menggunakan alat transportasi tersebut untuk mengantarkan dirinya ke tempat-tempat yang ia tuju. Tidak jarang dengan kendaraan model doeloe itu, mbah Asrori berkeliling ke tempat-tempat pengajian maupun sekitaran rumahnya. Dengan kendaraan peninggalan zaman dahulu itu pula, ia gunakan untuk berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan.
Meski rezeki yang ia terima tidak seperti orang berpenghasilan gedongan, namun dengan hasil belas kasihan dari tetangganya, hasil dari guru mengaji itu, ia sisihkan untuk bersedekah. Ia setiap jumat selalu bersedekah nasi bungkus. Bagi kita, sekedah seperti itu bisa-bisa saja, namun lihatlah keikhlasan dan ketulusan yang ia berikan untuk membantu sesama: para pemulung, tukang becak atau siapa pun yang membutuhkan makanan. Apalagi makanan itu berisi nasi bungkus lengkap dengan lauk-pauknya. Yang lebih istimewanya lagi adalah, ia bersedekah di hari Kumat. Setiap hari Jumat, ia bersedekah dengan menu yang hampir berbeda-beda. Tentu, agar semua penerima tidak akan bosen dengan menu yang diberikan.
Sekian itu, ia berkeliling tidak ditemani kamera untuk mendokumentasikan gerakannya tersebut. Bukan pula mobil dengan ajakan atau anjuran kepada kita semua. Dia berkeliling ke lingkungan sekitar dengan sepeda tuanya itu. Serta nasi yang sudah dibungkusi dari rumah, serta kresek warna-warni itu: merah, hitam, biru.
"Mbah Asrori setidaknya menyisihkan Rp. 400.000 per bulan untuk bersedekah padahal penghasilan beliau juga tidak segitu," ujar Fajar Ali Imron, salah seorang tetangga Mbah Asrori.
Dirata-rata, dalam sehari, Mbah Asrori mengumpulkan biaya dua belas ribu rupiah. Bagi kita, nominal uang yang sedemikian itu tidaklah besar. Namun mengeluarkan untuk keperluan membantu sesama atau menyumbang kotak dalam masjid di sela-sela khotbah jumat, beratnya minta ampun. Bagi Mbah Asrori, gaji dari mengajar mengaji kepada anak-anak sekitar rumahnya itu ada hak orang lain. Gaji yang diterima dari berprofesi sebagai seorang guru mengaji, yang berpenghasilan hanya sekitar Rp. 800.000 perbulan itu, ia potong setengah untuk bersedekah.
Ia dengan data yang sedemikian itu, mampu membeli 150 bungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Menu yang lumayan lengkap, dengan variasi lauk yang ada. Tentu rasa kemanusiaan yang tinggi, yang diimplementasikan oleh Mbah Asrori ini. Kakek dengan 3 anak dan 10 cucu tersebut memang memiliki jiwa dermawan yang luar biasa. Dengan dana yang sedemikian, namun ia mampu berbagi 150 bungkus untuk sesama yang membutuhkannya.
Kedermawanan ini semata-mata untuk membantu sesama. Namun ternyata, sedekah yang dilakukan oleh Mbah Asrori tersebut semata-mata bukan hanya karena ingin menolong mereka yang ingin membutuhkan makan saja, akan tetapi Mbah Asrori iba melihat tetangganya yang seorang janda berjualan nasi bungkus. Dengan perasaan iba terhadap tetangganya itulah Mbah Asrori membantu perekonomian kepala rumah tangga tunggal tersebut, dan memberikan kepada yang memerlukan bantuan itu.
Menurut Fajar, lima tahun silam Mbah Asrori bahkan sudah berangkat ke Tanah suci, Mekkah al Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji dari uang hasil jerih payahnya tersebut.
"Sebenarnya kalau dilogika dengan penghasilan tersebut mustahil beliau bisa berangkat haji, tapi ya itulah kalau orang ikhlas bersedekah pasti ada saja rejekinya," ungkap Fajar.
Orang yang bersedekah dengan hati yang tulus dan ikhlas pasti akan dibalas dengan imbalan yang setimpal oleh Allah SWT., namun jangan sampai kita mengharapkan balasan tersebut. Orang yang melakukan dengan keikhlasan tentu tidak akan mengharap-harap kembalian dari siapa pun dan kapanpun. Semua yang dilakukan halnya mengharapkan ridha Allah SWT. Semua yang dilakukan atas dasar keridhaan illahi, tentu semua akan indah pada waktunya. Dan Mbah Asrori, dengan sifat kedermawanan tersebut, patut kita teladani.
Kita, atau mereka yang berpenghasilan lebih namun untuk mengulurkan tangan membantu sesama sulit dan beratnya minta ampun. Sifat yang dimiliki oleh Mba Asrori ini yang benar-benar patut untuk dicontoh oleh semua orang, siapapun itu. Seberapa pun penghasilan yang diterima, sepatutnya kita tetap bersyukur, dan ada hak orang lain yang kita terima. Contoh Mbah Asrori itulah kita patut meneladani, dengan berpenghasilannya tidak seberapa, tetapi mampu mengayomi sesama. Dan amalnya pun luar biasa![]
Kediri, 7/9/'15
sungguh menginspirasi untuk gigih bersedekah
ردحذفBetul Bun. Yang muda mau keluarin dikit aja udah mikir paketan ama pulsa. Busyeewttt. 😂. Hiks
ردحذفإرسال تعليق