Ada satu “penyakit” yang biasa dialami oleh seseorang saat menghadapi situasi yang belum pernah dilakukan, yaitu cemas. Ya, cemas selalu berteman sangat dekat dengan aktivitas baru seseorang. Cemas, biasanya diawali rasa gugup, grogi, gemetar dengan mengeluarkan keringat dingin di beberapa organ tubuh, misal tangan, kaki; jantung ikut berdetak tak beraturan; pikiran ikut ngebleng; tidak fokus dan melayang kemana-mana. Tidak dimungkiri, seseorang yang mengalami penyakit cemas, akan merasa kikuk di hadapan orang banyak. Mereka menjadi kurang percaya diri, dan ujung-ujungnya mengalami ketakutan dan (ke)khawatir(an) yang berlebihan.
Bila seseorang telah dikuasai oleh rasa cemas, yang bergelayut dalam diri, tentu mengganggu sekali aktivitas yang akan mereka kerjakan. Dan, apabila situasi tersebut terus dipertahankan, maka akan mengakibatkan kemunduran dari segi mental atau psikologisnya. Akibatnya, rasa kepercayadirian berkurang, pikiran menjadi abstrak, irasional. Intinya, kondisi tersebut memasang kekhawatiran yang berlebihan dan akan mengurungkan aktivitas produktifnya. Sebab, cemas merupakan salah satu penyakit mental, yang bermuara pada pikiran negatif. Menurut Lubis (2009), seperti yang dikutip M. Nur Ghufron dan Rini Risnawita S. dalam Teori-Teori Psikologi (Ar-Ruzz Media, 2010), (ke)cemas(an) adalah tanggapan dari sebuah ancaman, nyata ataupun khayal karena adanya ketidakpastian di masa mendatang.
Jika dirunut dari pengertian di atas, cemas dipengaruhi oleh stimulus yang tidak mengenakan. Stimulus akan menggoncang psikologi personal, yang akibatnya seseorang mengalami perasaan cemas tak beraturan. Misal, siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional di sekolah SMP dan SMA. Mereka dihinggapi rasa cemas luar biasa. Betapa tidak? Ujian Nasional (UN) terkesan horor. Capaian menempuh pendidikan selama tiga tahun hanya ditentukan tiga mata pelajaran, tiga jam dalam tiga hari. Jika tidak lulus, beban tersemat di pundak seorang anak. Selain itu, kasihan juga orang tua yang sudah susah-susah mencari nafkah, tetapi masa depannya terhenti lantaran nilainya tak mencapai nilai standar kelulusan. Yang lebih mengerikan lagi, seorang siswa akan mengalami (ke)cemas(an) berlebihan, yang berdampak sangat fatal, yaitu stres hingga bunuh diri.
Cerita di atas sudah berlalu bersama dengan ketidakjelasan kebijkan pendidikan di Indonesia, yang setiap ganti pemerintah berubah kebijakan. Tetapi trauma dan rasa cemas yang menyala-nyala, masih hinggap di benak? Boro-boro hilang, rasa cemas itu luar biasa dalam dan menjadi gejala traumatik yang menghantui perkembangan seseorang.
Kita tinggalkan kisah di atas, cemas memang luar biasa dampaknya bagi psikologis seseorang. Menurut teori psikoanalisisnya, Sigmund Freud, cemas dapat disebabkan oleh adanya tekanan buruk perilaku masa lalu serta adanya gangguan mental.
Selain itu, (ke)cemas(an) juga dapat disebabkan beberapa hal, misal, kekhawatiran (worry) atau pikiran negatif tentang diri sendiri, seperti perasaan negatif bahwa ia lebih jelek dibandingkan dengan teman-temannya. Emosionalitas (imosionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsangan saraf otonomi, seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, dan tegang. Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated interference) merupakan kecenderungan yang dialami seseorang yang selalu tertekan karena pemikiran yang irasional terhadap tugas.
Saya kira, rasa cemas, minder, gugup, takut atau tidak percaya diri adalah perasaan alami manusia yang diberikan Tuhan agar kita tak terlalu kelewat percaya diri dan akhirnya jatuh pada perasaan sombong. Selama kita melakukan hal yang benar dan halal, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa minder. Kalau pun kita belum mampu melakukan sesuatu, sebagai manusia kita bisa belajar dulu. Masalahnya, beberapa orang ternyata meletakkan rasa cemas pada tempat yang salah, sehingga kehidupan dan kesuksesannya terhambat oleh rasa cemas dan minder itu. Akibatnya, pekerjaannya urung diselesaikan.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi rasa cemas yang berlebihan—minimal menanggulangi rasa yang tidak teratur—pada diri kita ini.
Pertama, Berfikir Positif. Tuhan Maha Adil. Setiap manusia selalu diberi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Fokuslah pada kelebihan-kelebihan kita dan rasakan sebagai keistimewaan yang patut kita syukuri. Kedua, Membaca Al-Quran dan bershalawat. Kita harus mengerti bahwa obat penawar hati yang tidak ada duanya adalah membaca ayat-ayat suci Al-Quran dan bershalawat nabi.
Ketiga, Selesaikan pekerjaan yang disukai dulu. Nikmatilah! Hindari kepura-puraan menyukai suatu kegiatan atau pekerjaan hanya untuk menyenangkan orang lain secara berlebihan. Keempat, Carilah lingkungan pergaulan yang positif. Coba perhatikan lingkungan komunitas Anda. Apakah teman-teman anda lebih banyak memberikan hal-hal yang menjadi tuntutan atau banyak yang memberikan hal-hal yang membuat Anda lebih percaya diri dengan menerima apa adanya. Carilah lingkungan pergaulan dan teman-teman yang bisa membantu mengembangkan bakat atau kreativitas kita terasah.
Kelima, Pujilah diri sendiri. Kita memang lebih sering diajarkan untuk instropeksi diri untuk selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Akan tetapi dalam setiap usaha dapat menyelesaikan pekerjaan, tepuklah bahu diri sendiri sambil berkata dalam hati dengan bangga “Well Done”, “Good Job”, “Congratulation”… dll.
Keenam, Sesekali manjakan diri sendiri. memanjakan diri dengan mengunjungi tempat-tempat yang bisa membangkitkan gairah hidup dan merangsang imaji. Misal di tempat-tempat yang berbau alam, laut maupun di keramaian.
Ketujuh, Olahraga. Olahraga dengan teratur akan menjadikan tubuh kita sehat, cekatan dan kuat. Secara otomatis badan tubuh anda akan terlihat lebih menarik. Lakukan olah raga secara rutin sebagai suatu kesenangan. Kedelapan, Bersyukurlah! Bersyukurlah dengan hidup kita. Banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Sesekali cobalah untuk melihat ke bawah. Luangkan waktu dengan teman-teman, keluarga dan orang-orang terkasih untuk mengingatkan diri sendiri tentang betapa beruntungnya kita.[]
Bila seseorang telah dikuasai oleh rasa cemas, yang bergelayut dalam diri, tentu mengganggu sekali aktivitas yang akan mereka kerjakan. Dan, apabila situasi tersebut terus dipertahankan, maka akan mengakibatkan kemunduran dari segi mental atau psikologisnya. Akibatnya, rasa kepercayadirian berkurang, pikiran menjadi abstrak, irasional. Intinya, kondisi tersebut memasang kekhawatiran yang berlebihan dan akan mengurungkan aktivitas produktifnya. Sebab, cemas merupakan salah satu penyakit mental, yang bermuara pada pikiran negatif. Menurut Lubis (2009), seperti yang dikutip M. Nur Ghufron dan Rini Risnawita S. dalam Teori-Teori Psikologi (Ar-Ruzz Media, 2010), (ke)cemas(an) adalah tanggapan dari sebuah ancaman, nyata ataupun khayal karena adanya ketidakpastian di masa mendatang.
Jika dirunut dari pengertian di atas, cemas dipengaruhi oleh stimulus yang tidak mengenakan. Stimulus akan menggoncang psikologi personal, yang akibatnya seseorang mengalami perasaan cemas tak beraturan. Misal, siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional di sekolah SMP dan SMA. Mereka dihinggapi rasa cemas luar biasa. Betapa tidak? Ujian Nasional (UN) terkesan horor. Capaian menempuh pendidikan selama tiga tahun hanya ditentukan tiga mata pelajaran, tiga jam dalam tiga hari. Jika tidak lulus, beban tersemat di pundak seorang anak. Selain itu, kasihan juga orang tua yang sudah susah-susah mencari nafkah, tetapi masa depannya terhenti lantaran nilainya tak mencapai nilai standar kelulusan. Yang lebih mengerikan lagi, seorang siswa akan mengalami (ke)cemas(an) berlebihan, yang berdampak sangat fatal, yaitu stres hingga bunuh diri.
Cerita di atas sudah berlalu bersama dengan ketidakjelasan kebijkan pendidikan di Indonesia, yang setiap ganti pemerintah berubah kebijakan. Tetapi trauma dan rasa cemas yang menyala-nyala, masih hinggap di benak? Boro-boro hilang, rasa cemas itu luar biasa dalam dan menjadi gejala traumatik yang menghantui perkembangan seseorang.
Kita tinggalkan kisah di atas, cemas memang luar biasa dampaknya bagi psikologis seseorang. Menurut teori psikoanalisisnya, Sigmund Freud, cemas dapat disebabkan oleh adanya tekanan buruk perilaku masa lalu serta adanya gangguan mental.
Selain itu, (ke)cemas(an) juga dapat disebabkan beberapa hal, misal, kekhawatiran (worry) atau pikiran negatif tentang diri sendiri, seperti perasaan negatif bahwa ia lebih jelek dibandingkan dengan teman-temannya. Emosionalitas (imosionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsangan saraf otonomi, seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, dan tegang. Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated interference) merupakan kecenderungan yang dialami seseorang yang selalu tertekan karena pemikiran yang irasional terhadap tugas.
Saya kira, rasa cemas, minder, gugup, takut atau tidak percaya diri adalah perasaan alami manusia yang diberikan Tuhan agar kita tak terlalu kelewat percaya diri dan akhirnya jatuh pada perasaan sombong. Selama kita melakukan hal yang benar dan halal, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa minder. Kalau pun kita belum mampu melakukan sesuatu, sebagai manusia kita bisa belajar dulu. Masalahnya, beberapa orang ternyata meletakkan rasa cemas pada tempat yang salah, sehingga kehidupan dan kesuksesannya terhambat oleh rasa cemas dan minder itu. Akibatnya, pekerjaannya urung diselesaikan.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi rasa cemas yang berlebihan—minimal menanggulangi rasa yang tidak teratur—pada diri kita ini.
Pertama, Berfikir Positif. Tuhan Maha Adil. Setiap manusia selalu diberi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Fokuslah pada kelebihan-kelebihan kita dan rasakan sebagai keistimewaan yang patut kita syukuri. Kedua, Membaca Al-Quran dan bershalawat. Kita harus mengerti bahwa obat penawar hati yang tidak ada duanya adalah membaca ayat-ayat suci Al-Quran dan bershalawat nabi.
Ketiga, Selesaikan pekerjaan yang disukai dulu. Nikmatilah! Hindari kepura-puraan menyukai suatu kegiatan atau pekerjaan hanya untuk menyenangkan orang lain secara berlebihan. Keempat, Carilah lingkungan pergaulan yang positif. Coba perhatikan lingkungan komunitas Anda. Apakah teman-teman anda lebih banyak memberikan hal-hal yang menjadi tuntutan atau banyak yang memberikan hal-hal yang membuat Anda lebih percaya diri dengan menerima apa adanya. Carilah lingkungan pergaulan dan teman-teman yang bisa membantu mengembangkan bakat atau kreativitas kita terasah.
Kelima, Pujilah diri sendiri. Kita memang lebih sering diajarkan untuk instropeksi diri untuk selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Akan tetapi dalam setiap usaha dapat menyelesaikan pekerjaan, tepuklah bahu diri sendiri sambil berkata dalam hati dengan bangga “Well Done”, “Good Job”, “Congratulation”… dll.
Keenam, Sesekali manjakan diri sendiri. memanjakan diri dengan mengunjungi tempat-tempat yang bisa membangkitkan gairah hidup dan merangsang imaji. Misal di tempat-tempat yang berbau alam, laut maupun di keramaian.
Ketujuh, Olahraga. Olahraga dengan teratur akan menjadikan tubuh kita sehat, cekatan dan kuat. Secara otomatis badan tubuh anda akan terlihat lebih menarik. Lakukan olah raga secara rutin sebagai suatu kesenangan. Kedelapan, Bersyukurlah! Bersyukurlah dengan hidup kita. Banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Sesekali cobalah untuk melihat ke bawah. Luangkan waktu dengan teman-teman, keluarga dan orang-orang terkasih untuk mengingatkan diri sendiri tentang betapa beruntungnya kita.[]
Informatif sekali nih mas.Saya juga sering dilanda kecemasan gara-gara fikiran negatif dan sifat perfeksionis yang kadang berlebihan..
ردحذفDuh,emang sumber kecemasan kebanyakan berasal dari pikiran negatif sih ya.
ردحذفIya mas sama-sama.Saya juga sering cemas dan tak sabaran lohh....
ردحذفBetul banget mas.... Apabila pikiran kita negatif, pikiran kita akan terbawa ke suasana yang tidak produktif lagi negatif... Semoga bermanfaat, Mas...
ردحذفإرسال تعليق