Menulis adalah media untuk luapkan perasaan dan pikiran? Orang-orang yang emosinya sedang labil atau marah lebih baik luapkan dalam bentuk tulisan daripada objek yang lain. Sebenarnya pengertian ini berbeda dengan pengertian yang selama ini kita ketahui? Apa itu?
Aktivitas menulis adalah media untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik dengan pembaca. Bukan untuk media untuk mengekspresikan sikap emosionalnya. Namun kita mencermati fenomena sekarang, bahwa sebagian kebanyakan, orang meluapkan emosinya di media sosial tanpa bisa diredam. Fenomena ini bisa kita dapati pada akun media sosial, misal, Facebook, Twitter, BBM (Blackberry Messenger), atau akun-akun lain. Kata-kata yang mereka keluarkan, langsung emosional: umpatan, celaan, perkataan kotor, olok-olokan, hingga ucapannya yang dinilai memper(pecah) situasi dan kondisi persaudaraan, mungkin juga kesatuan NKRI.
Gaya marah, seperti buku yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat, yang berjudul Tafsir Kebahagian (2013), Pertama, acting out atau meledakkan kemarahan, seperti membuka jendela kemudian memaki-maki sepuasnya atau meninju sepuasnya orang yang dituju.
Kedua, dumping, yaitu melampiaskan kemarahan kepada orang yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sebab-musabab kemarahan itu. Misalnya, seorang guru, yang marah kepada istrinya, lalu ia melampiaskan kemarahan itu kepada anak-anak didiknya di sekolah. Ketiga, burying, yaitu memendam kemarahan dalam lubuk hati. Tak bisa hilang, namun, juga tak dilampiaskan. Selalu menampilkan sikap yang biasa saja, padahal hatinya bergejolak. Yang seperti ini sebenarnya tidak baik juga.
Namun, berkaitan antara menulis dan marah, ternyata ada sisi positif, yang saling berhubungan. Kendati, menulis dan kemarahan tidak ada kata sepadan. Akan tetapi, kegiatan menulis dan kemarahan ini diposisikan secara proporsional (seimbang), maka akan bernilai positif bahkan bermanfaat bagi kesehatan mental manusia.
Kang Jalal--sapaan akrabnya--bercerita tentang kemarahannya ketika sekolah dikritik oleh peserta study banding ke SMA Muthahhari. Dikisahkan, Sekolah Jalaluddin Rakhmat, SMA Muthahhari, pernah kedatangan rombongan dari Jakarta. Ketika itu, sama Kang Jalal rombongan itu diterima dengan sambutan terbaik. Tapi, pada season pertanyaan, seusai kang Jalal menyampaikan ceramah, mereka justru mengkritik sekolahnya. Sebagai manusia normal, kang Jalal, terus terang agak kesal dan marah. Tapi, kang Jalal tidak melakukan dengan gaya seperti di atas, acting out, dumping, burying. Lalu, kemarahan itu sama kang Jalal diungkapkan dengan menulis surat kepada kepala Dinas Pendidikan di Tanjung Priok. Barulah kang Jalal kemudian merasa tenang kembali.
Cerita lain datang dari negara sebelah, yakni Vietnam. Konon, seorang veteran Perang Vietnam mengalami gangguan jiwa, trauma sedemikian rupa terhadap peperangan itu, sering mimpi buruk, dan sebagainya. Veteran itu lalu menemui kawannya yang bukan seorang psikiater, melainkan seorang penulis. Kepada kawannya itu, si veteran menceritakan keadaan dirinya. Ia ingin hidup normal tanpa ada trauma. Kawan penulis tersebut lalu meminta veteran itu menulis semua yang ia tahu, yang ia alami, yang ia rasakan, dan yang menjadi beban jiwa dan pikiran, tentang perang Vietnam itu. Pelan tapi pasti, si veteran itu kembali menemukan stabilitas jiwanya dan tak lagi trauma.
Lalu bagaimana caranya?
Ada sebuah kata-kata bijak dari J.K Rowling yang seharusnya kita jadikan bijakan. "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
Menulis sebagai terapi/ penyembuhan (THE HEALING POWER OF WRITING). Menulis adalah aktifitas yang produktif, sehingga menulis bisa menjadi obat untuk penyembuhan masalah-masalah yang mengakar pada diri kita. Katakanlah ketika ada suatu masalah dalam diri kita, biasanya meluapkannya dengan sebuah tulisan. Entah itu, melalui Facebook, diary, maupun langsung dengan bercerita dengan teman lain sekedar curhat. Ada masalah dalam diri kita, paling banyak yang dilakukan adalah meluapkan dalam bentuk tulisan, entah itu tulisan yang tak berkualitas maupun tulisan yang di kemas dengan bentuk puisi, maupun bentuk prosa dan cerpen.
Dari seringnya kita menulis ada kalanya bisa menjadi obat penyembuhan ketika ada masalah. Seperti pada kutipan yang di tulis oleh aktivis perempuan ini. “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa”. Kata Fatimah Mernissi seorang aktivis perempuan dari Mesir. Dalam masalah, tentunya kita muncul banyak bahan yang akan ungkapankan dengan kata-kata. Sehingga dengan mudah mencurahkan segala masalah yang menjadi permasalahan.
Apalagi sekarang sudah jamannya elektronik dan sudah dipermudah dengan jejaring-jejaring sosial yang memudahkan kita untuk menuliskan apa saja yang ada dalam benak kita. Sehingga keluh kesah kita bisa menuangkan dengan sesuka hati dalam tulisan. Coba bayangkan apabila tulisan-tulisan yang kita tulis tersebut kita kemas dengan berbagai macam kemasan? Seperti puisi, prosa, cerpen maupun novel. Pasti kita mendapat beberapa keuntungan yang kita nikmati secara nyata. Finansial dan kecerdasan yang semakin terasah itu sudah pasti dan kita mendapat keuntungan yang tak terkira dalam sejarah kita, kita bisa dikenal oleh banyak orang yag membaca karya kita. Sejatinya karya yang kita hasilkan tersebut adalah curhatan-curhatan yang kita alami. Berbeda dengan tulisan yang kita unggah pada media masa di Facebook, seperti yang kita lihat pada realitasnya. Kita mendapat imed negatif dan disangka tulisan tersebut adalah keretakkan diri kita dan kerisauan diri kita.
Ketika menulis sedang mengalami beberapa masalah, katakanlah “cinta” pasti kita akan membabi-buta untuk merajuk kata-kata dengan penuh emosi. Dan apabila menulis dengan penuh persaan, hasilnya pun juga tentu pasti akan menyentuh perasaan. Sehingga ketika si pembaca sedang membaca jadi terharu. Kalau cerita kita, kita tuangkan dalam bentuk puisi maupun novel. Apalagi menulis sedang mengalami masalah kesempatan yang luar biasa untuk mendatangkan kesempatan yang tepat untuk kita tuangkan dalam media tulis.
Menulis sama dengan curhat. Seperti yang dikatakan oleh James W. Pennebeker mengatakan “... mengungkapan segala pengalaman yang tidak mengenakkan dengan kata-kata bisa memengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang”.
Emosi menulis itu positif, karena hasil dari proses berpikir dan refleksi yang mengandung evaluasi diri, kesukaannya menulis tak mau akan membuat kita menyukai tindakan membaca, sehingga mengantisipasi kegiatan negatif ketika kita sedang emosi menggelayuti pikiran kita. Seperti yang kita katakan Asrul Sani ini “Hanya dengan jalam membaca orang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman lain dan hanya dengan membaca sjak orang dapat mengenal pelbagai perasaan murni yang ada pada manusia tetapi yang sering disembunyikan”.
Ketika Menulis sudah menjadi profesi, menurut hemat saya, merupakan suatu hal yang berharga dan amat istimewa. Berharga, karena ia senantiasa ‘langka’, banyak diburu orang dan banyak orang menguasainya. Bahkan tidak ada suatu peradaban pun –ketika budaya tulis baca sudah dikenal- yang tidak membutuhkan seorang penulis.
Apa yang sebelum menjadi penyakit dalam diri tidak tahunya dalam jangka waktu panjang keremeh-temehan kita yang tertuangkan dalam bentuk karya bisa kita nikmati dan rasa bangga pun tersematkan dalam diri kita. Berawal dari curhatan-curhatan yang menghujat diri kita. Seseungguhnya menulis tersebut bukan saja ada ketika ada masalah. Artinya menulis tersebut terlintas dalam benak kita kapan pun,dimana pun. Dan itulah kesempatan kita unutk menulisnya.
Aktivitas menulis adalah media untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik dengan pembaca. Bukan untuk media untuk mengekspresikan sikap emosionalnya. Namun kita mencermati fenomena sekarang, bahwa sebagian kebanyakan, orang meluapkan emosinya di media sosial tanpa bisa diredam. Fenomena ini bisa kita dapati pada akun media sosial, misal, Facebook, Twitter, BBM (Blackberry Messenger), atau akun-akun lain. Kata-kata yang mereka keluarkan, langsung emosional: umpatan, celaan, perkataan kotor, olok-olokan, hingga ucapannya yang dinilai memper(pecah) situasi dan kondisi persaudaraan, mungkin juga kesatuan NKRI.
Gaya marah, seperti buku yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat, yang berjudul Tafsir Kebahagian (2013), Pertama, acting out atau meledakkan kemarahan, seperti membuka jendela kemudian memaki-maki sepuasnya atau meninju sepuasnya orang yang dituju.
Kedua, dumping, yaitu melampiaskan kemarahan kepada orang yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sebab-musabab kemarahan itu. Misalnya, seorang guru, yang marah kepada istrinya, lalu ia melampiaskan kemarahan itu kepada anak-anak didiknya di sekolah. Ketiga, burying, yaitu memendam kemarahan dalam lubuk hati. Tak bisa hilang, namun, juga tak dilampiaskan. Selalu menampilkan sikap yang biasa saja, padahal hatinya bergejolak. Yang seperti ini sebenarnya tidak baik juga.
Namun, berkaitan antara menulis dan marah, ternyata ada sisi positif, yang saling berhubungan. Kendati, menulis dan kemarahan tidak ada kata sepadan. Akan tetapi, kegiatan menulis dan kemarahan ini diposisikan secara proporsional (seimbang), maka akan bernilai positif bahkan bermanfaat bagi kesehatan mental manusia.
Kang Jalal--sapaan akrabnya--bercerita tentang kemarahannya ketika sekolah dikritik oleh peserta study banding ke SMA Muthahhari. Dikisahkan, Sekolah Jalaluddin Rakhmat, SMA Muthahhari, pernah kedatangan rombongan dari Jakarta. Ketika itu, sama Kang Jalal rombongan itu diterima dengan sambutan terbaik. Tapi, pada season pertanyaan, seusai kang Jalal menyampaikan ceramah, mereka justru mengkritik sekolahnya. Sebagai manusia normal, kang Jalal, terus terang agak kesal dan marah. Tapi, kang Jalal tidak melakukan dengan gaya seperti di atas, acting out, dumping, burying. Lalu, kemarahan itu sama kang Jalal diungkapkan dengan menulis surat kepada kepala Dinas Pendidikan di Tanjung Priok. Barulah kang Jalal kemudian merasa tenang kembali.
Cerita lain datang dari negara sebelah, yakni Vietnam. Konon, seorang veteran Perang Vietnam mengalami gangguan jiwa, trauma sedemikian rupa terhadap peperangan itu, sering mimpi buruk, dan sebagainya. Veteran itu lalu menemui kawannya yang bukan seorang psikiater, melainkan seorang penulis. Kepada kawannya itu, si veteran menceritakan keadaan dirinya. Ia ingin hidup normal tanpa ada trauma. Kawan penulis tersebut lalu meminta veteran itu menulis semua yang ia tahu, yang ia alami, yang ia rasakan, dan yang menjadi beban jiwa dan pikiran, tentang perang Vietnam itu. Pelan tapi pasti, si veteran itu kembali menemukan stabilitas jiwanya dan tak lagi trauma.
Lalu bagaimana caranya?
Ada sebuah kata-kata bijak dari J.K Rowling yang seharusnya kita jadikan bijakan. "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
Menulis sebagai terapi/ penyembuhan (THE HEALING POWER OF WRITING). Menulis adalah aktifitas yang produktif, sehingga menulis bisa menjadi obat untuk penyembuhan masalah-masalah yang mengakar pada diri kita. Katakanlah ketika ada suatu masalah dalam diri kita, biasanya meluapkannya dengan sebuah tulisan. Entah itu, melalui Facebook, diary, maupun langsung dengan bercerita dengan teman lain sekedar curhat. Ada masalah dalam diri kita, paling banyak yang dilakukan adalah meluapkan dalam bentuk tulisan, entah itu tulisan yang tak berkualitas maupun tulisan yang di kemas dengan bentuk puisi, maupun bentuk prosa dan cerpen.
Dari seringnya kita menulis ada kalanya bisa menjadi obat penyembuhan ketika ada masalah. Seperti pada kutipan yang di tulis oleh aktivis perempuan ini. “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa”. Kata Fatimah Mernissi seorang aktivis perempuan dari Mesir. Dalam masalah, tentunya kita muncul banyak bahan yang akan ungkapankan dengan kata-kata. Sehingga dengan mudah mencurahkan segala masalah yang menjadi permasalahan.
Apalagi sekarang sudah jamannya elektronik dan sudah dipermudah dengan jejaring-jejaring sosial yang memudahkan kita untuk menuliskan apa saja yang ada dalam benak kita. Sehingga keluh kesah kita bisa menuangkan dengan sesuka hati dalam tulisan. Coba bayangkan apabila tulisan-tulisan yang kita tulis tersebut kita kemas dengan berbagai macam kemasan? Seperti puisi, prosa, cerpen maupun novel. Pasti kita mendapat beberapa keuntungan yang kita nikmati secara nyata. Finansial dan kecerdasan yang semakin terasah itu sudah pasti dan kita mendapat keuntungan yang tak terkira dalam sejarah kita, kita bisa dikenal oleh banyak orang yag membaca karya kita. Sejatinya karya yang kita hasilkan tersebut adalah curhatan-curhatan yang kita alami. Berbeda dengan tulisan yang kita unggah pada media masa di Facebook, seperti yang kita lihat pada realitasnya. Kita mendapat imed negatif dan disangka tulisan tersebut adalah keretakkan diri kita dan kerisauan diri kita.
Ketika menulis sedang mengalami beberapa masalah, katakanlah “cinta” pasti kita akan membabi-buta untuk merajuk kata-kata dengan penuh emosi. Dan apabila menulis dengan penuh persaan, hasilnya pun juga tentu pasti akan menyentuh perasaan. Sehingga ketika si pembaca sedang membaca jadi terharu. Kalau cerita kita, kita tuangkan dalam bentuk puisi maupun novel. Apalagi menulis sedang mengalami masalah kesempatan yang luar biasa untuk mendatangkan kesempatan yang tepat untuk kita tuangkan dalam media tulis.
Menulis sama dengan curhat. Seperti yang dikatakan oleh James W. Pennebeker mengatakan “... mengungkapan segala pengalaman yang tidak mengenakkan dengan kata-kata bisa memengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang”.
... “Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan fungsi kekebalan tubuh dibndingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh-temeh”, dalam bukunya Opening Up: The Healing Power og Expressing Emotions.Menulis mencegah dan terhindari kegiatan negatif. Menulis memang salah satu terapi untuk mencegah tindakan-tindakan kekerasan yang pada dasarnya merugikan kita sendiri. Apalagi sekarang banyak sekali berita atau kabar, anak muda bunuh diri karena di putus pacarnya, anak muda membunuh orangtuanya gara-gara kelurganya tidak mampu membelikan motornya. Dengan kita menulis kita bisa meluangkan gagasan dan ide apa saja yang belum kita kesampaian, dan bisa mencegah hal yang kurang positif. Sehingga dengan menulis kita bisa mengaktualisasikan diri. Siapa tahu dari apa yang kita tulis dari kesuh kesal kita menjadi sebuah profesi yang mengiurkan.
Emosi menulis itu positif, karena hasil dari proses berpikir dan refleksi yang mengandung evaluasi diri, kesukaannya menulis tak mau akan membuat kita menyukai tindakan membaca, sehingga mengantisipasi kegiatan negatif ketika kita sedang emosi menggelayuti pikiran kita. Seperti yang kita katakan Asrul Sani ini “Hanya dengan jalam membaca orang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman lain dan hanya dengan membaca sjak orang dapat mengenal pelbagai perasaan murni yang ada pada manusia tetapi yang sering disembunyikan”.
Ketika Menulis sudah menjadi profesi, menurut hemat saya, merupakan suatu hal yang berharga dan amat istimewa. Berharga, karena ia senantiasa ‘langka’, banyak diburu orang dan banyak orang menguasainya. Bahkan tidak ada suatu peradaban pun –ketika budaya tulis baca sudah dikenal- yang tidak membutuhkan seorang penulis.
Apa yang sebelum menjadi penyakit dalam diri tidak tahunya dalam jangka waktu panjang keremeh-temehan kita yang tertuangkan dalam bentuk karya bisa kita nikmati dan rasa bangga pun tersematkan dalam diri kita. Berawal dari curhatan-curhatan yang menghujat diri kita. Seseungguhnya menulis tersebut bukan saja ada ketika ada masalah. Artinya menulis tersebut terlintas dalam benak kita kapan pun,dimana pun. Dan itulah kesempatan kita unutk menulisnya.
“Kadang-kadang saya tidak bisa membendung bayang-bayang ilham dan kata-kata yang menyerbu hati dan angan-angan. Karena itu saya menulis, tersendat, dan terus menulis. lagi dan lagi...” kata seorang penyair dari madura tersebut, yaitu sastrawan yang biasanya disapa “Si Celurit Emas” tersebut, dengan nama lengkap D. Zawawi Imron.Ketika ada sesuatu yang “menyerbu hati”, kiranya dapat kita jadikan kata kunci, lantaran dengan hati kita bisa menuangkan gagasan yang begitu laur biasa adanya “Dari Hati Oleh Hati Untuk Hati”.[]
Saya juga lagi beljar menuangkan rasa lewat tulisan mas..sayang masih malu-malu kalo nulis hal yang terlalu pribadi.hhhee
ردحذفya, menulis itu sungguh-sungguh terapi jiwa
ردحذفBetul bun. Rasanya setelah tulisan itu jadi serasa relaksasi bener... Plonggg
ردحذفSaya masih agak malu-malu sih kalo nulis tentang hal yang terlalu pribadi gitu.hheee
ردحذفTapi emang jika ada perasaan atau hal yang tak mengenakan, lebih baik ditulis dengan rapi dan baik di blog daripada dibuat keluhan di sosmed.
Bagi saya tidak, Mas. Sebab apapun yang kita tahu itu biasanya bersumber dari pribadi kita.... Tak lebiih dari karya fisik, dia tak bisa jauh dari pengalaman pribadi loh...
ردحذفBetul banget, Mas. Saya kalau mau ngeluarin di sosmed jarang banget mending saya tuliskan di blog atau di word di laptop... Terima kasih mas atas komentar-komentarnya....
ردحذفإرسال تعليق