Hari raya Imlek tak seheroik perayaan besar umat beragama lain. Misal, agama Islam, kristen, hindu dan agama lainnnya. Perayaan hari raya Imlek ini bagi saya terkesan adem ayem bin biasa-biasa saja. Tidak ada yang menyambut gegap gempita, tak ada yang adu opini, tak ada lagi yang mengkafir-kafirkan, tak ada pula yang menuduh sesat bin abi kafir itu tadi. Semua berjalan flow, datar-datar saja.
Menyalakan kembang api pun tak ada, yang ada hanya bakar dupa di wihara-wihara, altar-altar sana saja. Di tempat yang memang dikhususkan, dikultuskan untuk bersembahyang bagi umat konghucu. Intinya ya, begitu-begitu saja tak ada yang wah di antara kita. Oleh karena itu, jangan ada dusta di antara kita seperti lagunya Broery Marantika. Untuk itu, saya hadir--bak pahlawan kesiangan--mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Hehehe.
Perayaan Imlek ini tak ada yang memasang banner dengan akronim "Haram Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek", sebagaimana pada natal tahun lalu. Semua diam. Alhamdulillah, semua mengikuti tanggal di kalender di rumah masing-masing. Artinya, semua orang menikmati tanggal merah dengan aktivitas yang berbeda-beda. Syahdan, saya memiliki teman, yang kebetulan bapaknya kerja ikut orang Tionghoa. Saat saya tanya, "ke mana bapakmu?"
"Ada di rumah, beliau tak masuk kerja. Taciknya lagi liburan Imlek bersama keluarganya." Jawabnya.
Jawaban tersebut menandakan bahwa, apapun liburan di raya semua agama harus kita nikmati tanpa harus mengugat kepada pengikut agama lain. Indonesia adalah negara yang berazaskan pancasila. Artinya kebhinneka-tunggalikaan sudah di atur oleh bangsa demi keragaman dan kebersamaan kita. Semua perbedaan sudah diatur oleh negara. Dan Alhamdulillahnya lagi, stabilitas kerukunan antar umat beragama terjaga.
Selain itu, saya mempunyai cerita. Cerita ini ada di lingkungan saya sendiri, dan kebetulan orang yang saya maksud tinggal ikut keluargannya di depan rumah. Alkisah, sebut saja namanya Bejo, meski namanya Bejan. Saat di suasana bulan Ramadhan, ada undangan seratus harinya si empunya atau pemangku Masjid. Jadi lingkungan sekitar mendapat undangan semua, termasuk Bejo itu tadi. Siapa bisa mengira jika orang yang berpakaian lengkap agamis, bersarung dan berkopyah hitam itu adalah penganut agama lain, lebih tepatnya Kristen.
Dan lebih subhanallahnya, ia mengambil tempat iktikad di dalam Masjid di shot paling depan. Bagi saya ini adalah pemandangan paling langka yang pernah saya lihat. Tanpa menghakimi dan mengurangi rasa hormat ia tetap takdzim hingga akhir acara. Tentunya sebuah toleransi yang patut kita jaga bersama antar sesama umat beragama.
Sehingga umat beragama minoritas bisa menjalankan dan merayakan hari raya, dalam hal ini, Imlek dengan keterbukaan. Tidak ada lagi gugatan dari ormas yang merasa paling saleh. Dan dampak bisa saya rasakan saat ini. Saat ini, karena hari raya Imlek, saya bisa menikmati hari dengan berkumpul bersama keluarga di rumah. Karena semua instansi memang lagi libur.
Terlepas dari itu, barangkali, ini guyonan belaka loh, jangan serius, orang-orang itu tidak berani memberikan fatwa "Haram Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek" adalah bahwa mrek Handphone yang ada di tangannya adalah Evercross, Mito, dan lain sebagainya. Sehingga mereka tidak enak akan menfatwa haram lagi sesat.
Sementara itu saja yang bisa saya sampaikan. Berhubung sudah masuk waktunya shalat Maghrib, saya tinggal dulu ya,dan tak lupa saya mengucapkan selamat hari raya Imlek, mant(em)an. Hahaha
Menyalakan kembang api pun tak ada, yang ada hanya bakar dupa di wihara-wihara, altar-altar sana saja. Di tempat yang memang dikhususkan, dikultuskan untuk bersembahyang bagi umat konghucu. Intinya ya, begitu-begitu saja tak ada yang wah di antara kita. Oleh karena itu, jangan ada dusta di antara kita seperti lagunya Broery Marantika. Untuk itu, saya hadir--bak pahlawan kesiangan--mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Hehehe.
Perayaan Imlek ini tak ada yang memasang banner dengan akronim "Haram Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek", sebagaimana pada natal tahun lalu. Semua diam. Alhamdulillah, semua mengikuti tanggal di kalender di rumah masing-masing. Artinya, semua orang menikmati tanggal merah dengan aktivitas yang berbeda-beda. Syahdan, saya memiliki teman, yang kebetulan bapaknya kerja ikut orang Tionghoa. Saat saya tanya, "ke mana bapakmu?"
"Ada di rumah, beliau tak masuk kerja. Taciknya lagi liburan Imlek bersama keluarganya." Jawabnya.
Jawaban tersebut menandakan bahwa, apapun liburan di raya semua agama harus kita nikmati tanpa harus mengugat kepada pengikut agama lain. Indonesia adalah negara yang berazaskan pancasila. Artinya kebhinneka-tunggalikaan sudah di atur oleh bangsa demi keragaman dan kebersamaan kita. Semua perbedaan sudah diatur oleh negara. Dan Alhamdulillahnya lagi, stabilitas kerukunan antar umat beragama terjaga.
Selain itu, saya mempunyai cerita. Cerita ini ada di lingkungan saya sendiri, dan kebetulan orang yang saya maksud tinggal ikut keluargannya di depan rumah. Alkisah, sebut saja namanya Bejo, meski namanya Bejan. Saat di suasana bulan Ramadhan, ada undangan seratus harinya si empunya atau pemangku Masjid. Jadi lingkungan sekitar mendapat undangan semua, termasuk Bejo itu tadi. Siapa bisa mengira jika orang yang berpakaian lengkap agamis, bersarung dan berkopyah hitam itu adalah penganut agama lain, lebih tepatnya Kristen.
Dan lebih subhanallahnya, ia mengambil tempat iktikad di dalam Masjid di shot paling depan. Bagi saya ini adalah pemandangan paling langka yang pernah saya lihat. Tanpa menghakimi dan mengurangi rasa hormat ia tetap takdzim hingga akhir acara. Tentunya sebuah toleransi yang patut kita jaga bersama antar sesama umat beragama.
***
Abdurahman Wahid atau lebih akrab disapa Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan kebebasan menikmati dan memeluk beragama mayoritas. Saya menjumpai di media sosial, yang diunggah oleh salah seorang di Facebook, yang mengupload foto mbah Gus Dur di wihara. Saya kira hanya foto Gus Dur saja yang dipajang di altar, yang kebetulan berbeda dengan keyakinan mereka. Ini menandakan bahwa, meskipun berbeda secara pemahaman dan keyakinan, kita tetap satu satu kesatuan, yakni Tanah Air Beta.Sehingga umat beragama minoritas bisa menjalankan dan merayakan hari raya, dalam hal ini, Imlek dengan keterbukaan. Tidak ada lagi gugatan dari ormas yang merasa paling saleh. Dan dampak bisa saya rasakan saat ini. Saat ini, karena hari raya Imlek, saya bisa menikmati hari dengan berkumpul bersama keluarga di rumah. Karena semua instansi memang lagi libur.
Terlepas dari itu, barangkali, ini guyonan belaka loh, jangan serius, orang-orang itu tidak berani memberikan fatwa "Haram Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek" adalah bahwa mrek Handphone yang ada di tangannya adalah Evercross, Mito, dan lain sebagainya. Sehingga mereka tidak enak akan menfatwa haram lagi sesat.
Sementara itu saja yang bisa saya sampaikan. Berhubung sudah masuk waktunya shalat Maghrib, saya tinggal dulu ya,dan tak lupa saya mengucapkan selamat hari raya Imlek, mant(em)an. Hahaha
Asyeeekk tulisan yg cakeepp
ردحذفAlhamdulillah. Tulisan ini saya tulis via hp langsung bu... tapi cakepan adiba loh bu. Hiks
ردحذفإرسال تعليق