Membaca dan menulis adalah dua hal yang cukup mudah dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Saya menulis apa saja yang ada di pikiran. Semua yang menguap di benak, saya tuangkan dalam tulisan, anggap saja itu catatan harian.
Melakukan dua kegiatan tersebut ternyata tidak mudah. Harus didasari ketelatenan, semangat berkarya, berjuang keras dan menyisihkan waktu dan tenaga untuk menggapai tahap keberhasilan.
Jika ada orang yang bilang bahwa orang tersebut berbakat dalam menulis itu sama halnya orang yang telah tahu atau sudah terbiasa dalam menggores tinta atau kata-kata dalam tulisan. Semakin sering menulis, semakin mudah dalam mengeluarkan unek-unek, dalam hal ini gagasan, ke dalam wadah, misal catatan harian, blog wordpress, buku atau lainnya.
Barangkali, semua orang memiliki bakat di dunia tulis menulis. Hanya yang membedakan adalah kemauan, keinginan dan minat belajar. Apabila kemauan dan minat belajar rendah maka dipastikan sulit merangkai kata-kata, mengingat dan menangkap kejadian di lingkungan sekitar maupun yang telah terlintas dalam benak.
Salah satu kendala apabila kemauan dan keinginan rendah adalah minimnya merangkai kata-kata atau miskin kata. Sebab penulis, blogger pemula seyogyanya memang harus membiasakan diri untuk taat dan tertib dalam belajar.
Sudah selayaknya sesibuk apapun usaha menyempatkan waktu untuk menulis beberapa paragraf saja. Salah satu orang yang telah berhasil melawan kesibukan itu adalah Prof. Dr. Imam Suprayogo. Ia melawan kesibukan dan menyempatkan waktu dengan menulis setiap hari. Mantan Rektor UIN Malang, Jawa Timur ini melakukan menulis selepas sholat subuh berjamaah.
Di tengah-tengah jadwalnya yang padat, Prof. Imam selalu menyempatkan diri menulis setiap hari. Hasilnya ia tercatat dalam buku MURI sebagai orang yang konsisten menulis di catatan Facebook atau media daring selama lima tahun berturut-turut.
Oleh karena itu, “Menulislah, dengan menulis dunia akan mengenal kita”. Kutipan ini saya dapat dari sebuah artikel yang diterbitkan Jumat, 18 Oktober 2013. Dalam artikel tersebut menegaskan bahwa kita diharuskan mempunyai karya lewat sebuah tulisan, apabila kita menulis dan menerbitkan tulisan itu sama artinya dengan menyimpan satu arsip yang nanti bakal kita unduh dalam sebuah buku.
Daripada kata-kata atau kalimat kita cecerkan di akun jejaring sosial, yang kelihatannya lebay atau lemah terhadap realitas, lebih baik kita tuangkan dalam sebuah teks. Siapa tahu kita bisa menerbitkan karya dari tulisan yang kita buat setiap hari ini.
Saya menemukan kata-kata bijak lain yang menyebutkan, “lima atau sepuluh tahun kedepan. Jadi apa pun kalian nanti, itu ada dua hal yang nampak: dengan siapa anda berteman dan buku apa yang anda baca.”
Dalam kutipan ini memberi energi untuk terus gemar dan mengindahkan bacaan atau buku. Ketika kita berteman dengan buku maka buku tersebutlah yang akan membentuk kita. Apabila kita belajar blog maka blog itulah yang mengantarkan kita pada titik tertentu. Buku akan membuka cakrawala dunia, akan mengantar kita kepada jalan terbaik. Dan akan membuat otak kita semakin terasah dan bekerja secara positif dan produktif.
Tetapi tidak mudah seorang memulai menulis. Biasanya merasa kebingungan mulai tulisan dari mana? Pertanyaan ini sering ditemukan berbagai lokasi.
Jawabannya sederhana, yaitu dari mana saja. Sebaiknya ketika memulai menulis jangan terkungkung oleh struktur, sistematika, metodologi atau apapun itu namanya. Pokoknya yang ada di pikiran kita saat itu apa, tuliskan? Kemudian yang betul-betul anda pahami itulah yang pertama anda tuliskan.
Melakukan dua kegiatan tersebut ternyata tidak mudah. Harus didasari ketelatenan, semangat berkarya, berjuang keras dan menyisihkan waktu dan tenaga untuk menggapai tahap keberhasilan.
Jika ada orang yang bilang bahwa orang tersebut berbakat dalam menulis itu sama halnya orang yang telah tahu atau sudah terbiasa dalam menggores tinta atau kata-kata dalam tulisan. Semakin sering menulis, semakin mudah dalam mengeluarkan unek-unek, dalam hal ini gagasan, ke dalam wadah, misal catatan harian, blog wordpress, buku atau lainnya.
Barangkali, semua orang memiliki bakat di dunia tulis menulis. Hanya yang membedakan adalah kemauan, keinginan dan minat belajar. Apabila kemauan dan minat belajar rendah maka dipastikan sulit merangkai kata-kata, mengingat dan menangkap kejadian di lingkungan sekitar maupun yang telah terlintas dalam benak.
Salah satu kendala apabila kemauan dan keinginan rendah adalah minimnya merangkai kata-kata atau miskin kata. Sebab penulis, blogger pemula seyogyanya memang harus membiasakan diri untuk taat dan tertib dalam belajar.
“Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan: banyak membaca dan menulis, dan tidak ada jalan pintas.” (Stephen King)Namun kesulitan dalam memulai menulis itu beda-beda. Salah satu yang menjadi kendala adalah waktu atau kesibukkan rutinitas kerja. Kesibukan kerja yang menjemukan, kadang membuat orang tak ada kesempatan melakukan aktivitas produktif lainnya.
Sudah selayaknya sesibuk apapun usaha menyempatkan waktu untuk menulis beberapa paragraf saja. Salah satu orang yang telah berhasil melawan kesibukan itu adalah Prof. Dr. Imam Suprayogo. Ia melawan kesibukan dan menyempatkan waktu dengan menulis setiap hari. Mantan Rektor UIN Malang, Jawa Timur ini melakukan menulis selepas sholat subuh berjamaah.
Di tengah-tengah jadwalnya yang padat, Prof. Imam selalu menyempatkan diri menulis setiap hari. Hasilnya ia tercatat dalam buku MURI sebagai orang yang konsisten menulis di catatan Facebook atau media daring selama lima tahun berturut-turut.
Oleh karena itu, “Menulislah, dengan menulis dunia akan mengenal kita”. Kutipan ini saya dapat dari sebuah artikel yang diterbitkan Jumat, 18 Oktober 2013. Dalam artikel tersebut menegaskan bahwa kita diharuskan mempunyai karya lewat sebuah tulisan, apabila kita menulis dan menerbitkan tulisan itu sama artinya dengan menyimpan satu arsip yang nanti bakal kita unduh dalam sebuah buku.
Daripada kata-kata atau kalimat kita cecerkan di akun jejaring sosial, yang kelihatannya lebay atau lemah terhadap realitas, lebih baik kita tuangkan dalam sebuah teks. Siapa tahu kita bisa menerbitkan karya dari tulisan yang kita buat setiap hari ini.
Saya menemukan kata-kata bijak lain yang menyebutkan, “lima atau sepuluh tahun kedepan. Jadi apa pun kalian nanti, itu ada dua hal yang nampak: dengan siapa anda berteman dan buku apa yang anda baca.”
Dalam kutipan ini memberi energi untuk terus gemar dan mengindahkan bacaan atau buku. Ketika kita berteman dengan buku maka buku tersebutlah yang akan membentuk kita. Apabila kita belajar blog maka blog itulah yang mengantarkan kita pada titik tertentu. Buku akan membuka cakrawala dunia, akan mengantar kita kepada jalan terbaik. Dan akan membuat otak kita semakin terasah dan bekerja secara positif dan produktif.
Tetapi tidak mudah seorang memulai menulis. Biasanya merasa kebingungan mulai tulisan dari mana? Pertanyaan ini sering ditemukan berbagai lokasi.
Jawabannya sederhana, yaitu dari mana saja. Sebaiknya ketika memulai menulis jangan terkungkung oleh struktur, sistematika, metodologi atau apapun itu namanya. Pokoknya yang ada di pikiran kita saat itu apa, tuliskan? Kemudian yang betul-betul anda pahami itulah yang pertama anda tuliskan.
Menulislah apa yang terlintas di pikiran anda! Mengalir, mengalir begitu saja yang anda ketahui sampai semuanya tuntas. Pokoknya jangan dipusingkan oleh urutannya. Bahkan kalau itu juga belum bisa mencoba dengan cara lain, misalnya topik yang sudah anda tentukan tadi ceritakan kepada orang lain, siapa saja misalnya teman anda atau orang tua, dan sebagainya.
Menulis adalah hal yang menarik. Karena dengan menulis secara otomatis kita membaca sebuah realitas, meski sulit untuk sampaikan. Jalan satu-satunya adalah menuangkan di atas kertas/ notebok atau sebuah blog wordpress ini. Apalagi sekarang dimudahkan dengan fasilitas; laptop maupun notebook.
Dari apa yang kita tulis dalam buku harian atau blog wordpress ini, kita terbantu beberapa manfaat yang di antaranya;
Dan itu, saya rasakan sendiri. Berkat seringnya menulis sebuah ulasan dalam catatan yang bertemakan dunia literasi. Tawaran untuk dijadikan sebuah buku tersebut terkabulkan. Berkat teman saya yang ingin membukukan sebuah catatan-catatan yang saya buat ketika malam hari. Saya kira, tulisan-tulisan yang catat tersebut masih kurang dibanding para penulis yang sudah mahir dalam dunia tulis menulis.
Memang dari keuletan yang saya bangun dalam diri, yang sejatinya masih dalam tahap belajar menulis, mendapat suport dari beberapa teman yang sudah malang melintas di dunia tulis menulis.
Sebenarnya, saya belajar menulis seperti ini terilhami gaya penulisan dari dosen saya dulu yaitu Dr. Ngainun Naim. Dulu ketika masih kuliah di STAIN (kini IAIN TULUNGAGUNG), saya dan teman-teman disarankan sering-sering menggunakan metode catat-mencatat. Saya masih ingat betul zaman dulu itu. Menurutnya “belajarlah menulis dengan cara mencatat dari apa yang kita baca atau kita jumpai. Kemudian salinlah tulisan tersebut ke dalam kertas maupun di komputer”. Saya kira, ini memang salah satu metode yang cukup mempermudahkan kita untuk belajar menulis.[]
Ket. Tulisan ini saya buat via handpone selepas istirahat perjalanan. Jika banyak kata atau kalimat yang kurang baik, nanti akan saya perbaikan selepas sampai rumah. Terima kasih.
Menulis adalah hal yang menarik. Karena dengan menulis secara otomatis kita membaca sebuah realitas, meski sulit untuk sampaikan. Jalan satu-satunya adalah menuangkan di atas kertas/ notebok atau sebuah blog wordpress ini. Apalagi sekarang dimudahkan dengan fasilitas; laptop maupun notebook.
Dari apa yang kita tulis dalam buku harian atau blog wordpress ini, kita terbantu beberapa manfaat yang di antaranya;
- Meningkatkan daya ingat, kadang kita lupa suatu kejadian atau peristiwa. Mungkin dengan menulisknanya kita bisa lebih mudah mengingat. Artinya, kita dihadapkan dengan sebuah pikir yang lebih, untuk memahami kejadian-kejadian yang memimpa diri kita. Dan tak ada salahnya, jika kita ingin mengulasnya dengan mencatatan di buku harian.
- Membuat lebih lega, jika Anda menuliskan masalah Anda mungkin tak ada solusi yang di dapat, tapi setidaknya Anda akan merasa lebih sedikit lega. Memang menulis adalah salah satu obat untuk meluapkan emosi ke dalam hal yang positif, ketimbang meluapkannya dengan teriak-teriak yang tak ada manfaatnya.
- Meningkatkan kemampuan menulis. Memang dengan adanya dan selagi ada masalah nutrisi menulis kita semakin bertambah, dan apabila kita tuangkan dengan tulisan, itu berarti kita lagi mengasah kemampuan kita.
Dan itu, saya rasakan sendiri. Berkat seringnya menulis sebuah ulasan dalam catatan yang bertemakan dunia literasi. Tawaran untuk dijadikan sebuah buku tersebut terkabulkan. Berkat teman saya yang ingin membukukan sebuah catatan-catatan yang saya buat ketika malam hari. Saya kira, tulisan-tulisan yang catat tersebut masih kurang dibanding para penulis yang sudah mahir dalam dunia tulis menulis.
Memang dari keuletan yang saya bangun dalam diri, yang sejatinya masih dalam tahap belajar menulis, mendapat suport dari beberapa teman yang sudah malang melintas di dunia tulis menulis.
Sebenarnya, saya belajar menulis seperti ini terilhami gaya penulisan dari dosen saya dulu yaitu Dr. Ngainun Naim. Dulu ketika masih kuliah di STAIN (kini IAIN TULUNGAGUNG), saya dan teman-teman disarankan sering-sering menggunakan metode catat-mencatat. Saya masih ingat betul zaman dulu itu. Menurutnya “belajarlah menulis dengan cara mencatat dari apa yang kita baca atau kita jumpai. Kemudian salinlah tulisan tersebut ke dalam kertas maupun di komputer”. Saya kira, ini memang salah satu metode yang cukup mempermudahkan kita untuk belajar menulis.[]
Ket. Tulisan ini saya buat via handpone selepas istirahat perjalanan. Jika banyak kata atau kalimat yang kurang baik, nanti akan saya perbaikan selepas sampai rumah. Terima kasih.
Teruslah menulis sehingga meninggalkan banyak jejak di kehidupan ini.
ردحذفTerima kasih banya Jasmine motivasinya... Masih tahap belajar mbak...
ردحذفSama,aku juga masih belajar.
ردحذفSemoga konsisten ya, Mbak...
ردحذفKebayang banget mas nulis di hp sebanyak itu.
ردحذفluar biasa. Tapi apapun itu, kalo udh biasa kalo ga corat coret kaya ada yg hilang.
Mantap djiwaaaa !!!!!!
Iya mas. Saya nulis di hp, kadang editnya juga di hape. Karena akses internet di desa sulit. Hehehehe.
ردحذفTerima kasih mas, M. Fauzi. Mohon bimbingannya, 🙏
Stephen king sama stephen hawking, itu dua orang yang berbeda ya?
ردحذفTerima kasih mas atas tips nulisnya, kalau ada ide kadang mau langsung ditulis, tpi ragu gitu.
ردحذفWah, sama mas, saya juga ngeblog pake hape
Beda Mas. Stephen King itu banyak novel udah difilmkan. Kalau Stephen Hawking itu yang pernah riset manusia akan hidup di planet Mars beberapa puluh/ratus tahun lagi...
ردحذفHehehe sikat aja, Mas. Aku pernah baca postingan temenku yang magang di Kantor Mojok.co. Bahwa temenku itu disuruh nulis apa saja yang dilihat oleh Kepala Suku, Puthut EA. Pokoknya tulis aja biar jadi kebiasaan.
ردحذفWahh, terkadang banyak orang yang ingin jadi penulis dan mungkin menulis untuk sehari-hari saja, tapi kebanyakan malas membaca. Padahal kedua hal itu sangat saling terkoneksi.
ردحذفKendala itu memang seperti itu ya Mas. Sangat disayangkan kalau malas-malasan..,
ردحذفTerbaik! Mampir ke blog aku juga ya mas. Ha-ha-ha
ردحذفSiiiap mas kemarin masih di luar kota. Belum bisa selancar/ blogwalking
ردحذفAh... Yang d film king' itu berarti Stephen king' ya
ردحذفBisa dikroscek di google mas..
ردحذفSaya setuju semua yang mas Rokhim tuliskan.
ردحذفSaya terlalu bu. Terima kasih ya bu atas apresiasinya... tulisan itu cuma obrolan di warung kopi kok...
ردحذفterlalu? gak kok
ردحذفsama2 mas Rokhim
Terharu bu maksudnya. Salah ketik... Maaf bu
ردحذفإرسال تعليق